Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 38 Aku Merindukannya


__ADS_3

Hari ini Alena sudah diperbolehkan untuk pulang lerumah, karena tubuh serta kandungannya sudah cukup kuat untuk menjalani aktifitas seperti biasanya.


Alena diminta Mayang untuk tinggal dirumahnya, tapi wanita itu menolak.


Alena akan tetap tinggal dirumah mertuanya, karena ia ingin menunggu kepulangan Kevin dirumah itu.


Sebelum meninggalkan rumah sakit. Alena menyempatkan diri untuk membesuk Kevin lebih dulu.


Meski tidak bisa berbicara secara langsung dengan pria itu, tapi Alena sudah cukup puas bisa melihat kondisi Kevin dari jendela.


Alena berdiri tepat didepan jendela kaca yang memperlihatkan Kevin sedang meraung kesakitan karena pemutusan zat 'sakau'.


"Cepat sembuh Vin. Aku tunggu kamu pulang kerumah," gumam Alena berpamitan pada Kevin yang tidak bisa mendengar dirinya pamit.


Setelah berpamit, Alena segera diantar pulang oleh Mayang dan Elena kerumah mertuanya.


Andrian sendiri sudah sejak tadi menunggu kedatangan menantunya dirumah.


Setibanya dirumah mertuanya, Alena segera diantar oleh Mayang dan juga Elena masuk kedalam kamarnya.


Kedua wanita beda usia itu menemani Alena dikamar itu, hingga malam tiba.


Mereka semua memutuskan makan malam bersama terlebih dahulu, barulah Mayang dan Elena akan pulang.


Setelah selesai makan malam, pelayan membawakan koper milik Andrian keruang tamu.


"Saya taruh diruang tamu Pak, kopernya," ucap pelayan tersebut.


"Iya, taruh disana saja," ucap Andrian.


Alena kebingungan, kenapa pelayang membawakan koper milik mertuanya.


Hingga akhirnya kebingungan Alena itu terjawabkan oleh Andrian yang menjelaskan.


"Bu Mayang, Alena, Elena. Sejujurnya saya ini berat untuk meninggalkan Kevin yang sedang sakit. Tapi apa boleh buat, saya malam ini harus pergi keluar negeri untuk beberapa bulan kedepan, karena kakeknya Kevin juga sedang sakit keras disana. Selain mengurus kakeknya Kevin, saya juga harus mengurus Perusahaan pusat yang berada disana karena tidak ada yang mengelolanya. Saya minta tolong kabari terus saya mengenai perkembangan kondisi Kevin," ucap Andrian.


Kakek Kevin yakni ayah dari Andrian memang berada diluar negeri dan hanya tinggal seorang diri disana.


Oleh karenanya Andrian sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya yang sekarang sedang sakit keras.


"Iya Pak," "Iya Pah," jawab Mayang dan Alena hampir bersamaan.


Setelahnya Andrian bangkit dari tempat duduk tersebut untuk segera berangkat kebandara.


Setelah kepergian Andrian Mayang menatap putrinya yang tengah mengandung cucunya itu.


Saat ini mereka tengah berada diruang keluarga.


"Alena, sebaiknya kamu pulang kerumah ibu saja ya nak," ucap Mayang menyarankan.


"Tidak Bu, aku ingin menunggu kepulangan Kevin dirumah ini," ucap Alena.


"Tapi Al, kamu dirumah ini nanti sendirian, tidak ada Kevin maupun Pak Andrian," ucap Mayang.

__ADS_1


"Aku tidak sendirian Bu, dirumah ini banyak para pelayan yang akan menemani aku," ucap Alena.


Hufftt.


Wanita paruh baya itu menghela nafasnya. Ia sudah kehabisan cara agar putrinya mau tinggal dirumahnya.


Tapi Alena tetap bersikukuh ingin tinggal dirumah mertuanya.


Jadi dengan berat hati, Mayang meninggalkan Alena dirumah itu.


Mayang dan Elena pulang dari rumah Andrian pukul setengah sembilan malam.


Setelah mengantar ibu dan saudara kembarnya sampai teras rumah, Alena segera kembali kekamarnya.


Belum sempat ia membuka pintu kamar, langkah kakinya terhenti ditengah-tengah antara pintu kamar Alena dan pintu kamar Kevin.


Alena akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamarnya, ia memilih masuk kedalam kamar Kevin.


