
8 bulan berlalu.
Keluarga Kevin tengah berduka mengetahui bila kakek Eren meninggal dunia.
Satu bulan terakhir ini kondisi kesehatan kakek Eren memang semakin memburuk dan diharuskan dirawat dirumah sakit, sehingga keluarga Kevin saling bergantian datang kerumah sakit untuk merawat kakek Eren.
Sebelum meninggal kakek Eren meminta agar dimakamkan di sebelah makam istrinya yakni neneknya Kevin yang sudah meninggal lebih dulu beberapa tahun yang lalu.
Saat ini keluarga besar Kevin dan Alena baru saja selesai mengadakan acara tahlilan mengirim do'a untuk kakek Eren yang sudah tiada.
Alena yang kini tengah hamil 9 bulan hanya tinggal menunggu hari kelahirkan anak keduanya itu turut serta disibukan menyiapkan acara tahlilan tersebut.
Tadi siang Alena ingin ikut saat Kakek Eren dimakamkan namun dilarang oleh Kevin karena khawatir Alena akan kelelahan dan justru bermasalah pada kandungannya.
Jadi, Alena hanya bisa berdiam di rumah untuk membantu para pelayan menyiapkan acara tahlilan malam ini.
Kini sepasang suami istri itu baru saja masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena seharian sudah beraktivitas.
"Terima kasih ya, Sayang, kamu sudah membantu menyiapkan acara tahlilan untuk kakek Eren," ucap Kevin.
"Aku senang melakukannya Mas," ucap Alena seraya merangkul suaminya.
Sebisa mungkin wanita itu ingin menghibur suaminya agar tidak terlalu sedih karena kehilangan kakek Eren.
Alena memegang tangan Kevin, lalu meletakkan tangan itu pada perutnya yang buncit.
"Jangan bersedih Mas, di sini anakmu juga ikut sedih," ucap Alena menggerakan tangan Kevin mengusap perutnya.
Seolah tahu bila tangan papahnya berada diperut mamahnya, janin di dalam perut Alena langsung bergerak, membuat permukaan perut wanita itu menonjol-nonjol karena pergerakan janin di dalam perutnya.
"Tuh kan, Mas. Dia juga bilang, Papah jangan sedih ya," ucap Alena yang justru membuat gelang tawa dari suaminya.
Kevin mencubit hidung Alena, istrinya itu bisa-bisanya menghibur dirinya menggunakan bayi yang belum lahir.
"Kamu ini bisa aja sih," ucap Kevin tersenyum lebar, namun senyumnya seketika hilang karena melihat istrinya yang tadi ceria kini sedang meringis menahan sakit.
"Aww," ucap Alena sembari memegangi perutnya.
"Perutmu sakit, Sayang?" tanya Kevin yang dijawab anggukan kepala oleh Alena.
Alena yang sedang menahan sakit di perutnya mencengkram kuat tangan Kevin yang berada di perutnya itu.
Untuk mengurangi rasa sakit diperut istrinya Kevin kemudian membawa Alena duduk di tepi ranjang untuk menenangkan istrinya yang tegang karena kesakita.
__ADS_1
"Apa masih sakit?" tanya Kevin yang lagi-lagi dijawab anggukan kepala oleh Alena.
"Apa jangan-jangan kamu sudah mau melahirkan, Sayang?" tanya Kevin lagi.
Belum sempat Alena menjawab, wanita itu merasa ada air yang keluar dari jalan lahir.
"Ketubannya pecah, Mas," ucap Alena yang tentu saja langsung diperiksa oleh suaminya.
"Iya sayang ketubannya pecah. Ayo kita ke rumah sakit," ucap Kevin.
Tanpa menunggu jawaban dari Alena, Kevin langsung menggendong tubuh istrinya itu.
"Akkhh! Sakiitt Mass!" teriak Alena saat Kevin baru saja keluar dari kamarnya.
Teriakan Alena itu sontak saja membuat seisi rumah keluar semua dari kamar.
Keluarga Alena dan keluarga Kevin, sehabis acara tahlilan tadi tidak ada yang pulang, mereka semua menginap dan akan pulang besok pagi.
"Alena kenapa, Vin?" tanya Mayang yang khawatir.
