Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 51 Baby boy


__ADS_3

Alena benar-benar kelelahan sehingga ia tertidur dimobil saat perjalanan menuju pulang kerumah. Tanpa babibu setibanya dirumah Kevin mengangkat tubuh istrinya masuk kedalam rumahnya.


Diruang tamu Kevin melewati Andrian dan Kakek Eren yang sedang berbincang.


"Alena kenapa, Vin?" tanya Andrian.


"Tidur Pah," jawab Kevin sembari berjalan melewati ayah dan kakeknya.


Setibanya didalam kamar, pria itu segera merebahkan tubuh istrinya diatas ranjang.


Ranjang besar yang sudah beberapa hari ini mereka tiduri bersama.


Begitu tubuh dibaringkan diatas kasur, wanita yang sedang terlelap itu membuka matanya. Alena justru terbangun.


"Loh kok bangun?" tanya Kevin.


"Temani aku tidur," pinta Alena.


Kevin segera melepas sepatunya lalu naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya disebelah Alena.


Pria itu memeluk tubuh istrinya dari belakang, kemudian meminta wanita disebelahnya untuk tidur lagi. Tapi Alena menolaknya, ia sudah kenyang tidur dimobil tadi.


Sekarang waktunya ia bermanja-manja dengan suaminya. Selama kehamilannya Alena tidak merasakan dirinya dimanja, ia selalu mandiri karena Kevin tidak mungkin melakukannya karena pria itu sedang direhab.


Wanita itu membalikan tubuhnya untuk menghadap suaminya, lalu membenamkan wajahnya didada pria itu sembari tangannya terulur memeluk tubuh suaminya.


"Saat baru tahu hamil, aku ingin sekali bermanja-manja denganmu, tapi itu tidak mungkin. Kamu sendiri sedang direhab dan masih proses untuk kesembuhan dirimu sendiri," ucap Alena.


"Oleh karenanya aku berusaha untuk mandiri, aku tidak ingin bergantung padamu. Saat itu aku sangat mengharapkan atas kesembuhanmu, aku tidak ingin kamu masuk kelorong gelap itu. Aku mencintai kamu Kevin," ucap Alena.


Kevin menangkupkan kedua tangannya kepipi kiri dan kanan Alena, lalu mencium kening wanita itu.


"Aku juga mencintai kamu Alena," ucap Kevin.


Alena mengeratkan pelukannya pada tubuh Kevin, seakan tidak ingin dipisahkan dari pria yang sedang ia peluk itu.


Namun pelukan itu justru membuat janin didalam perut Alena bergerak menendang hingga terasa pada tubuh Kevin yang sedang didekap istrinya.


"Dia nendang sayang," ucap Kevin seraya mengurai pelukannya pada Alena.

__ADS_1


Matanya berbinar memberlihatkan dirinya yang bahagia.


Bukan hanya Kevin yang bahagia melainkan Alena juga merasakan kebahagiaan itu.


Ia mendapatkan suami seperti Kevin, unik dan menyebalkan tapi ia mencintainya.


Alena juga bahagia karen buah hatinya akan lahir dua bulan lagi.


Kevin lalu mengusap perut Alena membuat janin yang berada diperut wanita itu semakin bergerak.


"Hahaha, perutmu lucu sekali Sayang," ucap Kevin melihat pada perut Alena yang bergerak menonjol sana sini.


Setelahnya pria itu menciumi perut buncit Alena membuat wanita itu kegelian.


"Vin geli! Stop ini geli! Jangan diciumi seperti itu! Hahaha" ucap Alena seraya tertawa.


Kevin menghentikan ciuman di perut buncit Alena, kemudian beralih mencium bibir wanita itu. Ciuman itu dilakukan secara perlahan namun cukup menggairahkan bagi keduanya.


Meski tubuhnya tadi terasa lelah namun Alena menyukai sentuhan dari suaminya yang semakin liar menjamah seluruh tubuhnya.


Keduanya melakukan lagi apa yang seharusnya suami istri lakukan.


Hari ini hari di mana jadwal Alena melakukan pemeriksaan kandungannya. Usia kehamilan Alena sendiri sudah masuk usia ke tujuh bulan.


Saat ini Alena dan Kevin tengah berada di rumah sakit, mereka sedang duduk di kursi tunggu untuk mengantri nama Alena Wulandari dipanggil.


Tidak lama kemudian nama Alena Wulandari dipanggil oleh perawat untuk masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan.


