Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 34 Disalahkan


__ADS_3

Diana berlari menyusuri lorong rumah sakit agar cepat sampai ditempat Kevin direhab.


Setibanya disana ternyata ada Andrian yang sedang berdiri didepan jendela.


Ia merasa gagal menjadi ayah. Terlebih lagi ia nyaris terlambat membawa Kevin kerumah sakit.


"Mas," panggil Diana pada Andrian mantan suaminya.


Andrian menoleh pada Diana yang memanggil dirinya, namun hanya menoleh.


Pria itu tidak menjawab panggilan Diana.


"Bagaimana Kevin bisa seperti ini?," tanya Diana seolah ia menyalahkan Andrian.


Andrian tidak menanggapi pertanyaan Diana. Ia kembali menatap jendela kaca dimana ia bisa melihat Kevin yang sedang tertidur karena kelelahan.


Dokter Azka tadi menjelaskan padanya, apabila didalam darah Kevin mengandung banyak zat kimia dari sisa obat yang dikonsumsi pria itu, maka kemungkinan untuk sembuh membutuhkan waktu yang lama.


'Semoga kamu masih bisa disembukan, Vin,' lirih Andrian didalam hati.


Diana juga ikut melihat pada jendela yang sedang ditatap Andrian.


Hatinya terasa diremat saat ia melihat putranya seperti itu.


Wanita paruh baya itu bahkan meneteskan air matanya.


"Kevin mas," ucap Diana.


Andrian masih diam tidak mengeluarkan suaranya.


"Mas ayo bicara, Kenapa Kevin bisa seperti ini?," tanya Diana menuntut penjelasan dari Andrian.


"Ini karena perceraian kita," jawab Andrian tercekat.


"Harusnya Kevin itu tinggal bersama ku, bukan denganmu. Kamu tidak becus mengurusnya," ucap Diana menyalahkan Andrian.


Andrian kini menatap nyalang pada mantan istrinya yang menyalahkan dirinya.


"Kamu pikir, bila Kevin tinggal bersamamu ia akan baik-baik saja? Tidak Di! Kevin bahkan bisa jauh lebih buruk dari ini!," ucap Andrian.


Kini kedua orang tua Kevin hanya bisa saling menyalahkan satu sama lain.


Mereka tidak ada yang menyadari kesalahan masing-masing.


Hal itu juga yang menyebabkan kedua orang tua itu bercerai.


"Maaf Pak, Bu, mohon untuk tidak membuat kegaduhan," tegur Perawat yang kebetulan lewat disana.


Kedua orang tua Kevin itu kini diam tidak ada yang bicara, hingga akhirnya Andrian pergi dari sana.


"Mau kemana kamu mas?," tanya Diana yang mengejar Andrian.


Andrian tidak menjawab pertanyaan Diana, ia terus melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit.


Pria paruh baya itu memilih untuk membesuk Alena yang tadi kecelakaan.


"Mas," panggil Diana, namun Andrian enggan untuk menjawab.


Hingga akhirnya pria itu tiba didepan ruang rawat Alena.

__ADS_1


"Siapa yang dirawat disini mas?," tanya Diana.


Andrian masih tidak menjawab pertanyaan Diana. Pria itu mengetuk pintu ruangan Alena yang segera dibukakan oleh Elena disana.


"Silahkan masuk Pak," ucap Elena mempersilahkan Andrian masuk.


Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar rawat Alena.


Diana masih berdiri didepan pintu karena bingung.


"Maaf ibu siapa?," tanya Elena.


Diana yang angkuh menatap Elena dari atas hingga bawah, barulah ia mau bicara.


"Saya mantan istrinya Andrian," ucap Diana.


"Oohh, ibu pasti mamahnya Kevin ya?," tanya Elena.


"Kamu kenal Kevin?," tanya Diana sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Kenal Bu," jawab Elena yang membuat Diana semakin bingung.


Anaknya itu tidak pernah dekat dengan wanita, tapi kenapa wanita didepannya itu seperti sangat mengenal Kevin.


"Lalu untuk apa Andrian kemari?," tanya Diana.


Elena menggaruk kepalanya yang tidak gatal ia bingung untuk menjelaskannya.


"Sebaiknya anda masuk saja, Bu," ucap Elena.


Diana yang masih bingung, akhirnya masuk kedalam ruang rawat Alena.


Melainkan ada beberapa orang lain yang tidak ia kenali.


