Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Pria Berambut Pirang


__ADS_3

Klekk


Kharisma membuka pintu dan masuk ke dalam kelas. Semua murid di kelas menatapnya dengan ekspresi yang datar, tetapi ia tidak memedulikan tatapan itu dan terus berjalan menuju tempat duduknya.


“Kharisma! Apakah kamu baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja.” Duduk di kursinya.


“Apa yang kamu lakukan berdua dengan wanita jelek itu tadi?”


Smirk


Kharisma menatap Reynold lalu tersenyum tipis.


“Hmm.. ternyata seperti itu.”


Pria bermata ungu tersebut mengetahui arti dari senyuman tipis yang di arahkan kepadanya.


“Seperti itu? Apa yang kamu maksud, Reynold?” Bertanya karena tidak mengetahui apa yang sedang di bicarakan kedua temannya.


“Tidak perlu dipikirkan! Kami hanya membicarakan hal yang tidak penting.”


“Hmm.. baiklah. Aku percaya kepada kalian.”


Gadis yang sangat baik dan polos. Ia tidak mau mencurigai kedua temannya. Mereka pun saling berbincang-bincang antara satu sama lain sambil menunggu guru yang akan datang


Klekk


Tidak lama kemuadian datanglah seorang guru wanita dan ia membawa buku mata pelajaran.


“Cepat duduk dikursi kalian dengan rapi karena kita akan memulai pembelajaran hari ini.”


Seketika suasana kelas menjadi sangat hening dan rapi.


“Tunggu, kursi siapa itu yang kosong?”


“Itu adalah kursinya Risma, ibu guru.” Ucap salah seorang murid dengan sopan.


“Kenapa kursinya kosong? Apakah dia tidak masuk hari ini?”


Semua murid saling melirik antara satu sama lain, mereka tidak tahu harus menjawab apa.


“Kenapa kalian diam saja? Cepat jawab pertanyaan ibu!”


Swiittt


Terdengar suara angin berhembus di tengah keheningan kelas. Tidak ada satupun murid yang menjawab pertanyaan ibu guru sehingga membuatnya merasa kesal.


“Ketua kelas.”


“Hadir.” Mengacungkan jari telunjuknya ke atas.


“Cepat jawab pertanyaan ibu sekarang juga!”


Ketua kelas menganggukkan kepalanya, sebenarnya ia sedikit takut untuk menceritakan pertengkaran yang baru saja terjadi, namun ia memberanikan diri untuk bercerita.


“Se.. sebenarnya tadi Risma hari ini masuk, tetapi saya tidak tahu dia pergi kemana sekarang.”


“Maksudmu dia hari ini bolos sekolah?”


“Tadi dia berteng…”


“Hari ini Risma ijin pulang karena merasa tidak enak badan.”


Kharisma tiba-tiba menimbrung pembicaraan ibu guru dengan ketua kelas sehingga membuat seluruh murid menatapnya.


“Apakah yang dikatakannya benar, ketua kelas?”

__ADS_1


“Be.. benar! Tadi pagi Risma sudah datang ke sekolah, lalu ia pulang lagi karena merasa kurang enak badan.”


Ketua kelas terpaksa berbohong kerena tidak ingin terlibat lebih jauh dalam perselisihan antara kelompok Risma dengan kelompok Riana.


“Baiklah kalau begitu.”


Ibu guru mempercayai perkataan Kharisma dan juga ketua kelas lalu memulai jam mata pembelajarannya. Suasana lelas menjadi lebih tenang dan damai tanpa kehadirannya Risma. Riana juga bisa mengikuti pembelajaran dengan lebih nyaman karena tidak ada yang menatapnya dengan tatapan yang tajam di dalam kelas.


Teng.. teng.. teng..


Tidak terasa waktu cepat berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan bel pulang telah berbunyi.


“Ayo kita pulang!” Menggandeng tangan Riana.


Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mereka pun pergi menuju mobil yang terparkir di depan sekolah.


Klekk


Suara pintu mobil dibuka oleh sopir.


“Selamat datang tuan dan nona.”


“terimakasih.”


Gadis itu tersenyum kepada supir lalu masuk ke dalam mobil.


Brumm…


Supir pun mengendarai mobil dan mengantarkan mereka pulang. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa belas menit akhirnya mereka telah sampai di tempat kos-kosannya Riana.


“Terimakasih sudah mengantarkan saya.” Membungkukkan badan.


Reynold dan Kharisma tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Riana. Gadis itu menganggukkan kepalanya lalu berlari kecil ke dalam tempat kos-kosannya.


Setelah mengantar Riana dengan selamat sampai ke tempat tinggalnya, mereka pun pergi ke sebuah rumah mewah, rumah itu sangat besar dan juga megah. Terdapat 3 security yang berjaga di depan gerbang rumah tersebut.


Salah seorang security menghentikan mobil yang ditumpangi oleh Reynold dan Kharisma lalu berdiri disamping kaca pintu bagian depan mobil.


Srettt


Suara kaca mobil dibuka.


“Ini kami, jadi cepat buka pintu gerbangnya.” Ucap reynold.


“Baik, tuan.”


