
Malam hari pukul 9, di kamar tidur Reynold.
Pria kecil itu sedang chattingan dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Kharisma.
Kharisma : aku dengar kamu datang ke rumahku tadi pagi.
Reynold : iya, aku mampir sekaligus ingin meminta minuman dingin setelah berolahraga, hehehe.
Kharisma : apakah bibi pembantuku memberikanmu minuman dingin?
Reynold : iya, lemon tea buatan pembantumu sangat enak. Ah… ngomong-ngomong bagaimana acara berenang bersama dua teman baikmu itu? Apakah menyenangkan.
Selagi menunggu Kharisma menjawab pertanyaannya, Reynold kecil membuka sebungkus keripik kentang dan juga menuangkan jus mangga kemasan ke dalam gelas.
Ahhh….
"Jus mangganya sangat enak dan manis, aku tidak menyesal telah membelinya walaupun harganya mahal." Ucap Reynold memakan keripik kentangnya sambil melihat jawaban dari Kharisma di handphonenya.
Kharisma : hari ini sangat menyenangkan, kami menaiki perosotan, makan siang bersama, berenang menggunakan pelampung bebek yang lucu, dan masih banyak hal lain yang seru. Pokoknya kamu harus ikut nanti!
Reynold kecil tersenyum setelah melihat pesan dari sahabat wanitanya tersebut. Namun ia berhenti tersenyum dan matanya mengarah ke atas seolah-olah sedang berpikir.
"Hmmm… apakah kali ini Kharisma juga yang membayar biaya jalan-jalannya, ya?" Gumam Reynold kecil dengan mulut yang penuh dengan keripik kentang.
"Ah… lebih baik kutanya saja langsung."
Karena tidak mau ambil pusing, ia pun memutuskan untuk bertanya secara langsung kepada Kharisma melalui chat.
Reynold : apakah jalan-jalan hari ini kamu juga yang membayar seluruh biayanya?
Reynold : tentu saja, dari dulu jika ada acara seperti ini aku yang selalu membayarnya.
Reynold kecil menepuk jidatnya sambil menghela napas yang cukup dalam. Ia benar-benar bingung dengan pola pikir Kharisma.
Reynold : apakah kamu tidak keberatan? Kamu tidak tahu jika sedang dimanfaatkan?
Kharisma : iya, aku tidak keberatan sama sekali. Lagi pula keluargaku cukup kaya, tapi apa yang kamu maksud? Aku sedang dimanfaatkan?
Reynold : kamu sedang dimanfaatkan oleh kedua temanmu itu, apakah kamu tidak curiga? Semenjak dulu kamu terus yang membayar setiap kali bepergian dan mereka tidak merasa tidak enak hati sama sekali kepadamu, sudah jelas sekali bukan? Jika mereka memanfaatkanmu.
__ADS_1
Kharisma mengirimkan emot seorang kartun wanita sedang marah dengan wajah yang sangat merah.
Kharisma : berhentilah berprasangka buruk terhadap teman-temanku! Lagi pula mereka tidak mungkin bertindak jahat seperti itu kepadaku.
"Huh… kamu adalah wanita yang pintar dan peka, tapi aku tidak menyangka jika persahabatan bisa membodohimu, Kharisma." Gerutu Reynold kecil yang khawatir kepada teman wanitanya karena dimanfaatkan oleh orang lain.
Karena Reynold kecil tidak ingin memperpanjang debatnya dengan Kharisma, ia pun memutuskan untuk meminta maaf dan berganti topik pembicaraan.
Reynold : baiklah, aku minta maaf karena sudah mencurigai temanmu. Oh iya, apakah kamu sudah dengar jika ada tempat makan baru di dekat perempatan? Aku dengar makanannya sangat enak."
Kharisma : iya, aku juga mendengarnya dari teman sekelasku yang pernah makan di sana. Aku rasa…..
Mereka pun saling mengobrol melalui chat hingga larut malam.
Dua tahun enam bulan pun telah berlalu, sekarang Reynold kecil sudah menginjak bangku kelas 6 sd semester 2.
Selama 2 tahun 6 bulan ini, ia selalu memperingatkan Kharisma setiap ada kesempatan tentang kedua teman baiknya yang sedang memanfaatkannya.
Namun hingga saat ini usahanya tersebut tidak membuahkan hasil sama sekali, Kharisma masih tetap tidak menaruh rasa curiga sedikitpun kepada kedua sahabatnya yaitu Dinda dan Yulia.
