
Di sore hari pukul 17.30.
drapp… drapp…
Suara langkah kaki Nami dan Rofik yang sedang pulang sekolah dengan berjalan kaki.
"Hahhh… pada akhirnya hari ini kelompok Black Bull tidak mencari kita karena kejadian kemarin." Rofik memakan keripik kentang dan minuman bersoda.
"Aku pikir mereka akan mencari dan memukuli kita hari ini. Tapi yang datang mencari kita adalah kelompok TPOM." Ucap Nami.
"Mungkin mereka tidak mau membuat keributan lebih besar sehingga mereka membiarkan masalah ini berlalu?" Rofik bertanya.
"Mungkin saja kelompok Black Bull adalah kelompok yang berisikan orang-orang pecundang. Kelompok no 3 yang paling kuat kan hanya julukan saja, kita kan tidak bisa membuktikan julukan itu benar atau tidaknya." Membenarkan posisi kacamatanya yang miring.
Di tengah-tengah obrolan yang asik tersebut mereka tidak menyadari jika ada dua pria yang membuntuti mereka semenjak keluar dari gerbang sekolah. Kedua pria itu memakai masker putih dan gelang hitam di salah satu tangannya.
Setelah beberapa menit berjalan mereka pun melewati jalanan yang sepi dan disitulah kedua pria bermasker itu menampakkan dirinya.
"Ya ampun, ucapan kalian benar-benar sangat menghina ya? Perasaan kami jadi tersakiti loh~"
"Apakah kita harus menangkap mereka lalu memotong lidahnya?"
"Aku rasa itu bukan ide yang buruk, hohoho."
Mereka muncul secara tiba-tiba di depan Nami dan Rofik. Hawa jahat yang seolah-olah ingin membun*h seseorang terpancar dari dua pria bermasker putih itu.
"Si.. siapa kalian?"
"Nami… aku takut, siapa kedua pria bermasker itu?" Roifk gemetar ketakutan.
"Aku juga tidak tahu, yang pastinya perasaanku tidak enak."
Mereka berdua merasakan ketakutan yang luar biasa, kedua kakinya gemetar dan bahkan Rofik sampai menjatuhkan keripik kentang yang ia makan. Mereka berjalan mundur secara perlahan untuk menjauh dari dua pria yang identitasnya tidak diketahui itu, akan tetapi semakin mereka menjauh kedua pria itu juga semakin berjalan mendekat.
"Rofik, dengarkan aku! Aku akan menghitung sampai tiga lalu kita berlari ke arah belakang sekuat tenaga menuju tempat yang ramai." Berbisik dengan nada suara yang gemetar.
"Ba.. baiklah, aku akan berlari sekuat tenaga." Rofik menjawab.
Sreeekkkkk….
Salah seorang pria bermasker putih itu menginjak camilan keripik kentang yang dijatuhkan oleh rofik, mereka berjalan semakin dekat dan mengeluarkan sapu tangan hitam dari kantung celananya.
Satu…. Dua…. Tiga… Lariiiiii….
__ADS_1
Kedua pria katrok itu membalikkan badannya lalu berlari sekuat tenaga. Pria bermasker putih juga berlari mengejarnya dengan kecepatan yang sangat luar biasa hingga tidak memungkinkan Nami dan Rofik untuk berlari menjauhinya.
Setelah berlari dengan jarak yang cukup jauh, Rofik pun tidak sanggup lagi berlari. Tubuhnya yang gemuk membuatnya benar-benar kesulitan dalam melarikan diri.
"Hoshh.. hoshh.. Nami, aku tidak kuat berlari lagi." Berhenti berlari sambil memegang dadanya yang terengah-engah karena capek berlari.
"Ayolah, Rofik! Para pria itu semakin dekat, kita bisa tertangkap kalau berhenti disini."
"Aku benar-benar tidak sanggup lagi…. Lebih baik kamu menyelamatkan dirimu saja, tinggalkan aku sendiri di sini!" Ucap Rofik.
"Ti.. tidak… aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, kita berdua yang membuat masalah ini dan kita berdua juga lah yang harus menanggungnya."
Nami melihat sekeliling dengan seksama, ia pun melihat sebuah tong sampah berukuran cukup besar sehingga mereka berdua bisa bersembunyi di belakang tong sampah itu.
"Ikuti aku!"
Nami menarik lengan temannya dan membawanya bersembunyi dibalik tong sampah yang cukup besar dan memiliki bau yang sangat menyengat.
