
SMA Harapan Jaya di atap gedung sekolah, pukul 12.50 siang.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah menyelidikinya?" Vinter bertanya kepada salah seorang anak buahnya.
"Saya sudah menyelidikinya, Tuan Vinter." Jawab seorang pria yang merupakan anggota kelompok TPOM.
"Baiklah, berikan laporanmu sekarang juga."
"Baik! Hari ini kelompok Black Bull masih masuk ke sekolah seperti biasa seolah-olah mereka tidak melakukan penculikan seperti yang tuan katakan."
Hmmm…
Pria berambut putih menopang dagu sambil berpikir dengan keras. Ia sedikit merasa kebingungan dalam mengambil keputusan.
"Apakah kamu sudah yakin jika pelacak yang kamu berikan kepada mereka berada di markas kelompok Black Bull?" Vinter bertanya kepada Yongi.
"Aku tahu kamu pasti tidak bisa sembarangan mengambil keputusan dalam masalah ini. Bukankah begitu?" Pria penyuka permen tersebut balik bertanya.
"Kamu benar, aku tidak bisa sembarangan menyerang markas kelompok lain, terlebih lagi jika mereka tidak melakukan penculikan tersebut. Hal itu akan berdampak fatal bagi kelompok kita."
Yongi menganggukkan kepalanya sambil mengeluarkan handphone dari sakunya.
Swingggg… plakkk…
Ia melemparkan handphonenya dan berhasil ditangkap oleh Vinter.
"Kamu lihat saja sendiri! Disitu titik merahnya berada di pabrik terbengkalai yang terletak di kawasan industri tidak berpenghuni. Di sekolah ini kelompok Black Bull satu-satunya kelompok yang menjadikan tempat itu sebagai markas."
Mendengar penjelasan Yongi, pria berambut putih itu melihat peta di handphone dengan wajah yang amat sangat serius.
"Anu… tuan Vinter…" Ucap salah seorang anggota TPOM yang lain dengan gugup.
"Ada apa? Apakah ada lagi yang ingin kamu sampaikan?"
"Sebenarnya hari ini 2 anggota kelompok Black Bull tidak masuk sekolah tanpa adanya keterangan dan menurut informasi yang saya dapatkan mereka sedang berada di markasnya."
Hmmm…
Pria berambut putih tersebut berjalan menuju Yongi yang sedang duduk sambil memakan permen.
Tidak masuknya 2 orang anggota kelompok Black Bull tanpa keterangan memberikan sedikit kejanggalan, terlebih lagi mereka berada di markasnya.
"Apakah mereka bolos? Tapi kenapa mereka bolos sekolah untuk berada di markas? Sangat mencurigakan." Bergumam dengan tatapan yang kosong.
Setelah berjalan menghampiri Yongi, ia mengembalikan handphone miliknya dan menoleh ke arah seorang anggota kelompoknya.
"Aku sudah memutuskan untuk menyerang mereka nanti malam. Kumpulkan seluruh anggota kelompok dari kelas 1 dan 2!"
"Baik, Tuan Vinter!" Pergi meninggalkan tempat itu untuk mengikuti perintah yang diberikan.
Akhirnya Vinter dan Yongi memutuskan untuk menyerang markas kelompok Black Bull pada malam hari nanti.
Malam hari pukul 9.
Brukkk….
Suara pukulan terdengar dari sebuah ruangan di dalam pabrik tua terbengkalai.
"Akhhh… sa… sakitt…"
Rupanya suara pukulan itu berasal dari Rudi dan kelompoknya yang sedang menyiksa Nami dan Rofik.
__ADS_1
"Sakit? Terus gua harus peduli kalau lu kesakitan? Hahaha." Ucap Rudi.
"Da… dasar.. orang-orang jahat yang tidak mempunyai hati nurani."
Hahahhaha…
Mereka menertawakan Nami dan Rofik yang tidak berdaya dan tidak dapat melawan ketika dipukul. Rasa dendam mereka sangat besar terutama Rudi yang nama baiknya tercemar karena dua pria tersebut.
Disisi lain Vinter dan Yongi serta seluruh anggota kelompoknya dari kelas 1 dan 2 telah sampai di depan markas Black Bull.
"Tempat ini lebih menyeramkan dari yang aku bayangkan." Gerutu Yongi sambil mengintip markas musuhnya dari balik tembok.
Drap… drap…
Suara langkah kaki seseorang berlari ke arahnya. Ternyata itu adalah anak buah yang diutus untuk melakukan penyelidikan.
"Bagaimana? Apakah kamu mendapatkan sesuatu?" Tanya Vinter kepada anak buahnya tersebut.
"Disana saya mendengar suara teriakan orang yang sedang disiksa."
"Teriakan seseorang yang sedang disiksa? Kira-kira berapa orang?" Vinter kembali bertanya.
"Saya kurang tahu jumlahnya akan tetapi menurut saya lebih dari satu orang." Berbicara dengan sangat sopan.
Hmmm….
Menopang dagunya sambil berfikir. Ia menduga bahwa suara tersebut berasal dari Nami dan Rofik yang diculik.
Yongi menepuk pundaknya dari belakang lalu menganggukkan kepalanya seolah-olah dia mengerti dan sependapat dengan apa yang sedang ia pikirkan.
