
Kharisma dan kedua temannya membeli kebab dan minuman yang enak.
"Berapa harganya?" Tanya Yulia kepada penjual.
"Harganya 50 ribu kak." Jawab si penjual sambil memberikan makanan dan minuman yang mereka pesan.
Dinda dan Yulia kaget setelah mendengar harganya, hanya satu kebab dan segelas minuman tetapi harganya bisa sampai 50 puluh ribu terbilang sangat mahal bagi mereka berdua.
Sret..
Kharisma mengeluarkan uang dari dalam dompetnya lalu membayar makanan dan minuman miliknya.
"Terima kasih." Ucap sopan penjual sambil menerima uang tersebut.
Kedua temannya menatap dirinya dengan wajah kebingungan, mereka bingung memutuskan untuk membeli makanan dan minuman tersebut atau tidak jadi membelinya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Kharisma bertanya sambil meminum minumannya.
"Tunggu! Jangan bilang kalian minta dibayarkan?" Kembali bertanya.
Dinda dan Yulia masih ragu-ragu dalam mengambil keputusan, namun akhirnya mereka membeli makanan dan minuman tersebut walaupun harganya mahal karena rasa gengsi mereka.
Mereka berdua akan merasa malu jika tidak jadi membeli makanan dan minuman yang telah dipesan, terlebih lagi banyak orang yang menyaksikan di tempat itu.
"Ka.. kami akan bayar sendiri, kok. Tunggu sebentar!" Yulia merogoh dompetnya di dalam tas.
Dinda juga mengeluarkan dompetnya, mereka pun membayarnya dengan rasa penuh penyesalan karena membeli makanan dan minuman semahal ini.
Setelah itu mereka bertiga lanjut berkeliling mall sambil memakan jajanan mereka. Saat berada di lantai 3 mall Yulia mengajak kedua temannya untuk mampir ke sebuah toko yang menjual tas bermerek.
"Selamat datang, silahkan dilihat-lihat terlebih dahulu." Ucap seorang wanita yang merupakan penjaga toko tersebut.
Mereka bertiga melihat berbagai macam tas yang bagus di toko tersebut, akan tetapi harganya sangat mahal. Itu adalah hal yang wajar karena tas yang dijual merupakan barang bermerek.
Di toko itu Yulia terus menerus memandangi sebuah tas bagus berwarna putih yang terlihat mewah dan elegan, harganya sangat mahal sehingga mustahil baginya untuk membeli tas tersebut.
"Harganya sangat mahal, bahkan jika aku menabung selama 2 tahun belum tentu bisa membelinya." Yulia bergumam setelah mengambil tas yang diinginkannya.
Setelah bergumam ia berlari kecil menuju Kharisma yang sedang memainkan handphonenya.
Ternyata Kharisma kembali ber chatting dengan Reynold.
Kharisma : aku rasa kamu benar, aku sekarang mulai curiga jika mereka berdua hanya memanfaatkanku.
__ADS_1
Reynold : sudah ku bilang beberapa kali untuk menjauh dari mereka.
Kharisma : aku akan menjauhi mereka seperti yang kamu katakan jika kecurigaanku seratus persen terbukti.
Disaat Kharisma sedang asyik chattingan dengan Reynold, Yulia menghampirinya lalu menepuk pundaknya secara tiba-tiba sehingga membuatnya sedikit terkejut.
"Astaga! Kamu membuatku terkejut." Gerutu wanita bermata biru itu.
"Hehehe… maaf, aku tidak sengaja melakukannya."
"Tidak masalah." Ucap Kharisma sambil melirik ke arah tas berwarna putih yang dibawa Yulia.
"Wah… tas yang kamu pegang sangat bagus, aku rasa akan cocok jika dipakai olehmu." Dinda datang setelah berkeliling lalu menimbrung pembicaraan.
Yulia menunjukkan tas yang ia pegang dengan senyum yang sangat lebar, ia terlihat sangat bahagia dengan tas tersebut.
"Aku ingin sekali membeli tas ini, namun aku tidak punya uang untuk membelinya, harga tas ini 60 juta." Yulia tiba-tiba bersedih.
"Ya ampun… harganya kenapa begitu mahal? Apakah karena ini barang bermerek?"
"Iya! Andai saja aku bisa memilikinya." Ucap Yulia sambil melirik dengan ke arah Kharisma lalu memasang wajah sedih seperti meminta belas kasih dari orang lain.
Haaa
Kharisma memandangnya dengan tajam lalu menghela napas.
"Hohoho… kamu benar! Lebih baik aku membeli tas yang murah saja di toko luar mall. Kalau begitu aku akan menaruh tas ini di tempatnya." Yulia pergi meninggalkan Dinda dan Kharisma.
