
Hari minggu pagi setelah 2 minggu semenjak Riana pulang dari rumah sakit. Sekarang kondisinya sudah benar-benar sembuh 100 persen dan sudah bisa menjalani kegiatan sehari-hari seperti biasanya.
Riana serta 3 teman baiknya yaitu Kharisma, Reynold, dan Juga Daniel sedang berdiri di halaman kosan sambil mengobrol antara satu sama lain. Tidak lama kemudian datanglah sebuah mobil pengantar barang, seorang pria berseragam merah keluar dari mobil itu lalu menghampiri mereka berempat dengan membawa 1 kertas dan pulpen.
"Permisi, apakah saya bisa bertemu dengan mbak Riana?" Tanya pria berseragam merah itu.
"Iya, dengan saya sendiri." Riana dengan segera menjawabnya.
"Ada beberapa paket yang dikirim untuk anda, silahkan tanda tangan di bawah sini." Memberikan kertas dan pulpen kepada Riana.
Riana menandatangani kertas yang diberikan kepadanya lalu segera memberikannya lagi kepada pria berseragam merah itu.
"Baik, saya akan segera mengeluarkannya. Mohon ditunggu sebentar!"
Pria berseragam merah itu membuka bagasi mobilnya lalu menurunkan 6 kotak yang cukup besar. Setiap kotak berisikan parfum yang berbeda beda dengan jumlah 100 botol parfum.
Setelah memberikan kotak-kotak itu kepada Riana, pria berseragam merah segera pergi dengan mobilnya karena masih ada banyak paket yang harus ia antarkan ke tempat tujuan.
"Pertama-tama mari kita bawa semua kotak ini ke dalam kamar kos no. 25." Daniel mengambil satu kotak dan berjalan terlebih dahulu.
Reynold segera mengambil 1 kotak juga, lalu Kharisma dan Riana mengangkat 1 kotak secara bersamaan karena memang kotak-kotak itu sangat berat.
Kotak tersebut dibawa ke kamar kos no. 25 karena Riana sudah menyewanya untuk dijadikan tempat pekerjaannya. Karena jumlah kotaknya adalah 6 buah dan mereka hanya mampu membawa 3 kotak saja, akhirnya mereka 2x bolak-balik untuk membawa semuanya.
"Baiklah, sekarang kita hanya perlu menunggu pesanan dari para pembeli." Ucap Reynold mengelap keringat di dahinya.
"Terimakasih karena sudah membantuku membawa semua kotak ini." Ucap Riana.
"Hehehe, bukan masalah besar. Kamu tidak perlu merasa segan meminta bantuanku terutama dibagian fisik. Kamu tahukan jika fisikku sangat kuat dibandingkan orang-orang yang seumuran denganku?" Reynold membusungkan dada menyombongkan dirinya.
__ADS_1
Riana hanya tersenyum melihat tingkah laku teman prianya itu karena ia tahu jika Reynold memang terkadang bersikap kekanak-kanakan.
"Riana, coba kamu kemari sebentar!" Kharisma yang sedang duduk di kursi depan kamar kos no.25 memanggil Riana sambil memegang sebuah handphone.
"Kenapa kamu memanggilku?" Tanya Riana setelah datang menghampiri.
"Kita akan menjual semua parfum ini secara online, jadi kamu harus belajar cara menjadi admin yang baik dan juga tahu langkah-langkah menjual di toko online dan juga media sosial lainnya. Jadi sekarang aku akan mengajarimu." Kharisma memberikan sebuah Handphone kepada Riana.
"Sebuah Handphone?" Riana menerimanya dengan raut wajah yang bingung.
"Kamu tidak bisa memakai handphone mu untuk keperluan bisnis seperti ini karena mungkin saja akan sedikit mengganggu, jadi sebaiknya kamu memiliki 2 handphone. Kamu juga tidak perlu merasa tidak enak hati karena handphone ini memang khusus diberikan oleh atasanku kepada pekerjanya, jadi jaga handphone itu baik-baik karena jika kamu keluar dari pekerjaan ini kemungkinan kamu harus mengembalikannya lagi!" Kharisma sengaja berkata seperti itu karena ia tahu jika Riana mungkin akan merasa tidak enak hati setelah menerima handphone baru.