Ceklek.


Beruntung, pintu kamar Kevin tidak dikunci sehingga memudahkannya untuk masuk kedalam kamar itu.


Begitu pintu kamar Kevin terbuka, Alena segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar itu dan menutup pintu.


"Kamarmu wangi aroma tubuhmu, Vin," gumam Alena.


Alena menghampiri ranjang dimana tempat suaminya tidur.


Dienduslah aroma tersebut hingga Alena menemukan kaos hitam milik suaminya diranjang.


Diraihlah kaos tersebut oleh Alena dan ia hirup dalam-dalam.


"Meski sudah empat hari tapi aroma tubuhmu masih menempel disini," gumam Alena.


Wanita itu perlahan naik keatas ranjang tersebut, kemudian merebahkan tubuhnya disana, meletakan kepalanya dibantal yang biasa pria itu tiduri.


"Aku jadi merindukanmu, Vin," gumam Alena.


Wanita itu memeluk kaos milik Kevin dan sesekali menciuminya hingga dirinya terlelap dengan sendirinya.


Pagi datang.


Alena membuka matanya tepat pukul enam pagi.


Wanita itu bangkit dari tempat tidur tersebut kemudian keluar dari kamar Kevin.


Baru satu langkah ia keluar dari kamar tersebut, tiba-tiba perutnya bergejolak hebat.


Alena segera berlari kekamarnya, kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Hoek.. Hoekk..


Alena memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


Disela-sela ia yang sedang muntah, Alena baru teringat bila dirinya tengah hamil.


"Apa ini yang dinamakan morning sickness, ya," gumam Alena.


Hoekk.. Hoekk..


Cukup lama dirinya muntah membuat tubuhnya serasa lemas, padahal hari ini Alena akan berangkat mengajar lagi.


"Bagaimana aku bisa kesekolahan bila lemas seperti ini," gumam Alena yang sudah lemas terduduk dilantai.


Tidak lama kemudian pintu kamar Alena dibuka oleh Elena yang baru saja tiba.


Elena sengaja mendatangi Alena kerumah Andrian karena diminta ibunya untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.


"Alena," panggil Elena.


Alena yang sedang berada dikamar mandi tidak mendengar bila saudaranya memanggil dirinya.


"Alena!," panggil Elena lagi sedikit keras.


"Aku dikamar mandi, El," sahut Alena yang sedang berada didalam kamar mandi.


Elena segera menghampiri pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Dilihat olehnya, ternyata Alena sedang terduduk dilantai.


"Ya ampun Al, kamu kenapa?," tanya Elena khawatir dan langsung masuk kedalan kamar mandi itu.


"Aku habis muntah, El. Rasanya tidak enak sekali," jawab Alena.


"Aku fikir kamu kenapa tadi. Muntah itu wajar bagi calon ibu yang tengah hamil muda," ucap Elena.


"Iya El, aku juga sudah mengiranya mungkin ini yang namanya morning sickness" ucap Alena yang diangguki oleh Elena.


"Ayo aku bantu bangun," ucap Elena yang diangguki oleh Alena.


Wanita itu membantu Alena bangkit dari terduduk dilantai, kemudian memapahnya ke arah ranjang.


"Aku tidak mau diranjang ini El, antarkan aku kekamar sebelah," pinta Alena.


Elena mengernyitkan keningnya merasa heran dengan permintaan Alena, namun ia tidak bertanya.


Alena diantarkan oleh Elena kedalam kamar sebelah dimana ia sudah menduga bila kamar tersebut adalah kamar Kevin.


Begitu masuk kedalam kamar Kevin, perut Alena yang mual itu sekertika mereda.


Ia menghirup aroma tubuh suaminya didalam sana yang membuatnya terasa nyaman.


"Entah kenapa El, aku suka sekali menghirup aroma kamar Kevin. Saat masuk kedalam sini, aku seperti bisa merasakan kehadirannya," ucap Alena yang kini sudah duduk diranjang.


"Itu namanya kamu merindukan dia, Al," ucap Elena.


"Iya El, aku merindukannya," ucap Alena kemudian meraih lagi kaos milik Kevin yang ia letakan diranjang.


Alena kembali memeluk kaos tersebut dan menghirup dalam-dalam aroma kaos tersebut.

__ADS_1


__ADS_2