Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 36 Menunggu Kepulanganmu


__ADS_3

Setibanya didepan ruang rehabilitas Kevin, Elena segera menghubungi saudara kembarnya melalui panggilan Vidio.


Didering pertama, Alena sudah langsung menjawabnya.


"Bagaimana kondisi Kevin, El?," tanya Alena begitu panggilan Vidio itu terhubung.


Elena mengarahkan kamera ponselnya menghadap belakang sehingga menyorot pada Kevin yang masih terlelap disana.


Alena bisa melihat Kevin yang sedang terlelap itu.


Bibir Kevin kering, kantung mata dibagian bawah matanya juga hitam.


Pria itu hanya terlelap beberapa menit saja sepanjang malam ini, dan baru saja terlelap beberapa menit yang lalu.


"Kamu bisa lihat sendirikan Al, dia kelelahan dan sekarang sedang tidur," ucap Elena pada saudaranya disebrang panggilan Vidio.


"Apa dia tadi malam tidak tidur El? Kenapa kantung matanya hitam sekali. Apa dia juga tidak minum El, kenapa bibirnya kering sekali?," tanya Alena yang mengkhawatirkan suaminya.


"Aku nggak tahu, Al" jawab Elena.


Tidak lama kemudian Andrian datang. Pria paruh baya itu bisa melihat Elena sedang melakukan Panggilan Vidio dengan menantunya.


Andrian juga melihat bila Elena mengarahkan kamera tersebut pada Kevin yang berada didalam sana.


"Pak Andrian kapan datang?," tanya Elena pada Andrian setelah menyadari kehadiran dari mertua saudaranya.


"Baru saja El," jawab Andrian yang bisa didengar Alena disebrang Panggilan Vidio itu.


Setelahnya Elena kembali keruang rawat Alena, karena tidak ada yang menemani wanita itu disana.


Setibanya disana ternyata Alena sudah ditemani Mayang yang membawakan sarapan untuk mereka.


"Kemari El, ayo sarapan dulu," titah Mayang.


"Iya Bu," jawab Elena kemudian menghampiri Mayang yang sedang membuka rantang makanan.


Elena duduk disofa ruangan itu kemudian memakan sarapan disana.


Sedangkan ibunya menghampiri Alena yang masih terbaring dibrangker sembari membawakan bubur.


Mayang menyuapi Alena dengan bubur itu sembari diiringi dengan pembicaran mengenai Kevin.


"Kamu memang sedang butuh suamimu untuk merawatmu Al. Tapi Kevin tidak mungkin melakukannya, karena dia sendiri juga sedang sakit. Kamu harus cepat sembuh, agar bisa mendukung Kevin untuk sembuh," ucap Mayang.


"Iya Bu," jawab Alena sembari menganggukan kepalanya.


Setelah sarapan, Alena dibantu Mayang dan saudara kembarnya untuk membersihkan diri.


Alena mengusap perutnya yang masih rata.


Sejak kemarin ia tahu kehamilan itu, baru kali ini ia mengusap perutnya.


Didalam kandungannya, ada janin dari benih seorang Kevin. Pria yang saat ini sedang menjalani Rehabilitasi.


Alena terdiam saat mengusap perutnya tersebut.

__ADS_1


Entah dirinya harus bahagia atau tidak dengan kehadiran janin tersebut.


Pasalnya ia jadi kehilangan pria yang ia cintai karena pernikahan ini.


Tapi Alena harap, dengan kehadiran janin yang sedang ia kandung itu bisa memotifasi Kevin agar bisa sembuh.


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian pasien yang bersih, Alena dibaringkan lagi dibrangker tersebut.


"Sampai kapan aku harus berbaring seperti ini terus?," tanya Alena pada ibu dan saudara kembarnya.


"Sampai lusa kamu harus benar-benar istirahat total," jawab Mayang.


"Tapi aku tetap boleh lihat Kevin kan?," tanya Alena.


"Boleh Al, nanti kamu akan ibu temani untuk melihat Kevin," jawab Mayang.


Elena yang berada disana jadi teringat dengan ucapan Andrian bila esok, Kevin akan melakukan tahap rehabilitasi medis (detoksifikasi).


Tahap ini pecandu akan diperiksa seluruh kesehatannya baik fisik maupun mental oleh dokter terlatih.


"Al, tadi Pak Andrian mengatakan bila Kevin besok akan dilakulan detoksifikasi," ucap Elena memberi tahukan pada Alena.


"Apa aku boleh melihat saat Kevin dilakukan detoksifikasi?," tanya Alena.


