
Ceklek..
Mereka membuka pintu lalu masuk ke dalam kelas.
"Apakah kamu ada waktu senggang setelah pulang sekolah." Tanya Kharisma sambil duduk di kursinya.
"Aku harus bekerja sambilan pada pukul 10 kalam."
"Kenapa kamu kerja sambilan? Apakah kamu tidak merasa lelah?"
"Aku tidak memiliki orang tua, mereka meninggal karena sebuah kecelakaan disaat aku masih kecil. Jadi aku harus bekerja untuk menghidupi kebutuhan hidup sehari-hari."Tersenyum walaupun terlihat kesedihan yang mendalam di balik senyumnya
"Jadi itu alasan kenapa dia hidup serba kekurangan." Kharisma Bergumam.
Kharisma dan Reynold merasa tidak enak hati karena telah menanyakan hal yang seharusnya tidak ditanyakan. Mereka berdua pun segera meminta maaf kepada Riana.
"Aku turut berduka cita atas apa yang terjadi dengan kedua orang tuamu."
"Kami juga minta maaf karena sudah menanyakan hal yang seharusnya tidak kami tanyakan."
Riana merasa sangat bahagia karena bisa mendapatkan teman sebaik Reynold dan Kharisma.
"Tidak apa-apa, lagipula itu sudah lama berlalu. Kalian tidak perlu meminta maaf kepadaku."
"Kamu memang wanita yang baik."
"Kharisma benar, kamu adalah wanita paling baik yang pernah aku kenal."
Ia tersipu malu karena dipuji oleh kedua temannya.
Teng.. teng.. teng..
Suara bel masuk telah berbunyi, seluruh murid segera memasuki ruang kelasnya masing-masing dan bersiap-siap mengikuti pembelajaran. Hari ini Risma tidak masuk sekolah karena harus mengurus suatu permasalahan dalam keluarganya, ketidak hadirannya lah yang membuat kedua temannya yaitu Anggi dan Ruthfi terlihat murung. .
"Hmm.. wanita bermata sipit itu hari ini tidak masuk, ya?." Kharisma bergumam sambil menoleh ke arah tempat duduk Risma yang kosong.
Beberapa saat kemudian guru pun datang memasuki ruang kelas dan pembelajaran hari itu pun dimulai. Mereka mengikuti semua jam mata pelajaran dengan baik hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Seperti biasa, hari ini pun mereka dijemput oleh seorang supir pribadi yang bernama Pak Rohman.
"Kita pergi ke tempat makan." Ucap kharisma sambil masuk ke dalam mobil.
"Kita akan pergi ke tempat makan? Untuk apa?"
"Tentu saja untuk makan malam, hari ini aku yang akan traktir."
"Apakah tidak apa-apa? Kamu juga kan sudah mentraktirku jajan di kantin semenjak hari pertama masuk sekolah."
"Tidak perlu khawatir, Kharisma mempunyai banyak uang." Reynold menimbrung pembicaraan Riana dan Kharisma.
"Baiklah, kalau begitu aku ikut."
Gadis itu tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.
Brumm…
Mereka pun berangkat menuju tempat makan. Selama perjalanan menuju tempat makan gadis itu terlihat sangat antusias karena baru pertama kali ia makan malam bersama dengan teman-temannya, kegembiraan terlihat sangat jelas di raut wajahnya. Beberapa belas menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan.
Ceklek…
Sopir membukakan pintu dan mereka keluar dari dalam mobil.
"Tunggu, ini kan mall."
"Iya, kita akan makan di tempat makan yang ada di dalam mall." Kembali menggandeng tangan gadis itu.
"Apakah kamu tidak suka makan di mall?" Tanya Reynold sambil keluar dari mobil.
"Bu.. bukan seperti itu, hanya saja aku belum pernah masuk ke dalam mall."
Reynold dan Kharisma sudah tidak terkejut lagi dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu karena mereka sudah mulai mengetahui latar belakang kehidupannya.
"Tidak masalah jika kamu tidak pernah pergi ke tempat ini, Kamu hanya perlu tetap berada disampingku."
Riana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum karena merasa sangat senang, mereka pun masuk ke dalam mall bersama-sama.
__ADS_1
"Wah.. tempat ini sangat keren dan sedikit dingin."
"Tentu saja, karena di dalam mall terdapat banyak AC atau alat penyejuk udara."
"Andai saja aku bisa pergi setiap hari ke tempat seperti ini aku pasti akan meresa sangat senang."
Reynold dan Kharisma saling bertatapan mata lalu menganggukkan kepalanya.
"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."
"Apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku, Kharisma?"
"Andai kata ada seorang pria yang sangat kaya tertarik kepadamu, apakah kamu akan menerima perasaannya?" Bertanya dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
"Hmm.. aku tidak tahu karena tidak pernah memikirkannya. Lagi pula tidak mungkin ada seorang pria kaya yang tertarik kepadaku."
Haaa
Reynold menghela napas sambil menggaruk-garuk kepalanya karena sedikit merasa kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Riana.
"Intinya kamu akan menerima perasaan pria itu atau tidak?"
"E.. entahlah, aku tidak tahu."
"Sudahlah Reynold, jangan membuatnya kebingungan! Kita tunggu saja waktu yang lebih tepat untuk bertanya." Berbisik kepada pria bermata ungu itu.
Reynold menganggukkan kepalanya dan tidak lama kemudian mereka pun sampai di tempat makan yang dituju.
"Mari saya antarkan ke meja meja makan." Ucap seorang pelayan yang kemudian mengantarkan mereka ke meja makan .
