
Tett.. Tett..
Bell sekolah berbunyi, menandakan waktunya istirahat.
Alena melangkahkan kakinya menuju kantor, ia baru saja selesai mengajar matematika dikelas XII IPA 1.
Sehabis mengajar dikelas Kevin tadi Alena pindah mengajar dikelas itu.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Alena bertemu dengan banyak murid yang menyapanya.
Alena tentu saja balas menyapa murid tersebut dan sesekali ia juga tersenyum.
Sejak tadi Alena keluar dari kelas itu sudah diperhatikan oleh Kevin yang sedang berdiri bersandar diluar dinding kelasnya.
Ia juga melihat Alena tersenyum pada murid-murid yang menyapanya.
'Kenapa lo bisa senyum sama orang, tapi sama gue nggak bisa?' tanya Kevin didalam hati.
Pria itu terus memperhatikan Alena yang berjalan menuju kantor, hingga tidak lama kemudian Alena dihampiri oleh Bu Nissa.
"Bu, didepan kantor ada tamu yang mencari Bu Alena," ucap Bu Nissa.
Alena mengkerutkan keningnya, merasa heran kenapa orang mencarinya hingga mendatangi sekolahan.
"Siapa?," tanya Alena pada akhirnya.
"Suami Bu Alena," celetuk Bu Nissa.
Alena seketika mendelikan matanya.
Suami?.
'Suami aku kan Kevin, sedangkan Kevin kan ada dikelas' batin Alena.
Ia tak mengerti siapa yang dimaksud oleh Bu Nissa, tapi ia penasaran dengan siapa orang yang mencari dirinya itu, hingga datang kekantor.
Alena yang penasaran membuatnya melupakan Bu Nissa. Ia berjalan lebih dulu menuju kantor, meninggalkan Bu Nissa disana.
"Loh Bu Alena, saya kok ditinggal?," tanya Bu Nissa.
Bu Nissa segera mengejar Alena yang berjalan menuju kantor, hingga akhirnya mereka berjalan beriringan.
Sejak tadi Kevin yang memperhatikan Alena, bisa mendengar apa saja yang dibicarakan wanita itu dan Bu Nissa.
Kevin mengepalkan kedua tangannya.
Ia tidak terima orang lain dianggap suami Alena, padahal dia adalah suami Alena yang sebenarnya.
Kevin memilih pergi dari tempatnya memeperhatikan Alena, ia menaikii tangga untuk menuju rooftop.
Hanya difooftop lah tempat ternyaman bagi Kevin. Disana ia bisa bersantai tanpa harus memikirkan hidupnya yang sudah terlanjur hancur.
Ditempat berbeda, Alena yang berjalan menuju kantor, perlahan menghentikan langkah kakinya, sedangkan Bu Nissa, ia bergegas masuk kedalam kantor.
Alena bisa melihat Satria sedang menunggunya sembari membaca sesuatu yang ditempel dimading.
__ADS_1
"Mas Satria," panggil Alena.
Mendapati dirinya dipanggil seseorang, Satria akhirnya menoleh.
Pria itu bisa melihat Alena yang berdiri sekitar lima langkah dari dirinya, membawa buku paket yang diletakan didada wanita itu.
"Hai Al. Sini biar aku bantu," ucap Satria.
Pria itu segera menghampiri Alena yang masih diam berdiri.
Satria mengambil buku yang dipeluk Alena, kemudian mengajak Alena duduk dikursi panjang yang ada didepan kantor.
Alena menuruti ajakan dari Satria, hingga akhirnya ia dan Satria duduk dikursi panjang itu.
"Kamu kemana aja, Al? Aku kemarin menghubungimu. Apa kamu baik-baik aja?," tanya Satria beruntun.
Pria itu sangat mengkhawatirkan Alena, karena sejak kemarin Alena tidak ada kabarnya.
"Banyak sekali pertanyaan mu mas, aku jadi bingung menjawabnya," ucap Alena.
"Maaf Al, aku benar-benar mengkhawatirkan kamu. Sejak kemarin aku menghubungimu tapi tidak ada jawaban dari mu," ucap Satria.
"Aku yang harusnya minta maaf mas sudah membuatmu khawatir, ak kemarin tidak enak badan," ucap Alena.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku, padahal kamu sudah menjawab teleponku yang pertama?," tanya Satria.
"Menjawab!!," ucap Alena terkejut.
