Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Kharisma 3


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan udara yang sejuk.


Sekarang adalah hari minggu, Kharima sedang bersiap-siap untuk pergi ke mall bersama dengan kedua teman baiknya setelah membuat janji kemarin.


"Pak agus, tolong siapkan mobil dan antarkan saya ke rumah teman saya!" Ucap Kharisma kepada sopirnya.


"Baik, non. Saya akan menyiapkan mobilnya."


Sopir pun pergi menuju mobil yang terparkir di garasi sedangkan Kharisma menunggu sambil memakan sandwich sebagai sarapan.


Tidak lama kemudian datang mobil hitam menghampirinya, ia segera menghabiskan sandwich miliknya lalu masuk ke dalam mobil.


"Pertama kita pergi ke rumah Yulia lalu ke rumah Dinda." Kharisma memberikan arahan kepada sopirnya.


"Baik, non." Sopir menjawab dengan sangat santun.


Brummm


Mereka pun berangkat menjemput kedua teman baiknya Kharisma karena Yulia dan Dinda ingin di jemput oleh wanita bermata biru tersebut agar bisa pulang dan pergi bersama-sama.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa belas menit akhirnya mereka telah sampai di rumah Yulia.


"Di sebelah sini!" Teriak Kharisma dari dalam mobil kepada Yulia yang sedang menunggu di seberang jalan depan rumahnya.


Wanita itu membalas lambaian tangannya lalu berlari dengan ceria menuju mobil Kharisma dan masuk ke dalamnya.


"Pakaianmu sangat bagus, kamu terlihat sangat cantik hari ini." Kharisma memuji teman wanitanya.


"Kamu juga sangat cantik hari ini sehingga membuat dewi kecantikkan merasa tersaingi." Yulia membalas pujian tersebut.


Hahaha…


Mereka berdua tertawa bersama-sama kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah Dinda. Lokasi rumah Dinda tidak terlalu jauh dari rumah Yulia sehingga hanya membutuhkan waktu 5 menit saja untuk sampai.


"Itu dia! Dinda sedang menunggu di depan gerbang rumahnya." Yulia berbicara dengan penuh semangat.


Kharisma hanya menganggukkan kepalanya, supir pun segera membawa mobil menghampirinya.


"Kamu sudah menunggu lama ya?" Wanita bermata biru tersebut bertanya.


"Tidak masalah, yang penting sekarang kita sudah bersama." Ucap Dinda sambil masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.


Brummm…


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju mall dan berbincang-bincang dalam perjalanan.


"Bagaimana jika kita nonton bioskop dulu?" Yulia memberikan pendapatnya.

__ADS_1


"Wahhh…. Ide yang bagus! Aku dengar ada film romance bagus yang sedang tayang." Dinda menjawab dengan penuh semangat.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Yulia kepada Kharisma.


Mereka berdua menatap wanita bermata biru tersebut dengan tatapan yang penuh dengan harapan sehingga membuatnya menjadi tidak enak hati untuk menolak.


"Aku rasa itu bukan ide yang buruk." Kharisma berbicara lalu tersenyum.


Kedua temannya pun ikut tersenyum, setelah itu mereka melanjutkan perbincangan selama dalam perjalanan.


Sebenarnya Kharisma tidak menyukai hal-hal yang berbau percintaan, ia tidak menyukainya karena ia merasa itu tidak berguna dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Dibandingkan dengan hal-hal yang berbau percintaan, ia lebih menyukai hal-hal yang berbau bisnis dan management.


Setelah sampai di mall mereka segera menuju bioskop.


"Kharisma, apakah kamu mau membayar tiket bioskopnya?" Tanya Yulia.


"Kenapa aku yang harus bayar? Kalian tidak bawa uang?" Kharisma balik bertanya.


"Sebenarnya kami tidak membawa banyak uang, kamu tahu bukan tiket bioskop agak mahal?" Dinda menimbrung pembicaraan.


"Lalu kenapa kalian mengajak nonton bioskop jika merasa tiketnya terlalu mahal?"


Kedua temannya seketika menjadi murung sehingga membuat wanita bermata biru tersebut sedikit merasa tidak enak hati.


"Baiklah…. Aku yang akan bayar tiket nontonnya." Ucap Kharisma dengan ketus.


Seketika kedua temannya menjadi ceria kembali, Yulia menggandeng tangan kanan dan Dinda menggandeng tangan kiri Kharisma.


"Bukankah itu sudah jelas? Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih hebat dari teman kita ini."


