Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 41 Pertemuan Kembali


__ADS_3

Enam bulan kemudian.


Ujian semester I sudah dilaksanakan empat bulan yang lalu, membuat Kevin yang sedang direhab tertinggal pelajaran.


Untuk semester duanya masih tersisa dua minggu lagi.


Alena berharap Kevin bisa mengikuti ujian tersebut, agar pria itu bisa memperoleh ijazah SMA nya.


Alena yang mengajar dengan perut besarnya tentu saja menarik perhatian orang seisi sekolahan.


Belum lagi Alena berangkat kesekolah selalu sendirian tanpa diantar suaminya, membuat dirinya dicurigai yang tidak-tidak.


Namun Alena acuhkan saja, gosip-gosip yang beredar dilingkungan sekolah salah satunya hamil tak bersuami.


Selama Kevin direhab Alena hanya tinggal seorang diri dirumah Andrian.


Karena kakeknya Kevin, belum sembuh juga dari sakitnya.


Alena hanya ditemani para pelayan yang ada dirumah itu.


Setiap harinya Alena selalu mengunjungi Kevin, memastikan pria itu baik-baik saja, dan melihat perkembangan kesehatan pria itu.


Tapi sudah satu bulan terakhir ini, Kevin meminta dokter yang merawatnya agar tidak mengizinkan Alena mengunjungi dirinya lagi.


Bukan tanpa sebab, Kevin merasa tidak tega melihat istrinya yang terus bulak balik kerumah sakit dengan perut besarnya.


Meski Kevin tidak pernah keluar dari ruangan itu, tapi ia bisa melihat perubahan pada bentuk tubuh istrinya dari jendela ruang rawat tersebut


Istrinya itu tengah mengandung calon anaknya, sehingga perut Alena terlihat besar.


Usia kandungan Alena memasuki usia ke tujuh bulan.


Pemeriksaan kandungannya Alena, terkadang diantar ibunya, terkadang juga diantar oleh Elena bila kedua orang itu sempat, tapi lebih seringnya ia memeriksakan seorang diri.


Alena sangat mandiri, ia tidak seperti ibu-ibu hamil lainnya, yang manja dan sensitif.


Bila dirinya menginginkan sesuatu atau sedang ngidam, maka Alena akan mencarinya sendiri tanpa harus meminta pada orang lain.


Hanya satu ngidamnya yang belum terkabulkan, yakni rujak buah yang dibuat oleh Kevin.


"Kevin kapan pulang ya Bu?," tanya Alena pada Mayang.


Saat ini Mayang, Elena, serta kakak ipar dan dua keponakannya tengah berkunjung kerumah Andrian, untuk menemani Alena.


Kebetulan juga, Esok tanggal merah jadi mereka akan menginap dirumah itu.


"Cie yang udah kangen," ucap Elena seraya menggoda saudaranya.


"Kangen berat ya Al?," tanya Larissa menggoda juga.


Pipi Alena berubah merona, ia malu digoda seperti itu oleh Elena dan kakak iparnya.

__ADS_1


"Apa kamu masih tidak dibolehkan mengunjungi Kevin?," tanya Mayang.


"Iya Bu, sudah satu bulan ini aku tidak boleh membesuknya oleh dokter," lirih Alena.


Kini wajah meronanya berubah menjadi wajah yang sendu.


"Sabar ya nak, mungkin sebentar lagi Kevin sudah diperbolehkan pulang," ucap Mayang.


"Tapi Bu, ini sudah lebih enam bulan tapi Kevin belum pulang juga," ucap Alena dengan kecewa.


Ia sudah menantikan kepulangan suaminya sejak lama tapi suaminya itu tidak kunjung pulang.


"Apa mungkin Kevin belum sembuh, terus ditambah waktu rehab tiga bulan lagi ya," ucap Elena.


Bukk.


Alena melempar bantal sofa kewajah saudara kembarnya.


"Sembarangan kamu El kalau bicara," ucap Alena kesal yang dijawab cengiran dari saudaranya.


"Aku tidak bisa bayangin, bila Kevin ditambah waktu rehab tiga bulan lagi. Berarti disaat aku melahirkan dia masih tidak bisa menemani aku dong Bu," ucap Alena ikut kepikiran oleh ucapan saudara kembarnya.


"Sudah jangan didengar ucapan Elena. Yakin saja dalam waktu dekat ini Kevin akan pulang," ucap ibunya menyemangati Alena.