"Baiklah, tidak perlu menunggu lagi. Kita akan menyerang markas mereka sekarang juga." Ucap Vinter sambil berjalan menuju pintu markas kelompok Black Bull dan didampingi oleh Yongi.
Duak… blamm…
Terjadi perkelahian antara anggota kelompok TPOM dengan kelompok Black Bull. Mereka bertarung dengan sangat sengit.
Setelah melumpuhkan penjaga pintu, mereka masuk ke dalam markas itu dan bertarung dengan orang-orang yang ada di dalamnya.
"Bos Rudi! Markas kita sedang diserang." Ucap salah seorang pria dengan wajah yang sangat panik dan nafas terengah-engah.
"Apaaa??? Siapa yang sudah menyerang kita?" Ucap Rudi dengan suara yang lantang.
"Sa.. saya juga tidak tahu karena mereka tiba-tiba menyerang kita, jumlah mereka pun 2 kali lebih banyak dari kita."
"Kurang ajar! Ayo kita pergi dan melawan mereka." Rudi berjalan menuju tempat keributan.
Setelah sampai ditempat pertarungan terjadi, ia melihat anggota kelompoknya sedang bertarung dengan kelompok lain.
Jumlah anggota dari kelompok yang menyerangnya cukup banyak sehingga membuat anggota kelompoknya berhasil dikalahkan satu persatu.
"Wah.. wah.. coba lihat siapa ini?"
Vinter dan Yongi berjalan menghampiri Rudi yang sedang berdiri dengan seorang anggota kelompoknya.
"Vinter?? Yongi?? Jadi yang menyerang kelompok kami adalah kalian?" Bertanya dengan wajah yang penuh dengan rasa amarah.
"Tepat sekali… yang menyerang kelompok kalian adalah kelompok kami yaitu kelompok TPOM." Vinter tersenyum ramah.
"Kenapa? Kenapa kalian melakukan ini? Padahal kelompok gua tidak pernah mencari masalah dengan kelompok kalian."
Smirk…
__ADS_1
Vinter dan Yongi tersenyum tipis dengan tatapan yang tajam.
Mereka berdua tidak menjawab pertanyaan tersebut sehingga membuat Rudi semakin kesal.
"Baiklah… kalau kalian tidak mau menjawab maka aku yang akan membuat mulut kalian berbicara." Berlari sekuat tenaga sambil mengepalkan tangannya seolah-olah akan memukul.
Blam…
Sebelum pukulannya melayang di wajah Vinter, pria berambut putih itu sudah terlebih dahulu menendang perut Rudi menggunakan kaki kanannya sehingga membuatnya jatuh.
"Bos!!! Aku akan menolongmu." Teriak seorang pria anggota kelompok Black Bull yang dari tadi bersama Rudi.
Srettt….
Yongi menghalangi jalannya lalu menjatuhkan permen yang sedang ia makan ke tanah.
"Lawanmu adalah aku." Tersenyum sambil membunyikan jarinya.
Blamm… prak…
Perkelahian pun terjadi, Setelah beberapa menit berkelahi akhirnya pertarungan itu selesai dan berhasil dimenangkan oleh Yongi.
Disisi lain Vinter juga memenangkan pertarungan melawan Rudi si pemimpin kelompok Black Bull.
"Mu.. mundur…" Teriak Rudi sambil berlari meninggalkan tempat itu.
Mendengar ketua kelompoknya memerintahkan untuk mundur, seluruh anggota kelompok Black Bull berlarian meninggalkan tempat itu.
"Begini saja? Mereka lebih lemah dari dugaanku." Gerutu Yongi sambil membuka permen baru.
"Tu.. tuan Vinter, kita menang!" Seorang anggota kelompok berlari ke arahnya.
"Iya… aku tahu kita menang. Tetapi tentu saja ada anggota kelompok kita yang terluka, jadi bawa mereka kembali ke markas kita dan obatilah yang terluka."
Pria tersebut menganggukkan kepalanya lalu pergi lagi untuk menjalankan perintah Vinter yang diberikan kepadanya.
Tidak lama kemudian seluruh anggota kelompok TPOM pergi meninggalkan tempat itu satu persatu dan menuju markasnya.
"Baiklah, sekarang kita hanya perlu mencari dua pria bernyali besar itu." Ucap Vinter sambil melihat sekeliling ruangan.
Aduh….
Terdengar suara rintihan seseorang yang sedang kesakitan tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Vinter, apakah kamu mendengarnya?"
"Iya, aku mendengarnya. Ayo kita cari sumber suara itu." Berjalan menelusuri satu per satu ruangan bersama Yongi.
Tibalah mereka di sebuah ruangan dan betapa terkejutnya mereka melihat Nami dan Rofik yang sedang tergeletak di lantai dengan tubuh yang penuh dengan luka.
"Astaga… mereka benar-benar dipukuli dan disiksa habis-habisannya?" Ucap Yongi dengan wajah yang amat sangat terkejut.
Haaa….
Vinter menghela napas sambil berjalan menuju dua orang itu tanpa berbicara sepatah kata pun lalu menggendong Rofik.
"Kamu bawalah pria berkacamata bulat itu! Kita akan membawanya kerumah sakit."
"Baiklah." Yongi berjalan menghampiri Nami lalu menggendongnya.
Akhirnya mereka membawa kedua pria yang penuh luka tersebut ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan sesegera mungkin.
__ADS_1