
Arkhhh…
Suara pria berambut hitam masuk ke dalam mobil di kursi penumpang sambil memegang dada bagian kiri, jantungnya berdegup dengan kencang sehingga membuat wajahnya memerah.
"Apakah anda baik-baik saja, tuan muda?" Tanya Aziz si pria keturunan arab yang duduk disebelah kursi pengemudi.
"Aku baik-baik saja, jadi jangan hiraukan aku. Lebih baik kita cepat pergi dari sini!" Pria berambut hitam menutup pintu mobil lalu melepas wig rambut hitam miliknya.
Ternyata identitas asli pria itu adalah tuan muda atau pria berambut pirang yang menyamar karena sebuah alasan.
"Kamu dengar itu? Cepat jalankan mobilnya!" Ucap Aziz kepada supir mobil yang mereka tumpangi.
Dengan sigap supir menancap gas dan pergi dari tempat itu dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Malam hari pukul 8 di tempat kos Riana.
Gadis cantik dan baik hati itu sedang berbaring di kasurnya sendirian setelah diantar pulang oleh Kharisma dan Reynold dari tempat makan.
"Wajahnya sangat mirip." Bergumam sendirian.
"Entah mengapa setelah bertemu dengan bosku yang baru aku jadi teringat dengan Rayees. Andai saja dulu aku mendengarkan perkataannya, mungkin dia tidak akan meninggalkanku." Riana memeluk guling miliknya dengan wajah yang terlihat sedih.
Rasa penyesalan terlihat dengan jelas di sorot matanya, namun ia tetap meneguhkan hatinya agar tidak menangis dan menyesali kejadian yang telah terjadi di masa lalu.
Keesokan harinya, seperti biasa Riana, Reynold dan Kharisma pergi ke sekolah bersama-sama. Mereka menelusuri lorong sekolah menuju kelas mereka yaitu kelas 1-2.
Daukhh…
Seorang pria yang membawa bola basket berlari lalu menabrak Riana cukup kencang hingga membuatnya terjatuh, untungnya Kharisma dengan sigap menangkap Riana sebelum menyentuh lantai.
"Hei, kalau jalan lihat-lihat dong!" Reynold menarik pundak pria pemain basket itu.
"Aku tidak sengaja, jadi singkirkan tanganmu dariku!" Menjawab dengan angkuh dan menepis tangan Reynold.
"Tidak sengaja? Kamu pikir ini akan selesai begitu saja? Sekarang cepat minta maaf kepada Riana." Reynold menunjuk Riana yang baru saja kembali berdiri setelah dibantu oleh Kharisma.
__ADS_1
"Benar, kamu harus minta maaf! Lagi pula memang kamu yang salah, kamu berlari di lorong kelas padahal sudah ada peraturan yang melarang melakukan hal tersebut. Aku akan melaporkanmu kepada guru jika tidak meminta maaf kepada Riana." Kharisma ikut menimbrung pembicaraan.
Pftttt…
Alih-alih merasa menyesal dan bersalah, pria pemain bola basket itu justru tertawa dan menatap dengan tatapan yang merendahkan.
"Memangnya kenapa jika aku melanggar peraturan? Guru-guru juga tidak akan berani memarahiku. Justru kalianlah yang akan kulaporkan kepada guru, dasar kaum rendahan." Berbicara sambil mengorek-ngorek sebelah telinganya menggunakan jari kelingking.
"Apa? Kurang ajar kamu!"
Reynold tidak bisa menahan amarahnya dan hendak memukul pria pemain basket itu, namun beberapa sentimeter saat tangan Reynold akan menghantam wajah pria pemain basket, pukulannya ditahan dan digenggam oleh seseorang.
Terlihat sosok pria berbadan kekar dan berambut putih yang tidak lain adalah Aryand Soyala yaitu si pemimpin kelompok TPOM.
"Kak Aryand? Sedang apa kakak disini? Kenapa kakak menghentikan pukulanku?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Reynold yang bingung dengan situasi yang sedang terjadi.
Plakkkk..
Aryand melempar tangan Reynold yang sedang ia genggam lalu melirik ke arah Riana yang hanya terdiam dan sedikit gemetar karena ketakutan.
