Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Berita


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, burung-burung berkicau di atas pohon dengan merdunya. Hari ini Riana dan kedua temannya yaitu Kharisma dan Reynold sedang berkeliling sekolah mencari berita untuk ditulis lalu di tempel di mading.


Hoamm..


"Hari ini aku sangat mengantuk."


"Memangnya kamu tidak tidur semalam?" Ucap Kharisma sambil memakan coklat.


"Aku tidur hanya sebentar, kalian kan tahu aku harus bekerja sambilan." Menepuk pipinya beberapa kali untuk menghilangkan ngantuk.


Kedua temannya tersebut saling bertatapan mata lalu Reynold memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.


"Hmm… Riana, apakah kamu ingin hidup enak?"


"Hidup enak? Apa yang kamu maksud?" Tanya Riana dengan wajah yang kebingungan.


"Maksudku kamu bisa hidup mewah dan berkecukupan tanpa harus bekerja keras seperti ini."


Hmmm…


Gadis itu berpikir sejenak lalu membalas pertanyaan Reynold.


"Aku rasa akan menyenangkan, tetapi itu tidak mungkin terjadi, hehehe." Tersenyum dengan wajah polosnya.


Haa….


Pria bermata ungu itu menghela napas sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah yang sedikit kebingungan. Melihat akan hal itu Kharisma memutuskan untuk membuat Riana pergi karena ingin berbicara empat mata dengan Reynold.


"Apakah kamu mau membeli minuman? Aku yang akan traktir."


"Wahhh.. tentu saja mau, terimakasih, Kharisma." Tersenyum ceria.


Ia memberikan uang 50 ribu kepada Riana, Gadis itu pun pergi ke kantin membali minuman sementara ia dan Reynold menunggu di sebuah kursi di taman samping sekolah.


"Kita harus lebih berusaha lagi, Riana benar-benar gadis yang baik dan polos. Sejujurnya aku tidak tega jika harus menjodohkannya dengan tuan muda." Gerutu Reynold.


"Kamu benar, dia gadis yang terlalu baik jika harus dipasangkan dengan tuan muda. Tetapi aku rasa menjodohkannya dengan tuan muda bukan hal yang buruk juga."


Pria bermata ungu itu memasang wajah yang kebingungan sambil menatap teman wanitanya tersebut.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Yah.. karena jika dia bersama dengan tuan muda kehidupan dan keamanannya dapat terjamin."


"Hmm.. aku rasa kamu benar."


Brakk…


Wahh… wahh…


Terjadi keributan di lorong dekat taman, seluruh murid berkerumun di tempat itu untuk melihat keributan tersebut.


"Apa yang terjadi? Kenapa banyak murid berkerumun disana?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu." Gadis bermata biru itu menjawab dengan ketus.


Tiba-tiba muncul beberapa murid sedang berlari kecil menuju tempat keributan itu.


Hupp..


Reynold menangkap tangan salah seorang murid lalu bertanya kepadanya.


"Apa yang terjadi? Kenapa banyak murid berkerumun disana?"


"Aku dengar ada yang sedang bertengkar, makanya aku bergegas pergi kesana untuk melihatnya. Jadi lepaskan tanganku sekarang juga!" Murid asing itu sedikit marah terhadap Reynold yang tiba-tiba menangkap tangannya.


"Baiklah, terimakasih informasinya." Melepaskan genggaman tangannya sambil tersenyum.


Murid itu pun kembali berlari kecil menuju arah keributan tersebut. Setelah itu Reynold menoleh ke arah Kharisma dengan wajah yang penuh dengan semangat.

__ADS_1


"Aku sangat penasaran, apakah kamu mau melihatnya?"


"Aku tidak peduli terhadap masalah orang lain tetapi melihatmu begitu bersemangat aku rasa tidak ada salahnya jika kita menonton."


"Kamu memang teman terbaikku."


Reynold sangat menyukai hal yang berkaitan dengan pertengkaran, itu sebabnya ia sangat bersemangat disaat ada keributan. Akhirnya mereka berdua menghampiri kerumunan murid-murid dan melihat perkelahian tersebut.


