
Setibanya ditempat duduknya, Kevin segera mendudukan bokongnya. Ia kemudian melepaskan tas yang ia kenakan dan meletakannya dimeja.
Pria itu sama sekali tidak bicara sepatah kata pun. Ia kemudian menjatuhkan kepalanya diatas tas tersebut. Memejamkan mata, melanjutkan tidurnya yang terganggu oleh Alena.
Bu Nissa yang sejak tadi ada diruang kelas itu, hanya memperhatikan Kevin. Ia sudah berulang kali menegur Kevin, tapi tidak pernah ditanggapi oleh pria itu.
Siswa yang lainnya juga sama seperti Bu Nissa, hanya mampu memperhatikan Kevin, tanpa berani menegurnya.
Tak.
Hans melempar bolpoinnya, tepat mengenai kepala Kevin.
Tempat duduk Hans dan Kevin sama-sama dipojokan.
Kevin duduk dipojok kanan belakang, sedangkan Hans duduk dipojok kiri belakang.
Kevin yang baru saja memejamkan matanya, kini menegakan kepalanya.
Ia menatap tajam semua orang yang ada diruangan itu.
Semua orang menundukkan kepalanya saat melihat tatapan tajam milik Kevin.
Tapi tidak dengan Hans. Pria itu justru menyunggingkan senyum miring, untuk menanggapi tatapan Kevin.
Kevin bangkit dari kursinya kemudian berjalan mendekati Hans yang ada dipojok sisi yang lain.
Melihat Kevin bangkit, Bu Nissa segera bersuara.
"Kevin, kembali ketempat dudukmu!," titah bu Nissa.
Pria yang disebutkan namanya itu tetap berjalan mendekati Hans.
Setelah jaraknya tcukup dekat, Kevin segera melayangkan bogemnya pada wajah Hans.
Bugh.
Kevin hendak menonjok lagi, namun tangannya segera ditahan oleh Hans.
"Santai broo. Gue cuma mau ngundang lo balapan," ucap Hans, sembari menyeka darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
Usia Hans terpaut empat tahun lebih muda dibandingkan Kevin.
Tapi, Hans sama sekali tidak merasa takut pada Kevin dan kelompoknya.
Geng motor Vamp juga cukup banyak anggotanya, sebanding dengan anggota kelompok geng motor Lion.
Tangan yang ditahan oleh Hans segera Kevin tarik. Ia tak sudi bersentuhan dengan lawannya.
"Apa yang bakal gue dapat?," tanya Kevin pada akhirnya, ia menanggapi ucapan Hans.
"Harta, tahta, wanita. Lo dapat duit taruhan anak-anak, lo bisa nguasain geng sebelah dan lo juga bakal dapet si Rina," jawab Hans.
Rina adalah wanita yang diperebutkan oleh geng Vamp dan geng Lion karena tubuh sexynya membuat dua anggota kelompok itu memperebutkan wanita itu.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Kevin. Meski semua anggotanya menginginkan Rina, Kevin sama sekali tidak melirik wanita itu.
"Cih! Gue nggak butuh itu semua," jawab Kevin.
Jelas saja Kevin tidak membutuhkan itu semua.
Harta, ia sudah kaya raya sejak lahir. Tahta, ia sebentar lagi juga akan menjadi CEO. Wanita, ia juga tidak membutuhkannya, karena dia sudah memiliki istri.
Pria itu membalikan badannya dan berlalu menuju tempat duduknya.
Tapi sebelum Kevin sampai ditempat duduknya, Hans lebih dulu bicara.
"Gue nggak nerima penolakan lo Vin. Kalo sampai lo nggak datang, gue anggap lo kalah," ucap Hans.
Kevin tidak memperdulikan lagi ucapa Hans, ia terus melangkahkan kakinya, hingga tiba ditempat duduknya.
Pria itu melanjutkan lagi tidurnya disana.
Bu Nissa yang sejak tadi memperhatikan Hans dan Kevin, segera mendekati Hans.
"Apa yang kalian bicarakan tadi, Hans?," tanya Bu Nissa.
"Tidak ada Bu," jawab Hans.
"Wajahmu terluka Hans, kamu segeralah ke UKS," titah Bu Nissa.
"Tidak perlu Bu, saya tidak apa-apa," ucap Hans.
"Kalau begitu, perhatikan kedepan saya sedang mengajar," ucap Bu Nissa.
