
Jam istirahat di kantin sekolah, Riana dan kedua teman baiknya yaitu Kharisma dan Reynold sedang makan mie ayam dan es teh manis di meja duduk paling pojok.
"Dasar kakak kelas kurang ajar! Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu kepada adik kelasnya." Gerutu Reynold.
"Sudahlah, Reynold. Lagipula aku tidak terluka sedikitpun." Riana tersenyum.
"Kamu tidak terluka karena aku dapat menangkapmu sebelum jatuh ke lantai." Celetuk Kharisma sambil meminum es teh manis miliknya.
"Benar! Kalau Kharisma tidak menangkapmu pasti setidaknya lututmu terluka, kita tidak boleh membiarkan kakak kelas itu bertindak semaunya." Ucap Reynold.
Arghhh…
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Reynold dari belakang sehingga membuat pria bermata biru itu teriak karena terkejut.
"Hohoho, aku mengejutkanmu, ya?"
Ternyata orang tersebut adalah Ryan yang tidak lain adalah ketua osis bersama dengan dengan Diana yang sedang meminum pop ice rasa alpukat.
"Astaga, jantungku hampir copot rasanya." Reynold menepuk-nepuk dadanya.
"Kak Ryan dan Kak Diana? Selamat siang, apakah kalian datang ke sini untuk jajan?" Tanya Riana.
"Yah, kami datang kesini untuk jajan sekaligus memantau situasi di kantin." Diana menjawab.
Ketua osis dan wakilnya duduk di kursi sebelah Reynold serta berhadapan dengan Kharisma dan Riana.
Ryan menusuk gelas pop ice miliknya lalu meminumnya beberapa tegukan.
"Kenapa kamu terlihat marah seperti itu?" Tanya Diana.
"Ahh… kalian berdua kan osis, apakah kalian tahu seorang pria pemain basket yang merupakan orang kaya?" Reynold balik bertanya.
"Hmmm… seorang pria pemain basket dan dari kalangan orang kaya? Aku rasa orang yang kamu maksud adalah Raka Arnanta." Jawab Ryan.
__ADS_1
"Dia siswa bermasalah yang mendapatkan perlindungan dari pihak sekolah karena keluarganya memberikan sumbangan yang cukup besar kepada sekolah." Diana ikut menjawab.
Riana merasa sedikit kebingungan dengan penjelasan yang diberikan oleh Diana si wakil ketua osis, karena itu ia pun memutuskan untuk bertanya.
"Mendapat perlindungan dari sekolah?"
"Mereka yang berasal dari keluarga kaya selalu memberikan sumbangan ke sekolah untuk memberikan fasilitas lebih baik dan berkembang, karena itu sebagai bentuk rasa terimakasih pihak sekolah akan melindungi anak-anak mereka dari berbagai masalah yang terjadi." Ucap Kharisma.
"Jadi dengan kata lain walaupun Raka atau si anak yang sudah menabrakmu itu membuat kesalahan, pihak sekolah akan tetap melindunginya karena orang tuanya telah menyumbang ke pihak sekolah." Ketua osis berbicara dengan wajah yang sok bijak.
Kharisma dan Reynold menjadi saling bertatapan mata selama beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya seperti berkomunikasi melalui telepati.
"Kalian tenang saja! Menangani Raka adalah tugasku dan juga Ryan, kami akan mencoba semampu kami untuk mengatasi anak itu dan membuatnya berhenti menimbulkan masalah." Ucap Daina.
Ryan menganggukkan kepalanya yang menandakan bahwa ia setuju dengan perkataan yang baru saja diucapkan oleh wakilnya itu.
"Kami juga akan ikut membantu dengan cara kami sendiri." Kharisma berbicara setelah menghabiskan teh manis dingin miliknya.
Riana hanya tersenyum melihat teman-temannya yang marah karena ada orang yang sudah bertindak jahat terhadap dirinya, ia merasa gembira sekaligus bersyukur karena telah diberikan teman-teman yang baik seperti mereka hingga ia melupakan masa lalunya yang buruk dan menyedihkan.
Masa-masa sulit Riana dalam bertahan hidup sendirian di dunia yang keras dan kejam ini sudah tidak terasa lagi dan hanya menyisakan penyesalan tentang hal yang telah terjadi di masa lalu yang masih membekas di hatinya.