Astaga..


Reynold dan Kharisma sedikit terkejut karena murid yang sedang bertengkar adalah Nami dan Rofiq dengan 6 berandal sekolah dari kelompok Black bull yaitu kelompok berandal urutan ke 3 di sekolah ini.


"Apa yang barusan lu bilang, brengs*k?" Ucap pria bergelang hitam.


"Aku hanya bertanya, kenapa kamu semarah itu?"


Hahaha..


Pria itu tertawa dengan suara yang sangat kencang kemudian mencengkram mulut Nami dengan tangan kanannya.


"Lu denger ya, brengs*k! Gua adalah ketua kelompok Black Bull, kelompok berandal no 3 di sekolah ini. Jadi mau gua malak, bully, atau macarin banyak perempuan itu terserah gua."


Reynold dan Kharisma tidak bergeming sedikitpun melihat teman satu ekskul dengannya dianiaya oleh kelompok berandal sekolah. Mereka berdua tidak suka mencampuri urusan orang lain, itu sebabnya mereka memutuskan untuk tidak membantunya.


Plakkk…


Pria bergelang hitam yang merupakan ketua Black Bull tersebut memukul Nami dibagian wajahnya hingga membuat kacamatanya terpental.


Kyaakkkk


Seluruh murid yang sedang menonton menjadi gaduh seketika, mereka tidak menyangka akan menyaksikan hal tersebut di sekolah Elit ini.


Mereka saling berbisik-bisik antara satu sama lain.


"Bagaimana ini? Apakah kita perlu membantunya?"


"Aku rasa kita jangan ikut campur, kamu tidak lihat pukulannya tadi? Itu pasti sangat menyakitkan."


Tidak ada seorang pun yang berani maju dan membantu nami si pria yang malang.


Huhuhu…


Rofik yang ikut terseret masalah tersebut juga tersungkur di lantai sambil menangis meminta pertolongan dari murid lain. Ia ingin membantu temannya tersebut tetapi ia juga sedang kesakitan karena perutnya ditendang dengan kuat oleh pria-pria kelompok Black Bull tersebut.


"Bagaimana menurutmu? Apakah kita perlu membantunya?" Tanya Reynold.


"Kalau kamu melawan kelompok itu dengan kekerasan mereka akan semakin menjadi-jadi nanti, aku rasa kita tidak perlu membantunya." Kharisma menjawab dengan ekspresi yang datar.


"Tapi sebentar lagi Riana akan datang ke sini, kamu pikir dia akan diam saja melihat kedua pria berpenampilan katrok itu dibully oleh orang lain? Walaupun dia penakut tapi aku rasa dia akan menyingkirkan ketakutannya tersebut dan membantu mereka."


Hmmm…


Kharisma menopang dagu sambil berpikir dengan serius, setelah berpikir selama beberapa saat ia pun menjawab pertanyaan teman pria nya tersebut.


"Kamu ada benarnya juga, kalau begitu aku saja yang menyelesaikan masalah ini."


Reynold tersenyum sambil mengangkat jempolnya kepada Kharisma.


Drap.. drap..


Suara langkah kaki sesosok wanita wanita bermata biru yang pergi ke tengah-tengah keributan sehingga menarik seluruh perhatian murid yang berada di tempat itu.


"Aku rasa cukup sampai disini, bukankah kamu sudah sangat kelewatan." Menatap pria bergelang hitam itu dengan tatapan yang tajam.


"Hah? Siapa wanita ini? Mau berlagak jadi pahlawan, lu?"


Brukkk…


Pria itu melempar Nami hingga tersungkur di lantai dan dengan sigap Rofik berlari ke arahnya lalu membantunya untuk berdiri.

__ADS_1


"Lu pikir gua tidak berani bertindak kasar kepada perempuan?" Berjalan menghampiri Kharisma.


"Yah… kamu boleh memukulku jika kamu memang ingin masuk penjara."


Hahaha….


