
Riana dan kedua temannya telah pergi, sekarang hanya tersisa ketua osis dan wakilnya di tempat itu.
"Bagaimana menurutmu, Diana?" Tanya ketua osis kepada wakilnya.
"Dia wanita yang baik dan cantik."
"Hanya itu saja pendapatmu?"
"Yah, aku tidak terlalu suka ikut campur urusan orang lain. Aku hanya ingin perjanjian pihak kita dengan pihak pria Itu bisa berjalan dengan baik."
Hahaha…
Ketua osis kembali tertawa sendiri dengan suara yang cukup kencang kerena ia merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh wakilnya tersebut.
"Kamu harus menghentikan kebiasaanmu yang satu ini jika kamu tidak ingin dianggap aneh orang lain."
Ucapan Diana membuat pria berkacamata itu terdiam seketika dan menatapnya dengan wajah yang kebingungan.
"Kebiasaan yang satu ini? Kebiasaan apa yang kamu maksud?"
Haa..
Wakil ketua osis tersebut menghela nafas lalu pergi tanpa menjawab pertanyaannya sepatah katapun.
"Wah.. dia mengabaikan pertanyaanku. Menghentikan kebiasaan buruk? Apa yang dia maksud, ya?" Memiringkan kepalanya sambil berfikir dengan keras.
Akhirnya ketua osis pulang ke rumahnya karena matahari sudah mulai terbenam, di dalam perjalanan ia terus berfikir tentang kebiasaan dirinya yang dimaksud oleh Diana.
Ketua osis memang orang yang sangat pintar sekaligus orang yang paling tidak peka di sekolah. Itu lah sebabnya Diana dijadikan sebagai wakilnya karena wanita berambut kepang tersebut adalah wanita yang cukup peka walaupun tidak pintar.
Ketua osis dan wakilnya adalah kombinasi pasangan yang cukup bagus, mereka saling menutupi kekurangan masing-masing dengan kelebihannya sehingga membuat kerja sama antara mereka sangat baik dalam mengatur dan menjaga keamanan serta kenyamanan di lingkungan sekolah
Beberapa hari telah berlalu, sekarang adalah hari minggu dan gadis itu sedang berkeliling di sekitar kota bersama dengan Daniel si tetangga barunya.
"Anu.. daniel.."
sret
Pria berkumis tipis itu menoleh ke arahnya sambil tersenyum kecil.
"Ada apa? Apakah ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?"
"Apakah benar tidak apa-apa jika kamu membelikanku kebutuhan pangan bulan ini?" Bertanya dengan wajah yang penuh dengan keraguan.
"Sudah Ku bilang tidak apa-apa, jadi ayo cepat kita pergi!"
Daniel menarik lengan Riana sambil tersenyum dan berjalan dengan riang. Rupanya mereka pergi ke kota karena Daniel ingin membelikan kebutuhan pangan untuk Riana karena ia selalu makan mie instan sehari-hari untuk menghemat biaya pengeluaran setiap bulannya.
Kring..
__ADS_1
Mereka memasuki sebuah toko yang cukup besar dan mewah. Toko tersebut menyediakan banyak jenis makanan dan minuman untuk pembeli dengan kualitas tinggi sehingga harganya pun terbilang sangat mahal.
"Tu.. tunggu sebentar, Kak Daniel!" Menarik lengan kanan pria berkumis tipis itu.
"Kenapa? Apakah ada masalah?" Memiringkan kepalanya.
"Ti.. tidak, hanya saja bahan pangan yang di jual di toko ini harganya sangat mahal."
Riana merasa tidak enak hati kepada Daniel jika sampai menghabiskan banyak uangnya.
Hahaha…
Pria berkumis tipis tersebut tertawa cukup kencang lalu memegang kedua pundak Riana.
"Kamu tidak perlu khawatir karena aku mempunya banyak uang." Tersenyum.
"Ta.. tapi.."
"Tidak perlu sungkan, ambil saja semua bahan pangan yang kamu perlu."
Daniel menarik lengan gadis itu lalu mengambil troli belanja. Mereka membeli satu persatu bahan pangan dengan kualitas yang sangat tinggi hingga tidak terasa satu jam telah berlalu. Setelah selesai membeli bahan pangan yang dibutuhkan oleh Riana, pria berkumis itu membawa troli belanja ke tempat kasir.
"Hari ini kita membeli banyak makanan dan minuman, ya?" Mendorong troli belanja dengan riang.
"I.. iya, tetapi bukankah kita membeli terlalu banyak?"
"Uang yang diberikan oleh pria itu? Apa yang kamu maksud, Kak Daniel?" Tanya Riana dengan wajah yang kebingungan.
