
Hari minggu pukul 8 pagi di kos-kosan.
Brumm
Suara mobil hitam masuk dan parkir di halaman kos-kosan. Dalam mobil itu keluar seorang pria dan wanita yang tidak lain adalah Kharisma dan Reynold.
"Apakah kamu tahu nomor kamar kos Riana?" Tanya Reynold
"Dia pernah bilang jika kamarnya nomor 26 di lantai 2." Kharisma menjawab sambil memakai lip balm pada bibirnya yang kering.
"Kalau begitu ayo kita pergi."
Kharisma menganggukkan kepalanya lalu menaruh lip balm tersebut ke dalam tas selempang miliknya setelah selesai dipakai.
Mereka pun pergi menaiki tangga menuju lantai 2 tempat kamar kos Riana. Sebelum mereka menaiki tangga, turun seorang wanita beranting bunga yang tidak lain adalah Monica Arumi yang merupakan penghuni kamar kos nomor 38 sekaligus wanita yang menyukai Daniel.
"Siapa kalian? Aku baru pertama kali melihat kalian disini." Tanya Monica.
"Ah… kami adalah teman baiknya Riana. Apakah mbak kenal dengan Riana?" Tanya Reynold dengan ramah kepada wanita yang baru ia temui tersebut.
Seketika raut wajah Monica menjadi sangat dingin, ia memberikan sorot mata tidak suka terhadap kehadiran mereka berdua.
Hal tersebut membuat Kharisma dan Reynold seketika tertegun selama beberapa saat.
"Memangnya disini siapa yang tidak kenal dengan wanita miskin itu?" Monica memaki Riana secara terang-terangan.
"Apa yang baru saja kamu bilang?" Reynold mulai menaikkan nada suaranya.
"Apakah ada yang salah dengan perkataanku? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Reynold seketika mengepalkan kedua tangannya karena menahan emosi sambil menatap wanita beranting bunga tersebut dengan tatapan yang tajam. Sedangkan Kharisma hanya memberikan wajah yang datar karena tidak ingin membuat masalah di tempat Riana tinggal.
Dengan sigap Kharisma segera menarik lengan Reynold dan membawanya menaiki tangga. Saat melewati Monica, Kharisma berbicara dengan nada suara yang kecil kepadanya.
"Mulutmu cukup bagus untuk ukuran seorang wanita rendahan."
Perkataan tersebut membuat Monica menjadi sedikit kesal sehingga menoleh ke arah mereka berdua yang sudah beberapa langkah melewatinya.
"Apa kamu bilang? Kamu pikir siapa kamu sudah berani berkata seperti itu? Cepat tarik kembali kata-katamu barusan!" Teriak Monica.
Namun Kharisma dan Reynold tidak menggubris perkataannya dan terus menaiki anak tangga menuju lantai 2.
"Hei! Cepat kembali kesini sekarang juga!" Teriak Monica untuk yang kedua kalinya.
Namun sekali lagi Kharisma dan Reynold tidak menggubris perkataannya dan telah sampai di lantai 2.
Dengan cepat Monica mengejar mereka berdua dengan wajah terlihat marah.
Sesampainya ia di lantai 2, alangkah terkejutnya wanita beranting bunga tersebut setelah melihat Kharisma dan Reynold sedang bersama Daniel sang pria yang disukainya.
"Hmm… monica? Kenapa kamu terlihat kesal begitu?" Tanya Daniel dengan wajah kebingungan.
__ADS_1
"Kak.. Daniel? Bagaimana bisa anda disini?" Monica tidak menjawab pertanyaan pria berkumis tipis tersebut dan balik bertanya.
"Ah… aku sedang bersama kedua temanku."
"Maksud anda adalah mereka berdua?" Menunjuk menggunakan jari telunjuknya ke arah Kharisma dan Reynold.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan wanita beranting bunga tersebut dengan wajah yang terlihat kebingungan.
"Apakah kalian saling mengenal?" Tanya Daniel.
"Hahaha… tidak, tapi kami baru saja bertemu di tangga tadi." Monica menjawab dengan gugup.
Smirk
Melihat hal tersebut, Kharisma dan Reynold saling bertatapan mata lalu tersenyum tipis.
"Ka.. kalau begitu saya izin pamit karena ada urusan lain, sampai jumpa lagi Kak Daniel." Berlari meninggalkan tempat itu dan menuruni tangga.
Pftt
Kharisma tertawa kecil sambil melihat ke arah Daniel sehingga membuat pria berkumis tipis tersebut menjadi bingung.
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Daniel.
"Sepertinya wanita itu menyukaimu." Jawab Kharisma
"Kalian mengenalnya? Bagaimana bisa?"
Haaa
Daniel menghela napas sambil berjalan terlebih dahulu menuju kamar kos Riana yaitu kamar nomor 26. Kharisma dan Reynold dengan spontan mengikutinya dari belakang karena mereka berdua tidak tahu letak kamar Riana.
Mereka pun berjalan sambil berbincang.
"Aku pernah cerita bukan di perkumpulan?" Ucap Daniel
"Ah… maksudmu tentang wanita yang mencari masalah dengan Riana?" Tanya Reynold.
