Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 50 Berdamai


__ADS_3

Kevin menunggu Alena ditempat ia menurunkan wanita itu tadi pagi.


Sembari menunggu Alena, pria itu membuka ponselnya yang sudah setengah tahun tidak ia gunakan.


Meski ia sudah kembali kerumah dua hari yang lalu tapi Kevin belum sempat mrmbuka ponselnya.


Ia sungguh fokus pada istrinya, pada calon anaknya yang sedang dikandung istrinya itu.


Setelah ponsel itu dibuka, ada ribuan pesan dan puluhan panggilan tak terjawab.


Sebagian banyaknya pesan itu berasal dari group chat Geng Lion, ada juga pesan dari mamah Diana yang menanyainya kabar, menawarkan dirinya untuk tinggal bersama mamahnya.


Pesan itu baru dikirim satu hari yang lalu yakni kemarin.


[Aku sudah bahagia dengan hidupku, sebaiknya mamah juga berbahagialah dengan suami baru mamah] Kevin membalas pesan mamah Diana.


Diana yang menerima pesan dari Kevin, sontak saja matanya langsung berkaca-kaca, ia senang sekali untuk pertama kalinya Kevin mau membalas pesan yang ia kirim.


Diana segera menghubungi nomor ponsel putranya itu namun Kevin mengabaikannya.


Ting.


Karena panggilan teleponnya diabaikan oleh putranya, Diana segera mengirim pesan.


[Angkat sayang, mamah ingin bicara denganmu] pesan mamah Diana.


[Kita memang seharusnya bicara, datanglah sendiri kecaffe cempaka. Jangan bawa suami baru mamah!] pesan Kevin.


[Tentu sayang, mamah akan datang sendiri] pesan mamah Diana.


Kevin tidak membalas lagi pesan tersebut, ia hanya membacanya.


Ceklek.


Tanpa Kevin sadari rupanya Alena sudah tiba dimobil dan membuka pintu mobil tersebut.


Alena segera masuk kedalam mobil suaminya dan meminta pria itu segera mengemudikannya, tapi Kevin justru diam saja.


"Kamu kenapa?" tanya Alena heran dengan Kevin yang justru hanya diam saja.


"Aku ingin berdamai dengan mamah Diana," jawab Kevin.


"Bagus dong kalau begitu. Terus kenapa kamu kelihatannya murung?" tanya Alena.


"Tapi aku nggak yakin bisa berdamai," jawab Kevin.


Alena mengusap bahu suaminya dengan lembut, ia mengerti apa yang dirasakan oleh Kevin.


Sulit bagi Kevin memaafkan orang tuanya yang mengabaikan dirinya.

__ADS_1


Tapi itu tidak baik bila terus-terusan membenci orang tuanya sendiri seperti itu.


Kevin harus bisa memaafkan mereka dan menerima keputusan yang telah diambil orang tuanya.


"Pelan-pelan saja Vin. Kamu pasti bisa berdamai dengan orang tuamu," ucap Alena.


Kevin mengangguk, kemudian meminta Alena untuk menemaninya bertemu dengan mamahnya.


"Tapi aku nggak mungkin nemanin kamu pakai baju seragam ini," ucap Alena.


"Kita ganti baju dulu," ucap Kevin.


"Kalau ganti baju dulu kelamaan Vin, mamah kamu pasti nanti nungguin kelamaan." ucap Alena.


"Kita ganti bajunya dibutik dekat caffe, jadi nggak akan kelamaan." ucap Kevin.


Alena setuju dengan ide Kevin, sehingga pria itu melajukan mobilnya menuju butik didekat caffe cempaka.


Mereka mengganti pakaiannya dibutik tersebut, barulah mendatangi caffe cempaka.


Setibanya disana, Kevin bisa melihat bila mamahnya sedang duduk seorang diri disana.


Pria itu menggandeng tangan Alena untuk menghampiri mamah Diana yang sudah menunggunya sejak lima belas menit yang lalu.


Diana berdiri dari diduknya karena melihat Kevin dan Alena menghampiri dirinya.


Wanita paruh baya itu segera memeluk putranya yang sudah dewasa itu.


Diana juga menangkup wajah putranya, wajah yang jauh lebih segar dari saat ia melihat putranya didalam ruangan rehab.


Permintaan maaf dari Diana tidak dijawab oleh Kevin, pria itu justru menarikan kursi untuk istrinya duduk kemudian barulah dirinya yang duduk disalah satu kursi yang kosong disana.