"Huh… usahaku selama dua tahun ini masih belum membuahkan hasil sama sekali." Gerutu Reynold sambil melihat beberapa dokumen perusahaan yang diberikan oleh ayahnya.
"Aku tidak terlalu mengerti tentang perusahaan karena masih kelas 6 sd. Aku hanya tahu jika perusahaan keluargaku akan bangkrut karena bersaing dengan perusahaan lain yang cukup hebat."
Reynold hanya bisa pasrah menghadapi itu semua, ia tidak merada keberatan jika harus jatuh miskin karena perusahaan milik keluarganya bangkrut.
Tetapi, tidak ada katanya menyerah dalam kamusnya. Beberapa hari yang lalu ia sudah meminta bantuan kepada sahabatnya yaitu Kharisma untuk mencari informasi mengenai perusahaan yang menjadi musuh perusahaannya.
Sekarang ia sudah sampai dirumah sahabat wanitanya tersebut dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 sore yang seharusnya Kharisma sudah pulang ke rumah setelah bersekolah.
"Eh, Den Reynold? Ada urusan apa disini?" Ucap bibi pembantu sambil membuka gerbang setelah Reynold membunyikan bel beberapa kali.
" saya mau bertemu dengan Kharisma, bi."
"Waduh… non Kharismanya sedang tidak ada di rumah." Jawab bibi pembantu.
"Tidak ada di rumah? Memangnya ia pergi kemana?"
"Non Kharisma sedang pergi makan malam bersama teman baiknya."
__ADS_1
Reynold berfikir selama beberapa saat lalu mengeluarkan handphone miliknya dari salam saku celana. Ia menelepon Kharisma dan memastikan kebenaran dari perkataan bibi pembantu.
"Ada apa? Kenapa kamu meneleponku?" Ucap Kharisma setelah mengangkat telepon.
"Huh… kamu memang wanita yang dingin. Aku hanya ingin tahu dimana kamu sekarang? Kenapa kamu tidak ada dirumah?"
"Aku sedang makan malam bersama dengan kedua teman baikku. Kamu tunggu saja dirumah, sekitar 1 - 2 jam lagi aku akan pulang." Ucap Kharisma dengan ketus kepada seorang pria yang meneleponnya.
"Tunggu seben…"
Sebelum Reynold melanjutkan perkataannya, teleponnya sudah terlebih dahulu dimatikan oleh Kharisma.
"Huh… menyebalkan, untuk saja dia cantik." Ucapnya dengan wajah yang sedikit memerah.
"Permisi, den. Kalau boleh tahu apa ya yang dikatakan oleh non Kharisma?" Tanya bibi pembantu yang merasa penasaran.
"Kharisma memintaku untuk menunggu di rumahnya sampai ia pulang."
"Kalau begitu mari menunggu di ruang tamu saja, den. Tidak sopan jika tamu menunggu di depan gerbang." Bibi pembantu mempersilahkan Reynold masuk ke dalam rumah.
Reynold yang mulai merasa pegal karena terlalu lama berdiri pun dengan senang hati masuk ke dalam rumah dan menunggu di ruang tamu.
"Silah menunggu dengan nyaman, anggap saja rumah sendiri, den." Ucap bibi pembantu dengan sangat ramah karena tamunya adalah sahabat baik dari nona rumah tempatnya bekerja.
"Iya, makasih ya, bi. Hmmm…. Ngomong-ngomong apakah camilan di atas meja boleh dimakan?"
"Tentu saja boleh, den. Camilan di atas meja ruang tamu memang dihidangkan khusus untuk tamu yang datang, jadi silahkan dimakan sepuasnya."
Reynold menganggukkan kepalanya kemudian duduk di sofa yang menurutnya paling nyaman. Ia membuka toples berisi kue berukuran kecil yang terlihat sangat manis.
"Camilan ini sangat enak." Ucap Reynold memakan cemilan di atas meja.
"Apakah mau saya ambilkan air?" Tanya bibi pembantu.
"Boleh, tolong ambilkan saya air putih saja."
Bibi pembantu menganggukkan kepalanya lalu pergi dan kembali membawa segelas air putih.
Akhirnya Reynold pun menunggu kedatangan sahabat wanitanya sambil memakan cemilan yang telah disediakan.
__ADS_1