
Malam hari pukul 9 di sebuah tempat makan.
Tingga minggu telah berlalu, sekarang Riana sudah mulai terbiasa melakukan tugas barunya yaitu menjual parfum dan melakukan controlling cabang toko.
"Malam hari ini udaranya cukup dingin, untung saja aku memakai jaket yang cukup tebal." Gumam Riana melihat ke arah luar jendela sambil meminum teh hangat.
Hari ini ia baru saja selesai melakukan controlling toko cabang dan sedang menunggu makan malam yang ia pesan.
"Jika dipikir-pikir, kalau aku masih menjadi penjaga minimarket seharusnya sekarang aku sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja." Kembali bergumam.
Semenjak ia mengganti pekerjaannya, aktivitasnya sehari-hari menjadi jauh lebih santai. Ia tidak perlu lagi bekerja di dinginnya malam yang sunyi, kondisi tubuhnya juga jauh lebih sehat dari sebelumnya karena ia tidak kekurangan tidur. Jika sebelumnya ia tidur hanya 3 jam sehari, sekarang ia bisa tidur hingga 6 jam sehari.
"Aku sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan ini. Selain gajinya yang besar, pekerjaan ini juga cukup menyenangkan dan cocok denganku." Riana tersenyum bahagia.
Beberapa saat kemudian, datanglah seorang pelayan membawa makanan malam yang dipesan oleh Riana.
"Selamat menikmati makanannya." Ucap pelayan tersebut dan segera pergi setelahnya.
Riana dengan lahap memakan makan malamnya yang menurutnya sangat enak, berkat pekerjaan barunya ia dapat memakan makanan yang lebih layak dari sebelumnya.
Srett..
Saat ia sedang makan, ada sosok seorang pria dengan penampilan serba hitam sedang menatapnya dari meja makan yang berseberangan dari menja Riana. Pria tersebut memakai masker yang menutupi wajahnya dan juga memiliki rambut berwarna merah.
Bulu kuduk Riana berdiri seketika, ia merasakan hawa negatif yang terpancar entah dari mana datangnya. Namun ia memutuskan untuk tidak memperdulikannya dan fokus menyantap makan malamnya.
"Permisi, saya ingin membayar makanan yang telah saya pesan." Ucap Riana di meja kasir setelah selesai menyantap makan malamnya.
Pelayan kasir segera melayaninya dengan sangat ramah karena bagaimanapun pembeli adalah raja.
Setelah membayar, Riana segera bergegas menuju tempat parkir karena ia sudah membuat janji dengan Daniel si tetangganya yang baik dan tampan.
"Riana, sebelah sini!" Teriak Daniel yang sudah berdiri di depan mobil hitam miliknya.
Riana dengan ceria berlari kecil ke arahnya sambil membawa dokumen-dokumen miliknya.
"Kak Daniel sudah menunggu lama?" Tanya Riana.
__ADS_1
"Belum, aku juga baru saja sampai." Daniel menjawab.
Mereka pun masuk ke dalam mobil bersama-sama. sebelum mengendarai mobil, Daniel membenarkan posisi kaca spion agar lebih mudah melihat pengendara yang berada di belakang mobilnya karena bagaimanapun keselamatan adalah nomor satu.
Saat membenarkan posisi kaca spion, alangkah terkejutnya Daniel melihat sosok pria dengan pakaian serba hitam dan rambut merah sedang menatap dirinya dari balik tembok tiang.
"Sebegitunya kah kamu ingin menghancurkanku dan merebut milikku hingga menjadi penguntit seperti ini?" Gumam Daniel.
"Ada apa, Kak Daniel? Kenapa kamu terus melihat kaca spion dengan serius?" Tanya Riana.
"Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan hal lain, itu saja." Daniel tersenyum seketika agar Riana tidak menaruh rasa curiga kepadanya.
Riana dengan polosnya menganggukkan kepala dan percaya kepada perkataannya pria berkumis tipis tersebut.
Disaat yang bersamaan, pria berambut merah yang sedari tadi menguntit menghilang secara tiba-tiba dan tidak meninggalkan jejak sama sekali.