Dokter tersebut adalah dokter Anne. Begitu Kevin dan Alena masuk ke dalam ruangan dokter Anne, dokter tersebut tentu saja terkejut dengan kedatangan Kevin.


Dokter Anne masih mengingat Bagaimana dirinya ketika memeriksa Alena dirumah Andrian. Saat itu dokter Anne merasa seperti bicara dengan patung, namun hidup.


Seperti biasanya Alena dilakukan pemeriksaan tensi darah terlebih dahulu barulah ia diminta berbaring di brangker.


Kevin sejak tadi hanya diam memperhatikan dokter Anne memeriksa Alena serta kandungan istrinya itu.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, dok?" tanya Kevin.


Dokter Anne lagi-lagi terkejut. Iya tak menyangka bila Kevin akan bertanya. Untuk pertama kalinya ia mendengar suami dari pasiennya itu.

__ADS_1


"Kondisi Bu Alena baik, janinnya juga baik-baik saja keduanya sehat. Untuk jenis kelamin janinnya apakah anda ingin tahu?" tanya dokter Anne.


"Apa jenis kelamin anak saya, dok?" tanya Kevin.


"Silahkan anda lihat di monitor ini, calon anak anda berjenis kelamin laki-laki." Ucap dokter Anne sembari menuju ke arah monitor.


Kevin beralih menatap Alena yang sedang berbaring di atas brangker. Alena menatap balik pada Kevin yang menatap dirinya membuat keduanya saling tatap.


Tatapan keduanya itu sangat dalam, mereka lalu tersenyum bersamaan. Kevin memeluk dan menciumi wajah Alena, mulai dari pipi, kening, dan juga mencium bibir Alena.


Ia bahagia sekali mendapati kabar bahwa istrinya tengah mengandung anak laki-laki. Sebenarnya Kevin tidak mempermasalahkan calon anaknya itu laki-laki atau perempuan, tapi jenis kelamin laki-laki membuatnya seperti memiliki kebanggaan tersendiri. Anak laki-laki yang akan menjadi penerusnya.


Cukup lama Kevin dan Alena berada di ruangan dokter Anne, hingga keduanya memutuskan untuk kembali kerumah.


Jenis kelamin anaknya itu tentu saja langsung mereka kabari keseluruh keluarga Alena dan juga keluarga Kevin, membuat mereka banyak mendapat ucapan selamat atas kehamilan baby boy nya.


[Selamat ya atas kehamilan baby boynya, semoga kehamilanmu dilancarkan hingga proses persalinannya] pesan dari mamah Diana.


Alena tentu saja tidak melupakan ibu mertuanya itu. Tadi setelah mengabari seluruh keluarganya, Alena segera mengabari Ibu mertuanya itu.


"Papah ingin mengadakan syukuran untuk kehamilanmu." ucap Andrian memberitahu pada Alena dan Kevin.


"Iya Alena, sebaiknya kehamilanmu itu harus dirayakan. Kita syukuran saja dirumah ini," ucap Kakek Eren.


"Kapan syukurannya Pah, Kek?" tanya Kevin.


"Besok malam Vin. Kalian boleh mengundang siapa saja yang ingin kalian undang." jawab Andrian.


"Kalau begitu aku mau mengundang mamah Diana boleh, Pah?" tanya Alena.


Andrian tidak langsung menjawab ia diam lebih dulu. Andrian masih tidak percaya pada mantan istrinya itu, takutnya wanita itu justru akan merusak acara syukuran untuk menantu dan calon cucunya.


Andrian yang terdiam itu, tentu saja Alena bisa mengerti. Wanita itu segera meyakinkan ayah mertuanya untuk mengizinkan dirinya mengundang mamahnya Kevin.


"Bagaimana bila dia mengacaukan acara syukurannya?" tanyaan Andrian.


"Papa jangan khawatir Kevin dan mamah Diana sudah berdamai. Kevin sudah mau memaafkan mamah Diana dia juga sudah menerima apa yang sudah menjadi keputusan papah dan mamah. Alena yakin mamah Diana akan berubah dengan sendirinya. Perubahan itu sudah ia lakukan mulai dari Kevin mengatakan damai padanya." ucap Alena.


"Baiklah kalau begitu terserah kamu saja Alena. Kamu boleh mengundang Diana juga untuk datang ke acara syukuran tujuh bulan kehamilanmu," ucapkan Andrian.

__ADS_1


__ADS_2