Dinda terlihat sedang menahan kesal, ia tidak mengeluarkan sepatah katapun, sedangkan Kharisma hanya meliriknya dengan wajah yang datar lalu mengeluarkan handphonenya dari dalam saku dan kembali chatting bersama Reynold.
Kharisma : apakah kamu ada di rumah?
Reynold : iya, memangnya kenapa?
Kharisma : aku akan mengunjungimu setelah pulang dari mall, jadi kamu jangan pergi keluar rumah.
Reynold : oh.. baiklah, aku akan menunggumu.
Setelah itu Kharisma mematikan dan memasukkan handphonenya ke dalam saku. Ia kembali melirik tajam ke arah Dinda yang dari tadi tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Menyebalkan sekali." Yulia bergumam setelah menaruh kembali tas itu di tempatnya lalu menghampiri kedua temannya lagi.
Sama seperti Dinda, wajah Yulia juga terlihat seperti sedang menahan amarah.
__ADS_1
"Aku merasa tidak enak badan." Ucap Yulia ketus.
"Benarkah? Kalau begitu sebaiknya kita pulang, kamu harus istirahat agar tidak sakit." Dinda khawatir.
"Kalau begitu ayo pulang! Lagi pula aku aku berniat menemui sahabatku." Kharisma berjalan terlebih dahulu sambil berbicara, ia tidak lagi menggandeng tangan kedua temannya seperti sebelumnya.
Yulia dan Dinda semakin kesal kepadanya lalu menatapnya dengan tatapan penuh amarah, walau begitu mereka berdua tetap mengikutinya menuju mobil di tempat parkir.
Brummm
Dalam perjalanan pulang mereka tidak saling berbicara satu sama lain dan seolah-olah menjadi orang asing. Sopir mengantarkan kedua teman Kharisma ke rumahnya masing-masing lalu pergi menuju rumah Reynold.
Pukul 1 siang di rumah Reynold.
"Akhirnya kamu datang juga." Reynold menyambut Kharisma setelah wanita bermata biru itu keluar dari mobilnya.
"Tolong buatkan aku segelas minuman segar!" Ucap Kharisma dengan wajah yang terlihat lelah.
"Baiklah… aku akan meminta pembantuku membuatkannya. Tapi kenapa kamu terlihat sangat lelah seperti itu?" Reynold bertanya.
"Aku akan ceritakan nanti, sekarang bisakah kita berbincang di ruang tamu?"
Reynold menganggukkan kepalanya dan memandu wanita bermata biru tersebut ke ruang tamu miliknya, ia juga memerintahkan bibi pembantu untuk membuatkan lemon tea dingin lalu mengantarnya ke ruang tamu.
Brukk..
Kharisma duduk di sofa dan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Tanya Reynold.
"Aku rasa kamu benar, Dinda dan Yulia hanya memanfaatkanku saja." Berbicara dengan wajah yang masih ditutup dengan kedua telapak tangannya.
"Aku mungkin tidak pernah bertemu dengan kedua teman baikmu itu, tapi dari cerita yang kamu sering kamu ceritakan kepadaku tentang mereka melalui chat semenjak kamu berteman baik dengan mereka dari kelas 1 sd, aku bisa langsung mengetahui jika mereka hanya memanfaatkanmu." Reynold memasang wajah serius.
Kharisma dan Reynold sebenarnya tidak bersekolah di sekolah yang sama, mereka bisa menjadi sahabat karena perjanjian bisnis antara kedua keluarga mereka.
"Awalnya aku selalu mentraktir mereka karena keluargaku kaya sehingga tidak masalah jika mengeluarkan beberapa uang untuk teman baikku, tetapi setelah mendengar perkataanmu bahwa mereka hanya memanfaatkanku, aku pun berinisiatif melakukan beberapa pengetesan kepada mereka dan hasilnya….." Kharisma berhenti berbicara lalu melepaskan kedua telapak tangannya dari wajahnya kemudian menatap Reynold.
"Ba.. bagaimana hasilnya?" Reynold bertanya dengan wajah penasaran.
"Kamu benar! Selama ini mereka hanya memanfaatkanku saja, mereka mau berteman denganku karena keluargaku memiliki banyak uang." Mata Kharisma berkaca-kaca.
Hiks… hiks…
__ADS_1
Wanita bermata biru tersebut menangis tersedu-sedu karena rasa sedih yang luar biasa, sekuat apapun ia tetap saja tidak bisa menahannya. Rasa seperti telah dibohongi, dimanfaatkan, dan dikhianati bercampur aduk dalam perasaannya.
Reynold menghampirinya sambil membawakan tissue dan memberikannya kepada Kharisma. Ia membiarkan sahabat wanitanya tersebut menangis seleluasa mungkin karena mungkin itu mungkin bisa membuatnya merasa lebih baik.