Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 29 Sudah Merasakan


__ADS_3

Entah kenapa mendengar jawaban dari Alena membuat hati Kevin berdenyut nyeri.


Kevin tidak mampu berkata-kata lagi.


Kalimat yang dilontarkan Alena terus saja terngiang ditelinganya.


'Cemburu? Aku bahkan tidak mencintai kamu Vin, untuk apa aku cemburu'.


Kevin segera membalikan tubuhnya, kemudian keluar dari kamar itu meninggalkan Alena sendiri disana.


"Apa aku terlalu kasar ya," gumam Alena sembari menatap pintu kamar yang baru saja ditutup oleh Kevin.


Diluar kamar.


Kevin berjalan pelan, sangat pelan. Ia melangkahkan kakinya sembari mengingat ucapan Alena didalam kamar tadi.


Ucapan Alena tadi terus saja mengiang ditelinganya.


Setibanya didepan pintu lift, Kevin segera masuk kedalamnya lalu menekan tomol angka 1 untuk kembali keruang pertemuan.


Setibanya disana, Kevin segera mengambil hoody dan masker yang Alena kenakan tadi.


Dalam benaknya, sebaiknya ia dan Alena pulang saja.


Bila mereka terus ada disini, maka akan terus bertengkar karena dirinya yang mudah sekali marah.


"Gue nggak bisa lama-lama. Gue harus pergi sekarang," ucap Kevin pamit pada semua orang yang ada disana.


"Sorry ya Vin, gara-gara si Rina bini lo jadi ngambek," ucap Frans mewakili yang lainnya.


Kevin tidak menjawab dengan suara, ia hanya menganggukan kepalanya lalu pergi dari sana.


Kevin membawa hoody dan masker milik Alena ditangannya sembari berjalan menuju kamar dimana ia meninggalkan Alena.


Setibanya didepan kamar tersebut, Kevin segera membuka pintu kamar itu dan masuk kedalamnya.


"Pakai ini, kita pulang sekarang," ucap Kevin sembari melempar hoody dan masker milik Alena keranjang.


Alena segera mengambil hoody tersebut, lalu mengenakannya.


"Sudah," ucap Alena.


"Masker lo," ucap Kevin.


Alena segera mengambil masker yang berada diranjang, kemudian mengenakannya juga.


Setelah melihat Alena sudah sesuai apa yang ia mau, Kevin segera mengajak Alena untuk kembali kerumah.


Kedua orang itu keluar dari kamar bersamaan. Setelah tiba dilantai satu, mereka disambut oleh seluruh teman-teman Kevin.


"Sorry Lan, gara-gara Rina lo jadi badmood," ucap Frans pada Alena.


"Iya nggak apa-apa," ucap Alena dengan ramah.


Kevin segera menarik tangan Alena dan membawa wanita itu keluar dari basscamp.

__ADS_1


"Apaan sih Vin tarik-tarik," ucap Alena setelah menghempaskan tangan Kevin yang menarik tangannya.


Saat ini mereka sedang berada dihalaman basscamp tersebut.


"Gue nggak suka lo ramah-ramah sama mereka," ucap Kevin.


Alena mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Kevin.


"Kamu cemburu Vin?," tanya Alena seraya terkekeh.


Kevin hanya diam tidak menanggapi ucapan Alena.


"Vin, mereka itu teman mu. Siapapun yang menjadi teman kamu itu juga jadi teman aku," ucap Alena.


"Tapi bukan dengan mereka Al. Mereka semua berandalan," ucap Kevin.


"Seperti kamu kan?," ucap Alena masih terkekeh mendengar ucapan Kevin yang mengatai temannya brandalan. Padahal Kevin sendiri ketua dari para brandalan itu.


Alena melangkahkan kakinya lebih dulu menuju motor Kevin yang terparkir diantara puluhan motor sport disana. Wanita itu juga lebih dulu memakai helmnya


Sedangkan Kevin hanya diam ditempat, memperhatikan Alena yang sudah sampai dimotornya.


Kevin juga tidak habis fikir pada dirinya, kenapa ia bisa berkata demikian sehingga membuat Alena menertawakannya.


Pria itu segera mendekati motornya yang sudah ada Alena disana.


"Mau pulang kerumah siapa Vin?," tanya Alena.


"Terserah lo," jawab Kevin.


Mereka memilih pulang kerumah Andrian dibandingkan pulang kerumah Mayang, khawatir akan ditanyai oleh wanita paruh baya itu dari mana mereka pergi malam-malam.


