Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Pedestrian Area 3


__ADS_3

Brum..


Suara sopir mengendarai mobil dengan kecepatan yang normal karena keselamatan adalah hal yang paling utama.


Setelah selesai sarapan, Riana dan teman-temannya melanjutkan perjalanan menuju kawasan P.A. seperti yang sudah direncanakan.


"Hei, bagaimana menurutmu?" Ucap Reynold sambil menunjukkan kamera miliknya.


"Hahaha, dilihat dari bentuknya saja pasti benda itu sangat mahal." Ketua kelas yang duduk sendirian kursi bagian belakang mobil  memberikan pendapatnya.


"Tentu saja! Harganya 60 juta, meskipun begitu aku tidak menyesal membelinya karena hasil fotonya sangat bagus." Membusungkan dadanya.


"Berhentilah berlagak sombong! Lebih baik kamu mulai mengambil foto dari sekarang." Kharisma berbicara ketus.


Hmmm..


Reynold berpikir sejenak sambil menggaruk-garuk kepalanya, setelah itu ia tersenyum dan mengangkat jempolnya ke arah wanita bermata biru tersebut.


"Baiklah, kalau begitu katakan 'cheese'!" Reynold mulai mengambil foto dirinya dan juga teman-temannya untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan.


Cekrek…. Cekrek…


Mereka berfoto-foto di dalam mobil dengan bersemangat, terlebih Riana karena ini merupakan pertama kali baginya pergi jalan-jalan dan berfoto bersama teman-temannya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 20 menit, mereka pun telah sampai di tempat tujuan yaitu kawasan P.A (Pedestrian Area).


"Silahkan keluar, saya akan memarkirkan mobil tidak jauh dari gerbang masuk. Anda bisa menelepon saya jika sudah ingin pulang." Ucap sopir ramah sambil membukakan pintu mobil.


Setelah Riana dan ke 4 temannya keluar dari mobil, mereka segera memasuki gerbang kawasan pedestrian area.


"Wah… tempat ini benar-benar tidak ada kendaraan beroda sama sekali." Riana melihat sekeliling dan merasa kagum.


Cekrek.. cekrek..


Reynold mengambil foto sekitar dan juga teman-temannya.


Ketua osis berjalan disamping Riana dengan wajah yang antusias, sedangkan Kharisma dan Diana mengikuti dari belakang.


Mereka berjalan dijalan setapak yang diiringi toko-tokoan di samping kiri dan kali yang sangat jernih di bagian kanan. Terdapat juga jembatan penghubung  dengan jalan setapak yang berada di ujung kali.


"Wah… coba lihat! Ada induk bebek dan juga anak-anaknya sedang berenang di kali." Riana berdiri di belakang pagar samping kali.


"Hahaha, benar-benar imut." Ketua osis ikut berdiri di sampingnya.


"Ya ampun, bisakah kamu berhenti tertawa seperti itu?" Gerutu Diana yang baru datang bersama Kharisma.

__ADS_1


Kebiasaan ketua osis yang sering tertawa secara tiba-tiba dengan nada suara yang cukup lantang terkadang sering menarik perhatian orang sekitarnya dan membuat mereka menganggapnya sebagai orang yang aneh. Tentu saja hal tersebut membuat Diana sebagai wakilnya merasa sedikit malu dan juga kesal karena mau tidak mau ia juga merasakan tatapan dari orang lain.


"Yah.. ketawa seperti itu sudah menjadi kebiasaanku, jadi mau bagaimana lagi?" Ketua osis menjawab sambil memonyongkan bibirnya.


"Lihat itu! Ada toko penjual ice cream disana, ayo kita beli." Reynold berlari duluan ke tempat toko penjual ice cream.


Mereka semua mengikuti pria bermata ungu tersebut sampai ke toko yang dimaksud lalu membeli ice cream.


Reynold dan Diana memilih ice cream rasa coklat sedangkan Riana, Kharisma, dan Ryan memilih ice cream rasa vanilla.


"Ini uangnya." Kharisma memberikan uang kepada penjual ice cream.


"Anu.. apakah tidak apa-apa jika kamu terus-terusan mentraktir kami? Padahal sarapan tadi kamu yang bayar semua." Riana merasa tidak enak hati.


"Kamu tidak perlu merasa tidak enak seperti itu, sejak awal aku memang berniat membayar seluruh biaya pengeluaran jalan-jalan hari ini." Kharisma memakan ice creamnya.


"Yah.. lagipula itu bukan uangku tetapi uang dari pemberian tuan muda." Kharisma lanjut bergumam.


Riana tidak mendengar gumaman Kharisma dan ia menuruti perkataan temannya tersebut karena ia tahu jika teman-temannya berasal dari keluarga kaya.


