Stalkerku Seorang Konglomerat

Stalkerku Seorang Konglomerat
Kehilangan Jejak


__ADS_3

Drap.. drap..


Suara langkah kaki Ryan sedang mengejar pria berambut merah yang sudah mendorong Riana hingga jatuh ke dalam kali.


"Berhenti kamu!" Teriak Ryan.


Pria berambut merah tersebut tidak menghiraukan perkataan ketua kelas dan terus berlari sekuat tenaga.


Mereka saling kejar-kejaran di jalan yang dilalui oleh banyak orang. Beberapa kali mereka menabrak atau menyenggol orang yang menghalangi jalan mereka.


Brak…


Pria berambut merah menarik dan menumpahkan sekotak besar  buah apel  saat ia berlari melewati sebuah toko yang menjual buah buahan, apel-apel tersebut berhamburan di jalanan.


"Hey… kurang ajar kamu!" Teriak seorang pria yang merupakan pemilik dari toko buah tersebut, ia berlari ke luar dari tokonya dan biri di tengah jalan sambil mengacungkan jari tengahnya kepada pria berambut merah.


Brak…


Selang beberapa detik, ketua kelas yang berlari terlalu kencang tidak bisa berhenti dan menghindar sehingga menabrak pemilik toko buah tersebut.


"Maaf! Aku akan ganti rugi nanti setelah menangkap bedebah itu." Masih lanjut berlari sambil membenarkan posisi kacamatanya yang miring.


Pemilik toko buah yang ditabrak jatuh tersungkur di tanah dengan mulut yang tidak sengaja tersumpal apel.


Puahh…


Pemilik toko buah tersebut mengeluarkan apel yang menyumpal mulutnya lalu kembali memberikan jari tengahnya kepada Ryan yang sedang berlari.


"Anak-anak muda zaman sekarang sangat kurang ajar! Tidak tahu sopan santun." Berteriak dengan lantang.


Sementara itu, pria berambut merah membuka pintu dan masuk ke dalam sebuah toko bunga dan Ryan segera ikut masuk ke dalam toko bunga tersebut.


Alangkah terkejutnya ia ketika melihat di dalam toko tersebut hanya ada wanita paruh baya yang sedang menatapnya dengan wajah kebingungan.


"Permisi, apakah anda melihat pria berambut merah yang memakai masker? Saya melihatnya masuk ke dalam toko bunga ini." Ryan berjalan menghampiri wanita paruh baya tersebut.


"Apakah maksudmu adalah pria yang sedang bersembunyi dibalik pintu masuk itu?" Wanita paruh baya menunjuk ke arah belakang pintu masuk.


Ryan segera menoleh dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat pria berambut merah sedang memegang gagang pintu dan sebuah kunci.


Brakkk….


Pria berambut merah segera menutup pintu lalu menguncinya, ia tidak mau ambil resiko sehingga membuang kunci pintu tersebut ke dalam kali di sebelah jalan.


Dokkk…. Dokk…


Suara Ryan menggedor-gedor pintu yang terkunci dan mencoba untuk membukanya, namun hal tersebut tidak membuahkan hasil sama sekali.

__ADS_1


"Tidak… tidak bisa dibiarkan terus begini." Ucap Ryan sambil berjalan mundur.


Drap… drap…. Duakhhhhh…


Ia berlari dengan kencang menuju pintu yang dikunci kemudian menendangnya sekuat tenaga hingga pintu tersebut ambruk dan hancur.


Setelah jalannya kembali terbuka, ia segera lanjut berlari mengejar pria berambut merah yang terlihat belok ke arah kiri dengan jarak sekitar 8 toko di depan.


"Kyakkk…. Dasar anak nakal, berani-beraninya kamu merusak pintu tokoku. Apakah kamu tidak tahu biaya perbaikannya sangat mahal?" Teriak wanita paruh baya pemilik toko tersebut sambil berlari ke luar tokonya.


"Saya benar-benar minta maaf! Saya akan menggantinya nanti." Teriak ketua kelas tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.


Saat sudah melewati 8 toko, ia segera belok ke arah kiri tempat dimana pria berambut merah melarikan diri.


Ia sangat terkejut karena tidak menemukan apapun, disitu hanya ada tong sampah dan tembok penghalang yang menandakan bahwa tempat tersebut adalah jalan buntu.


Hosh… hosh…


"Sial, aku kehilangan jejak pria itu." Gumam Ryan dengan nafas yang terengah-engah karena lelah setelah berlari cukup jauh.


Ia berjalan dengan lunglai menuju toko bunga yang telah ia rusakkan pintunya tadi.


Sementara itu, di atas atap toko samping jalan buntu tersebut terlihat pria berambut merah sedang menatapnya kemudian mundur perlahan-lahan dan menghilang. Rupanya pria berambut merah tersebut memanjat ke atas atap toko untuk menghindari kejaran dari ketua kelas. Seolah-olah lenyap, pria berambut merah tersebut tidak terlihat lagi bahkan secuil rambut pun.


