
Seminggu telah berlalu semenjak Riana dirawat di rumah sakit. Sekarang adalah hari minggu, pukul 9 pagi dalam perjalanan pulang ke kamar kos Riana.
Ceklek..
Daniel membukakan pintu kamar dan merapikan tempat tidur agar lebih nyaman sedangkan Kharisma dan Reynold memapah Riana.
Hari ini Riana sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang karena kondisinya sudah cukup baik walaupun belum sembuh sepenuhnya.
Setelah tempat tidurnya dibersihkan oleh Daniel, Riana pun segera berbaring dan membungkus dirinya menggunakan selimut yang nyaman.
"Apakah kamu mau sarapan?" Tanya Kharisma.
"Iya, aku rasa perutku sedikit lapar." Jawab Riana.
"Kalau begitu aku akan meminta supirku untuk membelikan sarapan." Kharisma mengambil handphone dan menghubungi supirnya.
Beberapa belas menit kemudian, supir pun datang dengan membawa 5 bungkus bubur yang terlihat enak.
"Ini makanan yang non pesan." Supir berbicara ramah.
Kharisma segera mengambil bubur tersebut dan menaruhnya di mangkuk, ia juga membuat 5 gelas teh hangat.
"Ini untuk pak agus." Memberikan semangkuk bubur dan teh hangat kepada supirnya.
"Ti… tidak perlu, non. Bapak masih kenyang." Supir menolaknya karena merasa tidak enak hati.
"Ini bukan permintaan melainkan perintah, jadi tolong cepat ambil, pak agus."
"Baik, non."
Supir mengambilnya walaupun merasa tidak enak hati, ia tidak ingin membantah perintah Kharisma yang merupakan atasannya. Setelah menerima sarapan, supir pun pergi dan menyantapnya di tempat duduk dekat mobil diparkirkan.
"Nah… kalian juga makanlah!" Kharisma memberikan bubur dan teh yang tersisa kepada teman-temannya.
Mereka berempat menyantap sarapan tersebut bersama-sama sambil mengobrol satu sama lain. Saat mereka sarapan, terdapat sosok wanita yang tidak lain adalah monica sedang mengamati mereka dari pintu masuk kamar kos secara diam-diam.
"Menyebalkan" Gumam monica dengan raut wajah yang terlihat marah.
Tidak lama kemudian wanita beranting bunga itu pergi menuju kamarnya yang berada di lantai tiga.
__ADS_1
Tidak terasa waktu cepat berlalu, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Riana mencoba beranjak dari tempat tidurnya walaupun kepalanya masih berdenyut seperti ditusuk oleh paku. Melihat hal itu, dengan sigap Reynold memegangnya.
"Kamu mau kemana? Jika kamu perlu sesuatu biar aku saja yang ambilkan." Ucap Reynold.
"Aku ingin siap-siap bekerja sambilan, aku meminta izin tidak kerja sambilan kepada Pak Firman hanya selama aku dirawat dirumah sakit. Sekarang karena aku sudah pulang, maka aku harus pergi bekerja."
Reynold, Kharisma dan Daniel menatapnya dengan ekspresi wajah yang terkejut. Mereka tahu jika Riana adalah orang yang baik dan juga giat, tetapi mereka tidak menyangka jika Riana akan senaif ini.
Bagaimana tidak? Padahal kondisinya masih belum sepenuhnya pulih tetapi ia malah memaksakan dirinya untuk bekerja agar dapat uang.
"Kenapa kamu memaksakan diri seperti ini?" Tanya Reynold terlihat khawatir.
"Aku harus mencari uang untuk biaya hidupku sehari-hari. Jadi aku tidak boleh malas-malasan seperti ini, kalian tidak perlu khawatir! Lagipula aku sudah merasa lebih baik sekarang." Berjalan menuju pintu keluar kamar kos dengan sempoyongan.
Ketiga temannya hanya bisa melihatnya dengan sedih dari belakang, mereka ingin menghentikan Riana namun mereka tidak tega mematahkan semangat dan kegigihannya.
Beberapa langkah sebelum mencapai pintu keluar kamar kos, Riana tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya dan terjatuh. Kepalanya hampir saja terbentur tembok di sebelahnya.
Riana….
Ketiga temannya lantas segera berlari menghampirinya, Daniel segera menggendongnya lalu membawanya kembali ke kasur dan membaringkannya.
"Aku setuju dengannya, aku rasa kamu sangat memaksakan diri." Daniel memberikan pendapatnya.
Riana hanya bisa terdiam mendengar perkataan teman-temannya yang merasa khawatir terhadapnya. Ia tahu bahwa dirinya memang terlalu memaksakan diri, namun ia memiliki alasan tersendiri.
