Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 39 Tunggu Gue Pulang, Al


__ADS_3

Alena tidak jadi berangkat mengajar, ia malah terlelap lagi diranjang kamar Kevin.


Wanita itu benar-benar merasa nyaman berada dikamar itu.


Kamar yang menjadi saksi dimana dirinya kehilangan kesuciannya.


Saat itu, Alena benar-benar tidak menginginkan disentuh oleh Kevin, tapi pria itu dengan paksa merenggut kesuciannya.


Tok tok tok


Kamar tersebut diketuk oleh Bi Asih yang mengantarkan makan siang untuk Alena.


Sejak tadi pagi Alena tidak keluar kamar, membuat pelayan itu berinisiatif mengantarkan makan siang itu kekamar.


"Non. Non Alena," panggil bi Asih dari luar kamar.


Sayup-sayup Alena yang sedang terlelap bisa mendengar panggilan dari bi Asih.


Wanita itu perlahan membuka matanya, mendudukan tubuhnya diranjang tersebut.


Setelah kesadarannya sudah penuh, Alena segera bangkit dari tempat tidur untuk membukakan pintu.


"Non Alena ayo makan dulu. Dari tadi pagi belum makan, kan," ucap Bi Asih.


"Elena mana Bi?," tanya Alena.


Wanita itu bukannya mengiyakan ucapan Bi Asih yang meminta dirinya makan, justru menanyakan saudaranya yang sudah tidak ada dikamar itu.


"Non Elena tadi sudah berangkat kekantor," ucap Bi Asih.


Alena menganggukan kepalanya, tanda mengerti dengan ucapan bi Asih.


Tidak lama kemudian Alena mencium bau masakan yang dibawakan oleh Bi Asih untuknya, membuat wanita itu merasa mual lagi.


Alena segera berlari kekamar mandi, lalu memuntahkan isi perut yang kosong itu disana.


Hanya air liur dan anginlah yang keluar dari mulut Alena.


Bi Asih yang melihat Alena berlari karena ingin muntah tentu saja kebingungan. Bingung antara ingin menolong, atau tidak.


Pasalnya, Kevin melarang semua orang untuk masuk kedalam kamar itu kecuali Alena.


"Aduh, gimana ya. Bingung mau nolongin non Alena. Kalau masuk kedalam kamar ini, nanti den Kevin pasti marah," ucap Bi Asih khawatir.


Beruntung Alena hanya muntah sebentar, tidak sehebat muntahnya tadi pagi.


"Singkirkan makanan itu dariku bi," titah Alena sembari menutup hidungnya.


"Tapi non Alena belum makan," ucap Bi Asih.


"Aku juga tidak mau makan itu," ucap Alena.


"Kalau begitu non Alena mau makan apa?," tanya Bi Asih.


"Nanti aku cari sendiri Bi," jawab Alena.

__ADS_1


"Ya sudah nanti panggil bibi ya, kalau non Alena mau makan," ucap Bi Asih mengalah.


Alena menganggukan kepalanya, kemudian menutup pintu kamar tersebut.


Rasanya Alena tidak ingin makan apa-apa. Ia hanya ingin bertemu Kevin.


Tapi ia sadar bila tubuhnya sedang lemah karena tadi muntah.


"Sebaiknya aku mandi saja biar segar," gumam Alena.


Wanita itu kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Menyiapkan air hangat dibak mandi lalu merendam tubuhnya disana.


Setelah 15 menit ia berendam. Alena akhirnya bangkit untuk menyudahi acara berendamnya.


Alena keluar dari kamar itu hanya memakai handuk. Ia bergegas membuka lemari baju Kevin, memilih baju yang ada disana, lalu ia kenakan.


"Kebesaran," guman Alena, yang sedang memperhatikan penampilannya didepan cermin.


Alena saat ini sedang mengenakan kaos hitam milik suaminya.


Entah kenapa Alena sekarang ini sedang ingin mengenakan baju suaminya.


Denga cara ini ia bisa sedikit melepas rindu pada pria itu.


Setelah selesai berpakaian, Alena akan keluar dari ruang ganti tersebut. Ia akan kedapur karena perutnya sudah lapar.


Ia tidak ingin makan makanan yang dimasak, ia ingin makan buah-buahan saja nanti didapur.