"Pria yang sedang memegang bola basket itu berlari di lorong dan menabrak Riana hingga membuatnya terjatuh." Reynold menjelaskan dengan nada suara yang terdengar marah.
Aryand melihat ke arah pria pemain basket yang sedang mengorek-ngorek telinga menggunakan jari kelingking lalu kembali melirik ke arah Riana.
"Apakah yang dikatakan pria bermata biru ini benar? Kamu terjatuh karena ditabrak?"
Riana menganggukkan kepalanya karena memang benar bahwa ia jatuh karena ditabrak, untung saja Kharisma dapat menangkapnya sebelum menyentuh lantai.
Haaa…
"Permintaan nomor satu dan permintaan nomor tiga kenapa harus saling berselisih?" Gumam Aryand.
"Itu salahmu sendiri karena tidak bisa menghindar, lagipula kenapa tubuhmu sangat lemah? Baru ditabrak sedikit saja sudah jatuh." Pria pemain basket menyelutuk dengan angkuhnya.
"Dasar kurang ajar! Aku tahu kamu itu kakak kelas tetapi bukan berarti kamu dapat berperilaku seperti ini kepada adik kelasmu." Reynold marah.
__ADS_1
Pria pemain basket itu tidak menggubris sama sekali, dengan angkuhnya ia tidak mendengar apalagi merespon perkataan Reynold.
Aryand selama beberapa saat berpikir dengan wajah yang terlihat sangat serius, berulang kali ia melirik ke arah pria pemain basket dan juga Riana.
"Aku tidak tahu siapa yang benar dan juga yang salah, yang pastinya aku akan terus mendukung permintaaan yang memberikan banyak keuntungan kepadaku." Aryand berbicara sambil menekankan beberapa kalimat yang penting sambil melirik ke arah Kharisna.
Kharisma si wanita bermata biru yang cantik, pintar, dan peka dengan spontan mengetahui apa yang dimaksud oleh Aryand. Ia menepuk pundak Reynold dari belakang lalu menariknya menjauh dari tempat itu, begitu pula dengan Riana.
"Tu… tunggu dulu! Kenapa kamu membawaku pergi? Urusanku dengan kakak kelas kurang ajar itu belum selesai." Gerutu Reynold.
"Sudahlah! Kita serahkan saja masalah ini kepada Kak Aryand, lagi pula sebisa mungkin kita jangan sampai membuat masalah dengan orang lain apalagi kakak kelas. Itu akan menjadi hal yang sangat merepotkan!"
Reynold hanya bisa terdiam mendengar perkataan Kharisma, ia tahu jika teman wanitanya itu sangat pintar dan pemikir panjang, jadi ia memutuskan untuk mengikuti perkataannya.
Sedangkan Riana hanya terdiam karena ia masih sedikit shock dan takut dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Disisi lain, Aryand dan pria pemain basket masih berdiri di tempat kejadian.
"Sepertinya mereka takut kepadamu? Baguslah, aku tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenagaku untuk meladeni mereka. Tidak sia-sia aku memberikan sumbangan ke kelompokmu setiap bulannya." Pria pemain basket berjalan meninggalkan Aryand sendirian.
"Lebih baik kamu tidak mencari masalah lagi dengan mereka!" Ucap Aryand.
Pria pemain basket itu lantas menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke arah Aryand yang berdiri di belakangnya.
"Memangnya kenapa?"
"Mereka berasal dari keluarga yang kaya raya." Jawab Aryand dengan wajah yang serius.
Pfftt
Alih-alih merasa takut, pria pemain basket itu justru tertawa terbahak-bahak sambil memutar-mutar bola basket miliknya di jari telunjuk.
"Aku juga berasal dari keluarga yang kaya raya, bahkan aku mendengar dari guru-guru katanya keluargaku adalah penyumbang nomor 3 paling banyak di sekolah ini. Jadi untuk apa aku takut dengan mereka? Sangat konyol." Kembali berjalan meninggalkan Aryand sendirian.
"Seorang pria berambut pirang yang berada di belakang mereka adalah masalahnya, dia adalah penyumbang nomor 1 paling banyak di sekolah ini. Kamu akan benar-benar dihabisi olehnya. Yah, itu bukan urusanku juga." Aryand bergumam sambil pergi meninggalkan tempat itu juga.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi dan pembelajaran hari itu pun dimulai.