Diana bisa melihat Andrian sedang berdiri tidak jauh dari brangker seseorang mirip wanita yang menyapanya diluar kamar rawat.


Wanita itu terus melangkahkan kakinya ikut mendekati brangker tersebut.


Mayang dan Reyhan yang melihat Diana masuk hanya mampu saling pandang seolah bertanya 'siapa?' dari caranya memandang.


Sedangkan Alena yang masih tidak bisa menerima hubungannya dengan Satria berakhir hanya diam saja.


"Bagaimana keadaanmu, Al?," tanya Andrian namun Alena tidak menjawabnya.


Wanita itu bahkan memalingkan wajahnya.


Elena yang baru masuk lagi keruangan itu merasa tidak enak dengan Andrian yang diacuhkan oleh Alena.


Oleh karenanya ia yang memberi jawaban atas pertanyaan dari Andrina.


"Alena butuh banyak istirahat Pak, kecelakaan yang tadi ia alami mengakibatkan Alena pendarahan. Alena tadi nyaris keguguran," ucap Elena menjelaskan.


"Alena hamil?," tanya Andrian.


"Iya Pak, Alena hamil," jawab Elena.


Sedangkan orang yang dibicarakan itu masih memalingkan wajahnya.


Mendengar wanita yang sedang terbaring dibrangker sedang hamil, tentu saja mengejutkan Diana.

__ADS_1


"Kamu menghamilinya, mas?," tanya Diana dengan tatapan tak percaya.


"Bukan. Dia istrinya Kevin," jawab Andrian pada Diana namun tidak menatap wanita itu.


"Istri?!. Kevin sudah menikah? Kenapa aku tidak diberitahu, kenapa mas?," tanya Diana menuntut.


Belum sempat Andrian menjawab, namun ia sudah dihampiri oleh Reyhan.


"Maaf Pak, Bu, sebaiknya selesaikan masalah kalian diluar. Disini Alena butuh istirahat," ucap Reyhan.


Andrian menganggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Reyhan.


Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat tersebut.


Sedangkan Diana, beralih menatap Alena yang terbaring lemah diatas brangker.


"Apa kamu benar istrinya Kevin?," tanya Diana.


Alena yang memalingkan wajahnya perlahan menoleh pada seseorang yang mengajaknya bicara.


"Iya," jawab Alena singkat.


"Saya tidak tahu alasannya kenapa saya tidak diberitahu saat Kevin menikah. Tapi kamu sebagai istrinya seharusnya bisa mencegah agar Kevin tidak sampai menjadi peccandu," ucap Diana.


Degg!!.


Bukan hanya Alena saja yang tersentak dengan ucapan Diana. Melainkan semua orang yang berada diruang rawat tersebut.


Andrian yang sudah hampir sampai dipintu keluar juga segera menghentikan langkah kakinya.


"Peccandu?," tanya Alena.


"Iya. Dia_," ucapan Diana terpotong karena Andrian bersuara.


"Cukup Di!," ucap Andrian meninggikan suaranya.


Semua orang sudah sepakat untuk menunda memberitahukan kabar ini pada Alena, bahkan Andrian yang tidak tahu kesepakatan itu juga akan menundanya karena kondisi Alena yang lemah.


Tapi, Diana justru memberitahu lebih awal, disaat Alena masih lemah.


Belum lagi ucapan Diana seolah Kevin menjadi pecandu karena Alena.


Andrian yang geram dengan tingkah mantan istrinya segera menarik lengan wanita itu keluar dari ruangan Alena.


"Lepas mas! Apa-apaan sih kamu," ucap Diana tapi Andrian tidak melepaskan cekalan tangannya meski Diana meminta untuk dilepaskan.


Pria paruh baya itu membawa Diana ketaman rumah sakit.


Setelah tiba disana, barulah Andrian melepaskan cekalan tangan itu.


"Kamu tidak pernah berubah, Di. Cobalah intropeksi diri, jangan terus menyalahkan orang lain," ucap Andrian.


"Aku menyesal sudah memberi tahukan tentang Kevin padamu," ucap Andrian lagi.


Setelahnya pria paruh baya itu pergi dari sana meninggalkan Diana yang diam membisu.


Andrian melangkahkan kakinya untuk masuk lagi kedalam rumah sakit.


Ia benar-benar tidak enak pada Alena dan keluarganya.

__ADS_1


Pria itu memilih untuk mendatangi lagi kamar rawat Alena.


__ADS_2