
"Apa ibu baik-baik aja?," tanya Reyhan sembari menyentuh bahu ibunya membuat Mayang tersadar dari syoknya.
Wanita itu menatap Reyhan yang ada disebelahnya.
"Kevin pecandu?," tanya Mayang pada Reyhan.
Ia masih tak percaya bila putrinya menikah dengan seorang pecandu.
"Kita berdo'a saja semoga Kevin bisa disembuhkan," ucap Reyhan pada Mayang.
Wanita paruh baya itu tidak mampu lagi bicara.
Ia kecewa sekali pada pilihan anaknya.
Ia beralih menatap Andrian yang berdiri di depan jendela kamar perawatan Kevin.
"Kalau tahu dari awal Kevin seorang pecandu, ibu tidak akan sudi merestui Alena menikah dengannya!," ucap Mayang sedikit meninggikan suaranya sehingga Andrian bisa mendengar ucapannya.
"Bu," tegur Reyhan, tapi Mayang tidak mengherani teguran dari putranya itu.
Mayang membuang muka, ia enggan melihat pada Andrian.
Reyhan yang merasa tidak enak dengan Andrian segera menghampiri pria paruh baya itu.
"Maaf atas ucapan ibu saya, Pak. Beliau masih syok," ucap Reyhan.
"Tidak apa-apa," ucap Andrian sembari menatap Reyhan sejenak kemudian beralih kembali menatap putranya yang sedang meronta-ronta didalam ruangan itu.
Reyhan kemudian pamit pada Andrian, untuk membesuk Alena.
Sebelum pergi Reyhan lebih dulu melihat adik iparnya dari jendela.
Lalu setelahnya pria itu mengajak ibunya pergi dari sana.
Reyhan menggenggam tangan ibunya yang basah karena keringat dingin.
Ibunya ini benar-benar terpukul dengan kenyataan bila Alena menikah dengan seorang pecandu.
Andrian yang ditinggal sendiri disana segera menghubungi Diana, mamah kandung Kevin.
"Tumben sekali kamu menghubungiku mas?," tanya Diana heran.
"Kevin kecanduan," ucap Andrian.
Hanya mendengar satu kata 'Kecanduan' Diana sudah bisa menduga kearah mana Andrian akan bicara.
"Dimana sekarang dia, mas?," tanya Diana khawatir.
"Direhab dirumah sakit," jawab Andrian.
Diana yang mendengar kabar itu segera bersiap untuk melihat bagaimana kondisi anak semata wayangnya.
Setelah memberi tahukan kabar pada Diana, Andrian dipanggil oleh dokter ahli yang khusus menangani pengobatan Kevin.
Andrian diminta keruangan dokter itu.
Setibanya disana ia langsung diberi pertanyaan oleh dokter Azka namanya.
"Sudah berapa lama Kevin memakai obat itu?," tanya dokter Azka.
"Kurang tahu tepatnya kapan, tapi satu bulan yang lalu saya pernah memergokinya memakai obat itu," ucap Andrian.
"Kenapa anda baru membawanya kemari?," tanya dokter Azka.
"Iya. Ini salah saya. Seharusnya saat itu, saya langsung membawanya kerumah sakit," jawab Andrian menyesal.
"Semoga saja Kevin masih bisa disembuhkan ya, Pak," ucap dokter Azka.
__ADS_1
Mendengar ucapan dokter Azka membuat Andrian takut. Takut bila Kevin tidak bisa ditolong lagi.
"Tolong anak saya dok!," pinta Andrian.
"Akan saya usahakan," ucap dokter Azka.
Selanjutnya Andrian dijelaskan oleh dokter Azka tahap-tahap yang harus dilalui Kevin agar bisa sembuh.
Ditempat berbeda tepatnya diruang rawat Alena.
Reyhan dan Mayang tiba disana segera masuk kedalam ruang rawat itu.
Disana sudah ada Elena yang duduk ditepi brangker.
Sedangkan Alena sendiri masih tertidur nyenyak karena efek obat yang diberikan dokter padanya.
"Bagaimana keadaan Alena, El?," tanya Mayang begitu masuk kedalam ruang rawat itu.
"Alena baik-baik aja Bu, tadi dia hanya pendarahan. Ternyata Alena hamil," ucap Elena.
"Hamil?," tanya Mayang memastikan bila dirinya tidak salah dengar.
"Iya Bu, Alena hamil," ucap Elena seraya tersenyum.
Ini kabar bahagia baginya, karena ia akan mendapatkan keponakan dari Alena.
