Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Reynold 4


__ADS_3

Setibanya Reynold di rumah, ia segera menaruh tas miliknya di bawah meja belajar lalu menghempaskan dirinya ke atas kasur.


"Dia bisa membantuku menyelamatkan bisnis keluargaku?" Gumamnya sambil melihat kartu nama yang diberikan oleh Feng Ying.


Rasa bingung menyelimuti seluruh isi kepalanya, sebenarnya ia ingin sekali menerima tawaran tersebut karena akan sangat bagus jika ucapan Feng Ying benar sehingga perusahaannya bisa diselamatkan.


Namun disisi lain ia masih menaruh rasa curiga serta takut akan suatu hal yang akan terjadi jika dia menerima tawaran tersebut. Ia tahu bahwa di dunia yang kejam ini tidak ada sesuatu yang gratis, pasti pria keturunan Tionghoa tersebut menginginkan sesuatu darinya.


"Namanya Feng Ying dan dia bekerja di perusahaan Glory Group sebagai sekretaris?" Reynold membaca identitas Feng Ying yang tertera di kartu namanya.


Setelah membaca kartu nama tersebut, Reynold menaruhnya di atas meja. Ia tidak ingin memusingkan hal tersebut karena ia sudah cukup lelah memikirkan perusahaannya yang akan bangkrut.


Sehari Pun telah berlalu, sekarang adalah hari terakhir dari tenggat waktu yang diberikan Feng Ying kepadanya untuk berfikir secara matang tentang tawaran yang telah diberikan.


"Fyuhhh… waktunya berangkat sekolah." Reynold berjalan menuruni anak tangga menuju lantai satu.


Ia terkejut melihat kedua orang tuanya yang sedang mengobrol di ruang tamu dengan raut wajah yang murung.


Karena penasaran, ia pun memutuskan bersembunyi di pinggir lemari pajangan agar bisa menguping pembicaraan kedua orang tuanya.


"Papah sudah sangat pusing, mah. Perusahaan kita sudah tidak ada harapan lagi." Ayah Reynold menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya dengan emosi yang campur aduk.


"Sabar ya, pah. Mamah yakin pasti ada jalan keluarnya kok."


"Kita bisa saja keluar dari masalah ini jika ada investor dan perusahaan kuat yang mendukung perusahaan kita. Ayah juga sudah berusaha semampu diri ayah untuk menyelamatkan perusahaan kita, namun tidak ada hasilnya sama sekali."


Ibu Reynold tidak menjawab perkataan suaminya, ia tidak tahu harus berkata apa karena perkataan suaminya memang benar dan tidak bisa disangkal. Ia hanya bisa menenangkan suaminya dengan cara mengelus-elus pundaknya dengan halus.


Reynold yang menguping pembicaraan tersebut ikut murung, wajahnya tiba-tiba menjadi pusat.


Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 6.40, ia harus cepat-cepat pergi ke sekolah jika tidak ingin terlambat karena ia pergi dengan jalan kaki. Namun ia tidak ingin menunjukkan ekspresi wajahnya yang seperti itu kepada orang tuanya.


Pria bermata ungu tersebut pergi ke tempat cuci piring lalu menyalakan keran dan mencuci wajahnya agar terlihat lebih fresh.


"Dengan begini wajah pucatku menjadi lebih segar, semoga kedua orang tuaku tidak menyadarinya."


Reynold pun berjalan menghampiri kedua orang tuanya di ruang tamu.


"Mah, pah, Reynold mau berangkat sekolah dulu ya." Ucap Reynold dengan ceria walaupun sebenarnya ia sedang merasa sedih.


"Iya, hati-hati di jalan ya, nak." Jawab ibu Reynold.

__ADS_1


"Jaga dirimu dengan baik." Jawab ayah Reynold yang tiba-tiba tersenyum setelah membuka kedua telapak tangannya dari wajah. Ia tidak ingin anaknya mengetahui perasaan sedih dan bingungnya karena perusahaan yang hampir bangkrut.


Setelah berpamitan dengan orang tuanya, Reynold segera berangkat menuju sekolahnya.


Dalam perjalanan menuju sekolah, ia mengambil kartu nama Feng Ying di saku celananya lalu mengetik nomor handphone yang tertera di kartu itu dan langsung menelponnya.


"Halo, ini aku, Reynold."


"Ah… reynold, bagaimana? Apa kamu sudah mengambil keputusan?"


"Apakah kamu benar-benar bisa menyelamatkan perusahaan keluargaku?" Reynold balik bertanya.


"Tentu saja, tapi bukan aku yang akan membantumu melainkan bosku. Aku hanya sebagai perantara saja karena bosku sedang berada di luar negeri."