"Biaya kamar kos ini sudah menunggak selama 2 bulan, bulan depan aku harus membayar biaya sewa 3 bulan sekaligus. Jika tidak membayarnya maka aku akan dikeluarkan dari sini." Riana berbicara sambil mengepalkan tangannya, rasa sedih dan putus asa bercampur aduk dalam dirinya.
Teman-temannya tersentak setelah mendengar perkataannya barusan. Mereka memang tahu jika hidup Riana serba kekurangan, namun mereka tidak menyangka jika akan separah ini.
Reynold yang menatapnya dengan sedih seketika matanya berbinar dan tersenyum lebar.
"Bagaimana jika kamu bekerja di perusahaan keluargaku saja?"
"Perusahaan keluargamu?" Tanya Riana kebingungan.
"Iya, kamu akan bekerja sebagai bodyguard dan aku akan membayarmu setiap bulannya." Reynold mengedipkan sebelah mata sambil mengangkat jempolnya.
__ADS_1
Plakkkk..
Kharisma secara tiba-tiba memukul kepala pria bermata ungu itu menggunakan dompet yang sedang ia pegang.
"Kenapa kamu memukulku?" Reynold terlihat sedikit marah karena kepalanya dipukul cukup kencang.
"Bagaimana bisa kamu meminta Riana menjadi bodyguard?"
"Memangnya kenapa? Wanita juga boleh kok menjadi bodyguard."
Haaa…
Kharisma menghela nafas lalu memegang pundak Reynold dengan kedua tangannya.
"Kamu tidak lihat tubuh Riana itu sangat lemah? Bagaimana bisa dia menjadi bodyguard?" Ucap Kharisma.
Reynold memalingkan wajahnya dan melihat tubuh Riana yang kurus dan terlihat lemah. Ia baru tersadar jika ide yang baru saja ia ucapkan terdengar sangat konyol di hadapan teman-temannya.
"Memangnya berapa gaji yang akan kudapatkan jika jadi bodyguard?" Tanya Riana gugup.
"Hmmm… di perusahaanku gaji bodyguard tergantung dengan tugas yang mereka lakukan, semakin besar dan penting tugasnya semakin besar juga bayarannya, yah kira-kira sekitar 5 juta perbulan. Aku menawarkannya kepadamu karena aku pikir bekerja jadi bodyguard jauh lebih bagus dan terjamin daripada kerja di minimarket." Reynold memberikan penjelasan.
Riana tersentak setelah mendengar bahwa gajinya berkisaran sebesar 5 juta, tentu saja itu lebih besar 2x lipat dibanding gaji dari pekerjaan yang ia lakukan sekarang. Di minimarket, ia dibayar 55 ribu sehari yang berarti dalam sebulan ia hanya mendapatkan gaji sebesar 2 juta 2 ratus ribu rupiah.
Grap…
Riana segera berdiri dari kasurnya dan menghampiri Reynold yang sedang berdiri tak jauh darinya. Kemudian ia menggenggam tangan pria bermata ungu itu dengan wajah yang penuh dengan harapan.
"A… aku mau bekerja sebagai bodyguard."
"A… apa? Apakah kamu serius dengan apa yang kamu katakan barusan?" Reynold tersentak, begitu pula dengan Kharisma dan Daniel.
"Iya! Gaji yang diberikan 2x lebih besar daripada bekerja di minimarket, tentu saja aku mau."
"Aku tidak bisa mengizinkan hal itu." Daniel tiba-tiba berbicara.
"Benar, aku juga tidak setuju dengan ide itu. Badanmu sangat lemah, Riana. Bagaimana jika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan? Lagi Pula jika kamu ingin menjadi bodyguard setidaknya fisikmu harus bagus atau kamu memiliki kemampuan beladiri. Sekarang coba jawab pertanyaanku! Apakah kamu memiliki kemampuan beladiri?" Kharisma bertanya dengan serius.
Riana hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang sedih, ia sangat menginginkan pekerjaan yang ditawarkan oleh Reynold karena menurutnya gaji yang ia dapat nanti bisa sedikit membantu perekonomiannya. Disisi lain ia juga berpikir bahwa perkataan yang diucapkan oleh Kharisma ada benarnya.
__ADS_1
"Aku memang tidak mengizinkanmu mengambil pekerjaan itu, tetapi sebagai gantinya aku akan mencarikanmu pekerjaan lain. Jadi sekarang kamu istirahat yang benar!" Ucap Kharisma.
Riana nampak sangat bahagia, ia menganggukkan kepalanya dengan antusias. Pada akhirnya Riana membatalkan niatnya untuk pergi kerja sambilan di minimarket malam itu dan lanjut beristirahat agar cepat sembuh.