Ia bahkan mengencangkan suaranya sehingga, banyak yang melihat kearahnya.
"Jangan-jangan Kevin," gumam Alena pelan. Sangat pelan sehingga Satria tidak bisa mendengarnya.
"Kenapa kok kayaknya kaget begitu?," tanya Kevin.
Hahh?
"Ehh, nggak kok mas," ucap Alena.
"Kita makan siang yuk," ajak Satria.
Alena tidak langsung menjawab, ia melihat jam dipergelangan tangannya. Waktu istirahatnya tinggal sebentar lagi.
"Lain kali aja ya mas, soalnya aku habis istirahat ada jadwal ngajar," ucap Alena.
Satria mengangguk, ia tidak masalah Alena menolak ajakan makan siangnya. Ia bisa bertemu Alena dan memastikan wanita itu baik-baik saja sudah merasa cukup
Pria itu mengajak ngobrol Alena disana.
Satria juga menanyakan sejak kapan Alena memiliki rumah sendiri.
"Siapa yang bilang mas?," tanya Alena.
"Saudaramu Al, Elena yang bilang. Kemarin aku mencarimu kerumah, tapi kamu tidak ada, dan ternyata kamu sudah tinggal dirumah sendiri," ucap Satria.
Alena mengerti maksud Elena mengatakan bila dirinya tinggal dirumah sendiri, itu karena Satria mencarinya kerumah.
__ADS_1
"I-iya mas aku sudah tinggal dirumah sendiri," ucap Alena gugup.
"Dimana kamu beli rumah?," Tanya Satria.
Alena bingung hendak menjawab apa, karena sebenarnya ia tinggal dirumah suaminya, bukan dirumahnya sendiri.
Bila Alena mengatakan alamat rumah Kevin, bisa-bisa kekasihnya ini tahu bila dirinya dan Kevin sudah menikah.
"Dikomplek Karang Indah mas," ucap Alena asal.
'Maafkan aku mas, aku terlalu banyak membohongimu,' batin Alena.
Satria menganggukan kepalanya tanda mengerti dengan ucapan Alena.
Ia akan mengunjungi Alena kesana lain kali, batin pria itu.
Cukup lama keduanya mengobrol hingga akhirnya Alena merasakan kegerahan, karena mereka hanya duduk dikursi teras kantor bukan diruangan ber AC.
Alena mengambil bukunya untuk ia jadikan kipas.
Wanita itu mengipasi wajah dan lehernya membuat rambut panjang yang ia urai tersingkap.
Deg!.
Satria yang sejak tadi memperhatikan Alena yang kipasan sembari mengobrol, melihat dileher sebelah kiri Alena ada kiss mark yang sedikit tertutup oleh rambut.
Satria mengulurkan tangannya untuk menyentuh itu tapi Alena memundurkan duduknya.
"Mas Satria mau apa?," tanya Alena yang tidak sadar bila Satria melihat kiss mark dileher kirinya.
Satria menggeleng. Ia kemudian pamit pada Alena untuk pergi kekantor.
Alena tentu saja mengizinkan Satria untuk pergi, ia juga akan lanjut mengajar karena waktu istirahat sudah akan berakhir.
Alena masuk kedalam kantor lebih dulu, menyiapkan buku-buku yang hendak ia gunakan.
"Yang tadi suaminya Bu Alena ya, tampan sekali Bu," ucap Bu Ningsih pada Alena.
"I-iya Bu Ningsih," jawab Alena gugup.
Bu Farah yang juga ada didalam kantor itu, bisa menangkap kegugupan diwajah Alena.
Ia tahu rekan gurunya itu sedang gugup.
Entah apa yang membuat Alena gugup, Bu Farah tidak tahu. Tapi yang ia yakini, Alena menjadi gugup saat membahas suaminya.
"Bu Alena nanti pulang dengan siapa? Bila tidak ada biar saya antarkan Bu Alena sampai dibengkel," tanya Bu Farah menawarkan pada Alena.
"Jangan!" cegah Alena.
"Ehh, maksudnya tidak perlu Bu Farah, saya bisa pulang sendiri. Nanti kebengkelnya saya naik ojol saja," ucap Alena.
Bu Farah menganggukan kepalanya, ia hanya ingin membantu tapi Alena menolaknya.
Setelahnya tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Mereka sama-sama menyiapkan untuk mengajar.
__ADS_1