Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 37 Dibesuk Rekan Guru


__ADS_3

Sore harinya Alena kedatangan rekan sesama gurunya.


Mereka baru mengetahui bila Alena dirawat dirumah sakit karena mengalami pendarahan.


Oleh karena itu, rekan gurunya baru membesuk Alena sore hari ini.


"Bu Alena katanya pendarahan ya?," tanya Bu Ningsih.


"Iya Bu, semalam saya pendarahan," jawab Alena yang diangguki Bu Ningsih.


"Bagaimana kondisi Bu Alena sekarang?," tanya Bu Ningsih.


"Saya sudah baikan Bu, besok boleh pulang," jawab Alena.


"Memangnya, sudah berapa bulan kandungan Bu Alena?," tanya Bu Nissa.


"Baru tiga minggu Bu," jawab Alena sembari menatap Bu Nissa.


"Disekolahan lagi banyak yang tidak masuk, katanya sih sakit. Kevin juga kata Pak Andrian sedang sakit, dia sudah tiga hari tidak sekolah," ucap Bu Nissa.


"Beruntung Kevin sekolah disekolahan milik papahnya sendiri, bila tidak dia sudah pasti dikeluarkan sejak lama," ucap Bu Nissa lagi.


Alena hanya tersenyum mendengar ucapan bu Nissa.


Ia bingung untuk menanggapi ucapan wanita itu, sehingga Alena hanya tersenyum.


Bu Farah yang ikut membesuk Alena sejak tadi hanya diam saja, ia mengedarkan pandangannya kepenjuru ruangan tersebut.


Bu Farah hanya melihat seorang wanita paruh baya, yang sudah bisa ia duga adalah ibunya Alena.


Wanita itu sebenarnya ingin melihat suami Alena yang sebenarnya.


Pasalnya ia tidak yakin bila pria yang sering bersama rekan kerjanya itu adalah suami Alena.


Alena yang melihat Bu Farah terus mengedarkan pandangannya segera bertanya.


"Bu Farah mencari siapa?," tanya Alena.


"Ehh, ini Bu. Dari tadi kami kesini kok belum lihat suami Bu Alena ya?," tanya Bu Farah.


"Iya benar Bu Alena, kemana suami Bu Alena yang tampan itu? Dari tadi kami tidak melihatnya," ucap Bu Ningsih yang diangguki oleh Bu Nissa juga.


Alena yang mendapat pertanyaan dari rekan kerjanya itu bingung untuk menjawab.


'Suami yang dimaksud Bu Ningsih pasti mas Satria' batin Alena.


Wanita itu tidak ingin lagi rekan kerjanya salah mengira, bila suami dirinya adalah Satria.

__ADS_1


"Pria yang Bu Ningsih maksud itu bukan suami saya," ucap Alena jujur memberi tahukan pada rekan kerjanya yang tentu saja membuat Bu Nissa dan Bu Ningsih terkejut.


Tapi tidak dengan Bu Farah.


Wanita itu sudah benduga bila pria yang dikabarkan sebagai suami Alena itu bukan suami yang sebenarnya.


"'Lalu siapa suami Bu Alena yang sebenarnya?," tanya Bu Farah pada Alena.


Ia benar-benar penasaran siapa suami dari rekan gurunya itu.


Alena yang ditanyai seperti itu, semakin bingung untuk menjawabnya.


Ia masih memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan itu.


"Bu, Bu Alena kok malah bengong," ucap Bu Farah menyadarkan Alena yang terdiam.


"Ehh, iya Bu. Suami saya sedang kerja diluar kota," ucap Alena berbohong.


"Loh, bukannya Bu Alena habis pendarahan ya, kenapa suaminya tidak menemani Bu Alena?," tanya Bu Farah lagi.


"Su-sudah Bu. Suami saya sudah menemani saya sejak saya masuk rumah sakit. Dia baru saja berangkat tadi pagi keluar kota," ucap Alena berbohong lagi.


Bu Nissa dan Bu Ningsih menganggukan kepalanya tanda mereka mengerti dengan ucapan Alena.


Tapi tidak dengan Bu Farah. Wanita itu justru menatap Alena dengan lekat, membuat Alena yang sedang gugup itu bisa ia tangkap kegugupannya.


'Sepertinya ada yang dirahasiakan oleh Bu Alena mengenai suaminya', batin Bu Farah.


