
Pagi hari di depan mading sekolah setelah keributan selesai.
Sret…
Suara Reynold memotong lakban untuk menempelkan berita yang mereka buat di mading.
"Ahhh.. akhirnya selesai juga." Membusungkan dada sambil mengelap keringat di dahinya.
"Kamu hanya menempelkan kertas di mading, jadi tidak usah berlagak sok bekerja keras seperti itu. Apakah kamu ingat jika yang membuat seluruh laporan berita itu adalah aku dan Riana?" Ucap Kharisma.
"Huhh… yang penting aku melakukan sesuatu walaupun hanya memasang kertas di mading, hehehe."
Keributan yang baru saja terjadi membuat Riana menjadi sedikit murung hari ini. Walaupun kedua temannya sedang melakukan candaan ia tidak mendengarnya karena sibuk memikirkan hal lain.
"Kenapa kamu murung seperti itu? Apakah ada sesuatu yang membuatmu merasa tidak nyaman?" Tanya Reynold sambil memasukkan lakban yang ia pinjam dari yongi ke dalam saku.
"Ti.. tidak ada, aku hanya mera.."
"Biarku tebak, kamu memikirkan hal yang tadi bukan?" Kharisma memotong ucapan Riana secara tiba-tiba.
Gadis itu menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Kharisma karena tidak tahu harus menjawab apa.
Haaa…
Kharisma menghela napas, ia sudah tahu jika gadis itu akan memikirkan masalah yang menimpa Rofik dan Nami.
"Kamu tenang saja! Aku sudah meminta bantuan kepada Vinter dan Yongi untuk membantu kedua pria katrok bernyali besar itu."
"Be.. benarkah? Apakah Kak Vinter dan Yongi bersedia membantu mereka berdua?"
"Iya, mereka bersedia membantu dengan satu syarat yaitu kamu tidak boleh ikut campur masalah ini sedikit pun."
Riana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bahagia. Ia merasa sedikit lega setelah mendengar perkataan Kharisma.
"Jika mereka berdua yang membantu maka aku dapat merasa tenang karena mereka berdua kan sangat hebat dan kuat."
Reynold dan Kharisma juga merasa lega karena gadis itu tidak akan ikut campur dalam masalah ini. Mereka pun pergi ke kelas setelah menempel berita di mading karena bel masuk sekolah akan segera berbunyi.
Beberapa waktu pun telah berlalu, sekarang jam menunjukkan pukul 12 yang dimana hal tersebut menandakan bahwa waktu istirahat telah tiba.
"Apakah hari ini kita tidak pergi ke kantin?" Tanya Reynold.
"Tidak, aku sudah meminta tolong kepada Vinter dan Yongi untuk membelikan cemilan karena mereka akan mampir ke kelas kita." Kharisma menjawab.
"Wah… kita jadi tidak perlu repot-repot pergi ke kantin kalau begitu, hehehe."
Sekarang Riana sedang membersihkan papan tulis karena murid yang bertugas piket hari ini sedang izin tidak masuk sekolah. Ia membersihkannya dengan perasaan yang sangat riang sambil menyanyikan sebuah lagu kesukaannya.
__ADS_1
Klekkk…
Suara pintu kelas dibuka, masuklah dua orang pria yaitu Vinter dan Yongi. Mereka membawa 1 kantong plastik cemilan yang dipesan oleh Kharisma.
"Astaga, kalian benar-benar pria yang baik ya. Terima Kasih sudah membelikan camila, hehehe." Reynold mengambil beberapa cemilan lalu memasukkannya ke dalam loker.
"Pria yang sangat rakus, seperti kera yang memakan pisang dengan lahap." Yongi menyindir pria bermata ungu itu sambil tersenyum.
"Apa yang baru saja kamu bilang? Tarik kata-katamu sekarang juga!"
"Tidak mau, aku tidak mau menariknya karena itu memang fakta." Tersenyum tipis sambil duduk di kursi samping meja Reynold.
Melihatnya duduk, Vinter juga ikut duduk disamping kursi Kharisma.
"Kalau kamu tidak mau menarik kata-kata mu aku tidak akan mengembalikan lakban yang aku pinjam dari mu, hehehe." Mengeluarkan lakban dari sakunya.
"Apa? Enak saja! Kamu pikir membelinya tidak memerlukan uang." Yongi mencoba mengambil paksa lakban miliknya yang digenggam oleh Reynold.
Mereka pun bertengkar memperebutkan lakban itu hingga membuat Kharisma dan Vinter merasa kesal.
"Reynold, berhentilah bersikap kekanak-kanakan dan kembalikan lakban yang telah kamu pinjam." Ucap Kharisma.
"Huhh.. baiklah, kamu sangat galak sebagai seorang wanita." Melempar lakban yang ia pegang ke arah Yongi.
Hahaha…
"Kamu juga sama, duduklah di kursi dengan tenang karena kita akan membicarakan hal penting." Ucap Vinter.
"Aku mengerti, Vinter." Tersenyum lalu duduk dengan tenang sambil membuka plastik permen.
Setelelah mereka berdua berhenti bertengkar, Kharisma memanggil Riana yang sedang sibuk membersihkan meja guru setelah selesai membersihkan papan tulis.