Selain pergi ke toko ice cream, mereka juga pergi ke toko penjual roti. Mereka membeli beberapa bungkus roti tawar lalu pergi ke tengah-tengah jembatan.


"Lihat itu! Banyak bebek yang berenang menuju bawah jembatan ini." Reynold antusias dan membuka plastik roti tawar yang dibelinya.


Ia merobek-robek roti tersebut menjadi beberapa serpihan kecil kemudian melemparnya ke arah bebek yang berenang di bawah jembatan.


Dengan sigap bebek-bebek berkumpul dan berebut serpihan roti tawar yang dilempar oleh reynold.


"Wahh… aku juga ingin melakukannya." Riana membuka roti tawarnya.


Kharisma, Diana, dan juga Ryan yang berada di sampingnya mulai membuka roti tawar milik mereka.


Hahaha


Mereka berempat mulai merobek-robek roti dan melemparnya ke arah kerumunan bebek sambil tertawa,  Riana merasa amat teramat senang, ia tidak pernah membayangkan sebelumnya jika ia akan melakukan hal semenyenangkan ini bersama dengan teman-temannya.


Dengan sigap Reynold segera memotret mereka karena moment tersebut sangat tepat untuk diabadikan.


Kegembiraan itu tidak berlangsung lama karena terjadi sebuah peristiwa yang tidak terduga.


"Hahaha, ini sangat menyenangkan." Riana melihat ke arah bebek-bebek di bawah jambatan.


Bughh… byurrr…


Seorang pria berambut merah yang menggunakan masker hitam mendorong Riana hingga membuatnya jatuh ke dalam kali tersebut.

__ADS_1


Kyakkkk….


Diana berteriak histeris melihat Riana yang jatuh ke kali tepat di depan matanya, sedangkan ketua osis melihat ke arah pria yang mendorong Riana.


"To… tolong…" Teriak Riana yang tidak bisa berenang dan sedang tenggelam di kali tersebut.


Kharisma tertegun selama beberapa saat lalu melihat ke arah Reynold yang juga sedang tertegun.


"JANGAN DIAM SAJA! CEPAT TOLONG RIANA!" Teriak Kharisma kepada Reynold karena ia tahu jika pria bermata ungu tersebut bisa berenang.


Brurrr….


Reynold segera melemparkan handphone dan kameranya ke tanah dan segera loncat ke dalam kali untuk membantu Riana.


"Kurang ajar kau!" Ketua kelas mengejar pria berambut merah yang mendorong Riana.


"Tu.. tunggu! Jangan mengejarnya sendirian!" Kharisma berteriak kepada ketua kelas karena ia takut jika itu akan berbahaya baginya.


Namun ketua kelas tidak mendengarnya dan terus mengejar pria berambut merah.


Suasana sekitar menjadi gaduh seketika, semua orang berkumpul untuk melihat Reynold yang sedang menolong Riana yang tenggelam.


Setelah berhasil memegang Riana dan membuatnya tidak tenggelam, pria bermata ungu tersebut segera membawanya ke pinggir kali. Riana memang berhasil diselamatkan, namun kondisinya dalam keadaan pingsan karena banyak menelan air.


"Riana? Apakah kamu baik-baik saja?" Reynold mengguncang tubuh Riana berkali-kali namun tidak ada respon sama sekali. Ia semakin panik dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Apakah Riana baik-baik saja?" Teriak Kharisma yang baru saja sampai setelah berlari bersama Diana dari jembatan ke pinggir kali.


"Aku rasa dia terlalu banyak menelan air, bagaimana ini?" Tanya Reynold dengan wajah panik.


"Pegang ini dan serahkan sisanya kepadaku!" Diana memberikan kamera dan handphone Reynold kepada Kharisma lalu perlahan mendekati Riana yang tergeletak tidak sadarkan diri di tanah.


Hushh.. hushhh…


Ia melakukan pertolongan dengan menekan-nekan dada Riana agar air yang ditelannya keluar semua.


Hmphh..  byur…


Tindakan yang dilakukannya berhasil, Riana memuntahkan seluruh air yang ditelannya sehingga ia berhasil selamat. Namun kondisi tubuhnya sangat lemah sampai ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dan hanya bisa bernapas saja.


"Tidak bisa dibiarkan terus begini, kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Ucap Diana.


Reynold segera membopong Riana dan membawanya menuju gerbang keluar. Dalam perjalanan menuju gerbang keluar, Kharisma menelepon supirnya untuk segera menunggu mereka di gerbang.


Setelah sampai di gerbang keluar, mereka segera masuk ke dalam mobil dan membawa Riana ke rumah sakit agar mendapatkan pertolongan.

__ADS_1


__ADS_2