Diruangan itu rupanya sejak tadi Mayang memperhatikan dan mendengar apa saja yang dibicarakan oleh Alena dan rekan guru putrinya itu.


Wanita itu menggelengkan kepalanya tak habis fikir pada putrinya yang berbohong untuk menutupi identitas suami yang dirahasiakannya itu.


Tapi Mayang jadi terfokus pada pertanyaa Bu Ningsih yang menanyakan keberadaan suami Alena yang tampan.


'Siapa yang mereka maksud suami Alena yang tampan ya?' batin Mayang.


Wanita paruh baya itu tahu bila pernikahan Alena dengan Kevin idirahasiakan dari sekolahan karena pria itu yang masih sekolah.


Tapi ia juga ingin tahu siapa pria yang dianggap suami putrinya.


'Apa Alena ada dekat dengan pria lain ya' batin Mayang.


Setelahnya wanita paruh baya itu hanya memperhatikan Alena serta rekan guru putrinya itu.


Keempat wanita yang sedang diperhatikan Mayang, kini saling melempar candaan satu sama lain sehingga membuat Alena tersenyum lagi dan sesekali tertawa.


Kedatangan rekan gurunya itu cukup menghibur Alena dan sejenak ia bisa melupakan masalah yang tengah ia hadapi.

__ADS_1


Pukul setengah enam sore rekan guru Alena keluar dari ruang rawat Alena.


Mereka akan pulang kerumahnya masing-masing.


Setelah kepergian ketiga rekan guru Alena. Elena datang dari kantor seorang diri.


Sehabis bekerja tadi Elena langsung mendatangi saudaranya yang sedang dirawat dirumah sakit.


"Bagaimana keadaan mu Al?," tanya Elena.


"Aku sudah baikan El. Tadi dokter bilang aku besok sudah diperbolehkan untuk pulang," jawab Alena yang diangguki oleh Elena.


Elena segera menghampiri ibunya yang duduk disofa kemudian menyaliminya dan ikut duduk disofa tersebut.


"Alena, ibu tadi mendengar pembicaraanmu dengan reka gurumu, bila ada pria tampan yang mereka kira suamimu. Siapa orang itu, Al?," tanya Mayang.


Alena yang ditanyai oleh Mayang kini menatap pada Elena yang juga sama sedang menatapnya.


Dari tatapan keduanya seolah mereka sedang berdiskusi, apakah harus mengatakan tentang Satria pada Mayang atau tidak.


"Pria itu bukan siapa-siapa kok bu," ucap Alena.


Pada akhirnya Alena tetap tidak mengatakan bila dirinya pernah menjalin hubungan dengan sahabat kakaknya itu.


"Yakin?," tanya Mayang.


"Yakin Bu," jawab Alena.


Setelahnya tidak ada pertanyaan lagi dari Mayang.


Wanita paruh baya itu diminta Elena untuk pulang kerumah agar bisa beristirahat dirumah, sedangkan yang menjaga Alena ialah dirinya seperti malam-malam sebelumnya.


Setelah kepergian Mayang, kini diruangan itu hanya tingga dua orang wanita yakni Alena dan Elena.


"Apa kamu tidak mencoba menghubungi lagi mas Satria?," tanya Elena.


"Tidak El. Aku sudah memutuskan untuk melepaskannya dan mulai mencintai Kevin. Semoga saja setelah Kevin direhab pria itu bisa berubah," jawab Alena.


"Apa kamu tidak ingin memperjuangkan cintamu Al?, bagaimana bila mas Satria menikah dengan wanita lain?," tanya Elena.


"Tidak El. Lagi pula aku tidak yakin bila mas Satria akan kembali. Aku yakin ia pergi keluar kota dan akan menetap disana. Bila dia menikah dengan wanita lain aku sudah mengikhlaskannya. Mungkin kami tidak berjodoh," jawab Alena.


Elena menganggukan kepalanya tanda mengerti dengan ucapan Alena.


Entah kenapa hatinya terasa senang mendengar jawaban dari Alena.


Sejujurnya Elena juga mencintai pria yang kini sudah menjadi mantan kekasih dari saudara kembarnya itu.

__ADS_1


"Kamu kapan akan menikah El?," tanya Alena.


"Nanti Al, bila pria yang aku cintai melamarku," jawab Elena asal, namun dianggap serius oleh Alena.


__ADS_2