
Keesokan harinya.
Alena sudah kembali mengajar lagi disekolahan.
Ia datang seorang diri dengan menggunakan mobil milik mertuanya.
Disana, tidak banyak yang tahu bila Alena kesekolahan menggunakan mobil Andrian.
Setibanya dikantor guru, Alena sudah disambut oleh rekan guru-guru yang lain.
Ada nasi tumpeng lengkap dengan isinya.
Ide tersebut berasal dari Bu Ningsih yang senang dengan kabar kehamilan Alena, pasalnya ia sudah menikah 8 tahun belum juga dikaruniai keturunan.
"Terimakasih semuanya, saya jadi tidak enak membuat kalian kerepotan," ucap Alena.
"Ihh Bu Alena ini, kami tidak merasa kerepotan. Kami senang melakukannya," ucap Bu Ningsih mewakili yang lainnya.
Alena menggaruk tengkuknya kemudian menganggukan kepalanya, tanda ia menerima sambutan tetsebut.
"Bu Alena berangkat sendiri?," tanya Bu Farah yang juga ada disana.
"Iya Bu, saya berangkat sendiri," jawab Alena ragu-ragu, takut ditanyai lagi mengenai suaminya.
"Mana suaminya Bu Alena? Apa masih diluar kota?," tanya Bu Nissa juga.
Sudah Alena duga, pasti rekan gurunya itu akan menanyakan suaminya.
"Iya Bu masih diluar kota," ucap Alena yang diangguki oleh rekan gurunya disana.
Tidak lama kemudian bell masuk kelas berbunyi. Alena mengajar matematika disetiap kelas yang ada jadwal mata pelajaran tersebut.
Jam pertama Alena masuk dikelas XII IPS 3, dimana kelas itu adalah kelasnya Kevin.
Disana Alena mulai mengabsen satu persatu murid kelas itu, mulai dari huruf A.
Wanita itu dengan lancarnya mengabsen murid disana, hingga ia menyebutkan nama suaminya.
"Kevin Andrian!" panggil Alena kemudian terhenti, karena teringat Kevin yang sedang direhab.
"Sakit Bu," ucap salah satu siswa disana.
"Sakit apa?," tanya Alena yang pura-pura tidak tahu.
Sebenarnya tanpa diberi tahu oleh siswa tersebut Alena sudah tahu, bahkan dirinya setiap hari mengunjungi pria itu.
Pulang dari sekolahan ini juga ia berencana untuk mengunjungi Kevin lagi.
"Tidak tahu Bu, tapi kata guru-guru yang lain dia sedang sakit," ucap siswa tersebut.
"Enak ya dia, mentang-mentang sekolahan punya bapaknya jadi seenaknya mau sekolah atau nggak," ucap Hans.
__ADS_1
"Kata guru yang lainnya dia memang beneran lagi sakit kok, Hans," ucap siswa tersebut.
"Ck, gue nggak percaya. Palingan juga dia lagi kumpul-kumpul sama geng lion," ucap Hans sinis.
"Sudah-sudah, kenapa kalian jadi ribut. Biar saya pastikan sendiri Kevin sakit sungguhan atau tidaknya," ucap Alena.
"Iya Bu," ucap serentak kedua siswa yang tadi berdebat itu.
Setelahnya Alena melanjutkan lagi mengabsennya. Setelah selesai dengan mengabsen, wanita itu mulai mengajar.
90 menit waktu yang digunakan Alena mengajar dikelas itu. Setelahnya ia akan pindah dikelas lainnya.
Dua bulan lagi para siswa dan siswi akan melaksanakan ujian semester satu.
Kemungkinan besar Kevin tidak bisa mengikuti ujian tersebut, dikarenakan pria itu sedang direhab hingga 6 bulan lamanya.
Meski demikian, Alena akan berusaha agar Kevin bisa mengikuti ujian semester akhir dimana ujian tersebut menjadi penentu kelulusan sekolah.
Entah Kevin bisa lulus atau tidak nantinya, yang terpenting Alena akan mengusahakan dan membantunya.
Tett tett
Bell tanda waktu istirahat berbunyi.
Alena segera mengakhiri kegiatan mengajarnya, lalu kembali kekantor guru.