Pria berkumis tipis tersebut menganggukkan kepalanya.
"Benar, tapi kalian tidak perlu Khawatir karena ada aku disini. Aku akan berusaha sebaik mungkin menjaga keamanan Riana seperti perjanjian yang telah dibuat."
"Baiklah, kami percayakan keamanannya selama tinggal di tempat ini kepadamu." Ucap Reynold sambil tersenyum sedangkan Kharisma hanya menganggukkan kepalanya.
Tok.. tok.. tok…
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di depan kamar kos nomor 26 dan Daniel pun segera mengetuk pintunya beberapa kali.
Riana pun membuka pintu sambil menguap, tampaknya ia habis bangun tidur.
"Kak daniel? Ada perlu apa mengetuk pintu kamar kosku?" Riana mengucek-ucek sebelah matanya.
__ADS_1
"Ada kedua teman baikmu yang sedang mencarimu." Memperlihatkan Reynold dan Kharisma yang berdiri di belakangnya.
Gadis itu terkejut sekaligus merasa malu karena berpenampilan kurang mengenakkan di depan teman baiknya. Mukanya masih terlihat mengantuk, rambutnya acak-acakan, dan terlebih lagi ia masih bau karena belum mandi.
"Ke.. kenapa kalian bisa ada disini?" Tanya Riana yang tiba-tiba tidak mengantuk lagi setelah melihat kedua teman baiknya.
"Karena hari ini adalah hari libur, kami ingin mengajakmu jalan-jalan berkeliling kota." Reynold antusias.
"Benar, karena itu sebaiknya kamu cepat mandi dan bersiap-siap." Ucap Kharisma.
"Wahh… baiklah kalau begitu. Tolong tunggu sebentar, aku akan bersiap-siap secepat mungkin." Riana segera berlari ke arah kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan.
Kharisma, Reynold, dan Daniel menunggu sambil duduk di kursi depan kamar kos Riana. Beberapa menit kemudian gadis itu keluar dengan penampilan yang rapi dan juga bersih.
"Bagaimana penampilanku?" Tanya Riana dengan ceria.
"Sangat cantik, bukankah begitu?" Kharisma memuji lalu melirik ke arah Reynold dan Daniel.
Kedua pria tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya seolah-olah mereka juga sependapat dengan perkataan Kharisma.
"Terimakasih atas pujiannya." Riana tersenyum ceria dengan mata yang berbinar.
Penampilan Riana memang tidak tergolong mewah, ia hanya menggunakan celana jeans, baju kaos putih polos dan juga tas selempang yang harganya bahkan tidak sampai 50 ribu.
"Aku penasaran karena kalian terlihat akrab satu sama lain. Apakah kalian bertiga saling mengenal?" Tanya Riana.
"Iya, kami memiliki hubungan dalam pekerjaan dengan Kak Daniel." Jawab Kharisma dengan cepat.
"Begitu, ya? Pantas saja Reynold langsung tahu saat ku bilang lewat chat di grup bahwa aku mendapatkan tetangga baru. Rupanya kalian sudah saling mengenal ya?" Riana bertanya ke arah Reynold.
"Hahaha… begitulah, aku tahu jika Kak Daniel akan ngekos di tempat mu dan kebetulan kamu bilang di chat kamu mendapat tetangga baru. Dengan spontan aku pikir tetangga barumu adalah Kak Daniel dan ternyata itu benar." Reynold memberikan penjelasan sambil berkeringat dingin karena sebenarnya ia berbohong.
( Notice : jika merasa bingung dengan percakapan Riana dan Reynold di atas, sebaiknya anda kembali membaca bab 10 )
Riana hanya tersenyum mendengar penjelasan dari Reynold tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
"Baiklah, karena kamu sudah siap. Bagaimana jika kita berangkat sekarang?" Kharisma beranjak dari tempat duduknya lalu menggandeng tangan Riana.
"Iya, ayo kita pergi." Membalas gandengan tangan temannya.
Reynold dan Daniel juga ikut beranjak dari tempat duduknya, mereka pun pergi ke halaman kos-kosan tempat dimana mereka memarkirkan mobil. Setelah beberapa menit berjalan, mereka sampai di mobil dan segera masuk ke dalamnya.
"Semoga jalan-jalan kalian menyenangkan." Ucap Daniel dengan ramah lewat jendela mobil yang terbuka ke arah Riana dan kedua temannya yang sudah berada di dalam mobil.
"Loh… apakah Kak Daniel tidak ikut dengan kami?" Tanya Riana.
"Tidak, hari ini aku akan pergi ke rumah sakit." Jawab Daniel.
"Baiklah, kalau begitu sampai ketemu lagi nanti, Kak Daniel." Jawab Riana dan Reynold secara bersamaan sedangkan Kharisma hanya menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya Riana ingin menanyakan alasan Daniel pergi ke rumah sakit, tetapi ia merasa tidak sopan jika bertanya hal tersebut. Sebisa mungkin ia tidak ingin mencampuri privasi orang lain terutama teman dekatnya.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga pergi ke kota untuk jalan-jalan pada hari minggu tersebut.