Mayang dan Reyhan saling pandang, mereka kemudian sama-sama menggeleng.
"Kenapa?," tanya Elena heran.
Mayang segera mengajak Elena menjauh dari Alena yang sedang istirahat.
Wanita itu membawa putrinya keluar dari ruang rawat itu.
Mereka berbicara didepan ruang rawat Alena.
Hemmpp, hufftt.
Sebelum bicara Mayang menarik nafasnya lebih dulu kemudian menghembuskannya.
"Entah ibu harus senang atau sedih mendengar kabar Alena hamil," ucap Mayang semakin membuat Elena penasaran.
"Memangnya kenapa, Bu?," tanya Elena lagi.
"Kevin ternyata pecandu," jawab Mayang.
"Apa!, lalu dimana dia sekarang?," tanya Elena.
"Sekarang dia sedang direhab. Ibu bingung harus memberi tahu Alena atau tidak," ucap Mayang.
"Jangan sekarang, Bu," ucap Elena sembari menggelengkan kepalanya.
Alena masih terpuruk karena hubungannya dengan Satria harus berakhir.
Ditambah lagi ia hamil benih dari pria yang tidak ia cintai.
Lalu sekarang ini suaminya, ayah dari anaknya sedang direhab.
Elena tidak sanggup mengatakannya. Alena pasti syok mendengar kabar ini.
Ia pasti lebih terpuruk lagi.
"Tapi Alena harus tahu El, Kevin itu suaminya," ucap Mayang.
"Iya Bu, tapi jangan sekarang," pinta Elena.
"Kenapa?," tanya Mayang.
__ADS_1
Elena bingung menjelaskannya pada Mayang. Akhirnya ia beralasan karena Alena baru saja kecelakaan dan sekarang masih lemah.
Mayang akhirnya setuju untuk menunda memberitahu Alena bila Kevin direhab.
Kedua wanita beda usia itu kemudian masuk kembali keruang rawat Alena.
Disana ternyata Alena sudah bangun.
Wanita itu sedang dibantu Reyhan minum.
"Kamu sudah bangun Al?," tanya Mayang.
"Sudah bu," jawab Alena sembari menganggukan kepalanya.
Mata Alena mengedar keseluruh ruangan itu, seperti mencari seseorang kemudian menatap pada saudara kembarnya.
Elena yang paham dengan itu segera menggelengkan kepalanya.
Wanita itu tahu, pasti Alena mencari Satria.
Tapi pria yang dicari oleh Alena itu tidak ada disana, sehingga Elena menggelengkan kepalanya.
Elena juga tidak tahu kemana tadi Satria pergi. Entah akan kembali atau tidak.
"Kenapa Al? Kamu cari siapa?," tanya Mayang.
Alena tidak menjawab, ia hanya menggeleng kemudian memalingkan wajahnya karena menangis.
Mayang yang melihat Alena memalingkan wajahnya segera menghampiri anaknya.
Wanita paruh baya itu meraih wajah putrinya itu.
Dilihat oleh Mayang Alena sedang menangis.
"Kenapa kamu nangis nak?," tanya Mayang
Alena menggeleng lagi, ia tidak mungkin menceritakan tentang Satria pada ibunya.
"Tenang nak, janin kamu tidak apa-apa. Kamu hanya butuh istirahat total nanti juga sembuh," ucap Mayang.
Mendengar ucapan Mayang membuat tangis Alena pecah.
Hiks hiks
'Aku tidak menginginkan janin ini, aku hanya ingin bersama dengan mas Satria' batin Alena.
Mendapati tangis Alena yang semakin kencang, Mayang segera menenangkan lagi.
"Sstt, apa kamu kangen dengan Kevin?," tanya Mayang.
Yang ada dipikiran Mayang hanya itu.
Alena menangis karena ia pikir anaknya itu merindukan suaminya, pasalnya tadi Alena mencari-cari seseorang yang menguatkan dugaannya, bila Alena mencari Kevin
"Kalau kamu mau bertemu Kevin. Kamu harus sembuh dulu ya. Kamu harus istirahat total untuk beberapa hari kedepan," ucap Mayang.
Alena tidak menjawab dan hanya menangis.
Hiks hiks.
Ia sama sekali tidak mencari Kevin. Ia bahkan tidak terfikirkan pada pria itu.
Yang ada dipikirannya hanyalah Satria.
Kemana pria itu pergi?
Apakah dia akan kembali?
__ADS_1
Bukan Kevin dan juga bukan janin yang ada didalam kandungannya.