"Silahkan duduk disini!"
Mereka duduk di meja makan dengan posisi Riana dan Kharisma duduk bersebelahan lalu Reynold duduk di hadapan mereka.
"Kamu mau pesan makanan apa?" Kharisma mengambil buku daftar menu yang diberikan oleh pelayan.
"Aku makan apa saja asalkan tidak pedas."
Hmm..
"Kami pesan semua jenis makanan kecuali makanan yang pedas."
Pelayan itu mencatat makanan yang dipesan lalu pergi meninggalkan mereka.
"Se.. semua? Apakah tidak apa-apa? Bagaimana kalau makanannya tidak habis nanti? "
"Kamu tidak perlu khawatir karena ada Reynold disini."
"Memangnya kenapa kalau ada aku?" Ucap Reynold dengan wajah yang kebingungan.
"Tentu saja jika ada kamu semua makanan pasti akan habis, kamu kan rakus."
"Aku tidak rakus, porsi makanku saja yang banyak."
"Baiklah, terserah kamu saja."
Hahaha
Riana tertawa karena perselisihan antara Kharisma dan Reynold.
"Kamu menjadi lebih cantik jika tersenyum."
"Reynold benar, kamu sangat cantik jika tersenyum seperti ini."
Gadis itu pun kembali tersipu malu karena dipuji oleh kedua temannya. Mukanya sedikit memerah dan ia menjadi salah tingkah.
Hahaha…
Mereka berdua tertawa karena melihat Rian menjadi salah tingkah setelah dipuji.
"Kalian jahat sekali." Gadis itu semakin salah tingkah.
Hahaha….
__ADS_1
Mereka kembali tertawa lalu berbincang-bincang antara satu sama lain sambil menunggu makanan yang dipesan datang. Beberapa saat kemudian datanglah 8 orang pelayan sambil membawa makanan yang dipesan.
"Selamat penikmati makanan anda." Ucap salah seorang pelayan sambil menyajikan makanan di atas meja.
"Ini terlalu banyak."
"Aku sependapat dengan Riana. Makanan yang kamu pesan lebih banyak dari yang aku perkirakan, Kharisma."
Hmm..
Wanita bermata biru itu berpikir sejenak sambil melihat satu persatu makanan yang telah dihidangkan di meja.
"Tidak masalah, kita bisa membungkusnya jika tidak habis."
"Itu ide yang bagus." Reynold mengacungkan ibu jari tangan kanannya.
"Baiklah, mari kita makan!"
Nyam.. nyam..
Mereka menyantap makanan itu dengan lahap. Riana merasa sangat senang karena ia baru pertama kali memakan makanan yang enak seperti ini. Biasanya ia hanya memakan mie instan untuk menghemat biaya pengeluaran setiap bulan.
"Makanan ini sangat enak, terima kasih karena sudah mentraktirku makan makanan seenak ini."
Reynold dan Kharisma tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kepada gadis itu. Setengah jam telah berlalu dan sekarang mereka sudah selesai makan.
"Ahh.. aku kenyang sekali." Ucap Reynold sambil membersihkan makanan yang tersangkut di giginya dengan tusuk gigi.
Pok.. pok..
Kharisma menepuk tangan beberapa kali lalu datanglah seorang pelayan.
"Ada yang bisa dibantu?"
"Bungkus semua makanan ini lalu berikan kepada supir saya yang akan datang nanti."
"Baik, nona."
Pelayan itu memanggil pelayan lain untuk membantunya membersihkan piring kotor yang ada di meja. Setelah Kharisma selesai membayar tagihan, mereka pun pergi ke sebuah toko yang menjual handphone.
"Kita mau apa ke sini?" Ucap Riana dengan wajah yang kebingungan.
"Tentu saja membelikanmu handphone."
"A.. apa? Tidak perlu, handphone milikku masih berfungsi dengan baik."
"Tenang saja, Kharisma dan aku mempunyai banyak uang."
"Ta.. tapi.."
"Kamu anggap saja handphone pemberianku sebagai hadiah pertemanan kita." Kharisma menggandeng tangan gadis itu lalu membawanya masuk ke dalam toko handphone.
Di Dalam toko tersebut mereka disambut oleh seorang wanita cantik yang berpakaian sangat rapi.
"Selamat datang, ada yang bisa dibantu?"
"Saya ingin membeli handphone." Ucap Kharisma.
"Baik, silahkan lewat sini."
Kharisma mengikuti wanita tersebut untuk membeli handphone sedangkan Riana dan Reynold meninggu di kursi yang disediakan di dalam toko handphone tersebut. Setelah membeli handphone, Kharisma segera memberikannya kepada Riana.
"Ini handphone milikmu."
"Aku sangat berterima kasih." Riana merasa sangat terharu hingga hampir mengeluarkan air mata.
"Aku sudah memasukkan nomorku dan Reynold didalamnya."
Ia menganggukkan kepalanya sambil memeluk handphone pemberian kedua teman barunya.
"Mari kita pulang, kamu harus pergi kerja sambilan bukan?"
"Iya, aku harus bekerja sambilan pada pukul 10 malam nanti."
__ADS_1
"Baiklah, mari kita pergi!" Kharisma menggandeng tangan gadis itu lalu pergi bersama-sama ke tempat parkiran mobil.
Mereka mengantarkan Riana sampai ke tempat kos-kosannya dengan selamat dan memberinya makanan yang dibungkus dari tempat makan yang mereka kunjungi tadi.