Pria berkumis tipis itu tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak ia katakan.
"Bu.. bukan apa-apa, kamu tidak perlu memikirkan perkataanku barusan karena aku hanya asal bicara tadi."
Hahaha…
Ia berpura-pura tertawa agar tidak dicurigai oleh Riana. Hal itu justru membuat gadis itu semakin curiga terhadapnya.
"Kita harus cepat pergi ke kasir selagi tidak ada pembeli yang mengantri."
Pria berkumis tipis tersebut mempercepat langkahnya sehingga membuat Riana mempercepat langkahnya juga agar dapat mengimbanginya. Setelah berjalan selama beberapa menit akhirnya mereka telah sampai di kasir. Bahan pangan yang mereka beli segera dihitung jumlah harganya lalu dimasukkan kedalam plastik belanja.
"Sudah selesai pak, total harganya adalah 19 juta 400 ribu rupiah."
"Baiklah, saya bayar menggunakan kartu atm, ya?" Mengeluarkan kartu atm dari dalam dompetnya lalu memberikannya kepada penjaga kasir.
"Harganya terlalu mahal, Kak Daniel."
Bagi Riana menghabiskan uang belasan juta hanya untuk membeli bahan pangan selama 1 bulan sangat lah besar. Ia biasanya hanya menghabiskan 300 sampai 500 ribu perbulan untuk membeli bahan pangan tersebut. Tentu saja perbedaan harganya sangat jauh karena tempat yang dikunjungi bersama Daniel sekarang adalah toko yang menjual bahan pangan dengan kualitas yang sangat baik dan tinggi.
"Kamu benar-benar gadis yang sangat baik ya, tetapi kamu tidak perlu khawatir karena aku mempunya banyak uang, hehehe.." Tertawa kecil sambil tersenyum.
__ADS_1
Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil merasa tidak enak hati karena telah dibelikan bahan pangan dengan harga yang sangat mahal oleh Daniel.
Kringg..
Setelah selesai membayar di kasir, mereka pun membawa belanjaan tersebut lalu memasukkannya ke dalam mobil milik Daniel.
Bruk..
Pria berkumis tipis itu menutup pintu bagasi dan Riana sudah duduk di kursi mobil bagian depan.
Swiitt…
aura negatif terpancar dari toko seberang jalan sehingga membuat Daniel yang ingin masuk ke dalam mobil menjadi tertegun lalu menoleh ke arah toko tersebut. Terlihat sosok seorang pria berambut merah dan memakai masker sedang mengamati dirinya dan Raina dari jendela lantai dua cafe seberang jalan. Ia pun menatap tajam sosok pria berambut merah tersebut sehingga membuatnya pergi dan tidak terlihat lagi di balik jendela tersebut.
“Ada penguntit rupanya.” Bergumam sambil berdiri di depan pintu masuk mobil
“Apakah terjadi sesuatu, Kak Daniel?” Riana bertanya secara tiba-tiba sehingga membuat daniel terkejut.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya melihat cafe itu karena terlihat bagus.”
“iya, menurutku cafe itu juga terlihat bagus.”
Hahaha…
Daniel berpura tertawa sambil masuk kedalam mobil.
“Lain kali aku akan mengajakmu pergi ke cafe juga.”
“Ti.. tidak perlu, saya hanya mengatakan bahwa cafe itu bagus bukan ingin pergi ke cafe itu. Lagi pula harga makanan dan minumannya pasti sangat mahal.”
“Tenang saja! jika kita pergi ke cafe aku yang akan mentraktirmu, jadi kamu tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun.”
“Terima kasih, Kak Daniel adalah orang yang sangat baik.” Riana tersenyum bahagia karena mendapatkan tetangga baru yang sangat baik.
Brumm..
Daniel menginjak gas mobil dan menempuh perjalanan pulang menuju kos-kosan. Setelah beberapa belas menit akhirnya mereka sampai di tempat parkir kos-kosan. Pria berkumis tipis itu memarkirkan mobil lalu mengeluarkan semua belanjaan dari dalam bagasi.
“Saya akan membantu membawa plastik belanjaannya.” Riana mengangkat satu plastik belanjaan.
“Baiklah, kalau begitu aku akan membawa dua.”
Mereka pun membawa plastik belanjaan tersebut ke dapur lalu memasukkannya ke lemari es milik Riana.
“Sudah selesai, kalau begitu aku izin pamit karena ada urusan yang harus diselesaikan.”
“Baik, terima kasih untuk hari ini, Kak Daniel.” tersenyum bahagia.
Pria itu membalas senyumannya lalu segera bergegas pergi menuju kamar kos-kosan miliknya karena ada hal penting yang harus ia lakukan.
__ADS_1