
Hari rabu pukul 8.30 pagi di ruang VIP rumah sakit, 2 hari setelah Riana tidak sadarkan diri.
Sret…
Riana telah membuka kedua matanya setelah tidak sadarkan diri dan melihat langit-langit ruangan dengan sorot mata yang kebingungan.
"Ah… Riana, kamu sudah sadar?" Ucap seorang pria berkumis tipis yang tidak lain adalah Daniel yang duduk disebelahnya.
"Ukh… kepalaku sedikit sakit." Riana merintih sambil mencoba untuk bangun dari tempat tidur pasiennya.
"Kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak, kondisi tubuhmu masih lemah." Mencoba membuat Riana kembali berbaring di tempat tidur pasiennya lagi.
"Ka.. kak Daniel, apakah itu kamu?"
Daniel menjawab pertanyaan gadis itu dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah seperti biasanya
"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Dan dimana ini? Kenapa aku bisa berada disini?"
Banyak sekali pertanyaan yang terlontar dari mulut Riana, ia tidak bisa mengingat dengan jelas kejadian yang sudah menimpanya tersebut.
Haa…
Daniel menghela nafas lalu tersenyum, pria berkumis tipis tersebut mengambil segelas air putih dan meminumkannya kepada Riana secara perlahan.
"Kamu tenangkan dirimu dulu! Setelah itu aku akan menceritakan semuanya."
Riana menganggukkan kepalanya dan meminum segelas air yang dipegang oleh Daniel secara perlahan sambil mencoba menahan sakit dikepalanya.
Setelah itu, pria berkumis tipis tersebut menaruh gelas air di atas meja dan mulai menceritakan semua kejadian yang telah menimpa Riana.
Selang beberapa menit, akhirnya ia telah selesai bercerita dan Riana terlihat cukup terkejut.
"Ja.. jadi maksudnya ada orang yang ingin mencelakaiku?"
__ADS_1
"Benar, orang tersebut adalah seorang laki-laki berambut merah." Daniel menjawab sambil memegang dan mengusap punggung tangan Riana agar gadis itu merasa lebih tenang.
Riana sedikit syok setelah mendengar perkataan Daniel, ia takut jika pria berambut merah itu akan datang lagi untuk mencelakainya.
"Kamu tenang saja! Pria itu tidak akan bisa lagi mencelakaimu."
"Ba.. bagaimana kak Daniel bisa seyakin itu?" Tanya Riana.
"Itu karena aku memiliki alasan tersendiri, kamu tenang saja Riana! Lagi pula tidak akan ada yang bisa menyentuhmu selama di rumah sakit ini." Jawab Daniel sambil tersenyum tipis.
Riana hanya bisa mempercayai perkataan pria berkumis tipis tersebut, ia percaya jika Daniel adalah orang baik yang tidak akan berbohong.
Sebenarnya semenjak 1 hari yang lalu pria berambut pirang harus pergi ke perusahaan karena banyak pekerjaan yang harus diurus, jadi ia memerintahkan Daniel untuk menemani Riana karena kepercayaannya kepada Kharisma, Reynold, Diana, dan juga Ryan sudah mulai berkurang.
Selain menempatkan Daniel, pria berambut pirang tersebut juga menempatkan 12 bodyguard yang menyamar dan tersebar di seluruh bagian penjuru rumah sakit agar tidak ada orang jahat yang akan mencelakai Riana lagi.
"A… aku rasa lebih baik aku pulang saja ke rumah." Ucap Riana.
"Kamu kan masih sakit, setidaknya kamu masih harus dirawat disini sampai besok sore."
Daniel terdiam seketika dan melihat ke arah Riana dengan tatapan yang serius lalu menghela napas.
Haaaaa….
"Kamu terlalu memikirkan hal yang tidak penting, kamu disini memiliki teman-teman yang memiliki jabatan yang bagus dan uang yang banyak. Contohnya seperti Reynold dan Kharisma, mereka berdua merupakan penerus dari perusahaan keluarga mereka. Lalu ada aku, yah… walaupun aku tidak terlalu kaya tetapi aku sanggup jika hanya membayar biaya rumah sakit beberapa hari." Daniel berbicara panjang lebar.