"Kalau perusahaanku bisa diselamatkan, maka jawabannya adalah iya." Reynold memutuskan untuk menerima tawaran yang diberikan kepadanya.


"Bagus! Kalau begitu kapan kita akan bertemu?"


"Siang hari pukul 1 di cafe dekat lampu merah saat kamu mengejarku." Reynold memilih lokasi yang searah dengan jalan pulangnya.


"Baiklah, kalau begitu sampai bertemu nanti."


Akhirnya pembicaraan tersebut berakhir dengan baik tanpa adanya masalah.


Saat sudah berada di dalam cafe, terlihat orang bernama Feng Ying yang mengejarnya beberapa hari sebelumnya sedang menunggu sambil meminum secangkir kopi.


Reynold dengan cepat menghampirinya.


"Ah… ternyata kamu sudah datang? Silahkan duduk!" Ucap Feng Ying.


"Tidak perlu basa basi, aku akan langsung ke intinya saja. Bagaimana caramu menyelamatkan perusahaanku?" Reynold menaruh tasnya di bawah meja lalu bertanya dengan wajah yang serius.


Haa…


Feng Ying menghela nafas sambil mengeluarkan sebuah dokumen kontrak dari dalam amplop coklat.


"Kamu bisa membacanya sendiri." Memberikan dokumen kepada Reynold.


Pria bermata ungu tersebut segera mengambil lalu membaca dokumen kontrak secara seksama. Ia membacanya dengan sangat teliti karena bisa sangat fatal jika ia tidak memahami isi kontrak dengan baik.


Setelah beberapa belas menit membaca, ia memutuskan untuk bertanya agar lebih jelas.

__ADS_1


"Menurut dokumen yang kamu berikan, aku hanya perlu menjaga dan membantu seorang gadis saat masuk SMA nanti?" Tanya Reynold.


"Benar sekali, kamu hanya perlu melindunginya selama 3 tahun bersekolah di SMA. Lalu kami akan menjadi pendukung perusahaanmu mulai saat ini hingga 10 tahun ke depan." Jawab Feng Ying.


Setelah mendengar penjelasan, Reynold memutuskan untuk kembali membaca kontrak tersebut.


Ia benar-benar serius membacanya karena ia akan mengambil sebuah keputusan yang amat sangat penting baginya.


"Apakah benar aku hanya perlu menjaga dan membantunya saja saat kelas SMA nanti?"


"Selain menjaganya kamu juga harus menjadi teman yang baik, aku akan mengajarkanmu secara rinci nantinya." Jawab Feng Ying.


"Mengajarkanku?" Reynold kembali bertanya.


"Iya, aku akan memberikan beberapa pelajaran khusus setiap bulannya mulai dari sekarang. Bagaimana? Apakah kamu mau menerima kontraknya?"


Haa…


Reynold menghela nafas lalu menaruh dokumen kontrak yang sedang ia pegang ke atas meja.


"Baiklah, aku menerima kesepakatan ini. Jadi tolong bantu perusahaanku agar tidak bangkrut."


"Tentu, kamu tidak perlu khawatir soal itu." Jawab Feng Ying


Pada hari itu, Reynold telah bekerja sama dengan Feng Ying atau lebih jelasnya perusahaan glory group.


Beberapa minggu setelahnya, di ruang tamu rumah Reynold. Ia sedang menonton TV dengan ibunya.


Tiba-tiba saja ayah Reynold datang dari pintu masuk lalu memeluk anak dan istrinya sambil menangis.


"Ayah? Kenapa ayah menangis? Apakah ada sesuatu yang terjadi?"


"Suamiku? Coba tenangkan dirimu dulu lalu ceritakan apa yang telah terjadi!"


Reynold dan ibunya mencoba menenangkan ayah Reynold yang sedang menangis. Setelah merasa lebih tenang, ayah pun mulai bercerita.


"Perusahaan kita tidak jadi bangkrut, ada perusahaan lain yang membantu dan menjadi dukungan bagi perusahaan kita. Ayah sangat bersyukur atas keajaiban ini." Ucapnya sambil menangis karena bahagia.


Mendengar hal baik tersebut, Reynold dan ibunya ikut terharu sekaligus merasa bahagia sehingga mereka berdua membalas pelukan ayah Reynold.


"Syukurlah, aku telah memilih jalan yang benar." Gumam Reynold dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Pada akhirnya, perusahaan milik keluarga Reynold tidak jadi bangkrut karena telah mendapatkan bantuan dan dukungan yang cukup besar dari perusahaan Glory Group.


__ADS_2