Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Hilangnya Pria Berhoodie


__ADS_3

Klek


Riana membuka pintu kos-kosan dan pergi ke minimarket tempat ia bekerja sambilan


“Semoga saja aku tidak mengalami kejadian seperti kemarin.” Bergumam.


Ia terpaksa bekerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tubuhnya sedikit bergetar karena masih trauma dengan kejadian yang dialaminya kemarin, meskipun begitu ia tetap memberanikan dirinya dan pergi bekerja sambilan.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya ia sampai di minimarket.


kringg..


“Selamat malam, Pak Firman.”


“Selamat malam juga.”


“Bapak kelihatan lelah sekali.” Mengambil dan memakai baju penjaga minimarket.


“Iya, hari ini banyak sekali pembeli yang datang.”


“Wah.. itu adalah hal yang bagus.”


Pak Firman menganggukkan kepalanya sambil merenggangkan tubuhnya.


“Mempunyai banyak pembeli memang merupakan hal yang bagus, tetapi badan bapak capek sekali.”


“Pak firman tidak perlu khawatir, saya akan menggantikan bapak menjaga minimarket dengan baik hari ini.”


“Kamu memang anak yang baik dan rajin. kalau begitu bapak pergi dulu ya, bapak akan datang lagi pada pukul 4 pagi.”


Gadis itu tersenyum ramah sambil melambaikan tangan kepada Pak Firman yang baru saja keluar dari minimarket. Tidak lama setelah itu pembeli mulai berdatangan.


Kring…


Suara pintu minimarket dibuka dan masuklah segerombolan pembeli.


"Selamat datang." Menyambut pembeli dengan ramah.


Mereka membeli berbagai macam makanan dan minuman lalu mengantri untuk membayarnya, Riana melayani mereka dengan baik.


Setelah 15 menit berlalu, akhirnya ia telah selesai melayani seluruh pembeli yang mengantri dan sekarang minimarket kembali menjadi sepi.


"Astaga, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Pak Firman. Hari ini pembelinya sangat banyak."


Ia menoleh ke arah meja pembeli dan melihat 4 orang pria berbadan kekar sedang mengobrol sambil memakan makanan yang mereka beli. Mereka adalah pembeli yang tersisa di dalam minimarket.


Hmm..


"Ini aneh.. aku tidak melihat pria berhoodie semenjak tadi. Padahal aku ingin berterima kasih kepadanya karena telah menolongku kemarin." Bergumam sambil melamun.


Kring..


Segerombolan pembeli kembali berdatangan, suara lonceng di pintu masuk membuat Riana tersadar dari lamunannya.


"Selamat datang." Seperti biasa ia menyambut pembeli yang datang dengan sangat ramah.


Pembeli yang datang mulai berpencar ke seluruh penjuru minimarket dan mencari barang yang mereka perlukan lalu mengantri di kasir untuk membayarnya.


"Apakah ini saja barang yang anda butuhkan?" Bertanya dengan ramah kepada pembeli.


"Iya, aku hanya butuh itu."


"Baik, totalnya adalah 44 ribu rupiah." Memberikan sekantong plastik belanjaan yang dibeli oleh pembeli.


Gadis itu melayani semua pembeli yang datang dengan baik hingga tidak terasa waktu cepat berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi dan shift bagiannya sudah selesai.


"Pria berhoodie itu benar-benar tidak datang ya hari ini?" Bergumam sambil melepaskan baju penjaga minimarket yang ia kenakan.


Kring..

__ADS_1


Suara lonceng pintu masuk kembali berbunyi dan muncullah Pak Firman si pemilik minimarket.


"Bagaimana malam ini? Apakah banyak pembeli?" Tanya Pak Firman sambil berjalan menghampiri Riana.


"Seperti yang bapak katakan, hari ini pembelinya sangat banyak."


"Ya sudah, kalau begitu kamu boleh pulang dan istirahat karena kamu pasti sangat kelelahan melayani para pembeli yang datang."


Gadis itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan minimarket. Tidak lama setelah ia pergi, 4 orang pria yang duduk di kursi pembeli seketika bergegas mengikutinya. Walaupun tidak hujan malam hari ini cukup dingin, untunglah gadis itu memakai jaket sehingga dapat melindungi tubuhnya dari hawa dingin yang bisa membuatnya terkena flu.


"Semoga aku tidak bertemu pria pemabuk lagi."


Riana melewati jalanan yang membuatnya mengalami kejadian yang kurang mengenakkan kemarin. Ia terpaksa melewati jalan tersebut karena jika mengambil jalan memutar akan memakan waktu yang tidak sedikit.


Hosh.. hosh..


Terengah-engah setelah berlari dari minimarket menuju kos-kosannya, ia berlari agar cepat sampai di rumah dan tidak bertemu dengan orang pemabuk seperti kemarin.


"Untung saja hari ini aku tidak mengalami kejadian seperti kemarin." Meminum segelas air putih.


"Aku ingin istirahat sebentar sebelum bersiap-siap pergi ke sekolah."


Brukk..


Ia berbaring di atas kasur sambil beristirahat sejenak karena sangat kelelahan. Disisi lain, 4 pria yang mengikutinya sedang berada di depan gerbang kos-kosannya.


"Nona muda sudah sampai di rumah dengan selamat."


“Iya, sekarang kita hanya perlu menunggu pria itu datang.”


mereka menunggu di tempat itu selama 1 jam tanpa diketahui oleh seorangpun. Setelah itu, datanglah sebuah mobil hitam.


