
Pagi yang cerah, seperti biasa Riana dan kedua teman baiknya yaitu Kharisma dan Reynold sedang berjalan menuju kelas mereka sambil berbincang-bincang dengan sangat asik.
"Makan siang hari ini aku akan traktir." Ucap Riana tersenyum riang.
"Mentraktir kami makan? Apakah kamu yakin?" Tanya Reynold sambil meminum kopi hitam miliknya.
"Iya, aku baru saja mendapatkan gaji pertamaku kemarin malam. Jadi aku berniat mentraktir teman-temanku makan siang." Riana menjawab.
Kharisma dan Reynold saling bertatapan mata lalu tersenyum bersama, mereka senang karena mendapatkan sahabat yang baik seperti Riana.
Sejujurnya Kharisma dan Reynold adalah orang yang tidak mudah mempercayai orang lain, faktor utama dari sikap mereka yang seperti itu karena kedua teman baik Kharisma saat duduk di bangku sekolah dasar Yaitu Dinda dan Yulia.
Namun sekarang mereka tidak salah pilih ataupun menyesal telah menjadikan Riana sebagai teman baik mereka, padahal semenjak awal mereka hanya berpura-pura saja.
"Hmmm… memangnya berapa gaji yang kamu dapatkan?" Tanya Kharisma.
"8 juta 6 ratus ribu rupiah, jumlahnya 3 kali lebih besar dibandingkan saat aku bekerja di minimarket. Feng Ying juga bilang kemungkinan aku bisa menaikkan gaji jika kemampuanku sudah benar-benar ahli." Riana menjawab.
"Bagus sekali, pokoknya aku dan Kharisma akan selalu mendukungmu. Jadi jangan ragu-ragu meminta bantuan dari kami." Reynold ikut berbicara.
Riana menganggukkan kepalanya dengan wajah yang berseri-seri lalu menggandeng tangan Kharisma karena sudah sangat lama mereka tidak bergandengan tangan.
Kharisma pun membalas gandengan tangan tersebut, mereka berdua bergandengan tangan sampai tiba di kelas. Sedangkan Reynold hanya mengikuti mereka dengan bibir yang monyong kedepan karena iri tidak ada teman untuk digandeng.
Pada jam istirahat di kantin sekolah, Riana, Reynold, dan Kharisma sedang memilih meja duduk yang nyaman untuk digunakan.
Setelah mereka menemukan meja yang cocok, tiba-tiba saja ada tangan seseorang yang menepuk pundak Reynold dari belakang sehingga membuat pria bermata ungu tersebut menjadi kaget.
"Wkwkwkw…. Begitu saja kaget, kamu harusnya malu dengan tubuh besarmu itu." Ucap seorang pria penyuka permen yang tidak lain adalah Yongi serta Vinter yang berdiri di sebelahnya.
Reynold yang merasa kesal dengan perkataan yang baru saja ia dengar lantas menarik kerah baju Yongi.
"Siapa juga yang tidak terkejut saat dipegang oleh orang lain dari belakang secara tiba-tiba?"
__ADS_1
Alih-alih merasa takut, Yongi justru mengorek ngorek kuping kirinya dengan jari manis tangan kiri dengan bibir yang dimonyongkan.
"Dasar kurang ajar."
Reynold semakin marah, ia pun mengambil permen dari mulut Yongi secara tiba-tiba.
"Hey.. kembalikan permenku sekarang juga!" Mencoba merebut permennya.
"Wkwkwkw… tidak mau, coba ambil sendiri kalau kamu bisa." Reynold menjauhkan permennya ke arah yang berlawanan.
Mereka berdua terus bertikai dengan sikap yang kekanak-kanakan. Sementara itu, Kharisma dan Riana mengobrol dengan Vinter yang terlihat lebih dewasa.
"Hallo, Kak Vinter. Lama tidak jumpa." Kharisma memberikan salam dengan wajah yang ketus.
"Tumben sekali kamu mau menyapaku, biasanya kan kamu selalu memalingkan wajahmu itu." Jawab Vinter.
Kharisma hanya terdiam sambil memberikan tatapan yang dingin, namun tatapan tersebut tidak mengandung unsur kebencian sama sekali.
"Ternyata kalian datang, ya? Aku sangat berterima kasih." Riana menimbrung pembicaraan.
