Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Berita 4


__ADS_3

Hari senin di sekolah SMA Harapan Jaya.


Drap.. drap..


Suara langkah kaki Riana dan kedua teman baiknya sedang berjalan menuju mading sekolah yang terletak tepat di lorong tengah sekolah. Lorong tersebut merupakan jalan yang sering dilewati oleh murid setiap harinya.


"Akhirnya kita bisa menempel berita yang telah kita buat setelah bersusah payah mencarinya minggu kemarin." Riana memegang beberapa lembar kertas yang berisikan foto dan tulisan.


"Kita kan hanya menempel beberapa kertas dan foto, Bagaimana bisa kamu sesenang itu?" Tanya Reynold.


"Tentu saja aku sangat senang karena ini merupakan tugas pertama kita, aku juga senang karena bisa membuatnya bersama kalian berdua." Tersenyum bahagia dengan mata yang berbinar.


Haaaa…


Reynold menghela napas setelah mendengar perkataan gadis itu sedangkan Kharisma tidak menyimak pembicaraan mereka berdua karena sibuk dengan handphonenya.


"Hei, apa yang sedang kamu lakukan dengan handphone mu sehingga sangat serius seperti itu? Apakah kamu tidak tahu jika kedua bola matamu seperti akan keluar dan terjatuh karena memelototinya?" Reynold bertanya.


"Aku juga sangat penasaran, memangnya apa yang sedang kamu lakukan dengan handphone mu itu?" Riana ikut bertanya.


Wanita bermata biru itu seketika  mematikan handphonenya lalu melipat dan memasukkannya kedalam kantong baju. Handphone miliknya merupakan handphone yang bisa dilipat sehingga dapat dimasukkan ke dalam kantong baju dengan mudah.


"Aku hanya membaca chat dari orang-orang penjilat yang tidak kenal malu." Menjawab dengan ketus.


Riana dan Reynold saling bertatapan mata sekaligus merasa bingung dengan jawaban yang diberikan Kharisma. Mereka berdua memutuskan untuk tidak bertanya kembali karena melihat suasana hati Kharisma sedang tidak baik.


Gaduh.. gaduh…


Terdapat banyak sekali murid yang berkerumun di depan mading sambil berbisik-bisik antara satu sama lain.


"Hmm… apa yang terjadi disana? Kenapa mereka berkerumun didepan mading? Kita kan jadi kesulitan menempel berita yang kita buat." Reynold menggerutu.


"Aku tidak tahu tapi yang jelas telah terjadi sesuatu disana, mari kita cari tahu ada apa disana!" Kharisma menarik lengan kedua temannya dan membawanya menuju ke kerumunan di depan mading.


Sreettt… sretttt…


Mereka bertiga menerobos masuk kedalam kerumunan itu sehingga akhirnya mereka melihat berita yang telah ditempel di mading.


Terdapat 2 jenis berita yang sudah ditempel disana, yang pertama adalah berita mengenai jenis makanan kantin yang disukai oleh banyak murid dan berita kedua mengenai bullying di sekolah ini.


"Astaga, siapa yang sudah membuat dan menempel berita ini di mading?" Ucap Riana dengan wajah yang terkejut.

__ADS_1


Terdapat berita dan foto bullying yang sangat sensitif dan seharusnya tidak tempel disana. Di Foto tersebut terdapat dua orang dengan wajah yang disensor. Salah seorang pria itu memakai gelang hitam dan menarik kerah satu orang lainnya dengan sangat tidak wajar.


"Itu adalah berita yang dibuat oleh Nami dan Rofik." Suara seorang wanita yang entah dari mana.


Ternyata nyata itu adalah Reni dan Reni, mereka muncul dari belakang lalu menghampiri Riana dan kedua temannya yang sedang kebingungan.


"Reni dan Rani? Apa yang kalian maksud?" Gafis itu bertanya dengan wajah yang kebingungan.


"Berita yang membuat kegaduhan  itu berasal dari kelompok 2 yaitu kelompoknya Nami dan Rofik. Mereka membuat berita yang akan menjatuhkan mereka kedalam masalah yang cukup besar." Ucap Reni sambil menggenggam tangan adik kembarnya.


"Yahh… walaupun mukanya tidak disensor semua murid pasti mengetahuinya karena itu perselisihan yang terjadi minggu kemarin." Ucap Reynold.


"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti sama sekali, kenapa hanya aku saja yang selalu tidak mengetahui hal yang terjadi?" Riana memasang wajah yang sedikit kecewa kepada teman-temannya.


Reynold dan si kembar mengalihkan pandangan mereka darinya akan tetapi Kharisma tidak melakukan hal itu dan malah memegang pundaknya Riana.


"Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu tetapi kamu harus janji untuk tidak takut atau terpikirkan hal ini?" 


Ia menganggukkan kepalanya sambil menatap wanita bermata biru itu dengan wajah yang serius.


"Apakah tidak apa-apa jika kamu menceritakannya?"


"Iya, lagi pula hal ini sudah tidak bisa kita tutupi lagi." Menjawab pertanyaan Reynold dengan ketus.