Setibanya dikantor tersebut Alena diajak makan nasi tumpeng yang sudah disiapkan untuknya.
"Sekolahan jadi tenang ya, tidak ada Kevin yang membuat onar," ucap Bu Ningsih.
"Iya betul Bu Ningsih, saya juga jadi tenang ngajar dikelas XII IPS 3. Kalau ada Kevin, bawaannya ingin marah-marah terus," ucap Bu Nissa.
"Saya juga sama Bu. Kalau ada Kevin dikelas itu, benar-benar menguras kesabaran saya," ucap Bu Farah.
Mendengar rekan gurunya yang membicarakan Kevin, tentu saja membuat Alena termenung memikirkan pria itu.
Apa dia baik-baik saja?
Apa dia bisa tidur nyenyak?
Apa dia masih kesakitan?
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya mampu ia utarakan didalam hati.
Melihat Alena yang diam saja bahkan terlihat murung, Bu Ningsih segera menanyakan hal yang sedang mereka bahas.
"Kalau Bu Alena bagaimana rasanya mengajar dikelas XII IPS 3 tidak ada Kevin?," tanya Bu Ningsih.
"Aku merindukannya," ucap Alena tanpa ia sadari keluar dari mulutnya, dengan raut wajah yang masih termenung.
Ketiga rekan guru Alena saling pandang, seolah menanyakan bila mereka tidak salah dengar.
__ADS_1
"Bu Alena merindukan Kevin?," tanya Bu Ningsih lagi yang membuat Alena tersadar.
"Hahh? Ehh, ti-tidak Bu. Saya sedang merindukan ibu saya," ucap Alena gugup.
"Kalau begitu Bu Alena datang saja kerumah ibunya Bu Alena," ucap Bu Nissa memberi saran.
"Iya Bu," ucap Alena.
Mereka kemudian melanjutkan makan nasi tumpengnya.
Alena hanya memakannya sedikit untuk menghargai pemberian dari rekan gurunya itu.
Meski sudah tidak ada yang membahas tentang Kevin, Alena masih saja gugup.
Entah minum yang tersedak, atau makan menyuapnya tidak benar.
Lagi-lagi yang memperhatikan gerak gerik mencurigakan dari Alena itu hanya Bu Farah.
'Kenapa aku jadi menduga suaminya Bu Alena itu Kevin ya,' batin Bu Farah, sembari menatap pada Alena yang melamun setelah membicarakan Kevin.
Tidak lama kemudian mereka telah selesai dengan makan siangnya yang bertepatan dengan bell masuk kelas berbunyi.
Alena kembali mengajar mata pelajarannya dikelas lainnya hingga jam pulang sekolah.
Saat ini sudah waktunya pulang sekolah.
Wanita itu bergegas menuju parkiran untul menghampiri mobil milik Andrian yang tadi ia gunakan.
Disana rupanya masih ada Bu Farah yang sedang menunggu jemputan, padahal Alena kira ia pulang terakhir, karena sudah mundur setengah jam dari biasanya.
"Loh, Bu Farah belum pulang?," tanya Alena.
"Belum Bu ini nunggu jemputan, tadi pagi motor saya mogok, terus saya diantar kakak, tapi motor kakak saya mogok juga," ucap Bu Farah.
Alena terdiam, ia bingung untuk mengajak Bu Farah atau tidak.
Bila tidak mengajaknya, ia merasa tidak enak pada rekan gurunya.
Tapi bila diajak, ia saat ini sedang menggunakan mobil mertuanya.
Beruntung, jemputan Bu Farah datang tidak lama kemudian, membuat Alena mengurungkan niatnya untuk mengajak wanita itu.
Bu Farah pamit lebih dulu pada Alena kemudian menaiki motor kakaknya yang langsung melaju meninggalkan Alena.
"Hufftt, untung saja jemputan Bu Farah cepat datangnya," gumam Alena sembari mendekati mobil milik Andrian.
Wanita itu membuka mobil tersebut kemudian duduk dibalik kemudi dan langsung pergi meninggalkan sekolahan menuju rumah sakit.
Hari ini ia belum melihat suaminya, membuat perasaan rindunya semakin dalam.
Entah yang merasa rindu itu dirinya atau janin yang sedang ia kandung.
__ADS_1
Wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya ia tiba dirumah sakit.