Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Rapat Osis


__ADS_3

srek..


Diana membagikan beberapa dokumen pada setiap osid yang hadir di rapat tersebut.


Setelah semua dokumen sudah dibagikan, Ryan si ketua osis memulai rapat agar tidak membuang waktu lebih banyak lagi.


"Kalian lihat foto wanita yang berada di dokumen itu?"


"Tentu saja, dia adalah Riana Rosalina si perempuan cantik dari kelas 1-2. Dia adalah juniorku di ekskul wartawan." Ucap Rose.


"Anak ini adalah orang yang kuberikan beasiswa karena permintaan dari pria itu, tentu saja aku mengenalnya." Nandrika ikut berbicara.


Setelah itu tidak ada satupun anggota osis lain yang berbicara, hal tersebut lantas membuat Ryan menjadi merasa sedikit kesal.


"Bagaimana dengan yang lain? Apakah kalian masih belum mengenal klien kita ini? Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk mengenalnya?" Tanya Ryan.


Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan si ketua osis tersebut, mereka hanya terdiam dengan wajah yang tegang.


Setelah beberapa saat tidak ada yang menjawab, akhirnya Cakra si osis kedisiplinan memberanikan diri untuk menjawab.


"Kami bukannya tidak berani, tetapi memang kami belum menemukan waktu yang tepat untuk berkenalan dengannya."


Bima, Finka, dan Silvia menganggukkan kepalanya dengan wajah yang penuh dengan keteguhan.


Haa…


Ryan menghela nafas sambil membenarkan posisi kacamatanya yang miring.


"Aku memberi kalian waktu minggu ini untuk berkenalan dengannya, jika dalam minggu ini kalian masih belum berkenalan dengannya, aku akan memberikan kalian hukuman."


"Baik, kami akan melakukannya. Kamu tidak perlu khawatir!" Ucap Bima.


"Bagus, sekarang silahkan kamu berbicara." Ketua osis melirik ke arah Diana.


Dengan sigap Diana menganggukkan kepalanya lalu berdiri dengan posisi kedua telapak tangannya menempel di atas meja, ia memasang wajah yang terlihat amat sangat serius.


"Semenjak masuknya klien kita yaitu Riana Rosalina, banyak sekali kejadian buruk yang menimpanya. Kami dari pihak osis hanya memberikan sedikit bantuan saja karena Riana sudah memiliki penjaganya sendiri Yaitu Reynold dan Kharisma, karena itu juga si pria itu hanya memberikan dukungan yang kecil pada pihak kita dalam melawan anak-anak nakal kaya di sekolah ini." Diana berbicara panjang lebar.

__ADS_1


"Jadi maksudmu jika kita ingin mendapatkan dukungan penuh maka kita juga harus memberikan bantuan penuh juga kepada Riana?" Tanya Nandrika.


"Benar sekali, kita juga harus memberikan bantuan 100 persen kepada Riana, dengan begitu kita juga akan mendapatkan dukungan 100 persen dari pihak pria itu. Silahkan dibaca surat yang sudah kuberikan! Disitu sudah tertulis berbagai informasi dan hal yang harus dilakukan pihak kita." Diana menjawab.


Seluruh anggota osis perwakilan di bidangnya yang ikut rapat terlihat fokus dengan dokumen yang diberikan oleh Diana, mereka membaca dengan teliti agar tahu tentang informasi perjanjian dan juga klien.


Setelah itu mereka melanjutkan rapatnya hingga pukul 7.30 malam lalu pulang ke rumah masing-masing karena sudah terlalu larut.


Hari kamis pagi di lorong sekolah, terlihat Riana, Reynold dan juga Kharisma sedang berjalan di lorong menuju kelas.


Terlihat dua sosok pria tampan yaitu Cakra dan Bima sedang berdiri di depan pintu masuk kelas 1-2 sambil melipat kedua tangan di dada.


"Selamat pagi, maaf mengganggu kalian. Apakah benar kalian adalah siswa yang bernama Riana, Reynold, dan Kharisma?" Tanya Cakra yang sedari awal memang sudah mengenal mereka, namun ia bertanya hanya untuk formalitas.


"Benar, nama saya adalah Riana dan ini adalah kedua teman saya, Kharisma dan Reynold." Riana menjawab sambil menunjuk kedua temannya.


