Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 46 Ngerujak


__ADS_3

"Aku tunggu diteras belakang, kita ngerujaknya disana," ucap Alena setelah turun dari mobil.


"Iya sayang," ucap Kevin.


Alena kemudian bergegas melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah, baru setelahnya ia akan keteras belakang rumah.


Namun langkah kakinya terhenti saat ia mendengar suaminya memanggil tukang kebun untuk membawakan buah-buahan dari dalam mobilnya.


Meski sikap Kevin pada Alena sudah banyak berubah, namun Kevin tetap saja pria dominan.


Ia masih saja sama, memerintahkan seseorang semaunya.


Alena mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam rumah. Wanita itu kemudian kembali mendekat pada mobil sport suaminya.


"Pak Darman lanjut saja kerjanya," ucap Alena pada tukang kebun yang sudah hendak mengangkat buah-buahan tersebut.


"Loh kok disuruh lanjut kerja sayang, terus ini belanjaan kamu gimana?" tanya Kevin.


"Ya kamu lah yang bawa, kamu kan suami aku." ucap Alena membuat Kevin terperangah.


"Tapi sayang-" ucap Kevin terpotong oleh Alena yang lebih dulu bicara.


"Kamu mau bawa sendiri atau nanti malam tidur diluar?" tanya Alena.


Kevin menundukan kepalanya sembari menggeleng, ia tidak mau nanti malam tidur diluar.


Dengan terpaksa ia menghampiri lagi mobilnya lalu mengeluarkan buah-buahan dari dalam sana.


"Jadinya saya lanjut kerja saja nih, Non?" tanya Pak Darman.


"Iya Pak lanjut kerja saja," jawab Alena.


Pak Darman kemudian meninggalkan majikannya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan Kevin, pria itu mengeluarkan semua buah-buahan yang sudah Alena beli lalu membawanya masuk kedalam rumah.


Alena mengikuti langkah kaki suaminya itu yang berjalan lebih dulu didepannya sembari membawa buah-buahan.


"Lain kali selagi kamu bisa mengerjakannya sendiri, jangan pernah menyuruh orang lain," ucap Alena pada Kevin setibanya mereka didapur.


"Iya Bu Guru," ucap Kevin pada Alena, kemudian meletakan belanjaannya diatas meja dapur.


Setelahnya Kevin mencuci buah-buahan tersebut lalu ia tiriskan dikeranjang.


"Ini bumbu rujaknya apa aja sayang?" tanya Kevin karena ia memang tidak tahu dan tidak pernah membuatnya.


Alena mencebikan bibirnya, sudah menduga bila suaminya itu tidak bisa membuatnya.


"Cabai, gula merah, garam, kacang tanah dan asam." ucap Alena menyebutkan semuanya.


"Aduhh, sayang aku benar-benar tidak tahu dan tidak pernah membuatnya," ucap Kevin menggaruk tengkuknya karena bingung.


Alena melototkan matanya untuk menanggapi ucapan Kevin, membuat nyali pria itu menciut.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya buatkan rujak buah untukku." titah Alena kemudian berlalu pergi menuju teras belakang rumah.

__ADS_1


Disana wanita itu mendudukan tubuhnya dikursi sembari pandangannya melihat kearah kolam renang.


Dalam benaknya ia tidak tega juga memerintah suaminya, tapi apa boleh buat. Ia ingin sekali makan rujak buah yang dibuat pria itu.


Tidak lama kemudian Alena dihampiri oleh Andrian dan kakek Eren.


Kakek Eren masih duduk dikursi roda yang didorong mertuanya.


"Alena," panggil Andrian pelan.


Alena yang sejak tadi memperhatikan kolam renang segera menolehkan kepalanya untuk menghadap seseorang yang memanggil dirinya.


"Papah, Kakek." ucap Alena berdiri.


"Duduk saja Al," titah Andrian.


Alena kembali duduk dikursinya, sedangkan Andrian dan Kakek Eren terus mendekat pada Alena yang sedang duduk.


Ketiga orang tersebut berkumpul dimeja yang sama.


"Bagaimana kandungan kamu, Nak?" tanya Andrian.


"Alhamdulillah Pah, kandunganku baik-baik saja." jawab Alena.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Andrian yang diangguki oleh Alena.


Wanita itu beralih menatap kakek Eren yang duduk dikursi roda.


"Kakek sakit apa?" tanya Alena.


"Kenapa kakek tidak tinggal disini saja biar aku dan Kevin yang merawat kakek?" tanya Alena.


"Benarkah kamu mau merawat kakek?" tanya Kakek Eren.


