
"Bagaimana kondisi Alena dok?," tanya Satria pada dokter yang menangani Alena.
"Pasien baik-baik saja, dia hanya mengalami pendarahan. Beruntung anda sebagai suami sangat sigap, sehingga janinnya bisa diselamatkan," ucap dokter tersebut.
JEDERR!!
Kabar itu membuat Satria serasa disambar petir.
Pria itu bahkan memundurkan kakinya.
Meski ia sudah mencurigai Alena selingkuh, tapi ia tidak pernah menyangka bila Alena tengah hamil.
"Ja-janin?," tanya Satria tergagap.
"Betul pak. Janin yang sedang dikandung pasien baru berusia 3 minggu, sehingga saat tadi terkena benturan, pasien mengalami pendarahan," ucap dokter tersebut.
Kini wajah Satria berubah pucat.
Hamil?
Alena Hamil?
Satria terdiam kaku ditempatnya, ia bahkan tidak sadar bila dokter yang tadi menangani Alena sudah pergi.
Ceklek.
Pintu ruangan tersebut terbuka oleh perawat yang mendorong brangker Alena untuk dipindahkan keruang rawat.
Alena yang terbaring tidak sadarkan diri, didorong oleh dua perawat melewati Satria yang masih berdiri kaku.
"Maaf Pak, sebaiknya bapak ikut kami keruang rawat istri bapak," ucap salah satu perawat pada Satria.
Satria tidak mendengarkan perawat yang sedang berbicara.
Seisi kepalanya hanya berputar-putar dengan ucapan dokter tadi.
Karena tidak mendapat jawaban dari Satria, perawat itu segera menyadarkan pria itu.
"Apa bapak mendengar saya?," tanya perawat tersebut seraya melambaikan tangannya didepan wajah Satria.
"Iya sus," ucap Satria tersadar.
"Sebaiknya bapak ikut kami keruang rawat istri bapak," ucap lagi perawat itu.
"Baik Sus," ucap Satria.
Dengan tubuh lemas seperti tak bertenaga, Satria melangkahkan kakinya mengikuti perawat menuju ruang rawat Alena.
Setibanya didepan pintu ruang rawat Alena, perawat itu segera membukakan pintu untuk Satria, agar pria itu masuk.
Ceklek.
"Silahkan masuk Pak," ucap perawat tersebut mempersilahkan Satria masuk.
Satria mengangguk. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar rawat Alena.
Didalam ruangan itu hanya ada Satria dan Alena. Sedangkan perawat yang menangani Alena tadi sudah pergi dari sana.
Satria menatap nanar pada Alena yang terbaring disana.
Ia teringat dengam saat tadi Alena kecelakaan.
__ADS_1
Darah yang bersimbah hanya dibagian bokong dan paha Alena, yang ternyata wanita itu mengalami pendarahan.
Satria beralih menatap baju yang ia kenakan, saat ini kotor oleh darah Alena.
Pria itu kembali menatap pada Alena, tepatnya perut Alena yang masih rata.
"Anak siapa yang sedang kamu kandung, Al?," tanya Satria dengan lirih.
Hatinya sakit sekali, kekasihnya hamil benih pria lain. Ia tidak sanggup menatap Alena.
Setiap kali ia melihat wanita itu, rasa sakit dihatinya semakin dalam.
Satria ingin pergi dari sana tapi tidak bisa juga ia lakukan, karena tidak ada yang menunggu Alena.
Saat ini Satria hanya mampu termenung, duduk diam disofa ruang rawat Alena.
Pria itu kemudian menghubungi Reyhan, Kakak laki-laki Alena sekaligus sahabatnya.
Didering kedua panggilan itu sudah dijawab oleh Reyhan.
"Hallo Sat," Ucap Reyhan yang ada disebrang telepon.
"Rey, Alena kecelakaan. Dia ada dirumah sakit," ucap Satria dengan tercekak sembari menahan rasa sesak didadanya.
"Kecelakaan?!," tanya Reyhan dengan terkejut.
"Iya Rey, cepatlah datang kemari," ucap Satria.
Panggilan telepon berakhir. Satria menunggu keluarga Alena datang, baru setelahnya ia akan pergi sebelum Alena sadar.
Tapi ternyata Alena sadar lebih dulu sebelum keluarga wanita itu datang.
Alena mengerjapkan matanya pelan, kemudian menatap sekeliling ruang rawatnya.
Alena merasa lega, melihat kekasihnya masih bersedia menunggunya disana.
"Mass" panggil Alena.