Riana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, setelah itu Kharisma mengajarkannya cara menjadi admin yang baik dan benar.
"Ayo kita pergi!" Ajak Daniel.
"Hmm.. pergi kemana?" Tanya Reynold kebingungan.
"Kebetulan sekali perutku memang sudah lapar, hehehe."
Reynold dan Daniel pun pergi mencari sarapan di sekitar tempat kos. Setelah setengah jam pergi, kedua pria itu datang sambil membawa 4 bungkus nasi uduk dan juga satu plastik penuh gorengan.
"Berhenti dulu belajarnya dan mari kita sarapan!" Daniel duduk di lantai ruang tamu kamar kos. 25.
"Benar, ayo kita sarapan terlebih dahulu! Aku dan Kak Daniel sudah membelikan nasi uduk dan juga gorengan." Reynold terlihat gembira.
Kharisma dan Riana yang sedang duduk di kursi depan kamar kos segera masuk ke dalam kamar kos. 25 itu.
Mereka menyantap sarapan bersama-sama sambil berbincang antara satu sama lain. Disela-sela itu, terlihat sosok yang sedang mengamati mereka dari sela-sela luar jendela yang tidak sepenuhnya tertutup oleh tirai. Daniel yang cukup sensitif dengan hal seperti itu segera menoleh ke arah jendela sehingga membuat sosok yang mengamati mereka segera mundur secara perlahan lalu pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Ada apa, Kak Daniel? Kenapa kamu melihat ke arah jendela?" Tanya Riana.
Reynold dan Kharisma pun ikut melihat ke arah Daniel dengan ekspresi wajah seperti menunggu jawaban.
"Bukan apa-apa, kalian tidak perlu memikirkannya." Memberikan senyum yang ramah.
Karena pria berkumis tipis itu tidak ingin membuat teman-temannya panik dan gelisah, ia memutuskan untuk berbohong dan merahasiakan kejadian barusan sampai ia bisa memastikan identitas sosok yang mengamati mereka.
Setelah selesai sarapan, mereka pun melakukan kegiatan mereka lagi hingga sore hari. Sebelum matahari terbenam, Kharisma dan Reynold pamit pulang karena memiliki urusan lain, begitu pula dengan Daniel yang masuk ke kamar kosnya yaitu kamar 27 karena ingin membuat sebuah laporan.
Malam harinya, pukul 1.
Drap… drap…
Terdengar suara langkah kaki seseorang menggunakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Sosok itu mengeluarkan kunci dari dalam sakunya lalu membuka pintu kamar kos no. 25 secara diam-diam dan masuk ke dalamnya.
"Khe.. khe… khe…. Kamu pikir aku akan membiarkan hidupmu berjalan dengan lancar?" Gumam sosok misterius itu.
Ia mengeluarkan sebuah kantong plastik berukuran besar dari balik jubahnya kemudian membuka satu per satu kotak parfum milik Riana yang baru saja sampai tadi pagi.
"Wanita sok cantik dan sok baik sepertimu harus diberikan pelajaran agar kapok, dasar tidak tahu diri." Ucap sosok misterius sambil memasukkan berpuluh-puluh parfum ke dalam plastiknya dari 6 kotak yang tersedia.
"Tapi omong-omong semua parfum ini adalah parfum mahal dan berkualitas tinggi, bagaimana bisa wanita miskin seperti dia memiliki modal untuk membuka usaha seperti ini?"
Sosok misterius itu menghina Riana sambil menyemprotkan parfum dengan kualitas yang paling tinggi ke bajunya.
"Ahh…. Baunya sangat enak, tidak salah lagi ini adalah parfum dengan harga yang mahal, wanita miskin itu pasti akan menangis tersedu-sedu besok, hahaha." Tertawa jahat.
Setelah merasa cukup mengambil dan memasukkan parfum tersebut kedalam plastik besar, ia pun segera keluar dari kamar kos no. 25 itu.
__ADS_1
Srekk.. tak…
Tanpa ia sadari, terdapat benda berukuran kecil miliknya yang terjatuh di belakang pintu. Setelah mengunci kembali pintu kamar kos itu, ia bergegas pergi karena takut ketahuan oleh orang lain.