Ceklek..


Pintu mobil itu dibuka dan keluarlah Reynold dan Kharisma serta seorang pria berkumis tipis yang terlihat seperti seorang mahasiswa.


“Maaf, kami sedikit terlambatnya?” Ucap Kharisma.


“Karena kalian sudah datang, kami akan pergi.”


“Jangan lupa lakukan tugas kalian dengan baik!” berjalan menjauh.


“Kalian tidak perlu memikirkan itu, serahkan saja keamanan nona muda kepadaku.” Ucap pria berkumis tipis yang namanya tidak diketahui.


Akhirnya 4 pria berbadan kerkar itu pergi meninggalkan mereka bertiga.


“Baiklah, sekarang aku akan pergi menemui pemilik kos-kosan ini. selamat tinggal kalian berdua dan terima kasih atas tumpangannya.” Berjalan masuk ke dalam kos-kosan sambil melambaikan tangan kepada Reynold dan Kharisma.


Mereka berdua membalasnya dengan menganggukkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang terlihat datar. Hari ini adalah hari ke tiga pergi kesekolah, Reynold dan Kharisma datang menjemput Riana untuk pergi ke sekolah bersama-sama.


“Sekarang kita hanya perlu menunggu Riana.”


“Sudah hampir pukul setengah tujuh, sebentar lagi dia akan datang.”


Sementara itu, Riana sudah selesai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.


Klek


Gadis itu membuka pintu lalu segera bergegas pergi. Ia tersenyum karena melihat kedua temannya yang sedang menunggu di depan gerbang kos-kosan miliknya. Ia menghampiri mereka dengan senyum yang ceria.


"Akhirnya kamu datang juga."


"Iya, terima kasih sudah menjemputku." Tersenyum.


"Kalau begitu mari kita berangkat! Aku tidak mau terlambat pergi ke sekolah."


Kharisma menggandeng tangannya lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


"Cepat masuk, Reynold."

__ADS_1


"Kamu sangat tidak sabaran, Kharisma." Masuk ke dalam mobil.


"Kamu saja yang lambat dalam bergerak."


"Baiklah.. aku memang lambat. Dasar wanita cerewet." Menggerutu.


Hahaha


Gadis itu tertawa melihat perselisihan kecil antara kedua temannya yang menurutnya terlihat sangat lucu. Melihatnya tertawa, Reynold dan Kharisma saling bertatapan lalu tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu mari kita pergi ke sekolah."


Supir menganggukkan kepalanya lalu mengantarkan mereka ke sekolah. Dalam perjalanan menuju sekolah, mereka saling berbincang-bincang antara satu sama lain.


"Oh.. iya, kita kan belum saling bertukar nomor handphone." Ucap Kharisma sambil mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.


"Kita harus saling bertukar nomor handphone agar lebih mudah berkomunikasi. Sekarang berikan aku nomormu!" Reynold memberikan handphonenya kepada gadis itu.


Riana menganggukkan kepalanya lalu mengetik nomornya di handphone milik Reynold.


"Ketik nomormu di handphone ku juga." Ucap Kharisma sambil memberikan handphone miliknya kepada Riana.


"Baiklah."


Ia mengetik nomornya di handphone milik Kharisma juga, lalu memberikannya kembali kepada mereka.


"Bolehkah aku meminjam handphone mu sebentar?"


"Tentu saja boleh."


Gadis itu mengambil handphonenya di dalam tas.


"Ini handphone ku." Memberikannya kepada Kharisma.


Kharisma dan Reynold terkejut setelah melihat handphone milik Riana.


"Apakah kamu tidak memiliki handphone yang lebih baik dari ini?"


"Benar, handphone itu sudah ketinggalan zaman." Ucap Reynold.


Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mempunya uang untuk membeli handphone yang bagus. Yang terpenting bagiku adalah handphone ini masih bisa berfungsi dengan baik." Tersenyum.


Haaa


Kharisma menghela nafas lalu menatap Reynold yang terdiam karena tidak tahu harus berkata apa. Pria bermata ungu itu membalas tatapan itu kemudian menganggukkan kepalanya.


"Aku kembalikan handphone milikmu." Memberikan kembali handphone milih Riana.


"Kenapa? Apakah kita tidak jadi bertukar nomor." Memasang wajah sedih.


Gadis itu berpikir bahwa kedua temannya tidak jadi bertukar nomor karena tidak mau berteman dengannya. Ia merasa sangat gelisah karena takut mereka akan pergi meninggalkannya seperti kedua orang tuanya dan juga seorang pria yang merupakan teman masa kecilnya.


Kharisma yang mampu membaca ekspresi wajah seseorang menyadari kegelisahan Riana.


"Kita bertukar nomor nya nanti saja, setelah pulang sekolah."


Gadis itu menoleh ke arah Kharisma, ia kembali tersenyum setelah mendengar perkataanya.


"Ba.. baiklah."


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa belas menit akhirnya mereka sampai di sekolah.


Ceklekk..


Seperti biasa, sopir membuka kan pintu dan mereka pun keluar dari dalam mobil.


"Terima kasih karena sudah membukakan pintunya, pak sopir." Tersenyum ramah.

__ADS_1


"Tidak perlu berterima kasih, nona. Ini memang sudah menjadi tugas saya."


Setelah keluar dari mobil Kharisma kembali menggandeng tangan gadis itu dan mereka pun pergi menuju kelas bersama-sama.


__ADS_2