Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 35 Aku Ingin Melihat Kevin


__ADS_3

Setelah kepergian kedua mertuanya, Alena baru sadar bila sejak tadi ia tidak melihat suaminya.


Meski ia tidak mencintai Kevin, tapi ia ingin tahu kebenarannya trntang pria itu.


Alena menatap satu persatu keluarganya yang ada diruangan itu.


Menatap mulai dari Elena, kemudian kakak laki-lakinya, dan ibunya.


Semua orang yang ia tatap, menunjukan wajah kebingungan.


Iya.. Ketiga orang itu memang sedang bingung. Mereka bingung, apakah harus memberi tahukan tentang Kevin pada Alena atau tidak.


"Dimana Kevin?," tanya Alena kemudian.


Ketiga orang yang diberi pertanyaan oleh Alena, kini saling pandang.


Mereka tidak ada yang berani menjawab pertanyaan itu.


"Dimana Kevin?," tanya Alena lagi.


Dengan terpaksa akhirnya mereka mengatakan pada Alena bila Kevin sedang direhab.


Alena menggelengkan kepalanya tidak percaya.


Setahu dirinya Kevin memang murid nakal, suka berkelahi, dan minum-minuman tapi ia tidak menyangka bila suaminya itu juga seorang pemakai.


Berarti apa yang dikatakan mertuanya tadi itu benar, bila Kevin sekarang ini sudah keccanduan.


"Antarkan aku kesana. Aku ingin melihatnya," pinta Alena.


"Kamu masih butuh istirahat, Al," ucap Elena.


"Antarkan aku kesana!," pinta Alena lagi, kini dengan nada yang lebih tinggi.


"Tapi, Al," ucap Elena lagi.


"Kalau kalian tidak ada yang mau mengantarkan aku, maka aku akan pergi sendiri," ucap Alena kemudian hendak turun dari brangker.


"Baiklah Al, kamu jangan turun. Mas ambilkan dulu kursi roda untuk kamu," ucap Reyhan.


Mendengar ucapan Reyhan, Alena mengurungkan niatnya untuk turun dari brangker.


"Tapi Rey," ucap Mayang keberatan dengan keputusan Reyhan.


Wanita paruh baya itu khawatir pada putrinya yang masih lemah bila harus dibawa melihat Kevin.


"Tidak apa-apa Bu, aku akan menjaganya," ucap Reyhan meyakinkan ibunya.


Pada akhirnya, Mayang pun menganggukan kepanya tanda ia setuju dengan keputusan putranya.


Setelah mendapat persetujuan dari ibunya, Kakak laki-laki Alena keluar dari ruangan itu untuk meminjam kursi roda.


Setelah mendapatkan kursi roda, Reyhan segera kembali keruangan Alena.


"Sini mas bantu," ucap Reyhan yang mendapat anggukan kepala dari Alena.


Pria itu memindahkan adiknya kekursi roda. Sedangkan Elena membantu memegangi infus.


Alena didorong menggunakan kursi roda oleh Reyhan untuk melihat Kevin direhab.

__ADS_1


Bukan hanya Alena yang akan melihat Kevin, melainkan Elena dan Mayang juga turut serta.


Mereka sudah hendak keluar dari kamar rawat Alena, tapi Andrian justru masuk kedalam ruangan itu.


"Kenapa kamu pakai kursi roda, Al?," tanya Andrian.


"Aku ingin melihat Kevin," jawab Alena


Andrian beralih menatap Reyhan, Elena dan Mayang.


Semua orang yang ia tatap menganggukan kepalanya membuat Andrian juga ikut mengangguk.


"Baiklah, ayo bareng papah," ucap Andrian.


Pria paruh baya itu berjalan lebih dulu, barulah disusul oleh Alena yang didorong kakaknya menggunakan Kursi roda.


Mayang berjalan disisi kanan Alena, sedangkan Elena berjalan disisi kirinya sembari memegangi botol infus milik Alena.


Setibanya disana, rupanya sudah ada Diana yang sedang menatap sendu pada putranya didalam ruangan itu.


Melihat Andrian datang bersama Alena dan keluarga wanita itu, Diana segera menyingkir.


Alena yang duduk dikursi roda tidak mampu melihat Kevin didalam ruang rehab itu.


Ia hanya mendengar suara-suara terikan dari pria itu.


"LEPASIN GUE!"


"GUE NGGAK MAU DIKURUNG!"


"KELUARIN GUE!"


Teriak-teriakan Kevin itu bisa didengar semua orang yang berada disana.