"Tunggu! Apa yang baru saja kalian bicarakan? Aku tidak mengerti sama sekali." Kharisma bertanya karena merasa ada sesuatu yang janggal antara perkataan Riana dengan Vinter.
"Bukankah sudah kubilang? Aku akan mentraktir temanku makan siang, jadi aku juga mengundang Kak Vinter dan juga Yongi." Riana berbicara dengan riang.
Kharisma dan Reynold lantas tercengang karena mendengar perkataan yang keluar dari mulut Riana, mereka berdua berpikir bahwa orang yang akan ditraktir makan oleh Riana hanyalah mereka berdua.
Disela-sela kebingungan Reynold, Yongi memanfaatkan situasi dengan cara langsung merampas kembali permennya yang telah diambil oleh si pria bermata ungu tersebut.
"Wkwkwkw… dapat, dasar payah." Yongi meledek.
"Huhh… awas saja, akan kubalas nanti." Reynold hanya menggerutu, ia tidak membalas perkataan tersebut dan segera menghampiri Riana.
"Aku tidak menyangka kamu akan mengundang mereka berdua." Kharisma menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Benar, padahal mereka sangat tidak penting untuk ditraktir makan siang." Reynold kembali menggerutu.
Vinter hanya tersenyum mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Kharisma dan Reynold, sedangkan Yongi hanya menunjukkan wajah jengkelnya sambil memakan permen yang berhasil ia rebut kembali.
"Kalian semua kan temanku, aku hanya ingin membuat orang-orang yang berharga bagiku merasakan uang dari hasil jerih payahku sendiri." Riana tersenyum riang.
Mereka ber 4 memberikan tatapan kebingungan karena jawaban yang menurut mereka terdengar konyol dan naif, namun mereka tidak memberikan komen sama sekali karena tidak ingin menolak niat baik yang terlihat sangat bersungguh-sungguh tersebut.
"Ha…. Kalau kalau kamu bilang begitu ya mau bagaimana lagi?" Ucap Kharisma dan yang lain menganggukkan kepalanya karena setuju dengan perkataan wanita cantik bermata biru itu.
"Oh.. hey, Riana, maaf kami sudah membuatmu menunggu lama ya?" Terdengar suara seorang pria yang tidak lain adalah cakra si osis kedisiplinan datang dari kejauhan bersama Bima.
"Kak Cakra dan Kak Bima juga datang ya? Bagus kalau begitu." Ucap Riana.
"Jangan bilang kamu mengundang mereka juga?" Reynold bertanya.
Riana menganggukkan kepalanya dengan ceria seperti biasanya, hal tersebut lantas membuat yang lain merasa keheranan dengan hal yang dipikirkan Riana.
"Kenapa memangnya kalau kami ikut makan siang? Kalian tidak menyukainya?" Cakra bertanya dengan wajah yang menjengkelkan.
"Tentu saja tidak, kami merasa sangat senang karena bisa makan siang bersama kalian." Ucap Vinter sambil menunjukkan senyum palsunya.
"Hohoho…. Tentu saja kalian harus merasa senang karena bisa makan siang bersama kami, kalian berdua kan hanya berandal sekolah sedangkan kami organisasi sekolah yang resmi disini." Cakra membalas senyuman palsu Vinter.
Namun pria berambut putih seputih salju tersebut hanya diam dan terus tersenyum palsu karena tidak ingin membuat masalah lebih dalam dengan osis, tentunya hal itu akan sangat merepotkan jika benar-benar terjadi.
"Bagaimana dengan yang lainnya? Apakah mereka tidak datang?" Riana bertanya.
"Aku minta maaf mewakili osis yang lain karena tidak bisa datang, ada urusan yang membuat mereka tidak bisa datang." Jawab Bima.
"Kakakku juga minta maaf karena tidak bisa hadir, aku harap kamu bisa mengerti." Ucap Vinter.
Riana menganggukkan kepalanya karena ia bisa mengerti bahwa tidak semua orang mempunyai waktu yang luang sehingga bisa menghadiri undangannya. Akan tetapi ia tidak merasa sedih sama sekali karena ia mempunyai cara lain agar teman temannya tersebut dapat merasakan gaji pertamanya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu mari kita duduk."
Mereka pun duduk di meja yang paling nyaman dengan posisi yang saling berhadapan satu sama lain.