Yulia dan Dinda memuji wanita bermata biru tersebut selama perjalanan menuju bioskop dengan penuh semangat. Sesampainya disana Kharisma segera memberi uang kepada Yulia.


"Terima kasih! Aku akan segera beli tiketnya, kalian tunggu saja sambil duduk." Yulia berlari kecil menuju tempat penjual tiket.


Setelah sampai ia mengantri selama beberapa menit lalu membeli tiket saat gilirannya.


" tolong 3 tiketnya." Ucap Yulia kepada petugas penjual tiket sedangkan Kharisma dan Dinda sedang menunggu di kursi sambil memainkan handphonenya.


Setelah membeli tiket mereka pun masuk ke dalam teater bioskop dan menonton filmnya. Film tersebut menghabiskan waktu sekitar 1 jam 30 menit.


"Filmnya sangat asyik bukan?"


"Sangat romantis, kamu hebat dalam memilih film."


"Tentu saja! Aku tidak pernah main-main dalam memilih film." Yulia membusungkan dadanya.


"Hahaha… lain kali kita nonton bersama lagi."

__ADS_1


Dinda dan Yulia saling berbincang-bincang sambil berkeliling mall setelah selesai nonton bioskop, sedangkan Kharisma sedang mengikuti mereka dari belakang sambil ber chattingan dengan seseorang melalui handphonenya.


Ternyata ia sedang saling mengirim pesan dengan Reynold.


Reynold : kamu sedang apa?


Kharisma : jalan-jalan ke mall bersama temanku.


Reynold : sudah aku bilang berapa kali jangan terlalu dekat dengan kedua temanmu itu.


Kharisma : memangnya kenapa? Berikan aku alasan yang jelas.


Reynold : mereka hanya memanfaatkanmu saja. Aku pikir kamu adalah wanita yang peka, tapi ternyata tidak sepeka yang aku pikirkan.


Kharisma hanya melihat pesan yang baru saja dikirim oleh sahabat pria nya, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya ia juga sedikit merasa dimanfaatkan namun ia tidak memperdulikannya.


"Kamu terlihat sangat sibuk, sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan dengan handphone mu itu?" Tanya Dinda.


"Iya! Aku juga penasaran." Yulia ikut bertanya lalu mencoba melihat layar handphone Kharisma.


Wanita bermata biru tersebut segera mematikan handphonenya lalu memasukkannya ke dalam saku.


"Hanya urusan bisnis, kalian tidak perlu memperdulikannya!" Kharisma berbicara ketus.


Dinda dan Yulia saling bertatapan mata lalu mereka menunjukkan wajah yang terlihat tidak menyukai suatu hal. Kharisma merasa kaget setelah melihat ekspresi wajah kedua temannya.


"Kenapa kalian berekspresi seperti itu?"


"Ekspresi apa yang kamu maksud? Aku tidak mengerti." Yulia tiba-tiba tersenyum lalu menjawab.


"Mungkin kamu salah lihat tadi, jadi tidak perlu dipedulikan." Dinda ikut berbicara.


Mereka berdua segera menggandeng tangan Kharisma lalu membawanya ke tempat yang menjual makanan enak. Sebenarnya mereka sedikit merasa jengkel ketika pertanyaan mereka dijawab dengan ketus oleh Kharisma sehingga membuat mereka tidak sadar mengeluarkan ekspresi seperti itu.


Kharisma mengikuti mereka dengan perasaan curiga terhadap kedua temannya. Ia belum bisa mengambil keputusan karena kecurigaannya masih belum terbukti seratus persen.


"Lihat! Disana ada yang menjual kebab dan minuman yang terlihat segar." Yulia antusias.


"Pasti rasanya enak, mari kita beli." Ucap Dinda.


"Kalian yakin? Makanan dan minuman itu memang enak tapi harganya sangat mahal. Bukankah kalian bilang tidak membawa banyak uang?" Kharisma bertanya dengan wajah yang datar.


Kedua temannya saling melirik satu sama lain, lalu Yulia menjawab pertanyaannya dengan sigap.


"Kami memang tidak membawa banyak uang, tapi kami rasa uang kami cukup untuk membelinya."


"Be… benar, aku rasa tidak masalah jika sesekali membeli makanan dan minuman mahal." Dinda ikut memberikan alasan.

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu yang kalian katakan. Ayo kita pergi!"


Kharisma menggandeng tangan kedua temannya, mereka pun pergi menuju tempat yang menjual kebab dan minuman enak tersebut yang berjarak beberapa toko di depan mereka.


__ADS_2