
"Mas, ada yang ingin aku bicarakan." ucap Alena pada Kevin.
Saat ini Alena dan Kevin sudah berada dirumah dan sedang duduk bersama diatas ranjang bersandar disandaran ranjang, sembari menyaksikan siaran televisi.
"Iya Sayang," ucap Kevin sembari menoleh pada istrinya yang sedang duduk disebelahnya.
Pria itu juga mengecilkan volume suara televisi agar bisa fokus berbicara dengan istrinya.
Setelah volume suara televisi itu dikecilkan oleh Kevin, Alena segara membuka pembicaraan.
"Aku tadi mendapat kabar bila Elena dan Satria akan menikah," ucap Alena.
"Lalu?" tanya Kevin singkat.
Jujur saja Kevin tidak suka bila istrinya membahas pria bernama 'Satria' yang berstatus mantan kekasih istrinya itu.
Terlebih lagi Alena mengatakan bila Satria akan menikah dengan Elena, yang membuat Kevin berpikir bahwa istrinya cemburu karena masih memiliki perasaan pada Satria.
"Kamu jangan salah paham dulu dong Mas, dengarkan dulu apa yang mau aku bicarakan," ucap Alena.
Alena tentu saja mengerti dengan tanggapan suaminya, yang hanya menanggapi singkat dan bernada ketus seperti itu.
"Ya sudah lanjutkan kamu mau bicara apa?" tanya Kevin.
"Janji ya kamu jangan marah kalau aku bahas Satria," ucap Alena.
"He'em," ucap Kevin.
"Setelah mengetahui bila aku menikah dengan orang lain, Satria pergi dan tidak ada kabarnya. Aku bahkan saat itu belum sempat minta ma'af padanya," ucap Alena.
"Bukannya dulu aku sudah menawarkan mu mencari keberadaan Satria bila kamu mau meminta ma'af. Tapi saat itu kamu sendiri kan yang menolaknya, dan mengatakan bahwa Satria sepertinya tidak ingin bertemu denganmu," ucap Kevin.
"Iya sih Mas," ucap Alena.
"Apa sekarang kamu ingin menemuinya dan meminta maaf padanya?" tanya Kevin.
"Iya Mas, aku mau minta maaf padanya. Besok malam, Satria akan datang kerumah ibu untuk membahas pernikahannya. Kita diminta ibu untuk turut hadir diacara itu. Aku pikir itu waktu yang tepat untukku meminta ma'af pada Satri," ucap Alena.
Kevin mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan istrinya. Meski berat untuk menyetujuinya, tapi pada akhirnya Kevin juga menganggukan kepalanya.
Alena tersenyum bahagia, karena Kevin mengizinkan dirinya untuk bertemu dengan Satria.
"Terimakasih Mas," ucap Alena kemudian mengeratkan pelukan pada suaminya.
__ADS_1
"Iya Sayang. Aku percaya kamu bisa menjaga hatimu agar tidak kembali mencintai mantan kekasihmu itu," ucap Kevin.
Alena menganggukan kepalanya yang berada didada Kevin.
Setelahnya kedua orang itu kembali menonton siaran televisi kesukaan mereka. Meski siaran televisi itu adalah kesukaannya tapi pikiran Alena tetap saja terpenuhi oleh Satria yang ia khianati.
Sungguh Alena terbebani sekali oleh permintaan ma'af yang belum sempat ia ucapkan pada mantan kekasihnya itu.
"Sayang," panggil Kevin.
"Iya Mas," jawab Alena.
"Tadi saat dikantor aku ikut meeting internal perusahaan. Aku dianggap sudah mampu naik jabatan oleh semua direksi diperusahaan," ucap Kevin senang.
Dulu pria itu sama sekali tidak berminat dengan bisnis papahnya, tapi sekarang ini ia justru menikmati pekerjaan itu.
Pekerjaan yang sudah dua tahun ini ia jalani.
Dari pekerjaannya itu, Kevin bisa belajar menjadi seorang pemimpin bagi karyawan dibawahnya. Oleh karena itu, semua direksi menyetujui bila Andrian ingin menjadikan Kevin sebagai CEO Cepaka Food.
"Oya?" tanya Alena.
