Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Daniel Hendak Dipecat


__ADS_3

Malam hari pukul 11 di rumah mewah dan megah milik pria berambut pirang. Terlihat Daniel yang sedang berdiri dengan tubuh yang sedikit gemetar karena ketakutan.


Di depan Daniel, terlihat pria berambut pirang sedang duduk di kursi sambil meminum segelas teh hangat.


"Aku ingin mendengar lebih rinci mengenai hal yang kamu ceritakan di telepon kemarin malam." (Baca Episode 57)


"Itu, sebenarnya…. Pria yang mendorong Riana hingga jatuh ke kali adalah musuhku." Jawab Daniel.


"Musuhmu? Kenapa dia malah mencelakai malaikat kecilku dan bukan kamu?"


"Saya rasa ia mengincar Riana karena tahu jika terjadi sesuatu padanya, saya sebagai penjaga pasti akan terkena dampaknya." Daniel kembali menjawab.


Pranggg….


Pria berambut pirang melemparkan gelas teh yang sedang ia minum ke arah Daniel, namun meleset dan menabrak tembok yang berada di belakangnya.


"Aku merekrutmu untuk memastikan keselamatan malaikat kecilku dari mara bahaya, tetapi ternyata kamulah mara bahaya tersebut." Memberikan tatapan yang sangat menyeramkan.


Daniel yang merasa semakin ketakutan lantas segera sujud seraya meminta maaf atas hal bahaya yang sudah terjadi kepada Riana.


"Maaf… saya benar-benar menyesal. Anda tidak perlu khawatir karena saya pasti akan menyelesaikan semuanya dengan baik."


"Tidak perlu, kamu bilang tadi bahwa musuhmu itu mencelakai Riana karena kamu bukan? Kalau begitu jalan yang paling mudah dan cepat adalah menyingkirkanmu." Ucap pria berambut pirang.


"Menyingkirkan saya? Apa maksud anda?"


"Tentu saja memecatmu, aku harap kamu segera menjauh dari malaikat kecilku dan mengembalikan seluruh fasilitas yang aku berikan termasuk mobil hitam mewah mu itu." Pria berambut pirang kembali menjawab.


Daniel merayap menghampiri kaki pria berambut pirang dengan sorot mata yang memancarkan ketakutan yang luar biasa. Ia memeluk kaki pria berambut pirang dengan sangat erat.


"Tolong jangan pecat saya! Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini, anda tahu bukan dengan tunangan saya? Dia bisa mati jika saya tidak bisa membayar biaya rumah sakit." Daniel meminta belas kasih.

__ADS_1


Pria berambut pirang menatapnya dengan tatapan merendahkan, ia mulai membenci Daniel karena tahu bahwa Riana celaka karenanya.


"Tunanganmu itu bukan urusanku, jadi untuk apa aku peduli?" Pria berambut pirang menghempaskan kakinya hingga membuat tangan Daniel yang sedang memeluknya menjadi terlepas.


"Anda tidak bisa memecat saya begitu saja, sekarang ini Riana sedang membutuhkan pengawalan ketat karena musuh saya itu pasti akan tetap mengincarnya walaupun saya dipecat. Lagi pula kasus pencurian parfum masih belum terungkap, saya akan menyelesaikan semua dengan baik jika anda bermurah hati kepada saya." Ucap Daniel dengan perasaan yang bercampur aduk tidak karuan.


Pria berambut pirang terdiam beberapa saat karena sedang berfikir, jika dipikirkan lagi perkataan Daniel memang ada benarnya juga. Musuhnya itu tidak mungkin akan melepaskan Riana begitu saja dan juga orang yang berbuat dengan cara mencuri parfum belum ditemukan.


Jika harus meminta Reynold dan Kharisma sepertinya tidak memungkinkan karena orang yang ditugaskan pada misi kali ini harus tinggal di kos sebelah kamar Riana. Mencari orang lain yang kompeten dan bisa dipercaya juga sangat sulit, memecat Daniel dalam situasi seperti ini hanya akan memperburuk keadaan.


"Baiklah, aku tidak akan memecatmu serta tidak menarik seluruh fasilitas yang telah diberikan. Tapi sebagai gantinya kamu harus menyelesaikan masalah ini secepat mungkin dan aku tidak mau malaikat kecilku terluka lagi, apakah kamu mengerti?" Pria berambut pirang memberikan tatapan yang sangat menyeramkan.