Mendengar jawaban Kharisma pria itu dan kelompoknya tertawa dengan suara yang sangat lantang.


"Lu pikir gua takut sama ancaman yang murahan seperti itu?" Memasang wajah yang menyeramkan tepat didepan mata Kharisma.


Haa…


Wanita bermata biru itu menghela nafas lalu mengeluarkan sebuah cek kosong dan pulpen dari kantongnya.


Sret.. sret…


Ia menulis di atas cek kosong tersebut selama beberapa saat, pria bergelang hitam dan seluruh murid yang menonton menatapnya dengan tatapan kebingungan.


Plakk..


Setelah selesai menulis ia menampar jidat pria itu dengan cek yang telah ditulis dengan angka 20 juta rupiah.


"Kurang ajar, apa yang lu lakuin wanita sialan?" Mengambil cek yang tertempel di jidatnya.


"Apakah itu cukup untuk menyelesaikan masalah ini?" Tanya Kharisma dengan wajah yang angkuh.


Hahaha…


Pria itu tertawa dengan wajah yang sangat bahagia lalu menatap Kharisma dengan senyum yang lebar.


"Baiklah, gua anggap masalah ini sudah selesai. Selamat tinggal nona cantik."


Ia pun pergi meninggalkan tempat itu bersama dengan kelompoknya. Suasana kembali menjadi damai, satu per satu murid yang menonton kejadian tersebut pergi meninggalkan tempat itu.


"Sebenarnya apa yang kalian pikirkan sehingga mencari masalah dengan para kelompok brandal itu?" Bertanya dengan ketus sambil melipat kedua tangan di dada.


"Ayolah Kharisma, apakah kamu tidak bisa lembut sedikit?" Reynold menghampiri Rofik dan Nami lalu mengulurkan tangannya untuk membantu mereka berdiri.


Haaa…


"Biar ku tebak, kalian seperti ini karena mencari berita untuk ekskul bukan?"


Kedua pria berpenampilan katrok itu tidak bergeming sama sekali karena tebakan Kharisma tepat sasaran, mereka terlibat masalah dengan kelompok berandal tadi memang karena mencari berita yang menarik untuk ekskul.


Drap… drap…


Suara langkah kaki Riana menghampiri kedua temannya sambil membawa 3 botol minuman.


"Riana sudah kembali, aku harap kalian tidak menceritakan kejadian barusan kepadanya! Apakah kalian mengerti?" Kharisma mengancam Rofik dan Nami.


Mereka berdua hanya bisa menganggukkan kepalanya karena merasa takut dengan wanita bermata biru itu.


"Ternyata kalian disini, aku sudah membelikan minumannya." Riana tersenyum ramah sambil memberikan minuman yang ia beli di kantin kepada kedua teman baiknya.


Reynold dan Kharima masing-masing mengambil 1 botol minuman lalu meminumnya.


"Astaga.. apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa wajah kalian seperti ini?" Tanya Riana setelah melihat penampilan Nami dan Rofik.


"I.. itu…"


"Mereka hendak bolos sekolah lalu dikejar oleh anjing penjaga sekolah, bukankah begitu?" Kharisma menatap tajam sambil minum minumannya.


Mereka berdua kembali menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun karena merasa takut kepada wanita bermata biru tersebut.


Riana menatap Rofik dan Nami dengan wajah yang sedikit curiga.


"Seharusnya kalian tidak boleh bolos sekolah, itu perbuatan yang tidak baik." Reynold menimbrung pembicaraan untuk lebih meyakinkan gadis itu.


Riana pun memutuskan untuk percaya kepada ucapan kedua teman baiknya itu. Seperti biasa, ia tidak mau berburuk sangka kepada orang lain apalagi kepada kedua teman yang sudah sangat baik kepadanya.

__ADS_1


"Kalau begitu mari kita ke pergi UKS! Luka kalian harus segera diobati agar cepat membaik." Riana menarik lengan Rofik dan Nami lalu membawanya pergi ke UKS.


Kharisma dan Reynold mengikuti mereka dari belakang sambil meminum minumannya.


__ADS_2