Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Rencana Pengusiran Monica


__ADS_3

Dini hari, pukul 5.


Kyakkk


Suara teriakan seorang gadis cantik berambut coklat yang tidak lain adalah Riana. Teriakannya membuat seluruh penghuni kos lain termasuk Daniel segera keluar dari kamar kosnya masing-masing dan datang menghampiri sumber teriakan dengan tergesa-gesa.


"Ada apa? Kenapa kamu teriak seperti itu?"


"Apakah ada masalah?"


"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sangat kaget mendengar suara teriakanmu."


"Apa yang terjadi nona?"


Pertanyaan bertubi-tubi datang dari penghuni kamar kos lain yang datang berkumpul dengan jiwa yang masih setengah sadar karena baru bangun tidur.


Berbeda dengan penghuni kos yang lainnya, Daniel terlihat begitu tenang walaupun sudah mendengar suara teriakan wanita yang harus ia jaga.


"I… itu! Ada yang masuk dan menghancurkan parfum-parfum yang harus saya jual." Riana memberikan penjelasan dengan nada suara yang bergetar.


Mungkin gadis itu merasa begitu syok karena takut akan dimarahi atau bahkan dipecat oleh bos barunya karena tidak bisa menjaga barang jualan dengan baik. Jika melihat banyak parfum yang rusak dan berserakan di lantai, bisa diperkirakan bahwa kerugiannya lebih besar dari kejadian yang pertama kali. 


Tentu saja Riana menjadi sangat takut karena hal itu, untuk kejadian yang pertama mungkin bos bisa memaafkannya dengan cara melimpahkan tugas control toko cabang kepada dirinya. Namun untuk yang kedua kalinya, ia tidak tahu apakah bosnya masih akan memaafkan ketidak becusan dirinya tersebut.


"Astaga… siapa yang sudah melakukan ini? Benar-benar sangat tidak mempunyai hati nurani."


"Ya ampun, aku harap kamu bisa sabar menghadapi musibah ini."


"Coba lihat! Banyak sekali parfum yang rusak, terlebih itu semua kan parfum yang harganya mahal."


"Orang yang melakukan itu sangat tidak punya hati nurani."


"Kok bisa ya? Kejadian seperti ini terjadi di tempat kos kita?" 


Suara bisik-bisik penghuni kos lain setelah melihat parfum-parfum yang rusak dan berserakan di lantai kamar kos 25.

__ADS_1


Hiks… hiks…


Riana tidak bisa menahannya lagi, air mata yang awalnya terbendung sekarang mulai berjatuhan dari matanya. Seketika penghuni kos lain berhenti berbisik dan hanya berdiam diri tidak mengeluarkan sepatah kata pun, mereka tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi situasi itu.


Diantara kerumunan penghuni kos yang datang, terdapat Monica bersembunyi di paling belakang sambil tersenyum jahat seolah-olah puas dengan kejahatan yang telah dibuat olehnya.


Melihat Riana yang menangis tersedu-sedu membuat tetangganya yaitu Daniel dengan spontan menghampiri lalu memegang pundak Riana menggunakan kedua tangannya.


"Aku tahu kamu pasti sangat terkejut menghadapi situasi seperti ini, tetapi aku mohon tenangkanlah dirimu dulu, oke?" Pria berkumis tipis tersebut mencoba menenangkan Riana sebisanya.


Riana hanya menganggukkan kepalanya seraya mencoba mengikuti perintah Daniel yaitu menenangkan dirinya.


"Bolehkan aku meminta tolong kepada kalian?" Tanya Daniel kepada penghuni kos lain yang datang.


"Tentu saja boleh!"


"Apapun akan kulakukan untuk Kak Daniel."


"Jangan sungkan meminta bantuan kepada kami."


Ucap beberapa gadis yang terpesona dengan ketampanan Daniel, mereka dengan cepat menerima permintaannya .


Para penghuni kos lain menganggukkan kepalanya yang menandakan bahwa mereka menyanggupi permintaan Daniel. Setelah menitipkan Riana, pria berkumis tipis tersebut segera pergi menuju tempat pemilik kos dengan senyum jahat.


