Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Awal Dari Kehancuran Risma


__ADS_3

Setelah beberapa menit berjalan mereka pun hampir sampai ke kelas. Terlihat dari jauh Risma sedang berdiri di depan pintu masuk kelas dengan wajah yang sangat marah dan kedua temannya yang sedang mencoba untuk menenangkannya.


“Hmm.. sepertinya 'Pria itu' sudah mulai bergerak, ya?” Kharisma bergumam.


“Kenapa para wanita jelek itu berdiri di depan pintu masuk kelas?”


“Entahlah, aku juga penasaran kenapa dia berdiri di situ.”


Kharisma dan Reynold saling bertatapan wajah lalu tersenyum tipis.


Dreettt...


Gadis malang itu gemetar ketakutan setelah melihat Risma dengan wajah yang sangat marah. Ia masih sedikit trauma dengan penyiksaan yang dilakukan oleh Risma kepadanya. Melihat hal itu Kharisma mencoba untuk menenangkannya dengan cara menggenggam tangan Riana sambil tersenyum.


“Tidak perlu takut! Aku dan Reynold akan selalu melindungimu.”


“Itu benar, kamu tidak perlu takut kepadanya! Aku akan memukul wanita jelek itu jika berani bertindak kasar terhadapmu.” Mengepalkan tangan kanannya.


Ia menganggukkan kepalanya sambil mencoba memberanikan dirinya. Setelah Riana merasa lebih baik, mereka pergi pun menghampiri Risma dan kedua temannya yang sedang berdiri di depan pintu kelas.


“Rupanya lo sudah datang wanita kurang ajar.”


Dengan wajah yang terlihat marah Risma menghampiri gadis itu lalu mencoba untuk menampar pipinya.


Plakkk


Reynold berhasil menangkisnya dengan menggenggam tangan wanita bermata sipit itu.


Kyaaakkkk


Risma berteriak sambil menarik lengannya yang digenggam oleh reynold.


“Apa yang terjadi denganmu?”


“Apa kamu baik-baik saja, Risma?”


Anggi dan Ruthfi mengkhawatirkan temannya karena tiba-tiba berteriak. Seolah-olah tidak mendengar perkataan tersebut, Risma mengabaikan pertanyaan kedua temannya.


“A.. aduh! Apa yang baru saja lo lakuin ke gue?” Merintih kesakitan sambil memandang tajam ke arah Reynold.


Hehehe....


Alih-alih ketakutan, Pria bermaat ungu tersebut justru membalas tatapan itu dengan tertawa kecil dan tatapan yang merendahkan.


“Kejutan! Apakah kamu menyaukainya, wanita jelek?” Menunjukkan telapak tangannya kepada Risma dan kelompoknya.


“Be.. benda apa itu?”


“Ini adalah hand buzzer electric shock. Alat ini digunakan untuk menyetrum orang yang bersalaman atau bersentuhan kulit denganku, hehehe.” Kembali tertawa kecil.


“Apakah lo sudah gila?”


“Iya, bagaimana bisa seorang pria melakukan hal seperti ini kepada wanita?”


Kedua temannya Risma berbicara dengan nada yang keras sehingga menarik perhatian murid lain. Mereka sengaja melakukan itu karena ingin membuat murid-murid lain datang dan menonton pertengkaran mereka. Tujuan mereka sudah jelas, yaitu membuat Riana dan kedua temannya dibenci dan dikucilkan.


“Hei! Ada yang bertengkar di depan kelas kita.”


“Benarkah? Kalau begitu mari kita lihat.”


“Tunggu! Aku juga ingin melihatnya.”


“Capatlah! Aku tidak ingin ketinggalan menonton pertengkaran itu.”


Tap


Melihat murid-murid lain mulai berdatangan, Reynold memencet tombol di hand buzzer electric shock miliknya lalu memasukkannya ke dalam kantong baju.


“Hei, kalian semua dengarkan aku! Pria ini telah menyakiti temanku Risma dengan cara menyetrumnya dengan alat yang bernama hand buzzer electric shock.” Rutfi mencoba memojokkan Reynold dengan cara memprovokasi murid-murid yang sedang menontonnya.


“Itu benar! Aku melihatnya sendiri dengan kedua mata kepalaku.” Mencoba membantu memprovokasi murid lain.


