
Hari-hari berlalu, bahkan tahun pun berlalu.
Tidak terasa baby Arkana sudah berusia dua tahun.
Bayi mungil yang dulu masih merah, kini sudah bisa berjalan dan berbicara.
Baby Arkana kerap kali ingin ikut orang tuanya yang hendak pergi bekerja.
Semenjak Alena kembali bekerja, Baby Arkana dititipkan oleh wanita itu pada Mayang. Setiap pagi Alena mengantarkan baby Arkana ke rumah Mayang untuk dititipkan disana karena Alena tidak ingin menggunakan jasa babysitter.
Mayang sendiri yang biasanya setiap hari pergi ke toko untuk memantau usahanya, kini sudah hampir tidak pernah datang lagi ke toko itu.
Usaha Mayang sudah dipercayakan pada anak buahnya. Jadi wanita paruh baya itu hanya perlu sesekali datang ketoko untuk mengontrolnya.
Hari-hari Mayang dihabiskan untuk mengasuh baby Arkana karena kedua orang tua bayi tersebut pergi bekerja.
Alena sudah kembali mengajar, setelah cuti hamilnya habis. Alena mengajar di SMK Cempaka, karena kasusnya yang menikahi murid yang masih bersekolah, membuat wanita itu tidak diizinkan untuk mengajar di SMA Cempaka oleh Kepala Sekolah di sana.
Alena menghargai keputusan Kepala Sekolah itu, padahal bisa saja wanita itu tetap mengajar disana karena Alena adalah pemilik yayasan itu sekarang ini.
Ya, memang benar. Yayasan Cempaka milik Andrian sudah di pindah tangankan kepada Alena yang merupakan menantunya.
Baby Arkana yang ingin ikut dengan Alena kini sedang menangis tidak mau ditinggal.
"Hiks hiks, mamah itut," ucap Arkana sembari menangis.
Bayi laki-laki itu baru saja bisa bicara, sehingga logat bicararanya belum lancar.
Baby Arkana yang menangis, mengulurkan tangannya pada Alena karena ingin ikut pada wanita itu.
Padahal baby Arkana sudah digendong oleh Mayang, tapi tetap ingin ikut dengan mamahnya.
"Sayang, kamu sama nenek dulu ya. Mamah sama papah mau kerja dulu, nanti sehabis pulang kerja kita jalan-jalan." ucap Alena membujuk baby Arkana.
"Nggak mau, nggak mau, hiks hiks." ucap baby Arkana yang menangis tidak mau ditinggal oleh Alena.
"Sudah Nak, kalian berangkat aja. Arkana biar sama ibu. Dia nangis juga cuma sebentar," ucap Mayang.
"Iya Sayang, ayo kita berangkat. Ini sudah setengah delapan, aku ada meeting pagi ini," ucap Kevin meyakinkan Alena untuk meninggalkan baby Arkan pada Mayang.
Alena menatap pada Arkana yang berada digendongan Mayang, lalu beralih menatap suaminya dan menganggukan kepalanya.
"Iya Mas," ucap Alena pada Kevin.
__ADS_1
"Dah sayang, kamu baik-baik ya sama nenek. Mamah dan Papah berangkat kerja dulu, Assalamualaikum." ucap Alena menyalimi putranya.
Meski baby Arkana menangis, tapi Alena tetap meninggalkannya.
Sepasang suami istri itu kemudian masuk ke dalam mobil Kevin. Setiap harinya mereka berangkat bekerja bersama setelah mengantarkan baby Arkana ke rumah Mayang.
SMK Cempaka tempat Alena mengajar dan kantor dimana tempat Kevin bekerja melewati rumah Mayang, sehingga memudahkan untuk mereka menitipkan Arkana pada neneknya.
"Sayang, nanti pulang kamu naik taksi aja ya, soalnya aku ada meeting lagi nanti siang, jadi nggak bisa nganterin kamu pulang," ucap Kevin.
Kevin yang sudah resmi menjabat sebagai Manajer Personalia, kerap kali ikut meeting internal mau pun eksternal diperusahaan milik Andrian.
Sebelum menjabat sebagai Manajer Personalia, Kevin sudah belajar selama tiga bulan bersama Ridwan asisten Andrian.
Selama belajar itu, Kevin benar-benar serius mempelajari apa yang Ridwan ajarkan, sehingga memudahkan Kevin untuk menjabat sebagai Manager Personalia setelahnya.