Alena menganggukan kepalanya, kemudian mengelus perutnya yang berkedut karena pergerakan dari janin yang ada didalam kandungannya.


Calon anaknya itu seolah tahu bila ibunya sedang sedih menanti kepulangan ayahnya.


"Iya Bu," ucap Alena, kemudian tersenyum lagi.


"Anakmu laki-laki atau permpuan, Al?," tanya Larissa kakak ipar Alena istri dari Reyhan.


"Belum tahu mba. Aku sengaja tidak ingin tahu duluan. Aku ingin tahu jenis kelamin babby nanti saat periksa kandungan dengan Kevin," ucap Alena.


"Semangat ya Al, yakin aja Kevin pasti akan pulang," ucap Larissa menyemangati adik iparnya.


Setelahnya mereka tidak ada lagi yang berbicara, mereka kembali kekamar masing-masing yakni kamar tamu untuk beristirahat, karena malam sudah larut.


Alena masuk kedalam kamar Kevin yang selama ini ia tempati.


Wanita itu menutup pintu tersebut kemudian menuju ruang ganti.


Disana ia mengganti pakaiannya menggunakan gaun tidur yang panjangnya hanya selutut.


Perutnya yang besar membuat bagian depan gaun tersebut tersingkap.


Alena memandangi tubuhnya yang jauh lebih besar dari beberapa bulan yang lalu.


Diusap lagilah perut besarnya oleh Alena.


"Sehat-sehat didalam sini ya nak," ucap Alena pada janinnya yang disambut kedutan diperutnya yang membuat Alena tersenyum.

__ADS_1


Setelahnya Alena keluar dari ruang ganti tersebut, wanita itu kemudian mendudukan bokongnya dikursi meja rias.


Wanita itu mengoleskan skincare diwajahnya, lalu menyisir rambut panjangnya.


Ceklek.


Pintu kamar tersebut dibuka oleh seseorang tanpa mengetuk pintu lebih dulu membuat Alena merasa heran.


Ia jadi menduga-duga, bila ibu atau Elena yang masuk mereka pasti memanggil Alena lebih dulu dari luar, bila pelayan yang masuk, mereka pasti mengetuk pintu lebih dulu.


Lalu ini, orang itu membuka pintu kamar Kevin tanpa seizin dirinya.


Alena bangkit dari duduknya kemudian menoleh menghadap pintu masuk kamar tersebut.


Degg!!


Alena terkejut dengan seseorang yang masuk kedalam kamar itu, membuat dirinya meneteskan air mata.


"Kevin!" panggil Alena kemudian berjalan cepat kearah Kevin yang berdiri didekat pintu sembari tersenyum dan merentangkan tangannya.


Bila Alena tidak hamil tentu saja ia pasti akan berlari kearahnya, tapi saat ini dia sedang hamil besar, membuat Alena hanya mampu berjalan cepat.


Grepp.


Alena langsung memeluk tubuh kurus Kevin.


Namun perutnya yang besar menghalanginya untuk merangkul penuh tubuh pria itu.


Alena hanya bisa memeluk Kevin dari samping.


Hiks hiks


Wanita itu menangis, menangis bahagia atas kepulangan suaminya.


"Sstt, kenapa nangis? Apa kamu tidak suka aku pulang?," tanya Kevin setelah mengurai pelukan Alena.


Wanita itu menggelengkan kepalanya sembari menangis.


"Bukan itu. Aku bahagia sekali kamu sudah pulang Kevin. Aku merindukan kamu. Selama ini aku hanya bisa melihatmu dari jendela, hiks. hiks." ucap Alena masih menangis.


Kevin mengusap air mata Alena menggunakan kedua jempol tangannya.


"Maafkan aku Al, sudah memperlakukanmu dengan buruk. Aku menyesal. Aku mencintai kamu, Alena," ucap Kevin kemudian menyambar bibir sexy istrinya, mellumatnya perlahan dan semakin dalam.


Keduanya saling merindukan satu sama lain membuatnya hampir melakukan sesuatu yang lebih jauh dari itu.


"Ehemm," deheman Reyhan mampu menyadarkan Alena dan Kevin, bila pintu kamar belum ditutup.


Alena melepaskan ciuman tersebut lebih dulu.


Pipinya sudah merona, merah seperti tomat. Alena malu sekali dilihat oleh orang-orang disana dirinya sedang berciuman dengan Kevin.

__ADS_1


__ADS_2