Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Monica Mulai Bertindak


__ADS_3

Sore hari, pukul 3.


Bruk..


Suara Riana menutup pintu mobil saat tiba di depan gerbang kos setelah pergi jalan-jalan ke mall bersama bos barunya.


"Terima kasih atas kebaikan anda." Ucap Riana malu-malu.


"Sama-sama, kamu tidak perlu merasa tidak enak hati! Sekali lagi aku mengatakan jika semua barang yang kubelikan hari ini adalah hadiah karena kamu sudah menjalankan tugasmu dengan baik." Pria berambut hitam berbicara sambil memalingkan wajahnya karena masih belum terbiasa menatap wanita yang disukainya secara langsung.


Riana hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum bahagia, ia merasa bersyukur karena telah mendapatkan bos baru yang baik kepadanya. Namun ada perasaan aneh yang mengganjal di hatinya, perasaan ini merupakan campuran dari rasa senang, malu, dan juga perasaan yang tidak bisa dijelaskan secara detail.


Setelah mengantarkan Riana dengan selamat sampai gerbang, pria berambut hitam elegan segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Riana juga masuk ke dalam kamarnya kosnya sambil membawa barang-barang yang telah dibelikan oleh bos barunya.


Di sisi lain, terdapat Monica yang sedang mengintipnya dari balik tembok dengan wajah yang terlihat begitu marah.


"Dasar wanita rendahan, sudah miskin dan kumal, tapi beraninya menggoda pria-pria tampan. Pertama Kak Daniel, lalu sekarang pria tampan yang kaya. Wanita sepertimu tidak boleh dibiarkan begitu saja." Gumam Monica.


Setelah itu wanita beranting bunga itu segera pergi ke suatu tempat entah kemana.


"Wah… baju ini sangat bagus dan cantik, aku baru pertama kali memiliki baju seperti ini." 


Riana membuka satu persatu barang-barang yang dibelikan bosnya, terlihat dari wajahnya ia begitu senang mendapatkan hadiah tersebut.


Tok… tok…


Disela-sela kesibukan Riana dalam membuka hadiahnya, ada beberapa suara ketukan pintu yang membuatnya segera beranjak dan melihat siapa yang datang ke kamar kosnya. Ia mengintip melalui jendela untuk mengetahui siapa yang datang karena cukup berbahaya jika membukakan pintu pada orang yang tidak dikenal.


"Kak Daniel." Ucap Riana setelah mengetahui melalui jendela bahwa orang yang datang berkunjung adalah tetangganya yang tidak kalah baik terhadapnya.

__ADS_1


Dengan cepat gadis cantik nan baik tersebut membukakan pintu.


"Bagaimana jalan-jalannya? Apakah menyenangkan?" Tanya Daniel.


Riana tidak menjawab pertanyaannya dan hanya tersenyum dengan wajah yang berseri-seri.


"Melihat ekspresimu yang seperti itu, aku sudah bisa menebaknya. Pasti sangat menyenangkan, bukan?" Daniel kembali bertanya.


"Tentu saja, bos sangat baik kepadaku. Dia membelikan banyak barang yang bisa aku pakai sehari-hari, aku sangat bersyukur mendapatkan bos sebaik dirinya." Jawab Riana.


"Syukurlah, kalau begitu aku izin pamit karena ada hal lain yang harus ku kerjakan."


"Hmm?? Kak Daniel tidak mampir terlebih dahulu?" Tanya Riana.


"Tidak perlu, aku kesini hanya untuk memastikan apakah kamu baik-baik saja atau tidak. Sekarang aku ingin bertemu pemilik kos ini karena ada keperluan, sampai bertemu nanti." Ucap Daniel sambil berjalan meninggalkan Riana.


Malam hari pun tiba, suasananya begitu tenang dan sangat sunyi. Hari ini Riana tidur lebih cepat karena besok adalah hari senin dan ia harus bersekolah.


Drap.. drap..


Terdengar suara langkah kaki seseorang menggunakan jubah hitam sedang berjalan mendekati kamar kos no 25 yang kita ketahui bahwa kamar itu adalah tempat Riana menyimpan seluruh stok parfum yang akan dijual olehnya.