"Iya Mas nggak apa-apa, aku bisa pesan taksi kalau sudah mau pulang," ucap Alena.
"Makasih Sayang," ucap Kevin.
"Oh iya Mas, bagaimana sama sekolah paket C mu? Bukannya bulan ini selesai ya?" tanya Alena.
"Iya sudah selesai Sayang, ijazahnya nanti akan dikirim ke rumah," ucap Kevin.
Alena menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah sayang, kami sudah bisa membuka tiga cabang di tempat lain. Untuk jasa modif motornya juga sama. Semua anggota geng lion benar-benar bekerja sama dengan baik," ucap Kevin.
"Ahh, Syukurlah kalau begitu. Apa mereka semua tidak akan kembali pada keluarganya?" tanya Alena.
"Tentu saja kembali, Sayang. Bagaimanapun keluarga adalah tempat kita untuk pulang. Mereka semua masih ingin bersenang-senag dulu. Tapi, walau mereka nanti kembali pada keluarganya, mereka akan tetap menjadi bagian dari geng lion. Sama seperti aku yang masih meluangkan waktu untuk Geng Lion," ucap Kevin menjelaskan.
Alena menganggukkan kepalanya mengerti, pada apa yang dijelaskan oleh suaminya.
Bila dulu wanita itu merasa keberatan karena Kevin masih saja memikirkan geng lion, tapi kini Alena tidak mempermasalahkan lagi.
Terlebih lagi geng lion sekarang ini sangat disegani masyarakat sekitar. Karena usaha bengkelnya kerap kali membantu orang lain.
Bengkel geng lion juga menjadi lapangan pekerjaan untuk orang yang membutuhkan.
Tidak lama kemudian mobil yang Kevin kemudikan tiba di SMK Cempaka.
Alena menyalimi suaminya terlebih dahulu, kemudian turun dari mobil.
__ADS_1
"Selamat pagi Bu Alena," sapa satpam yang berjaga di gerbang sekolahan.
"Pagi juga Pak," ucap Alena sembari berlalu melewati satpam tersebut.
Wanita itu segera masuk kedalam kantor.
Berbeda dengan dulu saat dirinya mengajar di SMA Cempaka yang kerap kali mendapat cibiran dari rekan gurunya karena tidak menyukai dirinya.
Kini di SMK Cempaka, wanita itu sangat dihormati oleh seluruh penghuni sekolahan baik guru, murid, maupun pengurus sekolah.
Entah karena wanita itu kini sebagai pemilik yayasan atau karena kewibawaannya.
"Selamat pagi, Bu Alena."ucap salah satu guru yang mengajar di sekolahan tersebut.
"Pagi juga, Bu." ucap Alena seraya berjalan menuju ruangannya.
Alena memiliki ruangan sendiri, di mana ruangan itu dulunya ruangan tempat Andrian bekerja saat datang ke sekolahan tersebut.
Karena pagi ini tidak ada jadwal mengajar, wanita itu memilih melihat laporan bulanan dari semua sekolahan yang bernaung dibawah Yayasan Cempaka.
Laporan tersebut sangat memuaskan baginya. Dalam dua tahun terakhir ini, Yayasan Cempaka berada di tangannya, Alena bisa mempertahankan cara belajar mengajar disekolahan dengan baik.
Kring kring
Ponsel Alena berbunyi.
Dilihat oleh wanita itu yang menghubunginya adalah adik kembarnya, yakni Elena.
"Hallo El," ucap Alena.
"Al, aku mau menikah," ucap Elena di seberang telepon.
Selama ini Alena tidak pernah melihat saudara kembarnya dekat dengan seorang pria, membuat Alena terkejut mendengar kabar itu.
"Dengan siapa El?" tanya Alena.
"Dengan mantan kekasihmu Al, Mas Satria." jawab Elena.
Semakin terkejut lah Alena mendengar kabar itu.
Elena mau menikah dengan Satria? Kenapa Satria? Sejak kapan mereka memiliki hubungan?
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dilontarkan oleh Alena didalam hati.
__ADS_1
Entah kenapa Alena jadi memiliki firasat buruk mendengar kabar itu. Mantan kekasihnya yang pernah ia khianati, hendak menikahi adiknya.
'Apa-apaan ini?' tanya Alena didalam hati.