"Nami…. Disini sangat bau, aku merasa sangat mual mencium bau ini" Gerutu pria berbadan gemuk tersebut.
"Tahanlah sebentar! Kita akan selamat jika para pria bermasker putih itu tidak bisa menemukan kita."
Tidak lama kemudian dua pria bermasker putih telah sampai tepat di depan tong sampah yang mereka jadikan tempat bersembunyi.
"Pasti mereka belum jauh dari sini, ayo kita cari ke sana."
Hoekkkkkk..
Rofik merasa sangat mual sehingga tidak sengaja mengeluarkan suara, salah seorang pria bermasker putih mendengar suara itu lalu menoleh ke arah tong sampah.
Nami dengan sigap menutup mulut temannya dengan tangan tangan kanannya, air keringat bercucuran dari tubuhnya karena perasaan was-was. Ia sangat ketakutan karena khawatir jika keberadaan mereka diketahui oleh dua pria yang sedang mengejar mereka.
"Lu dengar suara tidak? gua mendengar suara seperti orang yang akan muntah."
"Suara orang muntah? Gua tidak dengar apa pun. Sudahlah, ayo cepat kita pergi mencari mereka lagi sebelum mereka terlalu jauh!" Menarik lengan temannya yang dari tadi memperhatikan tong sampah.
Mereka pun pergi menjauh, karena merasa situasi sudah aman Nami melepaskan tangannya yang menutup mulut temannya.
"Mereka sudah pergi, kita aman sekarang."
"Be.. benarkah? Aku sangat lega karena kita bisa lolos dari mereka. Terimakasih karena sudah tidak meninggalkan ku sendirian." Rofik tersenyum.
Nami menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lega, ia tidak bisa membayangkan jika tadi ia berlari menyelamatkan diri dan meninggalkan Rofik sendirian.
__ADS_1
Mereka berdua sudah bersahabat semenjak duduk dibangku sekolah dasar, karena itu mereka sudah saling menganggap satu sama lain sebagai saudara kandung.
"Wah.. wah.. wah.. benar-benar mengharukan, persahabatan sejati ya? Sangat manis~"
Muncul sebuah suara pria dari arah belakang yang akhirnya membuat mereka menoleh ke arah sumber suara tersebut. Ternyata suara itu berasal dari dua pria bermasker putih, mereka kembali karena menyadari keberadaan Nami dan Rofik.
"Kita terpojok, bagaimana ini?"
"To… tolonggggg… siapapun tolong kami!." Rofik berteriak sekuat tenaga dengan harapan ada orang lain yang mendengarnya.
"Cepat bungkam mereka sebelum ada orang lain yang dengar!"
Hempphhhh….
Kedua pria bermasker putih membungkam Nami dan Rofik menggunakan sapu tangan hitam yang sudah diberi obat tidur. Setelah dua target mereka pingsan, mereka membawanya ke markas mereka lalu mengikatnya dengan tali.
Keesokan harinya pun tiba.
Hmmm…
Yongi sedang berjalan bersama Vinter setelah melewati gerbang sekolah.
"Kenapa kamu terlihat bingung seperti itu? Apakah ada masalah yang terjadi." Tanya Vinter sambil meminum segelas kopi.
"Ini sangat aneh…"
"Aneh? Apa yang aneh?" Vinter kembali bertanya.
"Semenjak kemarin alat pelacak yang ku berikan kepada dua pria katrok kelas 1-1 tidak bergerak sama sekali." Yongi melihat sebuah peta di handphonenya, di peta tersebut terdapat 2 titik merah yang menyala dan tidak bergerak.
Vinter berhenti meminum kopinya lalu menatap Yongi dengan wajah yang serius.
"Apa yang terjadi? Apakah alat pelacaknya rusak?"
"Itu tidak mungkin karena aku selalu memeriksa barang-barangku secara rutin dan tidak terdapat masalah di alat pelacak milikku." Jawab Yongi.
"Apa maksudmu telah terjadi sesuatu kepada mereka?"
Yongi menganggukkan kepalanya sambil membuka plastik permen rasa coklat dan memasukkan handphonenya ke dalam saku.
"Bisa jadi, tapi kita akan memastikannya nanti. Sekarang kita pergi ke kelas kita masing-masing karena bel masuk sudah hampir berbunyi." Memakan permen coklat yang telah ia buka.
Vinter menganggukkan kepalanya, mereka pun pergi menuju kelas mereka masing-masing dan beberapa saat kemudian bel masuk pun berbunyi.
__ADS_1