Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Kharisma 5


__ADS_3

glek… glek…


Setelah menangis selama beberapa belas menit Kharisma meminum lemon tea dingin yang dibuatkan bibi pembantu di rumah Reynold. Perasaannya jauh lebih baik setelah menangis, sekarang emosinya jauh lebih stabil daripada tadi.


"Kamu harus menjauh sesegera mungkin dari mereka!" Ucap Reynold dengan tegas.


"Tanpa kamu bilang aku memang sudah berencana seperti itu." Menaruh gelas lemon tea dingin yang telah ia minum ke atas meja.


"Bagus! Orang seperti mereka memang harus dijauhi, dasar dua perempuan jal*ng." Reynold memaki kedua teman baik Kharisma.


Hahaha….


Wanita bermata biru tersebut tertawa terbahak-bahak setelah mendengar makian yang terlontar dari mulut Reynold.


"Kamu sangat kasar, ya?"


"Hehehe… habisnya aku kesal sekali dengan perbuatan yang mereka lakukan kepadamu." Renold berbicara sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Kharisma tersenyum ke arah pria bermata ungu itu, ia merasa sangat bahagia karena dapat memiliki sahabat sepertinya.


Setelah itu mereka berdua saling berbincang-bincang antara satu sama lain tentang hal yang berkaitan dengan bisnis keluarga mereka, Kharisma tidak lagi bersedih dan sudah membulatkan tekad untuk memutuskan pertemanan dengan kedua teman baiknya yang sudah memanfaatkannya selama ini.


Keesokan harinya, hari senin pukul 06.50 pagi, di dalam kelas.


"Kharisma!" Teriak Yulia dan Dinda menghampirinya yang sedang duduk di meja belakang.


"Kenapa kamu duduk di meja belakang?"


"Iya! Kenapa kamu pindah tempat duduk?"


Kedua temannya bertanya dengan wajah yang kebingungan.


"Aku hanya ingin pindah tempat duduk, kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku!" Kharisma menjawab dengan ketus.


Yulia terlihat kesal terhadap sikap wanita bermata biru itu, Dinda segera menggandeng tangannya dan berbisik kepadanya.


"Sembunyikan ekspresimu! Kita harus bersikap baik di hadapannya."


Haaa…


Yulia menghela napas lalu menganggukkan kepalanya.


"Berarti kita tidak bisa duduk bersama, ya?" Ucap Dinda sambil melihat meja sekeliling Kharisma yang sudah ditempati murid lain.


"Kalian bisa duduk di meja bagian depan yang masih kosong." Kembali menjawab dengan ketus.


"Kalau kami duduk di depan berarti kita tidak duduk bersebelahan dong!”


"Memangnya harus duduk bersebelahan, ya? Lagi pula kita kan tetap di kelas yang sama." Kharisma menatap kedua temannya dengan tatapan yang tajam.


Dinda hanya tersenyum sedangkan Yulia diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun karena menahan amarahnya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu." Dinda menarik lengan Yulia yang sedang digandeng olehnya menuju kursi barisan depan yang masih kosong.


"Wanita yang sangat menyebalkan" Yulia bergumam.


Akhirnya mereka tidak duduk bersebelahan lagi seperti sebelumnya.


Teng… teng… teng…


Bel masuk berbunyi dan pembelajaran hari itu dimulai. Tak terasa waktu cepat berlalu, sekarang jam menunjukkan pukul 12 siang yang menandakan bahwa waktunya jam istirahat.


Kharisma berjalan keluar kelas sambil membawa sebuah buku, rupanya ia ingin mengembalikan buku yang telah ia pinjam dari perpustakaan 2 hari yang lalu bersama kedua teman baiknya yang selama ini hanya memanfaatkannya.


"Kharisma, tunggu!" Teriak Dinda sambil menggandeng tangan Yulia.


Mereka berdua menghampiri wanita bermata biru itu sambil membawa buku juga.


"Kalian ingin mengembalikan buku juga?" Tanya Kharisma dengan wajah datarnya.


"Iya! Ayo kita pergi bersama-sama." Jawab Dinda.


Kharisma menganggukkan kepalanya, mereka pun pergi ke perpustakaan bersama-sama. Dalam perjalan Dinda menceritakan hal-hal lucu sebagai bahan topik pembicaraan, namun Kharisma tidak mendengarkannya dan terus memainkan handphonenya.


Sedangkan Yulia tidak mengeluarkan sepatah katapun karena masih merasa kesal kepada wanita bermata biru tersebut.


Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya mereka telah sampai di perpustakaan lalu segera menemui pustakawan.


"Aku ingin mengembalikan buku yang dipinjam." Ucap Kharisma sambil memberikan buku kepada pustakawan.


"Wah… kamu cepat juga dalam membaca, buku setebal ini kamu habiskan dalam 2 hari?"


"Bagus sekali, pertahankan hobby mu itu."


Kharisma dan pustakawan saling berbincang dengan asyik, mereka tidak memperdulikan Dinda dan Yulia sehingga membuat mereka merasa kesal.


"A.. anu… kami juga ingin mengembalikan buku." Ucap Yulia menahan emosinya.