"Kalau begitu perkenalkan, namaku adalah Cakra Santosa dan teman di sebelahku ini adalah Bima Arnantyo."


Cakra tersenyum sedangkan Bima sedikit membungkukkan badannya untuk memberi salam.


"Ah.. iya, salam kenal juga." Riana tersenyum ceria.


Reynold segera menoel pinggang Kharisma dan berbisik kepadanya.


"Kita harus akrab dengan mereka, bantuan dari mereka akan sangat berguna walaupun terlambat."


Kharisma menganggukkan kepalanya karena ia setuju dengan perkataan teman prianya tersebut.


"Kami dengar kamu mendapatkan masalah beberapa kali dengan siswa bermasalah, apakah aku benar?" Tanya Bima.


Riana terdiam setelah mendengar perkataan Bima si pria berperban tinju, ia memasang wajah sedih karena sejak awal masuk sekolah ia sekalipun tidak ingin membuat masalah. Namun apalah dayanya jika masalah itu yang terus-menerus menghampirinya.


Kharisma yang sangat peka lantas segera menggantikannya menjawab pertanyaan Bima.


"Benar, kami tidak sengaja terlibat masalah beberapa kali dengan siswa lain."


"Kamu tahu bukan? Jika tugas kami sebagai osis adalah mendisiplinkan seluruh siswa dan menjaga kemakmuran sekolah ini." Tanya Bima.

__ADS_1


"Tentu saja kami tahu, memangnya kenapa?" Reynold balik bertanya dengan wajah kebingungan.


Cakra dan Bima tiba-tiba saja tersenyum, dari senyum mereka terlihat sangat jelas bahwa mereka memiliki maksud tertentu.


"Kami ingin mewawancarai kamu tentang siswa bermasalah, maukah kamu meluangkan waktumu besok sore setelah pulang sekolah?" Cakra bertanya dengan wajah yang sedikit memelas.


Riana yang merupakan gadis baik hati lantas tidak tega menolak tawaran tersebut, lagipula ia memang ingin mempunyai banyak teman.


"Tentu saja aku mau."


Jawaban Riana lantas membuat kedua temannya yaitu Kharisma dan Reynold terkejut lalu segera memasang badan mereka di depan Riana.


"Kami tidak setuju dengan hal itu." Jawab tegas Kharisma.


"Maaf jika kami menolak karena permintaan kalian terlalu membebani." Reynold memberikan tatapan yang terlihat serius.


Mereka berdua menolak tawaran Bima dan Cakra karena tidak ingin Riana terlibat dengan konflik antara kelompok osis dengan kelompok siswa bermasalah di sekolah ini.


Mereka berdua ingin Riana sepenuhnya mendapatkan ketenangan selama bersekolah di SMA Harapan Jaya.


"Kami tidak bertanya kepada kalian berdua, kami bertanya kepada gadis cantik dan baik yang berdiri di belakang kalian." Cakra memberikan tatapan yang menyeramkan.


"Kami berdua adalah teman baiknya, jadi kami juga berhak ikut campur masalah ini." Reynold tidak ingin kalah dan membalas tatapan tersebut.


Cakra dan Reynold saling memberikan tatapan yang menyeramkan seolah olah mereka tengah bertarung dalam batin.


Melihat hal tersebut membuat Riana menjadi sedikit gelisah, karena tidak ingin kedua teman baiknya dan pihak osis terlibat konflik. Akhirnya Riana memutuskan untuk mengeluarkan pendapatnya.


"Aku bersedia diwawancarai oleh pihak osis."


"Apa? Apa yang baru saja kamu katakan? Aku dan Reynold tidak mengizinkannya." Kharisma memegang kedua pundak Riana.


"Kamu tidak boleh memutuskan secara sepihak seperti ini." Reynold ikut berbicara.


Riana tersenyum sambil mencoba menurunkan kedua tangan Kharisma yang memegang pundaknya, ia menghela nafas lalu tersenyum lebar.


"Tidak apa-apa, lagipula ini hanya wawancara."

__ADS_1


Kharisma dan Reynold saling bertatapan mata dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, sebenarnya mereka tidak setuju dengan keputusan Riana. Namun apalah daya mereka jika memang tekad gadis malang dan baik hati itu sudah bulat.


Cakra dan Bima tersenyum gembira karena berhasil membujuk Riana agar mau diwawancarai oleh pihak osis.


__ADS_2