Riana dan Daniel melanjutkan perjalanan pulang mereka menuju tempat kos dan tiba disana sekitar pukul 10.15 malam.
"Selamat malam, Kak Daniel. Semoga mendapatkan mimpi yang indah." Riana tersenyum membuka pintu kamar kosnya.
Mereka masuk ke dalam kamar kos masing-masing lalu mengunci pintu agar tidak ada orang yang memiliki niat jahat masuk ke dalam kamar mereka.
Di dalam kamar, Riana tidak langsung tidur. Ia membuka laptop pemberian perusahaan dan mengolah data yang telah didapatkan dari controlling cabang toko.
"Semangat Riana, kamu pasti bisa. Ayo kita lanjutkan pekerjaan kita." Riana menyemangati dirinya sendiri.
Ia mengerjakan tugas dengan semangat seperti biasanya.
Sementara itu, di kamar no 27 yaitu kamar milik Daniel. Pria berkumis tipis tersebut sedang menelepon seseorang, sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang sangat penting.
"Baik, saya akan menghadap anda langsung esok hari." Ucap Daniel dengan wajah yang sedikit pucat.
Trut… trut…
Ia mematikan handphone lalu melemparnya ke atas kasur.
"Aku benar-benar berada dalam masalah besar, bagaimana jika aku dipecat besok?" Menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Entah apa yang sebenarnya terjadi kepada pria berkumis tipis itu, ia terlihat sangat kebingungan sekaligus takut akan suatu hal yang akan terjadi besok hari.
Dengan pikiran yang masih kacau, ia membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Aku harus mempertahankan pekerjaan ini dan menyelamatkanmu bagaimanapun caranya. Karena hal buruk yang menimpamu sepenuhnya adalah kesalahanku." Gumamnya.
Karena kondisi tubuhnya yang sangat kelelahan, tidak terasa pria berkumis tipis tersebut ketiduran dengan sangat pulasnya.
Sementara itu, di depan gerbang kos tempat Riana dan Daniel tinggal. Terlihat sosok pria berambut merah yang dari tadi menguntit sedang berdiri dengan wajah datarnya.
"Melakukan hal ini sangatlah merepotkan." Gumam pria berambut merah sambil membuka masker hitam yang selama ini selalu ia kenakan.
"Yah… tapi mau bagaimana lagi? Aku akan melakukan segalanya untuk menghancurkanmu dan salah satu cara menghancurkanmu adalah menyingkirkan wanita yang bernama Riana itu. Terakhir kali aku sudah mencoba mencelakainya dengan cara mendorongnya ke kali, usahaku itu tidak membuahkan hasil karena ia masih hidup. Namun aku masih memiliki cara lain untuk mencelakainya, hehehe." Tersenyum jahat.
Disaat yang bersamaan, terlihat dua anak kos kamar lain yang pulang setelah menjalani aktivitasnya dan hendak masuk melalui gerbang kos tempat pria berambut merah sedang berdiri.
Karena terlihat mencurigakan, kedua anak kos tersebut memutuskan untuk bertanya walaupun merasa sangat ketakutan.
"Permisi, apa yang sedang anda lakukan disini? Kenapa anda terus melihat ke arah tempat kos kami?"
Tanpa menjawab sedikitpun, pria berambut merah segera memakai maskernya lalu berjalan dengan sangat cepat meninggalkan tempat itu.
Rasa curiga menyelimuti kedua anak kos yang bertanya kepadanya.
"Hey, kenapa pria itu aneh sekali? Apakah kamu tidak merasa curiga?"
"Aku memang merasa curiga kepadanya, untuk apa dia pergi setelah kita bertanya?"
"Kalau begitu seharusnya kita tangkap saja dia tadi."
"Kamu gila ya? Bisa saja dia memiliki senjata tajam atau senjata api, lebih baik kita tidak perlu mempermasalahkan hal yang barusan."
"Yah, kamu ada benarnya juga. Ayo kita segera masuk, perasaanku mulai tidak enak."
Mereka berdua masuk melalui gerbang lalu kembali menguncinya agar tidak ada orang asing masuk sembarangan.
Pada akhirnya, pria berambut merah kembali menghilang tanpa jejak.
__ADS_1