Setelah berdiskusi tentang Raka si pria pemain basket, mereka ber 5 mengobrol sepanjang waktu istirahat dan setelah bel masuk berbunyi, mereka kembali ke kelas untuk memulai kembali pembelajaran pada hari itu.
Di ruang osis, pukul 5.10 sore setelah pulang sekolah.
"Apa kalian sudah mendapatkan informasi?" Ucap ketua osis.
Terlihat ketua osis dan seluruh anggota osis sedang melaksanakan rapat di sebuah meja bundar.
"Aku sudah mendapatkan sedikit informasi, tapi aku sedang berusaha mencari bukti yang lebih." Ucap penanggung jawab osis di bidang keamanan yaitu Bima Anantyo si pria tangan berperban tinju. Tidak ada yang tau kenapa ia selalu menggunakan perban tinju di kedua tangannya.
"Aku juga sudah mendapatkan beberapa anak bermasalah, 75 persen sudah kuatasi." Ucap Cakra sentosa si pria sabuk kulit, ia adalah penanggung jawab osis bagian kedisiplinan dan satu-satunya siswa yang tidak memakai sabuk standar sekolah.
__ADS_1
"Dan anak-anak yang tidak bisa kamu sentuh itu adalah anak-anak yang dilindungi oleh pihak sekolah?" Tanya Rose si osis bagian sekretaris, rose adalah penanggung jawab ekskul wartawan.
Cakra menganggukkan kepalanya yang menandakan jika perkataan yang diucapkan oleh Rose benar.
"Akhir-akhir ini sumbangan ke pihak sekolah naik secara drastis, ada seseorang dari pihak luar memberikan sumbangan dengan nilai yang fantastis." Ucap Finka oktaviani si wanita berkuku hijau, ia adalah bendahara osis.
"Pantas saja peralatan medis di uks menjadi tambah banyak." Silvia atika si wanita vegetarian dan osis bagian kesehatan menimbrung pembicaraan.
"Coba ku tebak, penyumbang terbesar di sekolah ini adalah orang yang beberapa bulan lalu datang ke ruang osis dan mengatakan akan menjadi dukungan yang kuat bagi osis dengan adanya syarat tertentu?" Ucap Nandrika zulkaria si kutu buku, ia adalah penanggung jawab osis bagian akademik dan prestasi.
Pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh nandrika membuat seisi ruang rapat osis menjadi hening, tidak ada satupun orang yang menjawab pertanyaannya hingga membuat ketua osis turun tangan.
"Kamu benar, orang yang datang beberapa bulan yang lalu lebih tepatnya 2 bulan sebelum penerimaan siswa baru lah yang menjadi penyumbang terbesar di sekolah pada saat ini."
Prak…
Ketua osis melemparkan sebuah berkas ke tengah meja, berkas itu merupakan sebuah kontrak yang sudah ditandatangani diatas materai.
"Kalian sudah tahu bukan? Perjanjian yang telah dibuat oleh pihak osis sekolah kita dengan pria itu?" Ketua osis bertanya.
"Tentu saja, bagaimana kami bisa lupa? Kekuatan osis di sekolah ini semakin kuat karena dukungan dari pihak pria itu." Ucap Finka.
"Walaupun sudah lebih kuat tetap saja kita masih belum bisa menyentuh anak-anak nakal kaya di sekolah ini." Gerutu Cakra.
Bima menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan karena ia merasa sangat setuju dengan perkataan Cakra.
"Kita masih belum bisa menyentuh anak-anak nakal itu karena kita belum bekerja sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat, jadi pria itu tidak memberikan dukungannya kepada kita 100 persen." Diana berbicara.
"Diadakannya rapat ini adalah untuk membahas kembali kesepakatan yang telah dibuat, agar mendapatkan hasil yang maksimal, kita juga harus bekerja secara maksimal." Ketua osis memasang wajah yang serius hingga membuat seluruh anggota rapat menjadi tegang.
"Baiklah, tidak perlu membuang waktu lebih lama lagi, mari kita mulai!" Diana berbicara sambil mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tas miliknya.
Akhirnya, pada sore itu rapat osis mengenai kesepakatan yang dibuat telah dimulai.
__ADS_1