Setelah berjalan beberapa menit dengan lesu, ketua kelas telah sampai di depan toko bunga yang pintunya telah ia rusak.


"Hei, kamu! Cepat ganti rugi sekarang juga!" Wanita paruh baya pemilik toko bunga menghampirinya dengan wajah yang terlihat marah.


Teng… teng… teng…


Suara nada dering handphone Ryan menelepon seorang pria.


"Ada masalah disini, bisakah kamu datang kemari? Aku akan memberikan alamatnya."


Setelah menelepon, ia menghampiri wanita paruh baya sambil menenangkan dan meyakinkannya bahwa ia akan membayar uang ganti rugi.


Sementara itu, 5 menit yang lalu di rumah sakit.


Drap… drap…


Suara langkah kaki Reynold membopong Riana yang dalam keadaan lemah ke Ruang unit gawat darurat (UGD) untuk mendapatkan pertolongan. Diana mengikuti dari belakang sambil membawa barang-barang milik Reynold, serta Kharisma yang sedang mencoba menelepon seseorang dengan wajah tegangnya.


"Maaf mengganggu anda, tetapi ada masalah disini. Terjadi sebuah kecelakaan, bisakah anda datang kemari." Kharisma berbicara di telepon dengan nada suara yang ketakutan.


"Memangnya apa yang terjadi?" Suara pria dari telepon.


Kharisma terlihat ketakutan, ia tidak berani menjawab pertanyaan tersebut.

__ADS_1


"Hallo? Kharisma, apakah kamu disitu? Kenapa diam saja?" Pria yang berada di telepon kembali bertanya.


Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, wanita bermata biru tersebut akhirnya berbicara.


"Se.. sebenarnya Riana jatuh tenggelam karena didorong oleh seorang pria."


"APAA??? LALU BAGAIMANA KONDISINYA SEKARANG?" Bentak pria tersebut.


"Dia dalam keadaan lemah sekarang, kami membawanya ke rumah sakit terdekat." Ucap Kharisma.


"KALAU BEGITU BERIKAN AKU ALAMAT RUMAH SAKITNYA."


Pria tersebut mematikan teleponnya seketika dan Kharisma masih sedikit gemetar karena ketakutan, walaupun begitu ia tetap memberikan alamat rumah sakitnya.


Prang…..


Suara gelas pecah karena dilempar.


"Arkhh… sialan, dasar tidak berguna." Pria berambut pirang melempar gelas hingga pecah di sebuah ruangan yang terlihat seperti berada di perkantoran.


Dengan sigap ia segera berjalan menuju pintu keluar dari ruang kantor tersebut.


"Aziz, feng ying, ikuti aku sekarang juga! Ada hal yang harus dibereskan."


Pria keturunan tionghoa dan pria keturunan arab yang berbadan besar segera menganggukkan kepalanya lalu berjalan mengikuti langkah pria berambut pirang tersebut.


Sesampainya di tempat parkir, pria keturunan arab segera mengambil kursi depan sebelah kanan yang menandakan bahwa ia yang akan mengendarai mobil tersebut dan pria berambut pirang duduk di kursi penumpang atau kursi bagian tengah.


Teng… teng… teng…


Disaat pria keturunan tionghoa hendak masuk ke kursi depan sebelah kiri, handphonenya tiba-tiba berbunyi karena ada yang meneleponnya, ia pun dengan spontan mengangkat telepon tersebut.


"Hmmm… baiklah, aku akan segera kesana. Kamu sebisa mungkin jangan membuat masalah lagi selama aku dalam perjalanan kesana!" Ucap pria keturunan tionghoa.


"Ada apa, feng ying?" Tanya pria berambut pirang.


"Saya benar-benar minta maaf, tuan muda. Tetapi Ryan mengatakan ada masalah cukup fatal sehingga saya harus kesana."


Haaaaa….


Pria berambut pirang menghela nafas dengan wajah yang sangat menyeramkan lalu bergumam.


"Mereka benar-benar tidak berguna."


Pria keturunan tionghoa dan arab sedikit merasa takut kepadanya, namun mereka tetap memberanikan diri dan mencoba untuk tidak takut karena pria berambut pirang adalah atasan mereka.


"Baiklah, kamu atasi masalah Ryan! Aku dan Aziz akan pergi ke rumah sakit."

__ADS_1


Pria tionghoa yang bernama fengying hanya menganggukkan kepalanya sambil menundukkan kepalanya.


Akhirnya pria berambut pirang dan pria keturunan arab yang bernama Aziz pergi menuju rumah sakit sedangkan Feng Ying pergi menuju tempat Ryan.


__ADS_2