"Ketuban Alena sudah pecah Bu," ucap Kevin yang terus melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari rumah.
Semua orang yang keluar dari kamar masing-masing segera mengikuti Kevin dibelakang pria itu.
"Jarak dari rumah ini ke rumah sakit membutuhkan waktu satu jam. Sedangkan ketuban Alena sekarang saja sudah pecah, bisa-bisa dia melahirkan di jalan," ucap Diana.
"Terus, apa yang harus aku lakukan?" tanya Kevin bingung dan panik.
"Akkhh! Sakiitt!" teriak Alena lagi.
"Bawa Alena ke klinik dokter Devy yang ada dikompleks ini saja," ucap Diana yang tahu sekali bila dikompleks itu ada klinik.
Tanpa menjawab perkataan ibunya, Kevin segera membawa Alena masuk kedalam mobil dan langsung melajukan mobil tersebut menuju kelinik dokter Devy.
Anggota keluarga yang lainnya kemudian menyusul di belakang mobil Kevin menggunakan mobil lainnya lagi.
Setibanya diklinik dokter Devy, Kevin segera membawa Alena masuk kedalam klinik tersebut.
Disana hanya ada beberapa perawat yang berjaga karena bekerja di shift malam, sedangkan dokter Devy baru saja pulang sehabis selesai membantu pasiennya melahirkan.
"Tolong istri saya, dia mau melahirkan." ucap Kevin pada perawat disana.
"Tunggu sebentar Pak, saya hubungi dokter Devy dulu," ucap perawat tersebut.
__ADS_1
"Apa! Nunggu? Ini istri saya sudah kesakitan tapi disuruh nunggu? Klinik macam apa ini!" ucap Kevin marah.
"Vin," ucap Andrian sembari mengusap punggung putranya, meminta agar Kevin sabar.
Perawat disana segera menghubungi dokter Devy tanpa mengherani ucapan Kevin.
"Gimana aku bisa sabar Pah, sedangkan didalam sana Alena sudah kesakitan tapi dia masih disuruh nunggu dokter datang," ucap Kevin.
"Disini klinik Vin, bukan rumah sakit besar yang dokternya selalu stand by," ucap Andrian.
"Tahu begitu aku bawa saja Alena kerumah sakit," ucap Kevin.
Semua orang yang ada disana diam tidak ada yang menyahuti ucapan Kevin.
"Awas saja bila terjadi sesuatu pada anak dan istriku, klinik ini akan aku tuntut," ucap Kevin pada perawat disana kemudian berlalu masuk kedalam ruang bersalin.
Kevin yang sudah masuk kedalam ruang bersalin itu segera menggendong istrinya untuk ia bawa kerumah sakit.
"Aku sudah nggak kuat Mas kalau harus kerumah sakit," ucap Alena.
Hufftt.
Kevin menghela nafasnya. Mau tidak mau akhirnya ia membaringkan lagi Alena di brangker bersalin.
Beruntung tidak lama kemudian dokter Devy datang dan langsung meminta perawat untuk menyiapkan peralatan bersalin.
"Apa anda suaminya?" tanya dokter Devy pada Kevin yang berada diruang bersalin.
Kevin menatap tak suka pada dokter Devy yang menurutnya terlalu lama datangnya.
"Silahkan anda tanda tangani ini," ucap dokter Devy kemudian menyerahkan berkas pada Kevin.
Dengan masih menatap tak suka pada dokter Devy, Kevin menerima berkas tersebut kemudian menanda tanganinya.
Dokter Devy segera melakukan proses persalinan untuk Alena yang sudah siap melahirkan
Ketuban yang sudah pecah memudahkan janin tersebut untuk lahir.
Oek oek
"Alhamdulillah," ucap Kevin penuh syukur karena anak keduanya lahir juga.
Bukan hanya Kevin saja yang bersyukur, melainkan semua orang yang menantikan kelahiran anak keduanya itu juga mengucap syukur.
__ADS_1
Bayi berjenis kelamin perempuan tentu saja membuat hidup Kevin semakin lengkap.
Ia memiliki istri yang cantik juga mencintainya dengan tulus, memiliki keluarga yang sangat menyayanginya dan kini telah memiliki anak laki-laki dan perempuan yang membuatnya semakin bersyukur.