Satria yang mendengar dirinya dipanggil oleh Alena, segera bangkit dari duduknya.
Lalu menghampiri Alena yang terbaring dibrangker rumah sakit.
"Kamu salah paham mas, aku bisa jelaskan semuanya," ucap Alena.
"Tidak perlu kamu jelaskan Alena. Kehamilanmu itu sudah membuktikannya," ucap Satria menatap nanar pada Alena.
Degg!!
Alena tersentak dengan ucapan Satria.
"Ha-hamil? A-aku hamil?," tanya Alena sembari menggelengkan kepalanya.
Ia tidak ingin hamil, ia ingin tetap bersama Satria.
"Iya. Kamu hamil Alena." ucap Satria.
Alena terus menggelengkan kepalanya dengan air mata sudah berderai.
Ia menolak kenyataan dirinya tengah hamil
"Benih siapa yang kamu kandung, Alena?," tanya Satria, namun Alena justru diam dan hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jawab Alena!. Siapa selingkuhanmu itu?!," tanya Satria tegas.
"Aku tidak menginginkannya mas," ucap Alena.
"Tapi kenyataannya, janin itu ada dalam kandunganmu," ucap Satria.
"Mas dengarkan aku, aku bisa jelaskan," ucap Alena.
Satria diam ia tidak menjawabnya. Hal itu diartikan oleh Alena bila Satria mengizinkan dirinya untuk bicara.
Alena segera menceritakan semuanya, bila dirinya diminta Andrian selaku pemilik sekolah untuk menikah dengan putranya.
Bila ia setuju, ia mendapat imbalan berupa yayasan pendidikan milik Andrian yang akan diberikan padanya.
Alena menyetujuinya karena pernikahan itu hanya sampai Kevin lulus sekolah dan menjadi CEO.
Lalu setelahnya ia akan bercerai dengan Kevin dan menikah dengan Satria.
Mendengar penjelasan Alena Satria tersenyum kecut.
"Kamu pikir aku bisa menerima kamu setelah ini?," tanya Satria.
"Bukannya kamu mencintai aku, mas?. Kamu pasti bisa menerima aku mas. Aku mohon jangan akhiri hubungan kita, aku sangat mencintai kamu, mas," mohon Alena dengan wajah pucatnya.
"Ini bukan hanya tentang kita Al. Tapi juga tentang anakmu. Anakmu adalah bukti penghianatanmu," ucap Satria kemudian memalingkan wajahnya.
Ia enggan menatap wajah wanita yang telah menghianatinya.
"Mas, aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaikinya," ucap Alena.
"Tidak Al. Sekali berhianat tetaplah berhianat, apapun alasannya," ucap Satria dengan menekankan kalimatnya, kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu ruang rawat Alena.
Setibanya disana ia membuka pintu tersebut dan sudah ada Elena yang berdiri didepan pintu.
Elena rupanya sudah cukup lama berdiri disana, ia ingin masuk kedalam ruangan Alena namun ia urungkan, karena didalam ruangan itu ada Satria dan Alena yang sedang berbicara serius.
Elena mendengar semua pembicaraan Satria dan Alena didalam sana.
Satria yang sudah membuka pintu segera pergi dari sana. Kebetulan saudara dari mantan kekasihnya sudah datang sehingga ia tidak perlu mengkhawatirkan wanita itu lagi.
Satria memutuskan untuk pergi keluar kota saat ini juga.
Setelah kepergian Satria dari ruang rawat Alena, Elena segera menghampiri saudara kembarnya.
Alena duduk lemah dibrangker dengan wajah pucatnya dan air matanya yang berderai.
Hiks. Hiks.
"El," panggil Alena.
Elena yang dipanggil oleh Alena segera mendudukan bokongnya ditepi brangker, kemudian memeluk tubuh lemah Alena.
"Aku sudah kehilangan dia , El. hiks hiks," ucap Alena dipelukan saudaranya.
"Aku menyesal El, hiks hiks," lirih Alena lagi disela-sela menangisnya.
Elena yang memeluk Alena juga tak kuasa menahan tangisnya. Ia juga ikut menangis bersama Alena.
Cukup lama mereka menangis bersama hingga akhirnya Alena terlelap karena lelah.
Elena segera membaringkan tubuh saudaranya dibrangker, kemudian menghapus jejak air mata di pipi Alena dan juga dipipinya.
__ADS_1
"Inilah resiko dari keputusan yang sudah kamu ambil, Al," ucap Elena menatap iba pada saudaranya.