
Tok… tok…
Suara ketukan pintu terdengar dari pintu luar, Riana yang baru saja selesai membersihkan kamarnya lantas segera menghampiri dan membukakan pintu.
Alangkah terkejutnya gadis cantik tersebut setelah melihat dua sosok pria yang tidak lain adalah Daniel dan juga bosnya sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Selamat pagi bos, selamat pagi Kak Daniel. Sedang apa kalian berada disini? Dan bagaimana kalian bisa bersamaan?" Tanya Riana dengan senyum ceria yang terpampang jelas di wajahnya.
Pria berambut hitam memalingkan wajahnya yang mulai sedikit merona karena keimutan Riana.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di taman, lalu pria ini mengatakan bahwa dia adalah bosmu dan datang ke sini karena mencarimu. Jadi aku antarkan saja dia kesini.." Daniel terpaksa berbohong.
"Ehem… ehem… itu benar, aku datang kesini dan tidak sengaja bertemu dengannya, alasanku kesini karena ingin mengajakmu jalan-jalan di mall." Pria berambut hitam berbicara dengan wajah yang masih melihat ke arah lain.
"Memangnya kenapa anda ingin mengajak saya jalan-jalan di mall? Apakah ada suatu alasan?" Tanya Riana yang curiga karena diajak secara tiba-tiba.
Daniel tidak tahu harus menjawab apa, ia pun melirik ke arah tuan mudanya dengan wajah yang seperti menunggu jawaban.
Karena tahu Daniel kesulitan menjawab pertanyaan tersebut, akhirnya pria berambut hitam memberanikan diri menatap Riana lalu membuka suaranya walaupun masih sedikit gugup.
"Itu… karena Feng Ying bilang kepadaku bahwa laporan pekerjaanmu sangatlah memuaskan. Jadi aku hanya ingin memberikanmu sedikit hadiah."
"Begitukah? Syukurlah jika pekerjaan saya memuaskan bagi anda, tetapi anda tidak perlu repot-repot memberikan saya hadiah karena itu memang sudah menjadi tugas saya. Lagi pula gaji yang saya terima cukup besar dari yang saya pikirkan." Jawab Riana.
Pria berambut hitam terlihat begitu patah semangat setelah mendengar penolakan dari Riana, terlihat dengan jelas dari wajahnya yang mulai lesu.
Melihat hal tersebut, Daniel tidak bisa berdiam diri saja, ia memutuskan untuk ikut campur.
"Permisi, tuan muda. Biar saya yang menangani hal ini." Daniel berbisik kepada tuan mudanya.
Setelah berbisik, pria berkumis tipis dan tampan itu segera menghampiri Riana lalu menarik tangannya dengan halus. Ia membawa Riana beberapa langkah lebih jauh karena tidak ingin pembicaraan mereka terdengar oleh pria berambut hitam.
"Kenapa Kak Daniel membawa saya menjauh seperti ini?" Tanya Riana dengan wajah yang kebingungan.
__ADS_1
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan."
"Hal penting? Apa itu?" Riana kembali bertanya.
"Kamu tidak boleh menolak itikad baik atasan, sebagai bawahan yang baik kita harus mengikuti seluruh keinginan atasan kita selama itu masih termasuk hal yang wajar." Daniel menjelaskan panjang lebar.
"Begitukah? Kalau begitu aku sudah melakukan kesalahan yang besar, ya?" Riana murung.
Terlihat dari wajahnya yang mulai sedih, ia merasa bersalah karena sudah menolak ajakan bosnya.
"Tidak perlu merasa sedih, sekarang masih belum terlambat, sebaiknya kamu terima ajakan bosmu." Daniel memberikan saran dengan sangat hati-hati.
Riana kembali bersemangat seketika, ia mengepalkan tangannya dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
Langkah demi langkah ia lewati dan akhirnya ia berdiri di hadapan bos barunya.
"Baiklah, saya akan ikut anda pergi ke mall. Tapi sebelum itu, izinkan saya untuk bersiap-siap terlebih dahulu."