Ia merasa iba pada Kevin, karena keegoisan kedua orang tuanya, membuat pria itu jadi seperti sekarang ini.


Didalam hati wanita paruh baya itu berdo'a untuk kesembuhan menantunya.


"Mas, aku ingin lihat Kevin," lirih Alena pada Reyhan yang berdiri dibelakang kursi rodanya.


Tanpa perlu berfikir, Reyhan segera menganggukan kepalanya.


Pria itu kemudian menggendong adiknya dari depan, sehingga Alena bisa melihat Kevin didalam sana.


Kevin yang berada didalam sana terus meronta dan berteriak. Bila lelah akan tertidur, setelah bangun akan berteriak dan meronta lagi.


Alena ikut terpukul melihat Kevin seperti itu didalam sana.


Dirinya sibuk memikirkan Satria, memikirkan hatinya, memikirkan perasaannya, tanpa tahu bila hidup suaminya didalam lorong kegelapan.


"Hiks hiks, Kevin mas," ucap Alena sembari menangis, ia tidak mampu untuk bicara lagi.


Ia menyesal telah mengabaikan Kevin.


"Tenang Al, ingat kondisi kamu juga sedang lemah," ucap Reyhan yang masih menggendong Alena.


Alena tidak menjawab ia terus memperhatikan Kevin didalam sana.


Melihat Kevin seperti itu, membuat Alena melupakan bila hubungannya dengan Satria telah berakhir.

__ADS_1


Alena beralih menoleh pada Andrian yang berdiri tidak jauh darinya.


Wanita itu segera menanyakan, pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tanyakan.


"Sejak kapan Kevin jadi pemakai, Pah," tanya Alena pada mertuanya setelah mengusap air matanya.


Andrian yang mendapati dirinya ditanya oleh Alena, segera menjawabnya.


"Papah kurang tahu, tapi sebelum kalian menikah papah sudah pernah memergokinya sedang memakai," ucap Andrian.


"Berarti sudah lama, Pah?" tanya Alena yang dijawab anggukan kepala dari Andrian.


Bila Kevin sudah lama mengkonsumsi barang haram itu, maka pria itu akan sulit untuk sembuh.


Wajah Alena semakin pias memikirkannya.


Cukup lama Alena dan keluarganya berada disana, hingga akhirnya mereka kembali keruang rawat dimana Alena dirawat.


Sedangkan didalam ruang rehab itu, Kevin yang tadi meronta dan berteriak, kini sudah kelelahan.


Ia hanya berbaring dibrangker, sembari matanya menatap pada langit-langit ruangan itu.


Rupanya pria itu tengah berhalusinasi.


Kevin yang kelelahan akhirnya tertidur lagi.


Ditempat berbeda, Alena telah kembali keruang rawatnya.


Ia dipindahkan lagi kebrangker, dimana tempat tadi ia berbaring.


"Sejak kapan Kevin direhab, mas?," tanya Alena pada Reyhan.


"Tadi sore, Al," ucap Reyhan.


"Aku takut mas. Aku takut bila Kevin tidak bisa sembuh. Hiks hiks," ucap Alena sembari menangis.


"Sstt. Sudah Al, yakin saja bila Kevin pasti sembuh, sekarang kamu istirahat ya," ucap Reyhan.


Alena menganggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan kakaknya.


Setelahnya ia memejamkan matanya untuk terlelap.


Melihat Alena yang sudah terlelap, Elena meminta ibu dan kakaknya pulang kerumah untuk beristirahat.


Pagi datang.


Begitu bangun dari tidurnya, Alena langsunh meminta diantarkan lagi keruang dimana Kevin direhab.


Ia ingin melihat bagaimana kondisi suaminya itu sekarang ini.


"Mas Reyhan dan ibu nggak ada Al. Dia tadi malam pulang, karena Brian juga dirumah sedang sakit," ucap Elena.


Alena yang tadi tetap kekeh ingin melihat kondisi Kevin. Pada akhirnya ia tidak bisa menemui suaminya.


"Tolong El, kamu besuk dia lalu sambungkan padaku lewat Vidio Call. Aku benar-benar ingin melihat kondisinya sekarang," ucap Alena.


"Tapi Al, kamu nanti sendirian disini," ucap Elena.


"Aku tidak apa-apa El. Aku hanya ingin melihat kondisi Kevin," ucap Alena.

__ADS_1


"Baiklah Al," ucap Elena menyetujui keinginan saudara kembarnya.


Wanita itu bergegas keluar dari ruang rawat Alena untuk menuju dimana Kevin sedang direhab.


__ADS_2