"Kemarilah, Riana! Kita mempunyai hal yang harus dibicakaran."
"Baik, aku akan segera kesana."
Riana berjalan menuju tempat duduknya yang berada di pojok kanan belakang kelas tepat didepan meja Reynold.
"Loh, ternyata ada Kak Vinter dan Yongi, ya? Apakah kalian datang kesini karena ingin membantu kedua temanku?"
"Benar sekali, maka dari itu kamu juga harus ikut pembicaraan ini karena berhubungan dengan dua temanmu itu." Vinter berbicara dengan sangat halus.
Murid-murid lain yang berada di dalam kelas menjadi saling berbisik-bisik antara satu sama lain.
Mereka tidak menyangka jika Vinter dan Yongi yang merupakan 2 dari 3 pemimpin kelompok berandal TPOM (The Power Of Money) akan menghampiri kelas mereka dan berbincang-bincang dengan baik dan ramah.
"Hei, bukankah mereka itu kelompok berandal yang paling ditakuti di sekolah ini? Sedang apa mereka di kelas kita?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, yang pasti mereka ada urusan hingga datang ke sini."
"Yahh.. walaupun mereka berandal tetapi mereka sangat tampan."
"Benar juga, aku rasanya seperti akan terkena diabetes karena mereka sangat manis."
Yongi berlagak sombong di depan Reynold karena disebut tampan dan manis oleh murid-murid wanita di kelas itu.
Melihatnya berlagak sombong, Reynold ingin sekali memukulnya akan tetapi ia tidak bisa karena jika melakukan hal itu ia akan dimarahi lagi oleh Kharisma.
"Baiklah, tidak perlu membuang-buang waktu lagi kita akan langsung membicarakan masalah tadi pagi." Ucap Kharisma dengan suara yang sangat tegas.
"Biar Kutebak, masalah ini berhubungan dengan kelompok no 3 terkuat di sekolah ini yaitu black bull dan teman ekskul kalian lah yang membuat masalah ini." Pria berambut putih tersebut berbicara secara blak-blakan dengan wajah yang amat sangat santai.
"Tebakanmu benar dan karena hal itu juga kami ingin kelompok kalian melindungi kedua pria katrok bernyali besar itu."
"Yaahhhh… itu tidak sulit sih selama ada…." Vinter menggesekkan jari jempol dengan jari telunjuknya.
Kelompok TPOM (The Power Of Money) adalah kelompok yang berisikan orang-orang yang siap melakukan hal yang diperintahkan jika dibayar sesuai dengan kerja kerasnya. Hal itu juga yang membuat kelompok ini menjadi kelompok yang kuat karena dapat merekrut anggota yang hebat dengan uang dan mendapat menjalin relasi dengan murid-murid dari golongan orang kaya.
"Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir soal bayaran. Aku akan menyiapkan upah yang cukup kepada kelompok kalian jika berhasil." Ucap Kharisma.
Vinter dan Yongi tersenyum bahagia karena akan mendapatkan uang dengan menjalankan tugas ini. Sementara itu Riana terdiam seribu bahasa karena bingung dengan pembicaraan ini.
"Karena sudah sepakat, aku dan Yongi akan pergi karena kami memiliki urusan lain. Sampai bertemu lagi nanti." Vinter berjalan menuju pintu keluar kelas diiringi oleh Yongi di belakangnya.
Akhirnya mereka pergi dari kelas 1-2.
"Kenapa kamu terlihat bingung seperti itu?" Tanya Reynold kepada Riana sambil memakan camilan.
"Apa yang dimaksud dari gesekan jari jempol dengan telunjuk yang dilakukan oleh Kak Vinter barusan?"
"Itu artinya dia meminta bayaran. Apakah kamu berpikir bahwa mereka akan membantu secara suka rela? Tentu saja karena ada bayaran dan Kharisma lah yang akan membayarnya"
Gadis itu menjadi merasa bersalah kepada Kharisma karena ia harus mengeluarkan uang untuk membayar kelompoknya Vinter. Ia menatap wanita bermata biru itu dengan perasaan yang tidak enak hati.
"Kamu tidak perlu khawatir karena aku memiliki banyak uang." Ucap Kharisma.
Riana memalingkan wajahnya setelah mendengar jawaban itu. Ia tahu jika kedua temannya berasal dari orang kaya dan memiliki banyak uang, tetapi ia tetap saja merasa tidak enak hati.
"Kak Vinter pernah membantuku sekali pada hari pertama masuk sekolah, tapi kenapa dia tidak meminta bayaran kepadaku?"
"Tentu saja karena tuan muda yang membayarnya." Kharisma bergumam dengan wajah yang datar.
"Apa yang baru saja kamu katakan? Aku tidak mendengarnya." Riana kembali bertanya.
"Aku mengatakan bahwa mungkin dia membantumu karena ia tahu kamu wanita yang baik. Makanya ia tidak meminta bayaran kepadamu."
__ADS_1
Riana hanya bisa menganggukkan kepalanya dan percaya kepada ucapan tersebut. Ia bukan tipe orang yang mudah berburuk sangka kepada orang lain karena kebaikan hatinya, hal tersebut juga merupakan faktor penyebab ia selalu dijahati dan dimanfaatkan oleh orang lain.