Daniel kembali bersujud dengan wajah yang pucat dan pikiran yang campur aduk.


"Baik, saya akan melakukan sesuai perintah anda barusan."


"Kalau begitu cepat kamu pergi dari ruangan ini karena aku sedang tidak ingin melihatmu." Pria berambut pirang memalingkan wajahnya.


Daniel pun pergi meninggalkan kediaman mewah nan megah milik pria berambut pirang menggunakan mobil hitam miliknya menuju tempat kos karena sudah terlalu larut malam.


Keesokan harinya, di tempat kos Riana sekitar pukul 8 pagi. Gadis cantik dan baik hati tersebut sedang berjalan menuruni anak tangga dengan riang sambil membawa 4 bungkus paket yang berisikan parfum dagangannya.


"Wah… kamu mau kemana, Riana?" Tanya Daniel yang hendak menaiki tangga.


"Kak Daniel!" Ucap Riana dengan riang menuruni anak tangga lebih cepat.


"Aku ingin pergi ke tempat jasa pengiriman barang, ada beberapa pesanan pelanggan yang harus diantar." Jawab Riana setelah berada di hadapan Daniel.


"Bagus sekali! Apakah mau aku antarkan? Aku juga sedang tidak ada kegiatan."


Riana menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin selalu merepotkan Daniel yang merupakan orang yang selama ini baik kepadanya.

__ADS_1


Haaa…


Daniel menghela napas sambil menggaruk-garuk kumis tipisnya yang terlibat sangat menawan.


"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan, kamu pasti menolak tawaranku karena tidak ingin merepotkanku. Apakah aku benar?"


Riana tidak memberikan jawaban sama sekali, ja hanya terdiam karena tebakan Daniel tepat sasaran.


"Tempat jasa pengiriman barang cukup jauh, kamu pasti kelelahan jika harus jalan kaki. Jadi aku akan mengantarmu dan aku tidak menerima penolakan." Daniel meraih tangan kiri Riana karena tangan kanan nya sedang memegang sebungkus plastik yang berisikan paket.


"Ta..  tapi…"


"Sudah kubilang aku tidak menerima penolakan." Ucap Daniel.


Karena telah melihat kegigihan Daniel untuk mengantarnya membuat Riana tidak enak hati terus-menerus menolak kebaikan pria berkumis tipis tersebut. Akhirnya Riana pun diantar pergi ke tempat jasa pengiriman paket menggunakan mobil hitam milik Daniel.


Setelah mereka pergi, terdapat sosok wanita beranting bunga yang tidak lain adalah monica, ia menguping seluruh pembicaraan Daniel dan Riana barusan.


"Dasar perempuan rendahan dan miskin, benar-benar wanita yang tidak tahu diri. Sampai kapan dia akan terus menggoda Kak Daniel?" Monica menggerutu dengan nada suara yang menyeramkan.


Ia juga menggaruk dinding di sebelahnya hingga terdapat bekas cakaran karena ia menggaruk menggunakan kukunya yang panjang.


Rasa cemburu sedang menyelimuti seluruh tubuhnya saat ini, ia sangat menyukai Daniel dan terobsesi menjadi pacarnya. Namun Daniel terus menerus menolaknya dan bersikap dingin kepadanya.


Berbeda dengan Riana yang selalu mendapatkan perlakuan hangat dan mendapatkan senyuman Daniel yang terlihat manis baginya, lama-lama hal tersebut membuat monica membenci Riana secara alamiah karena menganggapnya sebagai saingan cinta.


"Tunggu saja, aku pasti akan membuatmu menyesal karena sudah merebut Kak Daniel dari sisiku."


Wanita beranting bunga tersebut berjalan menaiki tangga menuju kamarnya kosnya di lantai tiga dengan wajah yang dipenuhi dengan dendam dan amarah yang bergejolak.


"Aku akan menyingkirkanmu bagaimanapun caranya karena aku harus memisahkan Kak Daniel dari wanita munafik sepertimu." Bergumam.

__ADS_1


Pada hari itu, Riana dan Daniel pergi menuju tempat jasa pengiriman barang dengan lancar sedangkan Monica mengurung dirinya di kamar selama seharian penuh.


__ADS_2