Alena bergegas keluar dari ruang ganti tersebut dengan tersenyum senang karena ia sedang mengenakan baju milik Kevin.


Alena melihat alat dan obat-obatan yang dua bulan terakhir ini digunakan oleh Kevin.


Barang-barang tersebut, Kevin sembunyikan disela-sela antara lemari dan dinding.


Alena segera menghampiri barang tersebut.


"Apa ini?," tanya Alena sembari mengambil barang tersebut dan ia tatap lekat.


"Ternyata dirumah Kevin juga pakai barang ini," gumam Alena yang membuatnya semakin terluka.


Bisa-bisanya dirinya tidak tahu bila Kevin mengkonsumsi barang haram itu dirumah juga.


Prakk!!


Prakk!!


Alena memukul-mukul alat tersebut, hingga akhirnya tidak bisa digunakan lagi.


Wanita itu juga mengambil sisa obat yang ada disana, kemudian membawa obat tersebut kekamar mandi.


Alena menyalakan keran washtafel, membuka satu persatu obat tersebut kemudian ia larutkan dialiran air tersebut.


Nafas Alena tersengal. Tersengal bukan karena lelah, melainkan karena menahan marah.

__ADS_1


Marah pada dirinya sendiri.


"Maafkan aku Kevin, seharusnya aku tahu dari dulu dan bisa mencegahmu sejak lama," ucap Alena.


Ia menyesal sekali, baru mengetahuinya sekarang ini.


Setelah semua obat tersebut larut, Alena segera memanggil Bi Asih untuk membersihkan kamar Kevin, sembari menggeledah seisi kamar, siapa tahu masih ada barang haram yang terselip.


"Tidak ada lagi non, aman," ucap Bi Asih setelah menggeledah isi kamar Kevin.


"Syukurlah. Terimakasih ya Bi," ucap Alena.


"Sama-sama non. Bagaimana sekarang, apa non Alena masih belum ingin makan?," tanya bi Asih lagi.


"Belum Bi," jawab Alena.


"Oiya non, tadi tuan Andrian berpesan bila non Alena mau keluar rumah jangan pakai motor lagi. Pakai saja mobil yang ada dirumah," ucap Bi Asih.


Mendengar itu tentu saja membuat Alena tersenyum kembali.


Sedari tadi pagi ia ingin melihat Kevin tapi tidak mungkin menggunakan motornya, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk membesuk Kevin.


Alena langsung bersiap, ia akan pergi kerumah sakit untuk membesuk suaminya.


Wanita itu mengemudikan mobil tersebut menuju rumah sakit dimana Kevin sedang direhab.


Setibanya disana Alena hanya mampu melihat pria itu dari jendela kaca.


Setiap kali melihat pria itu membuah hati Alena serasa disayat.


Setiap hari tubuh Kevin semaki kurus. Hari ini juga terlihat lebih kurus dari kemarin.


Alena menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela, seolah ia tengah menyentuh wajah pria itu.


"Vin, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah," ucap Alena.


Bak seperti dibawa angin, ucapan Alena itu mampu didengar oleh Kevin yang sedang merintih kesakitan karena pemutusan zat.


Pria itu mencari-cari dari mana suara itu berasal, hingga pandangannya tertuju pada seseorang yang berada dijendela kaca.


Kevin bisa melihat bila istrinya sedang berdiri dijendela dengan menatap nanar pada dirinya.


"Ternyata lo perduli sama gue Al," gumam Kevin dengan tubuh sakitnya.


Kevin tahu bila Alena tiap hari mengunjunginya, membuat dirinya semangat untuk sembuh.


Ucapan dokter saat itu, terus mengiang ditelinganya.


Alena hamil, berarti dia akan menjadi seorang ayah. Kevin tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama seperti yang ia alami saat ini.


"Tunggu gue pulang Al, gue janji akan memperlakukan lo dengan baik, gue cinta sama lo Al," gumam Kevin menatap sendu pada Alena yang bediri dijendela kaca.


Tidak lama kemudian ia berteriak.


AARRGGHH!!

__ADS_1


Tubuhnya terasa sakit yang luar biasa sehingga ia melampiaskannya dengan berteriak.


...****************...


__ADS_2