
Setibanya dirumah.
Andrian meminta Kevin untuk mengajak Alena masuk kekamar. Namun Kevin tidak mengindahkan ucapan papahnya itu.
Begitu masuk kedalam rumah, Kevin segera menuju kamarnya tanpa mengajak Alena masuk bersamanya.
Alena bahkan membawa kopernya sendiri, mulai dari rumahnya tadi hingga tiba dirumah Kevin.
Pada akhirnya Andrian meminta pelayan untuk mengantarkan Alena kekamar Kevin.
"Bi Asih," panggil Andrian.
Bi Asih yang dipanggil namanya segera berlari menghampiri sang tuan.
"Iya tuan," ucap Bi Asih, setelah tiba dihadapan Andrian.
"Antarkan Alena kekamar Kevin," titah Andrian.
"Hah?" ucap Bi Asih tercengang.
Bi Asih kemudian melihat pada wanita cantik didepannya. Melihat dari atas sampai bawah.
Wanita cantik itu berambut coklat yang digerai kebelakang, memakai dress selutut serta heels yang tidak begitu tinggi.
Kemudian melihat pada tangan Alena yang masih memegang pegangan koper.
Dalam hatinya, ia sangat kagum dengan wanita didepannya itu.
"Ko malah bengong. Cepat antarkan Alena kekamar Kevin," titah Andrian lagi.
"Maaf tuan, Den Kevin kan laki-laki, sedangkan_" ucap Bi Asih terpotong oleh Andrian yang lebih dulu bicara.
"Dia istrinya Kevin," ucap Andrian, sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan pelayannya.
"Hah?" Bi Asih lagi-lagi tercengang.
Ia tidak tahu jika anak majikannya itu sudah menikah.
'Bukannya Den Kevin masih sekolah ya?' tanya Bi Asih, namun hanya dibatin saja. Ia tidak berani melontarkan pertanyaan tersebut pada majikannya.
"Bi," panggil Andrian lagi.
"Eh, maaf tuan," ucap Bi Asih. Ia baru sadar bila dirinya malah bengong lagi.
"Ayo non. Non, non siapa namanya?," tanya Bi Asih pada Alena. Ia lupa, padahal tadi Andrian sudah menyebutkan nama Alena.
"Alena Bi," ucap Alena.
"Ah, iya. Non Alena, mari ikut bibi," ucap Bi Asih.
Alena menganggukan kepalanya, ia kemudian mengikuti Bi Asih yang berjalan menuju kamar Kevin.
Kedua wanita beda usia itu menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua, dimana kamar Kevin berada.
Tidak lama kemudian mereka tiba didepan kamar Kevin.
"Ini non, kamarnya Den Kevin," ucap Bi Asih.
__ADS_1
Alena menganggukan kepalanya, kemudian maju mendekati pintu. Ia membuka pintu kamar Kevin, namun tidak bisa.
Ternyata kamar Kevin dikunci dari dalam. Alena menoleh pada Bi Asih yang masih menunggunya didepan pintu.
"Kenapa non? Dikunci?," tanya Bi Asih.
"Iya Bi, dikunci. Apa bibi punya kunci serepnya?," tanya Alena.
"Nggak ada non. Semua kunci serep kamar ini, sudah dibuang den Kevin, jadi cuma tinggal satu kunci yang ada didalam" ucap Bi Asih.
Alena tak menjawab lagi ucapan Bi Asih. Ia masih berfikir bagaimana caranya agar Kevin mau membukakan pintu.
'Ketuk' batin Alena sembari menganggukan kepalanya. Ia akan mencoba mengetuk pintu kamar Kevin.
Tok. Tok. Tok
"Kevin" panggil Alena.
Setelah mengetuk pintu dan memanggil Kevin. Alena segera berdiam, ia menempelkan telinganya dipintu. Ia ingin mendengarkan, Kevin yang menjawab dari dalam.
Namun cukup lama panggilan Alena tidak mendapatkan jawaban dari Kevin.
"Lagi apa sih dia?," Gumam Alena berbicara sendiri.
Alena tidak menyerah. Ia kembali mengetuk pintu kamar Kevin lalu memanggil lagi.
"Kevin, aku mau masuk!" teriak Alena.
Meski sudah berteriak namun Kevin tetap tidak membukakan pintu untuk Alena. Hingga tidak lama kemudian Alena dihampiri Andrian yang baru saja naik ke lantai dua.
Pria paruh baya itu sudah bisa menebak, bila Alena tidak dibukakan pintu oleh Kevin.