"Tentu saja Kek. Kakeknya Kevin itu kakek ku juga," jawab Alena.


"Baiklah kalau begitu kakek mau tinggal dirumah ini," ucap Kakek Eren yang membuat Alena tesenyum.


Ia senang sekali, dengan adanya Kakek Eren dirumah ini maka ia akan memiliki kesibukan lainnya.


Selain mengurus suami dan keperluannya, ia juga bisa merawat kakek dari suaminya itu.


Ketiga orang itu melanjutkan pembicaraan santai mereka hingga tidak lama kemudian Kevin datang menghampiri mereka sembari membawa cobek berisi bumbu rujak.


Bukan hanya Kevin yang menghampiri ketiga orang itu, melainkan ada 3 pelayan dibelakangnya yang membawa buah-buahan untuk dirujak.


Kevin meletakan sambal rujak itu dihadapan Alena, Andrian dan Kakek Eren.


Setelahnya ia mengambil satu piring besar buah-buahan yang dibawa pelayan untuk ia letakan disebelah sambal rujak tersebut.


Baru setelahnya Kevin menarik kursi untuknya duduk disana.


"Kok sambal rujaknya cuma sedikit?" tanya Alena.


"Banyak sayang, tuh." jawab Kevin sembari menunjuk pelayan yang membawa cobek juga.

__ADS_1


Alena menganggukan kepalanya, kemudian meminta pelayan untuk memakan rujak yang masih dipegang para pelayan itu.


Pelayan tersebut tentunya tidak bisa menolak, mereka justru bersyukur bisa diberi kesempatan untuk mencicipi sambal rujak buatan Kevin.


Para pelayan itu pamit pada Alena bila mereka akan memakan rujak tersebut didapur, dan membawa kembali rujak yang masih mereka pegang.


Setelah kepergian para pelayan Alena mulai mencicipi rujak tersebut.


"Enak?" tanya Kevin sembari melihat ekspresi diwajah istrinya.


"Emmm," Alena tampak berfikir, sedangkan Kevin sudah menantikan jawaban dari istrinya itu.


"Lumayan," jawab Alena yang membuat Kevin kecewa.


"Cuma lumayan," ucap Kevin kesal dan kecewa.


Ia sudah susah payah membuatnya tapi istrinya justru mengatakan lumayan, padahal yang ia inginkan istrinya memuji mengatakan 'Enak, ini sangat enak'.


Mau bagaimana lagi, Alena memang berkata jujur karena rasanya tidak seenak itu. Ia tidak mau berbohong mengatakan enak tapi nyatanya tidak terlalu enak.


Andrian menepuk bahu putranya yang duduk disebelahnya.


"Jangan kecewa, nanti kamu buat lagi yang lebih enak dari ini." ucap Andrian menyemangati putranya.


Alena melirikan matanya menatap suaminya.


"Kalau kamu tidak percaya dengan rasanya coba cicipin sendiri," ucap Alena.


Dengan berat hati Kevin akhirnya mengambil buah yang sudah dipotong lalu dicolekan pada sambal rujak buatannya.


Baru memasukan kedalam mulutnya ia sudah mengeluarkannya.


"Pahit," ucap Kevin sembari menjulurkan lidahnya.


Andrian dan Kakek Eren saling pandang kemudian tertawa, menertawakan kegagalan Kevin membuat sambal rujak untuk istrinya yang sedang ngidam.


"Hahaha Kevin, Kevin. Kamu itu goreng kacangnya kelamaan jadi gosong. Kalau sudah gosong itu pasti pahit," ucap Andrian.


Kevin yang sudah kesal kini bertambah kesal.


Ia mengangkat cobek tersebut untuk membuang sambal buatannya.


"Loh, kok diambil Vin?" tanya Alena.


"Mau aku buang," jawab Kevin dengan kesal.


"Jangan!" cegah Alena sedikit berteriak mampu membuat Kevin menghentikan langkah kakinya.


Pria itu membalikan tubuhnya untuk melihat Alena yang berjalan menghampirinya.


Alena mengambil cobek tersebut dari tangan Kevin kemudian membawa kemeja tempatnya tadi, namun baru dua langkah, cobek tersebut sudah direbut oleh Kevin.


"Jangan dibuang, biar aku yang makan ini. Aku ingin sekali makan rujak buatanmu," ucap Alena kemudian merebut lagi cobek tersebut dan membawanya kemeja tadi.


Wanita itu memakan lagi buah dan sambal rujaknya.

__ADS_1


Kevin hanya mampu menghela nafasnya sembari melihat Alena yang makan rujak tersebut dengan lahap.


__ADS_2