Kharisma dan pustakawan menoleh ke arah mereka berdua.


"Tentu, kalian bisa memberikannya kepada saya." Pustakawan berbicara ramah.


Dinda dan Yulia segera memberikan buku yang mereka pinjam kepada pustakawan tersebut.


Srek.. srek..


Selama beberapa menit pustakawan memeriksa buku yang mereka kembalikan, setelah itu ia menatap Dinda dengan tatapan tajam.


"Mohon maaf sebelumnya, tapi buku yang anda kembalikan dalam kondisi rusak."


"A.. apa? Tidak mungkin." Dinda menyangkal perkataan pustakawan dengan wajah panik.


"Anda bisa melihatnya sendiri!"

__ADS_1


Pustakawan memperlihatkan beberapa halaman yang kotor karena ketumpahan kuah berminyak yang sudah kering, tulisan-tulisan di halaman tersebut melebur dan tidak bisa dibaca lagi.


Dinda menjadi sangat panik seketika, ia gugup sekaligus harus menjawab apa. Kharisma, Yulia dan pustakawan menatapnya dengan tatapan seperti menunggu jawaban.


Pada akhirnya ia membuka suaranya karena tidak tahan lagi dengan tatapan itu.


"Se… sebenarnya bukunya ketumpahan kuah rendang, aku membawa bukunya ke meja makan saat ingin makan malam kemarin, aku tidak sengaja menyenggol piring ku dan kuah rendangnya tumpah mengenai buku." Dinda menceritakan kronologinya.


Pustakawan menepuk jidatnya lalu menatap wanita itu dengan tatapan yang serius.


"Menurut peraturan yang berlaku, anda harus bayar ganti rugi sebesar 100 ribu."


"A… apa? Ta.. tapi saya tidak membawa uang sebanyak itu hari ini." Ucap Dinda.


"Anda bisa membayarnya kapanpun asalkan jangan lewat dari hari sabtu karena tenggat pembayaran uang ganti rugi adalah 1 minggu. Jika anda tidak membayarnya maka anda akan mendapatkan surat peringatan dari pihak sekolah nanti." Pustakawan menjawab dengan tegas.


Dinda menoleh ke arah Kharisma dengan tatapan sedih, ia mengharapkan belas kasih dari wanita bermata biru itu.


Alih-alih merasa kasihan, Kharisma malah memasang wajah datarnya lalu pergi meninggalkan kedua temannya baiknya yang sedang dalam masalah.


"Kamu yang merusaknya maka kamu juga yang harus bertanggung jawab! Aku mau pergi ke kantin duluan, perutku sangat lapar." Kharisma berjalan menjauh menuju kantin tanpa menoleh ke arah belakang sedikitpun.


Dinda dan Yulia memelototinya dengan wajah yang penuh dengan amarah yang bergejolak. Mereka berdua kesal karena semenjak kemarin Kharisma menjadi orang yang sangat pelit dan ketus, sangat berbeda dengan Kharisma yang dulu.


Pada akhirnya Dinda memutuskan untuk membayar denda esok hari karena ia tidak membawa uang sebanyak itu hari ini. Setelah itu mereka berdua juga pergi ke kantin untuk makan siang, yang pasti mereka tidak makan bersama dengan Kharisma.


Di kantin sekolah suasananya sangat ramai.


"Wah… hari ini banyak sekali siswa yang makan siang di kantin, biasanya mereka membawa bekal dari rumah." Kharisma bergumam sambil berjalan menuju tempat penjual nasi goreng.


Ia mengantri selama beberapa menit lalu pergi ke salah satu meja makan setelah nasi goreng yang ia pesan telah jadi.


Sret…


Wanita bermata biru tersebut duduk disamping beberapa murid wanita yang kebetulan memang sekelas dengannya.


"Oh… hei, Kharisma! Kenapa kamu sendirian? Dimana kedua teman baikmu itu?" Tanya salah seorang murid.


"Aku tidak lagi berteman baik dengan mereka, mulai sekarang aku akan bermain dengan kalian saja." Ucap Kharisma sambil tersenyum ke arah 3 murid wanita yang sekelas dengannya.


"Wah… bagus! Dari dulu aku memang tidak suka dengan mereka, mereka berdua terlihat munafik."


"Benar! Terlihat sangat jelas jika mereka dekat denganmu karena menginginkan sesuatu." Ucap murid wanita lain.


"Dari mana kalian tahu kalau mereka munafik?" Tanya Kharisma.


"Itu karena saat ada kamu mereka bertingkah baik dan sopan sedangkan disaat tidak ada kamu mereka bertingkah seperti orang yang sombong dan merendahkan orang lain."


"Apakah kamu menjauhi mereka karena sekarang kamu tahu jika mereka wanita yang munafik?" Tanya salah seorang murid wanita tersebut.


Kharisma hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah serius.

__ADS_1


"Mulai sekarang aku akan menjauhi mereka dan main bersama kalian saja. Jadi mohon bantuannya!" Kharisma tersenyum.


Ketiga wanita itu ikut tersenyum kepadanya, akhirnya mereka pun menyantap makan siang bersama-sama sambil mengobrol antara satu sama lain.


__ADS_2