Diana juga ikut duduk. Ia kembali duduk ditempatnya semula.


Wanita paruh baya itu menata Alena dengan lekat kemudian beralih pada perut besar Alena.


Diana jadi teringat dengan Alena yang terbaring lemah dibrangker rumah sakit enam bulan yang lalu.


"Siapa namamu, saya lupa?" tanya Diana pada Alena.


"Alena Tante," jawab Alena.


"Berapa bulan kandungan mu?" tanya Diana lagi.


"Tujuh bulan tante," jawab Alena.


"Kenapa kalian menikah tidak memberitahu saya?" tanya Diana.


"Maaf, Tante, itu karena pernikahan kami masih dirahasiakan." jawab Alena.

__ADS_1


"Apa dengan saya juga harus dirahasiakan?" tanya Diana.


"Bukan se-" ucap Alena terpotong karena Kevin bicara lebih dulu.


"Cukup Mah! tadinya aku mengajak mamah bertemu agar kita bisa berdamai, tapi disini mamah justru memojokan Alena karena pernikahan kami dirahasiakan dari mamah. Mamah memang ibu kandungku, tapi mamah tidak pernah bisa mengerti aku." ucap Kevin.


Alena yang duduk disebelah Kevin segera mengusap lengan pria itu, agar bisa sedikit menennangkan suaminya.


Diana menundukan kepalanya karena kata-kata dari Kevin memang benar adanya. Ia memang ibu kandung Kevin tapi dirinya tidak bisa mengerti apa yang Kevin inginkan.


"Ma'afin mamah Sayang," ucap Diana masih menundukan kepalanya sembari menitikan air matanya.


Kevin yang melihat mamahnya menangis sungguh rasanya ia sangat bersalah telah bicara demikian.


"Sebenci apapun aku pada mamah, mamah tetap ibu kandungku. Aku ingin berdamai dengan itu. Mamah bisa menemuiku kapanpun yang mamah inginkan. Satu hal yang harus mamah ingat, aku sudah menikah jadi tolong sayangi juga istriku." ucap Kevin.


Diana menganggukkan kepalanya, ia tak mampu berkata-kata lagi, sungguh hari ini hari yang balih bahagia untuknya karena Kevin mau berdamai dengan dirinya.


Wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya lalu segera memeluk putranya. Ia tumpahkan semua tangisnya dipelukan sang putra.


Bukan hanya Diana yang menangis, tapi Alena yang duduk disebelah Kevin juga ikut menangis.


Alena salut pada suaminya, meski luka dihatinya masih belum bisa diobati tapi pria itu sudah mau berdamai dan memaafkan orang tuanya.


Cukup lama Diana menangis didalam pelukan sang putra, hingga akhirnya ia sendiri yang melerai pelukan itu.


Diana beralih memeluk Alena.


"Ma'afin saya Alena," ucap Diana masih memeluk menantunya.


"Iya Tante, saya sudah mema'afkan Tante," ucap Alena.


Diana melonggarkan pelukannya, kemudian mengelus perut buncit menantunya.


"Jangan panggil Tante lagi ya, panggil saya Mamah seperti Kevin memanggil saya." ucap Diana.


"Iya Mah," ucap Alena.


Setelahnya Diana kembali ketempat duduknya, kemudian memesan minuman dan camilan.


Ketiga orang itu kini duduk dimeja yang sama sembari menikmati minum kopi dan camilan disana.


Mereka juga berbincang santai, meski Kevin lebih banyak diam tapi pria itu juga menanggapi apa saja yang dibicarakan istrinya dan mamahnya itu.


Dua jam lamanya mereka duduk dicaffe hingga akhirnya Diana mendapat panggilan telepon dari suami barunya kalau pria itu baru saja pulang kerumah.


Diana pamit lebih dulu pada anak dan menantunya, baru setelahnya wanita itu pulang kerumah.


Setelah kepergian mamah mertuanya, Alena segera mengajak Kevin untuk pulang. Ia mengantuk sekali.

__ADS_1


Biasanya sehabis pulang mengajar, Alena tidur siang tapi hari ini ia mendampingi suaminya untuk berdamai.


Meski tubuh lelah tapi Alena sangat bersyukur kini hubungan suaminya dan mertuanya sudah jauh lebih baik.


__ADS_2