Ia jadi tidak enak pada Alena. Wanita itu sudah mengorbankan hidupnya untuk Kevin, namun justru anaknya memperlakukan Alena seperti itu.
"Iya, tidak apa-apa, Pak," ucap Alena.
"Pah. Mulai sekarang kamu juga panggil saya papah," ucap Andrian.
"Iya Pa-pah," jawab Alena, canggung.
Andrian menganggukan kepalanya, kemudian mengantarkan Alena kekamar kosong, disebelah kamar Kevin.
Tadinya, Alena ingin sekali segera memulai misinya untuk merubah Kevin, tapi justru dia tidak dibukakan pintu oleh pria itu.
Setibanya dikamar sebelah, Alena segera masuk kedalamnya. Ia merebahkan tubuhnya diranjang dengan terlentang.
Dilihatnya langit-langit kamar itu. Meski melihat langit-langit, namun pikiran Alena bukan disitu. Melainkan sedang memikirkan kekasihnya.
Alena meraba kasur untuk mencari tas yang ia letakan, disekitar tempat ia berbaring.
Setelah menemukan, ia segera merogoh isinya dan mengeluarkan ponsel didalamnya.
Dibukalah ponsel itu oleh Alena. Tampilan kunci layar pada ponselnya, yakni dirinya sedang dipantai difotokan oleh Satria seorang diri.
Begitu kunci layar dibuka. Terlihatlah foto Alena bersama Satria yang sedang merayakan ulang tahunnya ke-21, berarti foto satu tahun lalu.
Dalam foto itu, Alena sedang dikecup Satria pada pipi kirinya. Keduanya benar-benar sangat bahagia saat itu.
__ADS_1
Diusapnyalah foto itu oleh Alena.
"Mass," lirihnya.
Kring. Kring.
Kebetulan sekali, pria yang sedang ia rindukan menghubunginya.
Alena segera menjawab panggilan vidio dari Satria.
"Iya Mas," ucap Alena seraya tersenyum.
"Perasaanku tidak enak. Apa kamu baik-baik aja Al?," tanya Satria.
Deg.
Alena tersentak dengan ucapan Satria.
Iya.. Perasaan Satria tidak enak, tentu saja karena pria itu telah dihianati oleh Alena.
Alena sudah menikah dengan pria lain.
Astaghfirullahaladzim, batin Alena.
Wajah Alena seketika berubah.
"Al, ada apa? Ayo cerita," ucap Satria.
Mendengar Satria berbicara, Alena segera memasang lagi senyumannya.
"Tidak ada apa-apa mas. Aku baik-baik aja," ucap Alena
"Beneran kamu baik-baik aja?," tanya Satria lagi untuk memastikan.
"Iya mas, aku baik-baik aja," ucap Alena dengan yakin, sehingga membuat Satria disebrang sana merasa lega.
Pria itu memberi tahu Alena bila dirinya hendak pulang kejakarta akhir pekan dan akan menetap lagi dikota ini.
Pekerjaan Satria diluar kota sudah ia bereskan semuanya, jadi hanya tinggal memantau dari kantor pusat saja.
Alena tentu saja panik mendengar kabar itu. Ia harus bisa mengatur semuanya, agar Satria tidak tahu dirinya sudah menikah.
Panggilan vidio tersebut akhirnya berakhir. Alena kemudian membersihkan diri kekamar mandi, dan segera berpakaian.
Ia akan kekamar Kevin lagi dan mencoba membujuk pria itu untuk keluar kamar.
Semakin cepat Alena merubah Kevin, maka semakin besar kemungkinan Kevin bisa lulus sekolah.
Lalu setelah itu, ia akan berpisah dengan Kevin dan menikah dengan Satria.
Setelah selesai berpakaian. Alena segera menuju kamar Kevin. Disinilah Alena berdiri, tepat didepan kamar Kevin yang masih tertutup sejak tadi.
"Masih ditutup. Apa dari tadi dia nggak keluar ya," gumam Alena.
Alena kemudian mengetuk lagi pintu kamar Kevin, dan memanggil-manggil namanya.
Berulang kali ia lakukan, tapi tetap sama. Tidak ada jawaban, apalagi dibukakan pintu.
__ADS_1
Kevin yang berada didalam kamar tersebut tentu saja tidak menyahut, apa lagi membukakan pintu.
Saat ini pria itu sedang terbaring diranjang, sembari merasakan sensasi sesuatu yang baru saja ia gunakan.