Mendengar ucapan kedua wanita itu, mereka mulai berbisik-bisik antara satu sama lain, walaupun berbisik suara mereka tetap saja terdengar dengan jelas.

__ADS_1


“Ya ampun, apakah yang mereka katakan itu benar?”


“Aku tidak tahu, tetapi jika itu benar maka pria itu benar-benar orang yang tidak memiliki hati nurani.”


“Aku setuju denganmu, bagaimana bisa seorang pria melakukan hal seperti ini kepada seorang wanita.”


"Benar-benar pria yang jahat!"


Mlihat temannya mulai berhasil untuk memprovokasi murid lain, Risma menoleh ke arah Riana dan dan kedua temannya sambil tersenyum tipis.


“Habislah riwayat hidup kalian.” Berbicara tanpa suara.


Dreettt...


Riana kembali gemetar ketakutan, ia gemetar bukan karena takut dipukul atau dikucilkan karena semenjak kecil itu merupakan hal biasa yang sering ia alami.


Ia hanya takut jika kedua teman barunya bernasib yang sama sepertinya karena berteman dengan dirinya.


“Ba.. bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Tenanglah, Riana! Aku kan sudah menyuruhmu untuk tidak takut melawan perempuan jelek itu.”


“Kamu tidak perlu takut, Aku dan Reynold yang akan membereskan para wanita munafik itu.”


Ia hanya bisa menganggukkan kepala dan mencoba memberanikan diri melawan Risma dan kelompoknya seperti yang dikatakan oleh kedua temannya. Semua pandangan seluruh murid kini tertuju kepada Reynold. Mereka menatapnya dengan wajah yang penuh dengan kebencian.


Alih-alih takut, pria bermata ungu itu berbalik menyerang Risma dan kelompoknya.


“Astaga, aku tahu kalian bertiga tidak menyukaiku tetapi aku tidak menyangka jika kalian akan menuduhku seperti ini.” Memasang ekspresi sedih dengan wajah tampannya.


“Menuduhmu? Kami mengatakan hal yang sebenarnya.”


“Ruthfi benar! Apakah kalian tidak melihat teman kami Risma sedang kesakitan karena ulah pria ini?”


Aduhhh....


Risma berpura-pura kesakitan agar murid-murid yang menonton lebih terprovokasi.


Alat penyetrum yang bernama hand buzzer electric shock sebenarnya bukan alat yang berbahaya. Alat itu hanya memberikan setruman yang kecil sehingga tidak akan melukai orang lain. Biasanya alat itu digunakan sebagai alat guyonan.


“Tentu saja kami mempunya bukti. Alat yang digunakan pria itu untuk menyakiti teman kami disembunyikan di kantong bajunya.” Menunjuk Reynold menggunakan jari telunjuknya.


“Itu benar! Coba periksa kantong baju pria itu!”


Reynold tersenyum tipis lalu melihat satu-persatu seluruh murid yang menonton perselisihan itu hingga akhirnya matanya fokus kepada seorang pria yaitu ketua kelas 1-2.


“Baiklah, sebagai saksi bagaimana jika ketua kelas yang memeriksa kantong bajuku?” Menunjuk ketua kelas.


Ternyata ia berniat menjadikan ketua kelas sebagai saksi untuk menyerang balik kelompok Risma. Seketika seluruh murid yang berada di tempat itu menatap ketua kelas sehingga membuatnya mau tidak mau menerima tawarannya.


“Baiklah, aku akan memeriksa kantong bajunya. Jadi jangan menatapku seperti itu!”


Ia berjalan menghampiri Reynold lalu memeriksa kantong bajunya, semua murid yang berada di tempat itu merasa sangat penasaran dengan hasil pemeriksaan tersebut.


Beberapa saat kemudian ketua kelas telah selesai memeriksa kantong baju Reynold.


“Bagaimana? Apakah lo menemukan alat penyetrum itu?” Tanya Risma.


“Hmm.. tidak ada apa pun di kantong bajunya selain cincin ini.” Menunjukkan cincin yang ia temukan di dalam kantong baju Reynold.


“Kalian lihat kan? Tidak ada alat penyetrum di kantong baju temanku.”