Bu Nissa mengangguk. Ia kemudian berjalan ke tempat duduk Kevin yang sedang tidur.
Setibanya ditempat duduk Kevin, Bu Nissa segera membangunkan Kevin, namun pria itu tetap tidak bangun juga.
Akhirnya Bu Nissa menyerah, ia memilih melanjutkan mengajarnya dari pada mengurusi murid nakal seperti Kevin.
Ditempat berbeda, Alena masih berada diruang BK. Wanita itu masih duduk diam ditempatnya tadi.
Ia memegangi bibirnya yang bengkak karena ulah Kevin yang menyesapnya dengan kasar.
Alena kemudian mengambil cermin dari tasnya dan meletakan didepan bibirnya.
Dilihat oleh Alena bibirnya benar-benar bengkak, belum lagi terasa perih karena digigit oleh Kevin.
"Berani-beraninya dia menciumku," geram Alena sembari memperhatikan bibirnya.
Tidak lama kemudian ruangan itu diketuk Bu Ningsih.
Alena yang masih duduk ditempatnya mempersilahkan Bu Ningsih untuk masuk.
Begitu masuk kedalam ruangan itu, Bu Ningsih terjengkit kaget melihat ada yang berbeda dari Alena.
"Astagfirullah, Bu Alena bibirnya kenapa,?" tanya Bu Ningsih.
__ADS_1
Pertanyaan itu, tentu saja membuat Alena gelagapan, ia tidak mungkin mengatakan jujur karena habis dicium Kevin.
Tapi ia juga tidak tahu harus menjawab apa.
Hingga pada akhirnya ia mendapatkan alasan.
"Lebah. Iya tadi bibir saya disengat lebah Bu," jawab Alena.
"Hahh? Lebah? Dimana ada lebah Bu? Perasaan disekolahan ini tidak ada lebah," ucap Bu Ningsih terheran.
"A-Ada bu. Tadi saya disengat lebah disitu," ucap Alena kemudian menunjuk tanaman hias, yang ada disudut ruangan itu.
Pandangan Bu Ningsih mengikuti arah jari telunjuk Alena.
Wanita itu memperhatikan tanaman hias disana, tapi ia tidak melihat ada lebah.
"Ada apa Bu Ningsih kemari?," tanya Alena kemudian.
Pertanya Alena itu mampu mengalihkan pandangan Bu Ningsih, yang awalnya memperhatikan tanaman hias, kini beralih melihat pada Alena.
"Eh iya. Saya jadi lupa. Ini saya mau ngembalikan bukunya Bu Alena," ucap Bu Ningsih kemudian menyerahkan buku-buku Alena.
Selama tiga hari kemarin Alena izin, ia menyerahkan tugas mengajarnya pada Bu Ningsih.
Oleh karena itu, sekarang Bu Ningsih mengembalikan buku-buku miliknya.
"Terimakasih Bu Ningsih sudah mau menggantikan saya mengajar," ucap Alena.
"Sama-sama Bu. Kalau begitu saya pamit kembali mengajar. Jangan lupa bibir yang disengat lebah diobatin," ucap Bu Ningsih.
"Ehh. I-iya Bu," jawab Alena gergagap.
Setelahnya Bu Ningsih keluar dari ruang BK itu meninggalkan Alena disana.
"Awas kamu Kevin. Gara-gara kamu nyium aku, bibir ku jadi setebal ini," ucap Alena.
Ia akan memberi peringatan pada Kevin, nanti setelah sampai dirumah.
Alena malu sekali keluar dari ruangan itu. Ia takut ditanyai oleh orang-orang yang melihat bibir bengkaknya.
Wanita itu kemudian membuka laci meja tersebut, lalu mengeluarkan masker sekali pakai dari sana untuk ia kenakan.
Masker tersebut ia kenakan untuk menutupi bibirnya yang bengkak.
"Nahh, kalau begini kan aman," gumam Alena.
Wanita itu kemudian bangkit dari duduknya.
Ia akan pergi mengajar, karena jam pergantian mata pelajaran sudah berbunyi.
Alena saat ini akan mengajar dikelas XII IPS 2.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan BK, menuju kelas tersebut.
__ADS_1
Kelas itu berada disebelah kelasnya XII IPS 3. Saat ia melewati kelas tersebut, entah kenapa ia menghentikan langkah kakinya disana.
"Bu Alena mau ngajar dikelas berapa?," tanya Bu Nissa yang baru saja keluar dari kelas itu.