"Anu, bos. Kenapa wajah anda memerah?" Tanya Riana.
"Ah… menurut dokter, wajahku ini sangat sensitif terhadap cuaca. Jadi terkadang memang suka memerah, hahaha." Pria berambut hitam berbohong.
Sebenarnya wajahnya memerah karena merasa malu sekaligus senang bisa bepergian dengan Riana untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama. Riana dengan mudahnya percaya dengan alasan tersebut, ia tidak ingin menaruh rasa curiga sedikitpun kepada bos barunya yang begitu baik terhadapnya.
Dengan perasaan ceria, Riana masuk ke dalam kamarnya dan segera bersiap-siap. Sementara itu, pria berambut hitam berbincang-bincang dengan Daniel di meja tamu depan kamar kos Riana.
Setelah menunggu beberapa belas menit, akhirnya Riana datang dengan penampilan yang sangat cantik. Ia memakai baju berwarna coklat dan juga rok berwarna hitam, jika dipadukan dengan rambut hitam lebat dan juga bola mata coklat miliknya, penampilannya begitu cantik bak seorang bidadari yang turun dari langit.
"Cantik sekali." Gumam pria berambut hitam dengan wajah yang sangat amat merah.
"Apa yang baru saja anda kata….." Riana ingin bertanya tentang perkataan barusan karena ia tidak terlalu mendengarnya, namun ia berhenti berkata karena terkejut melihat wajah pria berambut hitam yang sangat merah.
"Ya ampun, bos. Apakah anda benar tidak apa-apa? Wajah anda sangat merah seperti stroberi." Riana kembali bertanya.
__ADS_1
"Sudah kubilang ini karena wajahku sensitif, jadi kamu tidak perlu memikirkannya." Berbicara sambil memalingkan wajahnya.
Riana hanya menganggukkan kepalanya dan tidak bertanya lagi, ia tidak ingin membuat bosnya menjadi merasa tidak nyaman.
Mereka berdua pun berpisah dengan Daniel di gerbang kos dan pergi ke mall menggunakan mobil dua pintu yang sangat mewah dan keren.
Sebenarnya Riana merasa sangat gugup ketika mengetahui akan menggunakan mobil sebagus ini, namun ia tidak mengungkapkannya karena tidak ingin terlihat seperti wanita yang merepotkan di hadapan bosnya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, mereka pun sampai di mall.
"Pertama-tama, bagaimana jika kita membeli ice cream?" Tanya pria berambut hitam malu-malu.
"Baiklah, lagipula saya suka makanan manis." Riana menjawab.
Mereka pun pergi menuju tempat penjual ice cream terdekat
"Ingin beli ice cream rasa apa?" Tanya pria penjual ice cream dengan ramah.
"Kamu ingin beli yang rasa apa?" Tanya pria berambut hitam kepada Riana.
"Saya ingin rasa vanila saja."
"Dua ice cream rasa vanila." Pria berambut hitam menjawab pertanyaan penjual ice cream.
Setelah menunggu beberapa saat, ice cream yang mereka pesan akhirnya telah selesai dibuat. Pria berambut hitam segera membayarnya lalu mengambil kedua ice cream dengan wajah yang terlihat begitu senang.
"Ini ice cream milikmu, aku yang belikan. Jadi jangan merasa sungkan." Memberikan salah satu ice cream kepada Riana dengan malu-malu.
Riana terlihat terkejut seketika, ia tidak menyangka bahwa bos barunya akan sebaik ini kepadanya. Bukan hanya baik, tetapi pria itu juga berlaku lembut kepadanya. Dengan perasaan yang sedikit malu, Riana menerima ice cream tersebut lalu memakannya.
"Terimakasih." Ucap Riana setelah gigitan pertamanya.
"Sama-sama." Jawab pria berambut hitam sambil tersenyum seakan-akan merasa puas melihat wanita yang dicintainya berterima kasih kepada dirinya.
Setelah membeli ice cream, mereka lanjut berkeliling mall bersama-sama walaupun masih ada rasa malu dan canggung antara satu sama lain.
__ADS_1