"He'em. Aku bahkan akan dilantik minggu depan," ucap Kevin.
Tentu saja Alena senang mendengar kabar itu, pasalnya alasan awal dirinya menikah dengan Kevin karena diminta Andrian untuk membantu Kevin menjadi CEO.
Meski membutuhkan waktu yang lumayan lama namun, tapi pada akhirnya usahanya itu tidak sia-sia.
Karena keasikan berbincang sembari menonton televisi, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Kevun mematikan televisi itu terlebih dahulu, kemudian keduanya memejamkan mata untuk sama-sama terlelap.
Esok malam datang.
Di rumah Mayang kedatangan seseorang yang sudah lama tidak Alena jumpai.
Satria datang seorang diri ke rumah Mayang, pasalnya pria itu sudah tidak memiliki keluarga lagi.
Satria hanyalah anak tunggal dari ibunya yang sudah meninggal tujuh tahun yang lalu, dan ayahnya yang meninggal empat tahun yang lalu.
Kedua orang tua Satria sama-sama anak tunggal, dari kakek neneknya yang sudah meninggal semua.
"Assalamualaikum," ucap Satria memberikan salam pada semua orang yang ada di rumah Mayang.
__ADS_1
Di rumah itu sudah lengkap dengan anggota keluarga Mayang, terdiri dari Reyhan beserta Larissa, Brian dan Briana, Alena beserta Kevin dan baby Arkana, serta Elena wanita yang akan Satria nikahi.
"Waalaikumsalam," ucap semua orang yang ada di rumah Mayang dengan serentak.
Satria melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Mayang dengan wajah datarnya. Pria itu berjalan dengan tatapan yang hanya berfokus ada calon ibu mertuanya.
Pria itu kemudian menyalimi semua orang yang ada di rumah Mayang. Tapi, saat hendak menyalimi Kevin dan Alena, Satria terdiam sejenak sembari menatap tangan Kevin dan Alena yang sudah terulur.
Dengan berat hati, akhirnya Satria menyalimi kedua orang itu.
"Silakan duduk, Nak." ucap Mayang mempersilahkan Satria untuk duduk di sofa single yang masih kosong.
Satria menganggukkan kepalanya kemudian duduk di sofa tersebut.
Pria itu menarik nafas terlebih dahulu baru kemudian membuka suara untuk mengutarakan maksud kedatangannya.
"Sebelumnya saya minta maaf karena kedatangan saya ini terlalu mendadak," ucap Satria mengawali pembicaraan tersebut.
"Ah iya tidak apa-apa Nak." ucap Mayang.
Satria menganggukan kepalanya kemudian melanjutkan pembicaraan diantara mereka.
"Saya sudah berbicara pada Elena untuk menikah dengan saya. Untuk kapan waktunya pernikahan itu dilaksanakan maka kita akan membahasnya saat ini juga," ucap Satria.
"Kamu akan menikahi Elena, apa karena kamu mencintainya?" tanya Mayang.
"Iya, saya mencintai putri Ibu." jawab Satria seraya menatap pada Alena bukan Elena.
Mendengar jawaban dari Satria Mayang tersenyum lebar. Bukan hanya Mayang saja melainkan juga dengan Elena.
Sejak dulu Elena mencintai Satria tapi tak pernah iya utarakan. Terlebih lagi Elena mengetahui bila Satria adalah kekasih dari saudara kembarnya, membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk memiliki pria tersebut.
Elena padahal sudah menyerah pada cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Tapi ternyata, Satria justru datang untuk membicarakan pernikahan dengannya, yang tentu saja membuatnya bahagia.
Berbeda dengan Mayang dan Elena yang merasa bahagia, Alena justru merasakan perasaan yang berbeda dengan ibu dan saudara kembarnya itu.
Dalam benaknya apa-apaan ini Satria mengatakan mencintai putri ibunya dengan menatap dirinya yang berarti pria itu mencintainya.
Lalu, maksud ingin menikahi Elena apa?
"Silakan, Nak, lanjutkan. Utarakan saja semuanya," ucap Mayang mempersilahkan.
"Baik Bu." ucap Satria.
__ADS_1
"Saya berencana untuk menikahi Elena, bulan depan." ucap Satria.