Sesampainya di tempat pemilik kos, ia langsung membicarakan keperluannya dengan bapak ibu kos di ruang tamu.


"Ini sudah kejadian yang kedua kalinya, saya tidak bisa diam saja melihat tetangga saya terus dirugikan seperti ini."


"Kami turut prihatin dengan musibah yang menimpa Riana, tapi kami tidak bisa bertindak gegabah dengan menunjuk anak penghuni kos lain sebagai dalangnya." Bantah bapak kos.


"Benar, kita tidak boleh asal menuduh orang lain selagi tidak ada bukti yang kuat." Ibu kos ikut membantah.


Daniel tersenyum jahat setelah mendengar perkataan bapak ibu kos, ia mengeluarkan handphone miliknya dari dalam saku celana.


"Kata siapa saya tidak punya bukti yang kuat? Tentu saja saya tidak sebodoh itu sampai menuduh seseorang tanpa ada bukti yang kuat."

__ADS_1


Daniel menunjukkan beberapa foto di handphonenya, foto itu berisikan Monica yang masih memakai jubah hitam sedang keluar dari kamar kos 25 lalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 3.


"I… ini…"


"Astaga…"


Bapak ibu pemilik kos tampak begitu terkejut melihat foto yang diperlihatkan oleh Daniel. Mereka tidak menyangka bahwa Monica yang mereka anggap sebagai anak yang baik akan melakukan hal seperti itu.


"Selain itu, saya juga memiliki bukti lain yang lebih kuat daripada ini. Apakah kalian ingin melihatnya?" 


Bapak ibu kos saling bertatapan mata lalu menganggukkan kepala dengan wajah yang terlihat begitu serius.


"Tentu saja kami ingin melihatnya."


"Ini merupakan masalah yang harus kami tangani, jadi kami harap kamu bisa memberikan semua bukti yang kamu miliki sehingga kami bisa memberikan sanksi yang sesuai."


Mendengar perkataan bapak ibu kos, Daniel tersenyum tipis kemudian memutar video yang ia ambil dari CCTV yang sebelumnya ia pasang di dalam ruangan kamar kos 25.


Sekali lagi, bapak ibu kos begitu terkejut dengan bukti yang diberikan oleh Daniel. Bahkan bapak kost sampai menepuk jidatnya dan menghela nafas dengan panjang.


Setelah selesai melihat video, bapak kos memulai diskusi penyelesaian dari semua masalah ini.


"Baiklah, kamu ingin ini diselesaikan seperti apa?" 


"Aku akan melaporkan kejadian ini ke pihak polisi dan saya juga berharap dia diusir dari sini." Jawab Daniel.


"Kami juga tidak bisa membiarkan orang sepertinya berada di tempat kos ini, jadi kami akan mendukung serta membantumu menyelesaikan semuanya dengan baik." Jawab ibu kos.


Daniel tersenyum puas karena rencananya untuk membuat Monica diusir dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya telah berhasil tanpa ada kendala sedikitpun.


Sebenarnya ia ingin melakukan ini sejak awal karena tahu bahwa Monica membenci wanita yang harus ia lindungi yaitu Riana, tetapi saat itu pria berkumis tipis itu  masih belum memiliki bukti yang cukup kuat untuk mengusir Monica.


"Baiklah, saya akan melapor ke polisi secepat mungkin. Tapi sekarang saya ingin menenangkan Riana terlebih dahulu karena kelihatannya dia begitu syok, kalau begitu saya permisi dulu." Daniel tersenyum sambil beranjak bangun dari tempat duduk.


"Lakukan yang menurutmu benar, aku harap Riana akan baik-baik saja." Ucap ibu kos dengan raut wajah yang sedih.

__ADS_1


"Beritahukan kepadanya bahwa kami ikut turut bersedih dengan kejadian yang menimpanya." Bapak kos ikut memberikan ucapan prihatin kepada anak kosnya yang terkena musibah.


Daniel menjawabnya dengan senyuman khas miliknya, lalu pergi menuju Riana yang sebelumnya ia titipkan ke anak penghuni kos lain.


__ADS_2