Kriettt


Pintu gerbang pun dibuka dan mobil yang ditumpangi oleh mereka berdua masuk ke halaman parkir rumah tersebut. Di depan pintu rumah sudah ada dua orang pelayan yang sedang menunggu dengan penampilan yang sangat rapi.


“Selamat datang, mari saya antarkan ke ruang tamu.”


Reynold dan Kharisma memnganggukkan kepalanya dan mereka pun pergi menuju ruang tamu.


“Silahkan menunggu sebentar disini!” Ucap salah seorang pelayan yang mengantarkan mereka.


“baiklah.”


Mereka duduk di sofa sambil berbincang-bincang dan memakan makanan yang dihidangkan di atas meja.


“Apakah kamu mau memakan kue, Kharisma?”


“Terimakasih, tetapi aku sedang diet.”


“Akhu bhingung khenapa ahnak perhemphuan shelalu mhelakukan dhiet.” Berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.


“Telan dulu makanan yang ada di mulutmu sebelum berbicara dan makanlah secara perlahan!”

__ADS_1


Reynold menganggukkan kepalanya lalu memakan kue hidangan itu dengan perlahan.


“Aku penasaran berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk membangun dan mendekorasi rumah ini.”


“Hahaha.. aku juga penasaran sama sepertimu.”


“Memiliki rumah semewah ini adalah hal yang kecil bagi pria itu. Terlebih lagi rumah ini memiliki lift, kolam renang, dan 30 orang pelayan. Benar-benar seorang konglomerat.”


Mereka berbincang-bincang sembari menunggu orang yang mereka ingin temui datang. Setengah jam telah berlalu dan akhirnya pria itu datang dengan sebuah luka memar di pipi kanan dekat mulut.


“Maaf, kalian lama menunggu ya?”


Pria itu berambut pirang, bertubuh tinggi dan memiliki wajah yang amat sangat tampan. Ia datang dengan didampingi oleh 10 pelayan yang terbagi menjadi 2 barisan di samping kanan dan kirinya.


“Selamat datang, tuan muda.”


Reynold dan Kharisma segera berdiri dan memberi salam secara bersamaan kepada pria berambut pirang itu.


“Kalian tidak perlu bicara formal kepadaku!” Tersenyum lalu duduk di sofa.


“Kenapa kalian masih berdiri? Cepat duduk di sofa karena ada yang ingin ku tanyakan kepada kalian!”


“Baik, tuan muda.”


Mereka mengikuti perintah pria itu dengan wajah yang tegang. Sebenarnya mereka ingin bertanya tentang luka memar yang berada di pipi pria itu, namun mereka mengurungkan niat mereka karena tidak berani melakukannya.


“Bagaimana keadaan malaikat kecilku hari ini?” Meminum segelas teh hangat.


“Keadaannya baik-baik saja.”


“Keadaan malaikat kecil tuan muda baik-baik saja, kami menjaganya dengan baik sesuai dengan yang anda perintahkan.”


Kharisma dan Reynold menjawab pertanyaannya dengan sedikit gemetaran.


Haaaa


Pria berambut pirang itu menghela napas sambil menaruh teh yang ia minum ke atas meja. Lalu menatap mereka berdua dengan ekspresi yang datar.


“Kalian tidak perlu takut kepadaku! Jika kalian terus merasa takut seperti ini maka kita akan kesulitan untuk berkomunikasi.”


“Ba.. baik, tuan muda.” Kembali menjawab secara bersamaan.


“Apakah terjadi hal yang menarik hari ini?”


“Sebenarnya telah terjadi hal yang kurang mengenakkan hari ini.” Kharisma memberanikan diri untuk bercerita.


“Hal yang kurang mengenakkan? Apa itu?”


“Kami sempat berselisih dengan seorang wanita. Ia hampir saja menampar pipi nona muda tetapi Reynold berhasil menggagalkannya. Bukankah bergitu, Reynold?”


Pria bermata ungu itu menganggukkan kepalanya. Ia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun karena sangat ketakutan.


“Maksudmu wanita yang bernama Risma Herlina? Wanita yang kamu ceritakan kepadaku melalui handphone kemarin?”


“Benar, dia adalah wanita yang aku ceritakan melalui handphone kemarin.”


“Setelah mendengar ceritamu melalui handphone kemarin, aku segera bergegas mencari informasi tentang wanita itu lalu aku memberi sedikit pelajaran kepadanya melalui bisnis keluarganya.”


“Saya sudah menebak jika anda pasti telah melakukan sesuatu, karena hal yang telah anda lakukan adalah factor dari perselisihan antara saya dan Reybold dengan wanita itu hari ini. Di luar dugaan saya, ternyata anda sangat cepat dalam mencari informasi dan juga bertindak."


Pria berambut pirang itu menatap Kharisma lalu tersenyum seolah-olah merasa puas karena telah mengambil keputusan yang benar.


“Aku tidak salah dalam memilih orang untuk melindungi malaikat kecilku.”


“Terimakasih atas pujiannya, tuan muda.”


Mereka pun saling berbincang-bincang mengenai pristiwa yang terjadi hari ini hingga larut malam.

__ADS_1


__ADS_2