Riana hanya bisa berdiam diri tanpa mengeluarkan sepatah katapun setelah mendengar perkataan pria berkumis tipis tersebut, sebenarnya ia merasa tidak enak hati sudah merepotkan teman-temannya namun disisi lain ia juga merasa senang karena mendapatkan teman yang baik dan juga perhatian.
"Ah…. Berhubung kamu sudah siuman, apakah kamu mau aku panggilkan teman-temanmu? Mereka pasti akan merasa sangat senang jika tahu kamu sudah siuman." Ucap Daniel.
Riana menjawabnya hanya dengan anggukkan kepala karena ia masih terlalu lemah untuk banyak bicara.
Setelah itu, Daniel segera menchat Kharisma, Reynold, Diana dan Ryan lalu meminta mereka datang ke rumah sakit seperti perintah yang diberikan oleh pria berambut pirang yaitu mereka hanya boleh mengunjungi Riana saat ia sudah siuman ingin dijenguk oleh teman-temannya tersebut.
__ADS_1
"Teman-temanmu akan datang kesini setelah pulang sekolah."
"Sekolah? Memangnya sekarang hari apa?" Tanya Riana.
"Sekarang adalah hari rabu, kamu tidak perlu memikirkan sekolah karena aku sudah mengirimkan surat izin agar kamu bisa beristirahat selama 1 minggu penuh."
Riana sangat terkejut setelah mendengar perkataan pria berkumis tipis tersebut.
"Se.. seminggu? Itu terlalu lama, Kak Daniel." Riana berbicara sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
"Hmm…. Apakah kepalamu terasa sakit?" Daniel bertanya.
"Iya, sejak siuman kepalaku memang terasa sakit."
"Saat jatuh ke dalam kali di bawah jembatan, kepalanya yang menghantam air terlebih dahulu sehingga menyebabkan benturan yang cukup kuat. Itulah sebabnya kepalamu terasa sakit, apakah menurutmu kamu bisa bersekolah dengan kondisi seperti itu?" Daniel kembali bertanya dengan wajah yang terlihat sangat serius.
Riana memalingkan wajah ke arah lain, ia tidak bisa menjawab apa lagi menyangkal pria berkumis tipis tersebut karena perkataannya memang benar.
"Kalau begitu kembalilah beristirahat! Teman-temanmu akan datang setelah pulang sekolah, aku akan pergi membeli beberapa buah segar di toko depan rumah sakit ini." Daniel berjalan ke arah pintu lalu membukanya dan pergi meninggalkan Riana sendirian di kamar VIP tersebut.
Riana melamun sendirian sambil melihat langit-langit ruangan, wajahnya terlihat seperti orang yang sedang memiliki banyak pikiran dan juga masalah.
Sebenarnya Daniel memang sengaja pergi meninggalkan gadis itu karena ia ingin memberikannya kesempatan untuk menenangkan diri sendirian, bagaimanapun juga kesunyian yang damai adalah suasana yang sedang dibutuhkan oleh Riana.
"Kalau aku tidak masuk sekolah dan mengikuti pembelajaran, lalu bagaimana jika semua nilai ujianku jelek? Aku takut sekali jika beasiswaku akan dicabut, jangankan untuk membayar biaya sekolah, untuk membayar biaya keperluan sehari-hari saja terkadang masih kurang." Riana bergumam sendirian dengan sorot mata yang kosong.
"Aku juga sudah dirawat disini selama hampir 3 hari, itu artinya aku juga sudah bolos kerja sambilan selama 3 malam. Aku harus meminta pengertian dari Pak Firman agar aku tidak dipecat dari pekerjaanku itu, aku benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa jika dipecat." Riana mengambil handphonenya yang sedari awal memang sudah ditaruh oleh Daniel di atas meja samping tempat tidur pasiennya.
Setelah itu, ia meminta maaf karena tidak masuk kerja sambilan selama 3 malam tanpa keterangan dan meminta izin tidak masuk kerja sambilan selama ia dirawat di rumah sakit kepada atasannya tersebut yaitu Pak Firman melalui chat di handphonenya.
Disisi lain, Daniel sudah membeli beberapa buah segar dan dalam perjalanan menuju kamar rawat Riana.
Srek….
__ADS_1
Alangkah terkejutnya pria berkumis tipis tersebut setelah melihat seorang pria mencurigakan yang sedang berdiri di depan kamar Riana.