Elena dan Mayang saling pandang seolah menanyakan keputusan satu sama lain.


"Ibu, Elena apa aku boleh melihat proses itu?," tanya Alena lagi.


"Boleh Al, tapi hanya sebentar," ucap Mayang.


Keesokan harinya.


Tepat pukul 9 pagi, Kevin didatangi oleh dokter yang sudah terlatih dan berpengalaman menangani para pecandu seperti Kevin.


Alena dan keluarganya sudah sejak tadi berada didepan jendela untuk melihat bagaimana Kevin diperiksa.


Pria itu masih sama seperti kemarin, meronta dan berteriak.


Tapi hari ini lebih parah lagi, karena pria itu mengalami gejala putus zat 'sakau'.


PRANG!!.


PYARR!!.


BRAKK!!.


Kevin melempar apa saja yang ada didalam ruangan itu, sehingga ia harus ditahan oleh beberapa perawat pria disana.


"Kamu harus sembuh Kevin," ucap dokter tersebut.


"GUE NGGAK MAU SEMBUH!"


"GUE UDAH NYAMAN KAYAK GINI!"


"MANA OBAT GUE, GUE MAU OBAT ITU!"

__ADS_1


Teriakan Kevin yang sedang meraung didalam ruangan itu.


Ia berusaha melepaskan diri dari perawat yang memeganginya.


Tenaga Kevin tidak seperti sebelumnya, ia sudah hampir kehabisan tenaga karena sudah beberapa hari ini berteriak dan meronta.


Terlebih lagi ia tidak mau makan dan minum, membuat tubuh pria itu terlihat lebih kurus.


"Lihatlah kesana Kevin," ucap dokter itu sembari menunjuk pada jendela kaca yang memperlihatkan orang tua Kevin dan Alena serta keluarga wanita itu.


Dengan nafas yang tersengal, pandangan Kevin mengikuti kearah dokter tersebut menunjuk.


"Kamu lihatkan. Mereka semua itu menyayangi kamu, mengkhawatirkan kamu. Mereka juga ingin kamu sembuh. Terlebih lagi istrimu sedang hamil Kevin. Ia sangat berharap atas kesembuhanmu," ucap dokter tersebut.


Kevin perlahan melemaskan tubuhnya, membuat tibuh pria itu tidak setegang tadi.


Dalam benaknya, benarkah apa yang dikatakan dokter tersebut.


Benarkah mereka semua menyayangi ku?


Benarkah mereka semua mengkhawatirkan ku?


Benarkah Alena Hamil?


"Hamil?," tanya Kevin pelan.


"Iya Kevin istrimu sedang hamil. Sebelum saya masuk kemari dia mendatangi saya lebih dulu, meminta saya membantumu agar cepat sembuh," ucap dokter tersebut.


Kevin terdiam lagi. Tubuhnya sekarang lemas sekali. Ia bahkan nyaris ambruk, bila tidak sedang dipegangi oleh perawat.


"Kesembuhan itu harus datang dari keinginan dirimu sendiri Kevin. Kamu pasti akan mendapatkan kebahagian setelah ini. Diluar sana ada keluargamu dan istrimu yang sudah menunggu kepulanganmu," ucap dokter tersebut.


Setelah tahap pemeriksan itu selesai dokter dan perawat itu keluar dari ruang rehab Kevin.


Alena yang sejak tadi meninggalkan brangkernya untuk melihat proses itu segera dihampiri oleh perawat yang menangainnya.


"Maaf Bu Alena, anda harus istirahat lagi. Anda sudah terlalu lama berada disini," ucap perawat itu.


"Iya Sus," jawab Alena.


Wanita itu didorong lagi menggunakan kursi roda oleh Reyhan.


Kakak laki-laki Alena itu datang sebelum Kevin diperiksa.


Setibanya diruang rawat Alena. Wanita itu dibaringkan lagi dibrangkernya.


"Al, aku dan mas Reyhan kekantor dulu ya," pamit Elena.


"Iya El. Kalian hati-hati," ucap Elena.


Reyhan dan Elena akhirnya pergi kekantor karena hari ini ada meeting penting dengan kliennya.


Alena yang ditinggal bersama Mayang kini terlelap lagi.


Ia memang harus beristirahat total selama 4 hari, oleh karenanya besok ia baru diperbolehkan pulang.

__ADS_1


Alena sudah memutuskan untuk mulai mencintai Kevin, karena pria itu adalah suaminya, ayah dari janin yang sedang ia kandung.


__ADS_2