“Aku sedih sekali karena kalian menuduhku seperti itu?” Reynold kembali memasang ekspresi sedih dengan wajah tampannya agar mendapatkan belas kasih dari seluruh murid yang menontonnya.


Mereka pun kembali berbisik antara satu sama lain.


“Apa yang terjadi? Apakah mereka berbohong?”


“Aku rasa mereka berbohong”


“Benar! Tidak ada apa pun di kantong pria itu selain cincin.”


“Omong-omong mereka memang anak bermasalah bukan?”

__ADS_1


“Iya, mereka bahkan menyiksa wanita yang bernama Riana kemarin.”


“Aku sudah menduganya, mereka hanya mengada-ada saja.”


“Kemarin mereka menyiksa seorang wanita, sekarang mereka menuduh orang lain tanpa bukti.”


“Ketiga wanita itu benar-benar tidak punya perasaan.”


Risma dan kelompoknya terpaku tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun. Situasinya sekarang telah berbalik, seluruh murid sekarang menatap mereka dengan wajah penuh kebencian.


Teng.. teng.. teng..


Disaat yang bersamaan bel sekolah berbunyi.


“Sudahlah, tidak perlu membesar-besarkan masalah ini. Sekarang cepat pergi ke kelas kalian masing-masing karena bel masuk sudah berbunyi.” Kharisma mencoba menyelesaikan perselisihan ini.


Murid-murid kembali saling berbisik-bisik antara satu sama lain.


“Wanita itu benar. Mari kita pergi ke kelas! Sebentar lagi guru akan datang.”


“Iya, Mari kita tinggalkan wanita-wanita jahat ini.”


"Benar, jangan dekat-dekat dengan orang seperti mereka."


Mereka kembali ke kelasnya masing-masing dan suana pun menjadi tenang kembali.


“Mari kita masuk ke kelas.” Kharisma menggandeng tangan gadis itu.


“Tunggu sebentar!”


Smirk


Kharisma menoleh lalu memberikan senyum tipis dengan tatapan yang merendahkan.


“Reynold, bawa Riana pergi ke dalam kelas! Aku ingin berbicara sebentar dengan wanita ini.”


Pria bermata ungu itu menganggukkan kepalanya lalu membawa Riana masuk ke dalam kelas dan mempercayakan masalah ini kepada Kharisma.


“Kalian juga cepat pergi ke kelas!”


“ta.. tapi..”


“Aku bilang cepat pergi!”


Risma membentak kedua temannya dengan tatapan yang penuh dengan amarah. Mereka pun mengikuti perkataannya dan pergi ke dalam kelas, sekarang hanya tersisa Kharisma dan Risma di tempat itu


“Apa yang ingin kamu katakan kepadaku?”


“Apa yang lo lakuin ke keluarga gue?”


Pfftt


Kharisma menertawakan wanita itu.


“Aku kan sudah pernah bilang bahwa pria itu sudah menargetkan kamu.”


“Si.. siapa pria yang lo maksud?”


“Entahlah, kenapa aku harus memberi tahumu?”


“Terjadi sebuah masalah dalam bisnis kedua orang tua gue dan pelakunya adalah seorang pria berambut pirang. Jika masalah ini terus dibiarkan, bisnis kedua orang tua gue bisa hancur.”


Kharisma menatap wanita itu dengan tatapan yang serius lalu kembali tertawa setelah beberapa saat.


“pfft.. apakah kamu sekarang menanyakan hal itu kepadaku karena mencoba mencari identitas pria itu untuk melawannya?”


“Benar! Gue tidak bisa diam saja melihat bisnis keluarga gue dihancurkan secara perlahan-lahan.”


“hmm.. aku turut prihatin dengan bisnis keluargamu tetapi itu bukan urusanku. lagi pula kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan pria itu, jadi terima saja kehancuran bisnis keluargamu.”


Kharisma pergi ke dalam kelas, ia meninggalkan wanita itu sendirian dengan perasaan marah dan bingung.


“Sial! apa yang harus gue lakukan sekarang?” Risma bergumam sambil mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Wanita itu pergi ke suatu tempat dengan perasaan yang campur aduk. Ia memutuskan untuk bolos jam pembelajaran karena sedang kebingungan dengan masalah yang terjadi pada bisnis keluarganya.


__ADS_2