Tidak butuh waktu lama bagi Kevin tiba dirumah Andrian, karena dirinya mengendarai motor sport tersebut dengan kecepatan kencang.


Belum lagi kondisi jalanan malam hari seperti ini membuatnya semakin leluasa.


Mereka tiba dirumah pukul satu malam.


Sepasang suami istri itu masuk kedalan rumah dengan berjalan beriringan.


Kevin berjalan didepan Alena sehingga ia lebih dulu sampai didepan pintu kamarnya sedangkan Alena baru saja sampai dilantai dua dan hendak menuju kamarnya.


Kring.


Dering ponsel tersebut berasal dari ponsel milik Alena.


Kevin yang sudah tiba didepan pintu kamar seketika menghentikan langkah kakinya.


Sedangkan Alena yang mendapati ponselnya berbunyi segera membuka tasnya, lalu mengeluarkan ponsel tersebut.


'Mas Satria' rupanya yang menghubungi Alena adalah Satria.


Pria itu sudah sejak tadi sore menghubungi Alena namun tidak mendapar jawaban, sehingga ia terus mencoba menghubungi Alena seperti saat ini.


Ia sangat mengkhawatirkan Alena.

__ADS_1


"Hallo mas," jawab Alena, sembari terus berjalan menuju kamarnya.


Kevin yang tadi berhenti didepan pintu kamarnya mendengar Alena menjawab telepon tersebut dengan sebutan 'Mas'.


Ia sudah menduga pasti yang menghubungi Alena itu adalah kekasih istrinya.


Kevin segera membuka pintu tersebut, lalu masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari ponsel.


Klik.


Semenjak Alena meminta agar ia diizinkan masuk kedalam kamar, Kevin tidak pernah lagi mengunci pintu kamar tersebut.


Baru kali ini ia mengunci pintu kamarnya lagi.


Setelah mengunci kamarnya, Kevin melangkahkan kakinya pelan.


"Kenapa nggak ada orang yang sayang gue?," lirih Kevin.


Kevin sudah merasakan dirinya mencintai Alena, tapi wanita itu sama sekali tidak mencintainya.


Wanita itu justru masih mencintai kekasihnya bahkan berharap berpisah dengannya, agar bisa menikah dengan kekasihnya.


Sama seperti orang tuanya, ia sangat menyayangi kedua orang tuanya itu, tapi ternyata mereka berpisah.


Kedua orang tuanya bahkan tidak mengindahkan permohonannya agar tidak berpisah, mereka justru bercerai dan meninggalkan luka dihati seorang Kevin.


Disaat seperti ini, perasaan kecewanya hanya mampu Kevin lampiaskan pada barang haram yang biasa ia konsumsi.


Kevin mengambil lagi barang haram tersebut serta alat yang biasa ia gunakan lalu memakainya lagi.


Kevin menyimpan dengan baik barang-barang tersebut sehingga Alena tidak bisa menemukan saat masuk kedalam kamarnya.


Entah sudah berapa kali Kevin memakainya selama sebulan ini. Ia hanya memakainya saat dirinya terpuruk, agar bisa melupakan sejenak rasa sesak dihatinya.


Dikamar sebelah.


Alena masuk kedalam kamar sembari bertelponan dengan Satria.


Pria itu menceritakan bila dirinya sejak tadi sore menghubungi Alena namun tidak mendapat jawaban.


"Maaf mas, tadi aku nggak dengar suara ponsel berbunyi. Aku tadi lagi bersih-bersih rumah," ucap Alena berbohong.


Alena sudah sering sekali membohongi Satria, tapi pria itu selalu mempercayai apa yang Alena katakan.


Akan ada saatnya kebohongan itu terungkap.


"Iya Al nggak apa-apa. Besok-besok bilang sama aku kalau mau bersih-bersih rumah ya, supaya aku bisa bantuin kamu," ucap Satria


"Iya mas," ucap Alena.


Tidak banyak yang mereka obrolkan karena malam sudah semakin larut.


Panggilan telepon itu akhirnya berakhir.


Alena bergegas membasuh muka, tangan dan kaki, baru setelahnya ia mengganti pakaiannya menggunakan piama tidur.

__ADS_1


Setelah selesai, Alena merebahkan tubuhnya diatas ranjang kemudian memejamkan matanya agar terlelap.


__ADS_2