Gadis itu sedikit terkejut setelah mendengarnya, ia tidak menyangka bahwa kedua pria itu mendapatkan luka di tubuhnya bukan karena diserang anjing disaat hendak bolos sekolah melainkan karena bullying.


"Mereka benar-benar suka mencari masalah ya? Berbeda dengan penampilan mereka yang katrok, ternyata nyali mereka besar juga." Ucap Reynold.


Haaa…


Kharisma menghela napas karena merasa bantuan yang ia berikan kepada dua pria itu minggu kemarin tidak berguna dan Riana hanya terpaku tanpa mengeluarkan sedikit kata pun karena terkejut.


"Apa yang mau kamu lakukan dengan handphone mu itu?" Reynold melirik ke arah handphone yang sedang dipegang oleh Kharisma.


"Aku akan menghubungi Vinter dan Yongi untuk datang ke sini. Berita ini akan segera tersebar ke seluruh penjuru sekolah dan tentunya akan membuat kedua pria nekat itu berada kembali dalam masalah."


"Jadi kamu ingin mengundang Vinter dan Yongi untuk mengekang kelompok black bull?"


"Iya, sebenarnya aku tidak peduli kepada dua pria katrok itu. Aku mengundang mereka untuk menjaga keamanan Riana."


Reynold mengangkat jempolnya kepada wanita bermata biru itu, ia juga merasa sependapat dengan hal yang dilakukan olehnya. Disisi lain Riana masih terpaku di depan mading, ia terus menerus menatap berita yang ditempel di sana. 

__ADS_1


Ingin rasanya ia mencopot dan merobek kertas itu agar kedua teman prianya dari tempat ekskul tidak terkena bullying lagi oleh kelompok berandal, akan tetapi ia tidak bisa melakukan itu karena merobek berita itu bisa mendapatkan pelanggaran keras yang membuatnya bisa kehilangan beasiswa di sekolah.


"Brengs*k, siapa yang sudah memasang berita ini?" Ucap seorang pria yang sepertinya berasal dari kelas 2.


Seluruh murid menciut karena pria itu berasal dari kelompok black bull. Mereka tidak ingin membuat masalah dengan kelompok berandal karena hal itu bisa mempersulit mereka selama bersekolah.


"Kenapa kalian diam? Jawab pertanyaan gua, brengs*k!" Pria itu menarik kerah seorang murid pria dari kelas 1.


"I.. itu.. adalah berita yang dibuat oleh Nami dan Rofik."


"Siapa mereka? Dan kenapa mereka membuat berita seperti itu sehingga membuat nama baik ketua kelompok gua jadi tercemar?"


"Me.. mereka adalah murid ekskul wartawan dari kelas 1-1, mereka sekelas denganku. Hanya itu yang kutahu, jadi tolong lepaskan kerah bajuku!" Memohon sambil gemetar ketakutan.


Bruuukkkk..


Pria itu melempar murid anak kelas 1 hingga membuatnya jatuh tersungkur di lantai.


Kyakkk…


Seluruh murid di tempat itu menjadi lebih gaduh, tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk membantu. Akan tetapi Riana memberanikan diri dan hendak menolong pria malang yang jatuh tersungkur di lantai.


"Mau kemana kamu? Aku tidak mengijinkan kamu untuk ikut campur." Kharisma memegang tangan kanan gadis itu sambil menatapnya dengan wajah yang serius.


"Ta.. tapi.. dia membutuhkan pertolongan."


"Lantas apa yang akan kamu lakukan? Melawan pria berandal itu dengan cara memukulnya? Atau membiarkan dirimu menggantikannya untuk dipukul?"


Riana tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut karena itu adalah kenyataan, ia tidak mampu menolong orang lain karena dirinya sangatlah lemah. Namun, rasa empatinya lah yang selalu mendorongnya untuk menolong orang lain dalam ketidak berdayaan dirinya itu.


"Kharisma benar, aku juga tidak mengijinkan kamu untuk ikut campur. Apakah kamu lebih memilih menolong orang itu daripada mendengar perkataan kami?" Reynold menimbrung pembicaraan.


"A.. aku.. tentu saja memilih kalian." 


"Bagus, kamu memang anak yang baik." Pria bermata ungu tersebut mengacungkan jempolnya sambil tersenyum ramah.


Riana memilih untuk tidak menolong pria malang itu karena ia tidak ingin membuat kedua temannya yang berharga jadi membenci dirinya. Baginya Reynold dan Kharisma adalah orang yang amat sangat berharga karena mereka berdua adalah orang yang sering menolongnya dan berbuat baik kepadanya.


Haaaa…. Brengs*k…


Pria dari kelompok berandal tersebut menghela napas sambil mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya.

__ADS_1


"Awas saja mereka berdua, akan ku laporkan penghinaan ini kepada bos." Pria itu berjalan pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah yang penuh dengan amarah.


Setelah ia pergi suasana pun kembali menjadi lebih tenang,  murid-murid lain juga mulai membantu pria yang jatuh tersungkur di lantai itu untuk berdiri. Pada akhirnya berita itu tersebar dengan cepat di sekolah SMA Harapan Jaya dalam kurung waktu yang sangat cepat.


__ADS_2