Orang itu membuka kamar 25 menggunakan kunci yang dikeluarkan dari dalam saku celananya. Setelah pintunya terbuka, ia segera masuk dan menutupnya dari dalam karena akan bahaya jika ketahuan oleh orang yang tidak sengaja lewat.


"Kamu akan membayar seluruh perbuatan yang kamu lakukan kepadaku, dasar wanita miskin penggoda pria tampan."


Ucap sosok tersebut membuka jubah hitam yang ia pakai. Dibalik jubah itu, terlihat sosok wanita beranting bunga yang tidak lain dan tidak bukan adalah Monica. Ia kembali memasuki tempat penyimpanan parfum Riana karena ingin membalaskan dendam pribadinya.


Sekantong plastik hitam juga ia keluarkan dari dalam jubahnya, kemudian ia memasukkan beberapa parfum yang menurutnya bagus agar bisa dijual atau memakainya secara langsung. Sisanya ia hancurkan dan ditaburkan di lantai, rasa dendamnya terlihat begitu dalam jika dilihat dari wajahnya yang marah sekaligus puas telah melakukan hal buruk tersebut.

__ADS_1


Sekitar 1 jam mengobrak abrik tempat penyimpanan parfum Riana, wanita itu segera memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar no 25 karena takut ketahuan oleh orang lain terutama Riana.


"Hahaha…. Rasakan itu dasar wanita rendahan. Sebentar lagi kamu pasti akan dipecat oleh bosmu." 


Gumamnya dengan sorot mata jahat yang terlihat begitu tajam. Wanita itu mengunci kamar kos 25 kemudian pergi ke kamarnya yang berada di lantai 3 dengan riang.


Cekrek


Terdengar suara jepretan kamera dari suatu tempat secara diam-diam.


"Haa…. Sudah kuduga ternyata semua ini adalah ulahmu, wanita pengganggu. Seharusnya dari awal aku menyingkirkanmu." Gumam seorang pria yang bersembunyi di  balik kegelapan.


Setelah berjalan beberapa langkah menuju tempat yang tersorot lampu, ternyata pria itu adalah Daniel si tetangga Riana sekaligus orang yang diutus pria berambut pirang.


"Aku akan mengakhiri ini semua besok hari, untuk sekarang aku harus mengumpulkan semua barang bukti yang kupunya." Ucap Daniel berjalan menghampiri kamar no 25.


Ia membuka kamar itu menggunakan kunci yang telah ia pinjam dari pemilik kos tadi sore, sebenarnya ia sudah memiliki firasat jika pelakunya akan beraksi lagi malam ini. Itulah sebabnya ia sudah meminta kunci kamar kos 25 karena tidak mungkin meminjam kunci Riana secara langsung.


Setelah membuka pintu kamarnya, bau menyengat begitu tajam menyerbak keluar dari dalam ruangan. Berbagai jenis parfum yang pecah dan berceceran di lantai membuat baunya menjadi tidak karuan, Daniel segera menggunakan  menutup hidungnya menggunakan kapas lalu masuk ke dalam dengan wajah yang terlihat begitu marah.


"Untung saja aku sudah mempersiapkan semuanya semenjak insiden yang pertama kali,  dengan begini aku bisa mengusirnya dari sini." 


Daniel berjalan menghampiri kursi dari kayu sambil menginjak cairan parfum yang berceceran di lantai, ia mengambil kursinya lalu menariknya mendekati lemari.


Setelah itu, ia menaiki kursi tersebut dan merogoh sesuatu di atas lemari. Sesudah beberapa kali merogoh, akhirnya ia berhasil memegang barang yang ia cari lalu menariknya dari atas lemari. Ternyata barangnya adalah CCTV berukuran kecil yang telah ia pasang untuk mengawasi lokasi dalam kamar 25.


"Sangat sempurna." Ucapnya loncat dari atas kursi dengan senyum jahat.


Setelah mengambil CCTV miliknya, pria berkumis tipis tersebut segera mengunci kamar kos 25 lalu pergi menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Riana untuk mengecek isi dari CCTV yang telah ia pasang.

__ADS_1


__ADS_2